Saleum

Selamat Datang di Forum Pembelajaran: Komunitas Pojok Kampus. Terima kasih atas kunjungannya.

Featured post

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU TERKAIT FOKUS MASALAH YANG DIANGKAT DALAM DRAFT PROPOSAL PENELITIAN Dosen Pengampu: Dr. Anton Widyanto...

“MENYONGSONG BIDADARI"


Oleh: Anton Widyanto
Tulisan ini dimuat juga di Harian Serambi Indonesia Rabu 19/11/08)

Usai sudah cerita trio bomber Bali kelabu, Amrozi, Mukhlas dan Imam Samudra. Setelah melalui proses hukum yang panjang, hukuman mati yang dijatuhkan kepada mereka beberapa tahun silam dilaksanakan juga di hari Sabtu tanggal 8/11/2008. Ribuan polisi diturunkan. Tak ketinggalan media-media nasional maupun internasional juga ikut memberitakan. Ketika jenazah mereka diantarkan pulang ke rumah masing-masing almarhum, ribuan orang kemudian datang melayat. Terlepas dari motivasi mereka apakah sekedar ingin tahu, ingin mendoakan, ingin menunjukkan solidaritas atau mungkin ada alasan-alasan lain, yang jelas kasus Amrozi cs ini cukup menyedot perhatian banyak pihak. Pertanyaannya kemudian, apakah dengan dilaksanakannya eksekusi mati atas Amrozi cs, terorisme di Indonesia khususnya dan di dunia pada umumnya akan berakhir?

MENELAAH SOSOK DAN HADITS RIWAYAT ABU HURAYRAH

Harus diakui bahwa Abu Hurayrah sebagai salah seorang perawi hadis bukan merupakan sosok asing dalam blantika perhadisan. Hal ini tentu tidak bisa dilepaskan dari kapabilitasnya dalam meriwayatkan ribuan hadis yang banyak dimuat dalam berbagai kitab rujukan hadis terkemuka seperti sahih Bukhari, sahih Muslim, Musnad Ahmad bin Hanbal, dsb. Kuantitas hadis yang “luar biasa” ini telah memposisikannya pada rating tertinggi perawi hadis terbanyak di atas para Khulafa’ur Rasyidin (Abu Bakar meriwayatkan lebih kurang 142 hadis, Umar bin Khattab 437 hadis, Utsman bin ‘Affan 146 hadis serta Ali bin Abi Thalib 586 hadis) dan bahkan jauh di atas Siti ‘Aisyah r.a. sendiri selaku istri Nabi Saw yang hanya meriwayatkan kurang lebih 2210 hadis. Oleh sebab itu, tidak menutup kemungkinan bahwa hadis-hadis yang diriwayatkan olehnya senantiasa laku keras dalam materi-materi kultum, kulsub maupun ceramah-ceramah keagamaan, terlebih lagi di bulan Ramadhan yang hadir setiap tahun.
Tulisan berikut hanya dimaksudkan untuk mengajak para pembaca berpikir kritis, metodologis, obyektif serta proporsional dalam menyelami sosok seorang perawi hadis terkenal di atas dan sama sekali tidak dimaksudkan untuk “mengacaukan” mainstream atau bahkan weltanschauung kita dalam bidang hadis. Sehingga pada akhirnya diharapkan dapat memperkuat daya kritis kita dalam menilai keberadaan sebuah hadis alias tidak sekedar taken for granted. Sebab harus disadari sepenuhnya bahwa eksistensi hadis atau sunnah sangatlah berbeda dengan Al-Qur’an. Jika Al-Qur’an sebagai mukjizat abadi dan terbesar Muhammad Saw dijamin orisinilitas dan kredibilitasnya oleh Allah Swt, maka hadis tidaklah demikian.Tentu saja hal ini terutama sekali terkait dengan periode penulisan hadis itu sendiri yang baru marak dilaksanakan setelah beratus tahun kewafatan Nabi Saw.
Profil Abu Hurayrah
Menurut Kasrawiy Hasan dalam Asma’ al-Sahabah al-Ruwah; wa Ma li Kunn Wahid min al-‘Adad, (1992, hal. 37) dan juga Ahmad bin ‘Aliy bin Hajr al-‘Asqalaniy dalam Al-Isabah fi Tamyiz al-Sahabah, (hal. 348-351), terdapat kesimpangsiuran pendapat mengenai nama lengkap Abu Hurayrah di kalangan muhaddithin. Namun menurut mayoritas ulama’ nama lengkapnya adalah: Abu Hurayrah bin ‘Amir bin ‘Abd dhi al-Syara bin Tarif bin ‘Itab bin Abi Sa’b bin Munabbih bin Sa’d bin Tha’labah bin Salim bin Fahm bin Ghanam bin Daws bin ‘Adnan bin ‘Abd Allah bin Zuhayr bin Ka’b.
Meski terjadi persilangan pendapat mengenai nama lengkap Abu Hurayrah sedemikian rupa, para ahli hadith agaknya sepakat untuk menempatkan Abu Hurayrah sebagai perawi hadith terbanyak yaitu kurang lebih 5374 hadith Nabi Saw. Karena itu tidak mengherankan bila Kasrawiy Hasan menempatkannya pada urutan pertama dalam ashab al-uluf.
Menurut al-Bukhari seperti yang dikutip oleh al-Qurtubiy dalam kitab al-Isti’ab fi Ma’rifah al-Ashab, Juz IV (1995, hal. 334), lebih dari 800 orang di antara kalangan sahabat dan tabi’in yang meriwayatkan hadis Rasul saw dari Abu Hurayrah. Misalnya, Ibn ‘Abbas, Ibn ‘Umar, Jabir bin ‘Abd Allah, Anas bin Malik, dari kalangan sahabat. Sementara dari kalangan tabi’in antara lain adalah: Marwan bin al-Hakam, Qabisah bin Dhu’ayb, ‘Abd Allah bin Tha’labah, Sa’id bin al-Musayyab, Basr bin Sa’id, Thabit bin ‘Iyyad, Abu Salih al-Samman dll.
Ibn Qutaybah al-Daynuri dalam kitabnya al-Ma’arif dan Ibn Sa’d dalam Thabaqatnya menjelaskan bahwa julukan Abu Hurayrah diberikan padanya karena ia sangat menyukai kucing kecil (dalam bahasa Arab, kucing disebut dengan hirrah, sementara kucing kecil dinamakan hurayrah).
Dalam sebuah penelitiannya mengenai sosok Abu Hurayrah, Sharafuddin al-Musawi menerangkan bahwa selama hampir 30 tahun ia menjalani usianya di Yaman. Secara garis besar, Abu Hurayrah adalah seorang lelaki melarat, kurang berwawasan dan sering meminta-minta belas kasihan orang lain untuk mengisi perutnya. Kemudian setelah masuk Islam, dia menjadi salah satu anggota ahl al-suffah yaitu orang-orang Islam yang tidak mempunyai rumah ataupun kerabat dan senantiasa tidur di masjid dekat rumah Rasulullah Saw. Ketika Nabi memiliki sesuatu untuk makan malam, beliau mengundang beberapa orang dari ahl al-suffah tersebut, sementara beberapa orang lainnya diajak makan malam bersama para sahabat. Abu Hurayrah menjalin persahabatan dengan Rasul Saw yang mulia ini selama kurang lebih 3 tahun. Sebuah jangka waktu yang tidak terlalu lama.
Pada tahun ke-21 H, ia diutus khalifah Umar bin Khattab untuk menjadi Gubernur Bahrain. Namun hanya berselang 2 tahun kemudian, dia dipecat dari jabatan tersebut karena kasus korupsi dan digantikan oleh Abul Ass ats-Tsaqafiy. Memasuki masa Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, nama Abu Hurayrah tidak terlalu mencuat kepermukaan. Baru pada saat Mu’awiyah berkuasa setelah menumbangkan kekhilafahan Ali bin Abi Thalib, namanya kembali melejit. Hal ini terutama sekali disebabkan oleh kejelian Mu’awiyah dalam melihat “kecerdasan” Abu Hurayrah untuk memunculkan hadis-hadis palsu guna memperkuat kekuasaan politiknya. Sebagai salah satu contohnya –sebagaimana yang dipaparkan oleh Sharafudden al-Musawi- adalah yang disebutkan oleh Ibn Assakir dalam dua jalur, Ibn ‘Adiy dalam dua jalur, Muhammad bin Aits dalam satu jalur kelima, Muhammad bin Abd as-Samarqandi di satu jalur keenam, Muhammad bin Mubarak as-Suri di stu jalur ketujuh dan al-Khatib al-Baghdadi di satu jalur kedelapan, bahwa Abu Hurayrah berkata: “Aku mendengar Nabi Saw bersabda, “Allah telah mempercayakan wahyu-Nya pada tiga orang: aku, Jibril dan Mu’awiyah”.
Pada rezim Mu’awiyah, Abu Hurayrah menjadi sosok yang sangat berbeda dibandingkan sebelumnya pada masa Rasulullah Saw. Bila dulunya dia terlihat sangat miskin dan menggantungkan isi perutnya dari belas kasihan orang lain, maka pada masa ini dia menjadi sosok yang berpenampilan “serba wah”. Bila dulunya dia tidak memiliki rumah sebagai tempat tinggal yang melindunginya dari panas terik matahari serta menggigitnya hawa dingin di malam hari, maka pada zaman ini dia memiliki gedung mewah di al-Aqiq. Dan bila dulunya dia tidak memiliki kekuasaan apa-apa dalam membuat kebijakan politik maupun ekonomi, maka di era ini dia telah mempunyainya karena ia diangkat sebagai gubernur di Madinah, kemudian berikutnya berhasil pula menikahi Bisrah binti Ghazwan bin Jabir bin Wahab al-Maziniyah, adik Gubernur Utbah bin Ghazwan.
Pernikahannya dengan Bisrah binti Ghazwan ini membuat Abu Hurayrah menjadi begitu bangga. Hal ini tidak lain dan tidak bukan adalah karena ia berhasil menundukkan orang yang dulunya adalah “tuannya”. Mengenai kebanggaannya ini, Ibn Sa’ad dalam Tabaqatnya menceritakan bahwa ketika menjabat sebagai Gubernur Madinah, Abu Hurayrah seringkali mengatakan: “Aku tumbuh sebagai anak yatim. Ketika pindah, aku adalah orang melarat. Aku dipekerjakan oleh Bisrah binti Ghazwan hanya untuk mendapatkan makanan. Aku tuntun hewan yang mengangkat muatan mereka ketika berjalan, serta kulayani mereka manakala turun, dan kini Allah menikahkan aku dengannya. Syukur kepada Allah yang telah menjadikan agama sebagai landasan dan mengangkat Abu Hurayrah sebagai imam.”
Abu Na’im dalam Hilyatul Awliya’nya juga menceritakan bahwa suatu hari Abu Hurayrah naik ke mimbar Nabi Saw dan berkata: “Segala puji bagi Allah yang membuatku makan dengan makanan yang enak, mengenakan baju-baju sutera, serta menikahkan aku dengan Bisrah binti Ghazwan setelah aku sebelumnya adalah pekerjanya untuk memperoleh makananku. Ia suruh aku membawa barangnya dan selanjutnya kini aku suruh ia membawa barangku”.
Hubungan antara Bani Umayyah dan Abu Hurayrah memang bersifat simbiosis mutualisme, di mana Bani Umayyah membutuhkan orang sekaliber Abu Hurayrah yang pandai membuat hadis untuk memperkuat status quo mereka, sementara Abu Hurayrah memerlukan status yang mapan dan kebutuhan yang serba memadai dari Bani Umayyah tersebut. Oleh sebab itu, untuk menjaga kredibilitas Abu Hurayrah, Bani Umayyah senantiasa berusaha menyanjungnya dan bahkan cenderung melebih-lebihkannya.
Beberapa Contoh Kejanggalan Hadis Riwayat Abu Hurayrah
Dalam sebuah penelitiannya yang cukup komprehensif tentang seluk-beluk profil Abu Hurayrah, Sharafudden al-Musawi memaparkan beberapa contoh janggalnya hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurayrah.
Abu Hurayrah mengatakan bahwa Rasul Saw bersabda: “ Malaikat maut datang kepada Nabi Musa dan berkata padanya, “Balaslah titah dari Tuhanmu.” Musa kemudian menampar mata malaikat maut tersebut serta mencungkil dengan tangannya. Malaikat maut kembali kepada Allah dan berkata pada-Nya, “Engkau mengutusku kepada salah seorang hamba-Mu yang tidak ingin mati. Ia mencungkil mataku”. Allah kemudian memulihkan matanya dan berfirman kepadanya,”Kembalilah pada hamba-Ku dan sampaikan padanya, apabila engkau ingin hidup, letakkan tanganmu di atas punggung sapi jantan dan lihatlah berapa banyak rambut yang menempel di tanganmu. Engkau akan hidup untuk setiap helai rambutnya selama satu tahun”.
Bila kita perhatikan dan renungkan teks (matan) hadis di atas dengan seksama setidaknya kita akan menemui beberapa kejanggalan. Pertama, dari sisi profil Musa itu sendiri yang telah dipilih Allah tidak hanya sebagai nabi, akan tetapi sekaligus juga sebagai rasul-Nya yang mulia. Bagaimana mungkin seorang yang telah dipilih Allah –dengan demikian berarti bukan “orang sembarangan”- membenci sebuah kematian, sementara ia berkeinginan untuk senantiasa dekat dan berhasrat besar untuk menemui-Nya? Apakah mungkin seorang manusia pilihan sekaliber Musa a.s. berbuat kasar dan tidak senonoh terhadap malaikat yang nota bene merupakan utusan Allah? Kedua, dari sisi malaikat maut (Izrail). Bagaimana mungkin seorang malaikat dapat dengan mudahnya dipukul dan dicungkil matanya oleh manusia? Lebih spesifik lagi, sejak kapankah malaikat mempunyai mata seperti manusia layaknya?
Muhammad al-Ghazali dalam karyanya Sunnah Nabawiyah bain Ahl al-Fiqh wa al-Hadis mengatakan bahwa hadis di atas sebenarnya bisa diterima dari segi transmisi perawinya (sanad), namun demikian dari segi kandungan teks (matan) hadis di atas adalah irrasional dan tidak dapat diterima oleh akal sehat.
Contoh hadis janggal lainnya yang diriwayatkan oleh Abu Hurayrah dan dimuat dalam kitab-kitab hadis terkemuka (sahih Bukhari, sahih Muslim dan Musnad Ahmad bin Hanbal) adalah mengenai tidurnya Nabi Sulaiman bersama seratus perempuan dalam satu malam. Dia mengatakan bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda, “Sulaiman ibn Daud berkata. “Aku akan tidur dengan seratus orang perempuan malam ini. Setiap perempuan akan melahirkan seorang anak laki-laki, yang akan berjihad untuk Allah”. Malaikat berkata kepadanya, “ucapkanlah Insya Allah”. Namun Sulaiman tidak mengatakannya dan langsung pergi ke tempat tidur bersama perempuan-perempuan tersebut. Tak seorang pun yang melahirkan, kecuali satu orang saja, yaitu melahirkan seorang anak berwujud setengah manusia. Bila saja Sulaiman mengucapkan insya Allah, dia tidak akan membatalkan sumpahnya dan hasratnya akan terpenuhi.”
Hadis di atas setidaknya mengandung beberapa kejanggalan, namun agaknya yang sangat krusial untuk dipaparkan di sini adalah bahwa mustahil seorang Nabi dan sekaligus Rasul sebagai manusia pilihan Allah enggan untuk mengikuti ajarannya. Kita perhatikan bahwa dalam hadis di atas Sulaiman a.s. menolak mengucapkan kata Insya Allah, padahal telah diingatkan oleh malaikat. Hal ini tentu saja berbahaya sekali karena secara tidak langsung akan menyebabkan kredibilitas seorang Rasul Allah ternodai. Na’udzu billah min dzalik.

Kesimpulan
Berdasarkan uraian-uraian di atas, setidaknya ada beberapa catatan penting yang bisa kita ambil.
Pertama, dalam menyampaikan sebuah hadis, sudah seharusnya kita tidak bertindak asal-asalan. Selain itu, dalam menerima dan mengamalkannya juga tidak sepantasnya bersikap taken for granted, menerima bulat-bulat tanpa sikap kritis dan hati-hati.
Kedua, untuk memahami secara mendalam sebuah hadis khususnya pada level sahih atau tidaknya, maka kita tidak hanya bisa terpaku pada aspek sanad semata, sementara aspek matannya kita abaikan. Untuk itu, model-model pengajaran hadis baik di pesantren maupun perguruan tinggi yang selama ini kebanyakan lebih mengarah pada penelitian sanad, harus juga dikembangkan lebih komprehensif lagi pada bidang matannya. Di sinilah barangkali model pendekatan hermeneutik itu diperlukan. Dengan demikian upaya mengkritisi dan menilai sebuah hadis akan berjalan secara proporsional. Wa Allah A’lam bi al-Shawab.

Silakan untuk Memberikan Komentar/Please give any comments on this article

BOENTOET


Oleh: ANTON WIDYANTO

“Berapa yang keluar Pret ?”, tanya Amat sama Ilman yang julukannya si kampret itu suatu kali. Lelaki yang ditanya berbadan kurus, berambut kusam, sedikit hitam kemerah-merahan plus acak-acakan, dan berkumis lele (karena saking jarangnya sehingga mirip sungut lele), tanpa jenggot itu kontan menjawab dengan nada kecewa, “Aduh meleset lagi, meleset lagi !! Dasar busyet betul si Komar edan itu !!”.
“Emang kenapa ?”, selidik Amat, pengin tahu. “Yah …masak gara-gara dia, akhirnya tembakanku meleset satu angka. Padahal tadinya kalau aku tetap pasang instingku, pasti nembus. Dasar anjing !!!”. Semua umpatan dan kata-kata kasar yang pasti kotor, keluar begitu saja dari mulut comberan si kampret sebagai ungkapan kejengkelannya, tanpa dosa. Tampaknya ungkapan serupa telah menjadi sesuatu yang wajar, lumrah dan bahkan tidak dianggap kotor lagi di stand kecil tempat kedua insan itu bertemu. Sebab seolah-olah sudah menjadi suatu bumbu penyedap yang tidak akan enak bila tidak dicampurkan dengan rentetan jawaban-jawaban atau pernyataan-pernyataan mereka.
Di sepanjang perjalanan pulang, untuk kesekian kalinya Ilman membawa kembali seribu kekusutan. Pancaran sinar matahari yang terasa kurang akrab siang itu telah memaksa wajahnya yang suram, semakin tambah terlihat redup dengan basuhan keringat tak sedap yang melukis raut muka, badan dan kaos kusamnya. Tapi ia tidak peduli. Sebab dalam pikirannya masih bermunculan kutukan-kutukan terhadap nasib apes yang selalu menyapanya.. Terutama sekali pada si Komar yang ia anggap sebagai biang kerok kegagalannya di hari sial itu.
****
Ilman, pada awalnya adalah sosok seorang pekerja keras. Sedari pagi, kala sinar mentari membelai bumi, sampai malam tiba, manakala cahaya rembulan menyunggingkan senyum putihnya, dia terbiasa untuk menarik becak sewaannya. Mencari sesuap nasi. Tapi tentu saja dengan kondisi negara yang didera oleh cabikan-cabikan dan bahkan hampir kolaps sekarang ini, telah mengakibatkan pemasukannya semakin tidak mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari bersama istri dan kedua anaknya yang masih kecil-kecil. Satu berumur 1 tahun dan satu lagi menginjak kelas 2 SD. Sayang memang, ternyata hatinya terlampau rapuh untuk menerima segala bentuk kegagalan. Sehingga manakala usaha kerasnya mentok pada nasib tak mujur, dia mulai tidak percaya akan usaha keras tersebut. Usaha keras, baginya, adalah upaya sia-sia untuk menggapai sukses. Sebab sudah tersedia lahan subur yang bertebaran di mana-mana untuk mendapatkan duit tanpa kerja keras. Tak peduli entah halal atau haram. Bukankah di zaman yang bergerak mengglobal sekarang ini, batasan antara yang halal dan haram semakin kabur ? Sekarang, yang dia butuhkan adalah mukjizat. Ya..mukjizat ! Tidakkah sebagai kepala rumah tangga dia harus mengambil sikap ? Dan bukankah sekarang ini hampir tidak ada lagi para pemimpin bangsa yang ambil peduli dengan jeritan isi perutnya, perut istrinya dan perut kedua anaknya? Karena lihatlah mereka asyik bertengkar, berkelahi dan main ancam-ancaman. Jadi buat apa buang-buang waktu lagi ?!
Menjual mimpi agaknya adalah suatu pekerjaan yang lebih menarik daripada memeras keringat sampai berember-ember. Sebab dengan menjual mimpinya, Ilman merasa hidup ini lebih bisa diresapi, dinikmati dan dihayati. Karena mimpi indah di zaman yang serba susah dan semakin menyakitkan ini, adalah barang berharga yang barangkali telah sulit untuk didapatkan oleh orang-orang semacam dia. Dan itulah yang sedang Ilman lakukan saat ini. Bermimpi !!.
****
“Man …. Aduh, sudah kucari-cari ke mana kau pergi, rupanya di sini kau ngendonnya. Ayo pulang, cepat !”, bang Sitompul, tetangganya, yang orang Medan asli itu telah mengagetkan mimpi seorang Ilman yang sedang asyik kongkow dengan rekan-rekan seperguruan, para penjual mimpi. Nada bicaranya yang kental dengan nuansa kebatakannya, membuat Ilman tersentak kaget.
“Ada apa Bang !”, tanya Ilman pengin tahu walau dengan nada malas dan datar. “Ah…sudahlah. Yang penting kau pulang sekarang. Bini kau itu gelisah nunggu kau di rumah. Si Amin badannya panas. Ayo cepat pulang !”. Ah…Amin, anak keduanya yang baru berumur satu tahun sakit lagi. Dan bukannya Ilman tidak tahu bahwa anaknya yang terkecil itu sakit-sakitan. Dia tahu betul itu. Hanya saja entah kenapa dia menjadi bosan mendengar segala kabar penderitaan dan kesusahan dalam keluarganya. Sebab mimpinya selama ini selalu mengajarkan untuk membuang penderitaan-penderitaan dan menggantinya dengan kesenangan-kesenangan, walaupun hanya berujud mimpi.
Dengan langkah penuh keterpaksaan, Ilman berjalan gontai menuju rumahnya atau lebih tepatnya menuju ke penginapannya. Entah rasa-rasanya kali ini baru pertama kali ia pulang. Sebab selama ini ia lebih banyak menetap di tempat teman-teman sealirannya, seperguruannya, para “penggadai mimpi”. Bang Sitompul berjalan di depannya dengan langkah panjang dan cepat, bagaikan langkah jerapah. Sedangkan Ilman mengekornya di belakang dengan langkah siput. Sementara itu matahari yang tepat di atas kepala membuat kedua insan sejenis itu menelan ludah berkali-kali karena kehausan. Keduanya membisu dibelenggu oleh jalan pikirannya masing-masing.
Setelah berjalan melalui beberapa kelokan, masuk ke gang-gang sempit yang menghadirkan bau busuknya sampah di tengah-tengah perkampungan yang begitu padat, tiba-tiba jantung Ilman serasa berdegup kencang. Persis seperti kala ia dikejar anjing herder milik Pak Kristiadi karena mencoba mencuri mangga miliknya 25 tahun yang lalu. Degup-degup yang menggema tidak teratur dalam jantungnya itu terlihat semakin kencang tanpa ritme, manakala ia menerima pandangan sinis orang-orang kampung yang dijumpainya. Dia sama sekali tidak mengerti kenapa mereka harus memperlakukannya dengan sikap-sikap seperti itu. Dia juga tidak memahami sepenuhnya mengapa dirinya seakan-akan dipandang sebagai anjing buduk yang tidak ada harganya. Bah peduli amat dengan pandangan mereka. Bukankah mereka selama ini juga tidak mempedulikanku ?! Lihatlah bukankah orang-orang itu selama ini hanya sibuk mengurus diri mereka sendiri ? Karena mereka -sadar atau tidak- telah dirasuki arwah-arwah individualisme yang bergentayangan di zaman edan ini. Lalu mengapa pula sekarang mereka harus mencibirku, seakan-akan mereka berpura-pura memperhatikanku ?
Manakala jarak antara Ilman dengan rumahnya tinggal beberapa ratus meter lagi, dia merasakan kulitnya mengeluarkan bulir-bulir keringat dingin dan bahkan entah kenapa bulu kuduknya tiba-tiba berdiri, merinding. Sementara itu Bang Sitompul semakin mempercepat langkah siputnya, sehingga ia lebih dulu sampai di halaman rumah reyotnya. Ilman terheran-heran menyaksikan rumah reyotnya yang selama ini tidak pernah didatangi tamu, ternyata hari ini ramai dikunjungi orang-orang yang ia kenal sebagai tetangga-tetangganya. Keheranannya semakin menjadi-jadi saat ia harus menerima sorotan sinis yang keluar dari mata para pengunjung itu. Bahkan ada yang selepas mencibirkan senyum sinis, meludah beberapa kali ke tanah, seakan-akan ingin menelan Ilman bulat-bulat. Ada apa ini ?! Pertanyaan ini selalu terngiang-ngiang bagaikan gelombang radio di hati Ilman. Tapi tidak lama kemudian, setelah ia masuk ke dalam rumahnya, ia tahu jawabnya. Ia saksikan dengan jelas ada dua onggok benda yang satu kecil dan yang satu besar, sama-sama dibungkus kain jarit berwarna coklat kehitam-hitaman, membujur kaku dengan tenangnya. Dari sobekan kertas kecil hasil tulisan istrinya, ia menangkap pesan : “Aku terpaksa pergi menemani anakmu, si Amin, menuju alam baka. Dan tolong jaga anak pertama kita yang tersisa, agar tidak menjadi penjudi tengik sepertimu.”…


Silakan untuk Memberikan Komentar/Please give any comments on this article

SYARIAT ISLAM HARUS DIHARGAI

Oleh: Anton Widyanto
Beberapa waktu lalu Herman RN menulis di website Aceh Institute (http://id.acehinstitute.org/index.php?option=com_content&task=view&id=232&Itemid=26) sebuah tulisan berjudul Patutkah Kita Menghargai Syari’at Islam? Sebuah tulisan yang bagus, walaupun menurut saya, (maaf) lebih banyak bernada “provokatif”. Saya sangat menghargai “ijtihad” Herman dalam tulisan tersebut dan justru karena itulah saya ingin kembali mendiskusikan beberapa pemikirannya dalam tulisan berikut.

KITA BUTUH “LASKAR PELANGI” DI ACEH


Selama hampir dua bulan ini, “Laskar Pelangi” seolah-olah menjadi sebuah magnet. Beragam komentar dan pujian ditahbiskan untuk judul film yang diangkat dari sebuah novel ini. Banyak pihak yang mengaitkan kesuksesan film Laskar Pelangi dengan kesuksesan novel Andrea Hirata yang telah menjadi best seller terlebih dahulu. Ada pula yang mengaitkan kesuksesan Laskar Pelangi dengan iklan-iklan gratis yang dilayangkan orang-orang terkemuka di Indonesia mulai dari ketua umum ormas Muhammadiyah, Dien Syamsudin, bahkan sampai orang nomor 1 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bahwa film ini adalah film berkualitas serta layak ditonton. Terlepas dari sukses tidaknya film ini dalam menyedot jumlah jutaan mata penonton dan lembaran-lembaran fulus, harus diakui bahwa film ini memang berkualitas. Film ini berupaya menyampaikan pesan moral yang layak untuk dicermati secara arif oleh para pemegang kebijakan dalam dunia pendidikan baik pada tingkat nasional pada umumnya, maupun lokal, teristimewa di Nanggroe Aceh Darussalam yang selama ini seringkali disinyalir mengenaskan. Pertama, film Laskar Pelangi menegaskan signifikansi semangat menempatkan pendidikan sebagai investasi utama bagi pembangunan. Dalam konteks lokal, seringkali rendahnya kualitas pendidikan di Aceh selama ini dikaitkan dengan 2 peristiwa penting dalam sejarah Aceh: konflik bersenjata yang berkepanjangan dan tragedi Tsunami 2004. Sejarah mencatat bahwa konflik bersenjata yang berkepanjangan telah menyebabkan ratusan guru eksodus dan ratusan sekolah dibakar; sementara Tsunami telah pula memberi saham atas luluh lantaknya bangunan-bangunan sekolah yang pada umumnya tidak menjadi tumbal konflik. Namun demikian alasan-alasan historis di atas tidak sepatutnya dijadikan “alibi” lagi oleh masyarakat Aceh kontemporer. Sebab konflik bersenjata sudah usai setelah ditandatanganinya MoU Helsinki dan diundangkannya UU No. 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Merujuk pada amanat Wali, Dr. Tgk Hasan Muhammad Ditiro, bahwa pengorbanan pada masa konflik memang besar, namun perdamaian menuntut pengorbanan lebih besar lagi. Amanat ini secara implisit menyampaikan bahwa sudah saatnya masyarakat Aceh melihat kondisi sekarang dan mengisinya untuk masa mendatang. Kondisi damai pasca konflik yang secara perlahan telah melepaskan masyarakat Aceh dari keterjepitan di segala sektor selama berpuluh tahun, semestinya diisi dengan pembangunan dan pengembangan-pengembangan yang salah satunya adalah dengan menjadikan paradigma pendidikan sebagai investasi terpenting masa depan rakyat Aceh. Demikian pula halnya dengan isu Tsunami yang masih tidak jarang dijadikan kambing hitam atas merosotnya kualitas pendidikan di Aceh. Alasan ini juga tidak sepatutnya dijadikan “alibi” lagi. Rakyat Aceh sudah semestinya bangkit dari bayang-bayang Tsunami bahkan sebisa mungkin melepaskannya jauh-jauh agar paradigma mengharap bantuan bisa diganti dengan budaya kemandirian. Di sini bukan berarti kita harus melupakan sama sekali tragedi tsunami dalam sejarah Aceh , akan tetapi sepatutnya kita menempatkan isu Tsunami tersebut secara proporsional, bukan sebagai alasan-alasan pembenaran atas kegagalan dunia pendidikan di Nanggroe Aceh Darussalam. Masih terkait dengan semangat menjadikan pendidikan sebagai investasi terpenting pembangunan peradaban sebuah masyarakat, merujuk pada konsep hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan pendidikan, para ahli menyatakan bahwa antara keduanya memiliki keterkaitan yang sangat erat. Teori pertumbuhan/perkembangan dalam konteks ini menyatakan bahwa pengembangan sumber daya manusia merupakan investasi pada human capital. Maknanya bahwa pendidikan yang secara filosofis adalah ditujukan untuk memanusiakan manusia, di lain hal juga ditendensikan untuk memberikan wawasan secara menyeluruh agar potensi dan kapabilitasnya dapat ditingkatkan. Menyadari pentingnya pendidikan ini maka tidak mengherankan bila Konferensi Internasional tentang Pendidikan untuk Semua (Education for All) di Jomtien, Thailand pada tahun 1990 dan kemudian diperbarui dengan konferensi lanjutan di Dakar, Senegal pada tahun 2000 menyepakati target-target yang akan dicapai pada tahun 2015. Target tersebut meliputi enam hal yaitu: memperluas dan meningkatkan akses pendidikan anak usia dini (early childhood education); memastikan bahwa pada tahun 2015 semua anak, khususnya perempuan, anak-anak yang tidak mampu serta berasal dari etnik minoritas berhasil menyelesainya pendidikan dasar (primary education) yang berkualitas; memastikan bahwa kebutuhan belajar bagi pemuda dan orang dewasa terpenuhi melalui penyediaan program-program kecakapan hidup; pencapaian sebanyak 50% pemberantasan buta huruf, khususnya di kalangan perempuan; tercapainya keseimbangan gender pada tingkat pendidikan dasar dan menengah pada tahun 2015 dengan fokus pada pemberian kesempatan bagi anak-anak perempuan untuk menikmati pendidikan dasar yang berkualitas; serta meningkatkan keseluruhan aspek dari pendidikan yang berkualitas (sumber UNESCO). Meski tidak sedikit pihak yang memandang pesimis pencapaian target-target di atas dikarenakan terkesan terlalu ambisius dan kurang memperhitungkan secara cermat kondisi di lapangan (Cohen et.all, 2006), namun bukan berarti target tersebut mustahil diwujudkan. Yang perlu digarisbawahi di sini adalah bahwa kesadaran menjadikan pendidikan sebagai prioritas hendaknya menjadi kekuatan penyemangat utama yang ada di kepemerintahan Aceh dewasa ini, baik di tingkat provinsi maupun daerah. Oleh sebab itu itikad baik pengalokasian dana yang lumayan besar sebanyak 30% untuk sektor pendidikan di Aceh sudah selayaknya diawasi karena sangat bisa jadi tidak tepat sasaran dan rawan penyimpangan sebagaimana yang diangkat di media ini beberapa waktu lalu. Di sinilah perlunya urun tangan lembaga-lembaga swadaya masyarakat yang memiliki kepedulian untuk ikut serta melakukan pengawasan secara obyektif. Berikutnya, pesan lain yang disampaikan oleh film Laskar Pelangi adalah bahwa keterpaduan antara pelaksanaan proses pembelajaran dan keyakinan pada dimensi nilai-nilai relijiusitas serta kultural adalah suatu hal yang mutlak dilakukan. Hal ini bukan dikarenakan sekolah yang diangkat dalam film tersebut adalah sekolah Muhammadiyah yang nota bene merupakan ormas Islam, tapi ada pesan implisit bahwa menjadi manusia terdidik adalah bagian dari pengamalan nilai-nilai agama (baca: Islam). Keyakinan seperti ini, sekalipun sederhana dan mungkin juga dipandang remeh, menurut saya sangat penting. Sebab di tengah perkembangan masyarakat yang semakin konsumtif dan materialistis dewasa ini, paradigma yang menempatkan pendidikan sebagai ibadah semakin terkikis. Justru yang seringkali mencuat ke permukaan adalah bahwa pendidikan untuk uang. Tidak mengherankan bila ada anak-anak yang nekat drop out dari sekolah bukan karena alasan tidak ada uang, tapi karena alasan bahwa sekolah hanya mencetak kaum pengangguran. Pandangan pesimistis seperti ini sudah semestinya dibuang karena menyesatkan dan cenderung mengabaikan pesan-pesan dari Islam sendiri dalam hal anjuran menuntut ilmu. Menuntut ilmu pengetahuan dalam Islam adalah ibadah dan karena itu dipandang sebagai perbuatan mulia. Islam tidak mengenal dikotomisasi antara ilmu agama dan non agama (sekuler). Islam memandang bahwa ilmu pengetahuan adalah milik Allah Swt yang diperuntukkan bagi manusia agar lebih dapat mengenal, mengagungkan dan mendekatkan diri pada Tuhannya. Karena itu tidak bisa dinyatakan bahwa orang yang belajar di pesantren adalah lebih mulia dibanding dengan orang yang belajar di luar pesantren, atau sebaliknya. Kesemuanya di mata Allah Swt adalah makhluk-makhluk mulia asal senantiasa melandasi niatannya dengan ibadah. Wallahu a’lam bis Shawab.
Please give any comments on this article

REFLEK

Pagi itu, Minggu,26 Desember 04, sekitar jam 7 pagi , saya sedang asyik menemani buah hati tercinta yang baru berusia 2 tahun di depan rumah. Biasanya memang kami melakukan jalan-jalan pagi di seputaran Darussalam, Banda Aceh, sementara istri saya berkutat dengan urusan dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.
Sekitar jam setengah 8, HP saya tiba-tiba berdering. Rupa-rupanya teman saya mengingatkan bahwa pada hari itu saya menjadi juri Festival Anak Saleh bidang muhadatsah (percakapan) bahasa Arab dan bahasa Inggris. Setelah saya tutup pembicaraan, saya lanjutkan bermain dengan anak saya beberapa saat, kemudian sayapun bersiap-siap melaksanakan mandi pagi.
Tanpa ada firasat apa pun, seperti biasa, saya memulai mandi pagi dengan gosok gigi kemudian dilanjutkan dengan menyabun seluruh tubuh. Karena kepala saya terasa gatal, pagi itu saya menambahkan dengan berkeramas. Saat itulah saya mulai merasa ada yang tidak beres. Sebab saya merasa lantai tempat saya berpijak bergoyang. Pada awalnya saya tidak terlalu mempedulikan, sebab yang terlintas di benak saya ketika itu hanya gempa biasa yang lamanya paling beberapa detik. Ternyata apa yang saya bayangkan tersebut meleset, sebab goyangan gempa dari yang semula pelan, semakin lama semakin keras bahkan menghentak-hentak Saya lihat air di dalam sumur bergemerecak suaranya, sementara papan dan kayu rumah saya rame-rame berderit. Istri dan adik ipar saya sudah keluar rumah duluan seraya berteriak memanggil-manggil saya.
Secara reflek, tangan saya menyambar handuk dan mengikatkannya di pinggang, tanpa terpikir lagi mengenakan baju, celana atau bahkan (maaf) celana dalam. Semuanya serba cepat. Sayapun bergegas dengan terhuyung-huyung keluar saking kerasnya gempa. Selama beberapa menit, di depan rumah, kami berjongkok seraya berpegangan pada jeruji pagar. Kami benar-benar dibelenggu ketercekaman. Demikian pula dengan tetangga-tetangga kami. Bagaikan koor, masing-masing orang mengucapkan Lailaha illallah tiada henti. Pohon-pohon, kabel listrik, air di selokan dan rumah-rumah papan semuanya bergoyang tiada henti, mengeluarkan suara khas masing-masing.
Ketika gempa dipastikan reda, saya lihat istri yang berada di samping saya tersenyum simpul. Saya baru tersadar bahwa tubuh saya masih dibalut sabun, sementara kepala saya juga masih berlumuran shampoo yang kesemuanya hampir mengering. Saya lihat ke bawah, Masya Allah, ikatan handuk hampir terlepas. Untung saya dalam posisi jongkok, sehingga tidak berakibat “fatal”. Dengan perasaan malu (karena tak luput jadi perhatian tetangga), sayapun langsung “terbang” menuju kamar mandi dan melanjutkan acara mandi yang sempat terputus tadi.

Please give any comments on this article

ATAS NAMA KEBEBASAN BEREKSPRESI

Oleh: Anton Widyanto

Baru-baru ini isu kebebasan berekspresi kembali mencuat. Dalam skala internasional, pemuatan kembali kartun-kartun yang melecehkan Muhammad Saw selaku sosok panutan yang diagungkan oleh umat Islam sejagat di Denmark, pementasan novel ayat-ayat setan (the satanic verses) sampai pada publikasi film Fitna di Belanda yang benar-benar menyebar fitnah kesemuanya dilandaskan pada pendewaan kebebasan berekspresi.
Dalam konteks domestik, atas nama kebebasan berekspresi, berita pencekalan penampilan si goyang vulgar, Dewi Perssik, di Tangerang dan Bandung baru-baru ini juga sukses menuai sorotan. Demikian pula berita panas tentang pose-pose ”menantang” selebritis domestik yang dimuat di berbagai media massa. Hal ini kemudian kembali diramaikan dengan gugatan dari beberapa artis yang meminta adanya jaminan kebebasan berekspresi dalam rancangan amendemen ke V UUD 1945 yang diajukan oleh DPD. Mereka menilai bahwa sampai dengan amendemen ke IV UUD 1945, ruang kebebasan ekspresi masih belum diberikan tempat bahkan justru terkesan semakin dikekang. Demikian pemikiran yang disampaikan sejumlah artis ibukota dalam diskusi budaya Amendemen ke-5 UUD 1945 bertema Kebebasan Berekspresi di Hotel Sultan, Jakarta (Media Indonesia, 12/4/08).
Debat mengenai isu kebebasan berekspresi seolah-olah tak pernah reda, khususnya di negeri kita ini. Isu ini bahkan telah menjadi senjata ampuh bagi orang-orang tertentu yang ingin melegalkan perbuatan-perbuatan anti Tuhan. Kebebasan berekspresi dipahami oleh orang-orang sedemikian rupa sebagai kebebasan tanpa sekat, sehingga cenderung mengabaikan nilai-nilai moralitas baik terkait dengan agama maupun nilai-nilai etika yang genuine dan hidup dalam sosial kemasyarakatan. Seolah-olah kebebasan berekspresi adalah tindakan yang bebas nilai, tanpa memerlukan campur tangan moralitas. Sungguh penafsiran yang absurd, menggelikan dan irrasional. Sayangnya justru isu-isu seperti inilah yang semakin menguat di negeri kita ini karena memang dipoles dengan rapi dan sistematis, apalagi kemudian dikait-kaitkan dengan berbagai senjata ampuh lain, hak-hak asasi manusia dan demokrasi. Akhirnya, seolah-olah, orang-orang yang masih menyuarakan moralitas atas nama nilai-nilai ajaran agama dan kultur ketimuran masyarakat dianggap sebagai suara orang-orang iri, tidak kenal perkembangan zaman, primitif, kolot, kaku, terbelakang, tidak modern, berpandangan sempit dan malu-maluin. Sungguh kesimpulan yang naïf sekaligus menyesatkan.
***
Isu kebebasan berkspresi memang tidak selamanya membawa hal-hal negatif asalkan tetap berjalan dalam koridor yang menghormati tata nilai keagamaan dan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. Ambil saja contoh kasus lagu Gosip Jalanan yang dibawakan oleh Slank baru-baru ini yang juga disuarakan atas nama kebebasan berekspresi. Lagu yang dianggap melecehkan lembaga “terhormat” di negeri ini hampir saja diperkarakan di meja hijau, seandainya salah seorang oknum lembaga tersebut tidak tertangkap dalam kasus suap tepat sebelum gugatan dilayangkan.
Lagu Slank yang pedas dan sukses membikin gerah para petinggi di Badan Kehormatan lembaga legislatif tersebut merupakan representasi kekecewaan-kekecewaan para penonton di luar senayan yang seringkali disuguhi akrobat memilukan yang lama-lama membosankan. Sederet kasus panas tak jarang menjadi isu basi dan tidak terselesaikan karena berbagai macam kepentingan politik yang dengan telanjang menjadi santapan penonton di nusantara. Itulah yang kemudian disuarakan dengan lantang oleh Slank untuk menyadarkan para oknum wakil rakyat tersebut.
Pesan anti korupsi yang disuarakan oleh grup kawakan, Slank, tersebut tentu sama sekali tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang diajarkan oleh agama apapun di Indonesia, termasuk Islam sebagai agama mayoritas penduduknya. Sebab semua agama pada dasarnya mengajarkan agar kita tidak bertindak zalim terhadap orang lain, apalagi terhadap rakyat. Substansi pesan anti korupsi itu juga sama sekali tidak bertentangan dengan nilai-nilai filosofis kebangsaan yang kita anut di negara ini. Sebab Pancasila dengan semua sila, penafsiran dan penjabarannya tak satupun memberikan ruang bagi koruptor untuk hidup di negeri ini.
Coba sekarang bandingkan dengan argumentasi kebebasan berekspresi yang dijadikan dasar para supporter pornografi dan pornoaksi di negeri ini. Mereka menganggap bahwa sorotan terhadap pornografi dan pornoaksi adalah suara-suara orang yang sok moralis dan sok alim. Bahkan karena gugatan terhadap aksi-aksi pornografi dan pornoaksi itu kebanyakan diarahkan ke pihak perempuan (karena memang kebetulan kebanyakan pelaku pamer aurat dan goyang syahwat adalah perempuan), akhirnya gugatan dibelokkan pada isu diskriminasi gender. Padahal kalau mau diselami lebih dalam, upaya yang menggugat pornografi dan pornoaksi tersebut ditujukan untuk memuliakan perempuan dan menghindarkan mereka dari eksploitasi seksual yang menyesatkan, bukan meminggirkannya.
Alasan menyesatkan lain terkait dengan pornografi dan pornoaksi yang gencar disuarakan oleh para suporternya adalah bahwa pornografi pada prinsipnya didasarkan pada “pikiran kotor” konsumen, seolah-olah penyebab yang menggiring munculnya “pikiran kotor” itu tidak ada kaitan sama sekali. Jadi kalau Anda melihat orang yang memamerkan aurat kemudian Anda terangsang, itu adalah kesalahan Anda sendiri, bukan kesalahan si pelaku pamer aurat. Sebuah alasan yang tidak berdasar, menyesatkan dan menggelikan.
***
Berpijak pada uraian di atas dapat dipahami bahwa yang kita butuhkan di negara ini adalah kebebasan bereskpresi yang bertanggung jawab. Sebuah kebebasan yang masih terikat dengan nilai-nilai moral agama dan kultur ketimuran masyarakat Indonesia. Bukan kebebasan yang menghambakan pada kebebasan sebebas-bebasnya tanpa batas. Yang perlu digarisbawahi adalah bahwa para pengagung kebebasan berekspresi tanpa sekat semestinya realistis memahami kondisi sosio-kultural masyarakat Indonesia yang mayoritas memeluk Islam. Perasaan dan nilai-nilai yang mereka anut tentu mutlak dijadikan pertimbangan untuk dihargai. Penistaan dan penafian nilai-nilai moral masyarakat mayoritas tentu akan berdampak pada instabilitas sekaligus potensial menyulut konflik vertikal maupun horizontal. Sebuah akibat yang tentu tidak diinginkan oleh siapa pun di Indonesia, terlepas dari agama, suku, ras maupun jenis kelaminnya. Wallahu a’lam bis Shawab…

“OVEREDUCATED PEOPLE” DI ACEH

Oleh: Anton Widyanto
Tulisan ini dimuat di Harian Serambi Indonesia Tanggal 12/04/2008. Lihat http://www.serambinews.com/old/index.php?aksi=bacaopini&opinid=1542

Salah satu bentuk kekhawatiran yang berkembang di Aceh menjelang berakhirnya masa BRR NAD-Nias yang sebelumnya telah didahului oleh hengkangnya ratusan NGO asing dalam proses rehab-rekon Aceh pasca tsunami, adalah munculnya beragam persoalan sosial di Aceh ke depan. Hal ini kemudian ditambah lagi dengan persoalan penanganan mantan kombatan GAM yang belum sepenuhnya maksimal terkait dengan persoalan penyediaan lapangan pekerjaan. Bahkan tidak hanya itu, penanganan ribuan lulusan yang dilahirkan dari rahim berbagai macam perguruan tinggi (negeri maupun swasta) di Aceh pun sejauh ini masih belum teratasi.
Lihat saja bagaimana membludaknya para pelamar PNS setiap tahun, padahal lowongannya semakin dipersempit dengan program pengangkatan orang-orang honorer atas kebijakan Presiden SBY. Lihat pula gugatan-gugatan kaum honorer sendiri yang tidak kalah subur mempertanyakan status pengangkatan mereka yang masih mengambang padahal tahun 2009 semakin dekat. Merekapun semakin khawatir, karena sangat bisa jadi di tahun 2009 semua pejabat di tingkat pusat akan sibuk mengurus tetek bengek pemilu.
Kondisi-kondisi di atas mempertegas bahwa Aceh ke depan akan dihadapkan pada persoalan sosial. Dan bila hal ini tidak dipersiapkan program penanganannya sejak sekarang, tentu bukan tidak mungkin akan menggelinding merembet pada persoalan-persoalan lain yang lebih serius.
***
Di awal tahun 1970-an, masyarakat Amerika Serikat disinyalir telah menjadi overeducated society, suatu masyarakat yang berpendidikan berlebihan. Maknanya di sini bukan berarti bahwa masyarakat “Paman Sam” itu sudah menjadi komunitas yang pandai semua atau berilmu pengetahuan serta berpengalaman seluruhnya. Akan tetapi, justru mereka adalah masyarakat yang menyisakan banyak problema ketika orang-orang yang telah menempuh jenjang pendidikan tinggi tidak mampu diserap oleh lowongan pekerjaan yang ada. Sederhananya, banyak orang sekolah yang “menganggur” atau “salah kamar” dalam mendapatkan pekerjaan karena tidak sesuai dengan latar belakang (background) pendidikan yang dienyamnya. (Sanderson, Macrosiciology: 1991). Kebijakan-kebijakan pendidikanpun ditelurkan untuk mengatasi problem ini. Salah satunya adalah dengan cara mengembangkan sekolah-sekolah kejuruan.
Berbicara tentang sekolah kejuruan di Aceh secara spesifik atau Indonesia dalam skala yang lebih luas, kelihatannya memang kita masih belum sepenuhnya bisa bergembira. Masalahnya sekolah-sekolah kejuruan masih belum banyak mendapat perhatian dari kalangan masyarakat maupun pemerintah sendiri. Keberadaannya masih belum mampu menyedot animo yang lebih besar dibandingkan sekolah-sekolah non kejuruan lainnya. Faktor ini kemudian ditambah lagi fakta bahwa sekolah kejuruan yang ada masih banyak yang belum mampu menghasilkan produk yang berkualitas dan dapat memenuhi standar pasar sehingga semakin lengkaplah kekurangan yang ada.
Sebenarnya mulai tahun 2005, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan menggulirkan beberapa kebijakan di antaranya program sekolah standar nasional/internasional, SMK besar, SMK kecil, sekolah menengah terpadu dan program lainnya yang tidak lain adalah untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas sekolah menengah kejuruan. Namun dari tahun ke tahun, lembaga-lembaga ini belum terlihat dapat menghasilkan tamatan yang memuaskan pengguna (users), khususnya masyarakat industri. Kalaupun ada sekolah yang tamatannya diterima di industri yang sesuai dengan kriteria pegawai yang ditetapkan, jumlahnya masih minim. Bahkan, tidak sedikit industri atau perusahaan yang harus mengeluarkan biaya lagi untuk melakukan pelatihan/training terhadap pegawai baru (Pikiran Rakyat, 2/10/06).
***
Pasca MoU Helsinki, Aceh memang masih menyisakan beragam persoalan baik ekonomi, sosial, politik, maupun pendidikan. Tantangan-tantangan yang datang tentunya bukan semakin mudah, tapi justru akan semakin kompleks.
Persoalan pengangguran di kalangan orang-orang terpelajar (educated people) pada prinsipnya bukan hanya milik pemerintah Aceh. Sejauh ini pemerintah Indonesia dan khususnya negara-negara berkembang di dunia juga mengalaminya. Meski demikian, di tengah suntikan dana yang akan diraup Aceh selama beberapa tahun ke depan tentunya akan sangat ironis bila Aceh tidak mampu mengatasi persoalan-persoalan tersebut di atas khususnya terkait dengan aspek ekonomi dan pendidikan.
Mengapa dua aspek di atas sangat penting diperhatikan? Karena faktor pemerataan ekonomi yang stabil akan dapat menjaga stabilitas ketenteraman masyarakat. Sudah banyak bukti dalam perjalanan sejarah bangsa-bangsa di dunia bahwa ekonomi yang carut-marut sangat potensial menyuburkan aroma pertengkaran bahkan pembusukan dan pemberontakan dari dalam. Benar kiranya Rasulullah Saw menekankan bahwa “kemiskinan berpotensi menyebabkan kekufuran”.
Berikutnya mengapa diperlukan upaya sistematis dalam peningkatan kualitas pendidikan? Karena pendidikan pada dasarnya adalah investasi pencerahan peradaban masa depan sebuah masyarakat. Peningkatan kualitas pendidikan di sini tentu saja bukan hanya menyangkut bagaimana menyuntik lembaga-lembaga kependidikan di Aceh dengan pundi-pundi dana, akan tetapi lebih dari itu perlu adanya penajaman dalam persoalan pemenuhan permintaan pasar. Di sinilah sebenarnya kita memerlukan orientasi Total Quality Manajemen of Education (TQME).
Konsep TQME menekankan pemahaman bahwa pendidikan jangan hanya diorientasikan pada proses pendidikan dan pembelajaran semata, akan tetapi juga harus diiringi orientasi pada bagaimana out put yang dihasilkan oleh proses pendidikan dan pembelajaran tersebut dapat diserap oleh kebutuhan pengguna (user). Di sinilah pada dasarnya pengembangan sekolah-sekolah kejuruan dan juga pelurusan orientasi ke depan perguruan-perguruan tinggi di Aceh menjadi sangat penting karena diharapkan out put nya dapat langsung siap pakai bahkan lebih dari itu dapat pula menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat.Saya menjadi teringat dengan ungkapan dosen saya dulu. “Anda sekolah bukan untuk mencari pekerjaan, tapi untuk menciptakan lapangan kerja”. Pertanyaannya sekarang, “mungkinkah kita akan dapat menciptakan lapangan kerja, sementara pendidikan yang kita terima senantiasa diarahkan untuk mencari kerja?”. Wallahu a’lam bis Shawab.

TERORISME MILIK SIAPA?

Oleh: Anton Widyanto

Salah satu rekomendasi dari Konferensi Tingkat Tinggi OKI baru-baru ini di Dakar, Senegal, yang dibacakan oleh Sekjen OKI, Eklemiddin Ihsanaglu menegaskan bahwa terorisme adalah hal yang bertentangan dengan ajaran Islam. Karena itu hal yang perlu dikembangkan adalah sikap toleransi di kalangan masyarakat dunia (Kompas, 15/3/08).
Tak dapat dipungkiri hingga detik ini isu terorisme merupakan isu global yang menghentak seluruh dunia, khususnya pasca runtuhnya simbul bisnis kebanggaan Amerika Serikat, World Trade Center beberapa tahun silam. Peristiwa itu, di satu sisi menambah penegasan bahwa Islam merupakan agama yang “patut” ditakuti, menyeramkan dan mengerikan di mata masyarakat Barat, namun di sisi lain, -mencuplik pemaparan Prof. Annabelle dalam pemaparannya saat memberikan studium general di PPs IAIN Ar-Raniry (22/3/0)- justru mendorong banyak orang-orang non muslim Barat untuk mempelajari Islam. Mereka penasaran, ingin tahu apa dan bagaimana sih sebenarnya Islam itu. Bahkan tidak sedikit orang yang menemukan informasi bahwa ternyata Islam tidak seperti yang dituduhkan itu (keras, keji, kejam, seram dan mengerikan), mereka akhirnya memeluk Islam.
Layaknya isu cuak atau OTK pada masa konflik bersenjata di Aceh dulu, isu terorisme seringkali dipergunakan oleh negara-negara yang memegang kendali ekonomi dan keamanan dunia sebagai senjata ampuh untuk menghalalkan penindasan baru. Isu itu bahkan bebas dipergunakan untuk menempelkan stigma-stigma tertentu pada negara atau bahkan kelompok yang dianggap “berseberangan”. Lihat saja bagaimana Irak ditaklukkan atas dasar bungkusan isu “terorisme” yang sebenarnya hanya berupa kecurigaan terhadap produksi senjata biologis di negara tersebut. Padahal di luar itu sebenarnya ada agenda tersembunyi (hidden agenda) terkait dengan kepentingan ekonomi dan politik yang dimainkan para penguasa senjata dunia. Bahwa kemudian wajah peradaban masyarakatnya menjadi semakin hancur-hancuran akibat “aneksasi” tersebut, itu persoalan lain. Lihat juga bagaimana nasib orang-orang Palestina, Afghanistan dst yang juga mengalami nasib serupa sebagai bangsa-bangsa yang dicap potensial mendukung terorisme. Masyarakatnya semakin terbelakang dan terpinggirkan. Kecurigaanpun sepertinya “sengaja” disiram agar subur sehingga ujung-ujungnya memunculkan islamophobia.
Dialog yang digembar-gemborkan untuk mempertemukan pandangan ekstrem Barat dengan ekstrem Timur (dalam hal ini umat Islam) seringkali malah tidak tepat bila disebut dialog, karena hanya mengakomodir kepentingan satu pihak. Sementara kepentingan dan suara pihak lain yang lebih lemah dianggap tidak ada. Isu dialog dikembangkan hanya untuk memuluskan agenda penindasan. Dimunculkanlah kemudian isu-isu yang dianggap aktual dan fardhu ’ain untuk diikuti, isu penegakan hak-hak asasi manusia, demokrasi dan kesetaraan gender menurut standar pihak yang lebih kuat. Sasarannya siapa lagi kalau bukan negara-negara yang dipandang lemah dan dianggap potensial mendukung terorisme hanya karena alasan adanya komunitas muslim di dalamnya. Ironis memang.
Ironisme di atas menjadi lebih ironis lagi, karena ternyata ada di kalangan umat Islam sendiri yang memaknai sikap orang-orang anti Islam itu dengan ”perseteruan abadi”, sehingga sebenarnya justru kontra produktif untuk menjadikan Islam sebagai agama yang tersenyum dan pembawa rahmat. Api kemarahanpun dikobarkan atas nama jihad dalam pengertian sempit. Jihad yang justru menjadi alasan pembenaran dalam pandangan orang-orang yang anti Islam bahwa agama ini memang menyeramkan, sadis dan menakutkan. Lihat bagaimana logika pengeboman yang dilakukan beberapa orang Islam atas nama jihad. Bagi mereka tafsir jihad diasosiasikan dengan kebencian mendalam terhadap tingkah polah para ”pentolan Barat” dan masyarakatnya yang selalu menempatkan Islam sebagai musuh. Kenyataannya, di banyak tempat yang menjadi korban ”perang atas nama Tuhan” itu adalah justru dari kalangan umat Islam sendiri, bahkan tidak jarang malah dari kalangan bayi tak berdosa yang diakui Islam sebagai mahkluk suci.
Ambiguitas orang-orang yang membenci Islam sedemikian rupa yang kemudian direspon dengan kesalah kaprahan dalam memaknai jihad di sebagian kalangan umat Islam seperti di atas pada akhirnya menjadikan isu terorisme bagaikan lingkaran setan. Pengobatan terhadap penyakit terorisme justru melahirkan terorisme baru yang tidak kalah dahsyat. Korbannya siapa lagi kalau bukan masyarakat biasa, bahkan anak-anak tak berdosa yang terenggut masa depannya.
Penanganan terorisme dengan aksi terorisme lain yang dibungkus dengan isu-isu manis mulai dari penegakan hak-hak asasi manusia, demokrasi, dan stabilitas ketenteraman dunia internasional dsb telah terbukti melahirkan kaum penindas sistematis baru yang tidak kalah keji dan mengerikan. Efeknya bukan justru menenggelamkan kaum teroris yang dianggap musuh bersama (common enemy), tapi bahkan memunculkan teroris-teroris baru dengan modus yang semakin canggih. Lingkaran setanpun akhirnya berputar terus diiringi dendam kesumat tujuh turunan.
Rekomendasi KTT OKI yang disuarakan semestinya tidak hanya dimaknai oleh umat Islam sendiri sebagai upaya penyadaran internal bahwa Islam pada dasarnya menolak teorisme, akan tetapi juga seharusnya dipahami oleh orang-orang yang mencurigai Islam selama ini bahwa generalisasi stereotip yang mereka lakukan adalah salah. Kesemuanya harus diiringi oleh political will yang mulia atas nama ketenteraman global. Bukan masanya lagi mengkotak-kotakkan pluralitas agama sebagai ”kaum sini” dan ”kaum sana”. Karena agama apa pun, terlepas dari labelnya apa, pada dasarnya tidak ada satu pun yang menghalalkan penindasan dan terorisme apalagi yang dibungkus-bungkus dengan isu-isu manis yang menyesatkan. Wallahu a’lam bis shawab...

I’TIBAR DARI AMAWAS

Oleh: Anton Widyanto

Suatu ketika pada masa ‘Umar bin Khattab, khalifah kedua dari Khulafa’ al-Rasyidin, terjadi sebuah wabah yang mengerikan lagi menggemparkan. Bak senjata biologi, wabah itu menghantam Amawas, salah satu wilayah di Palestina. kemudian merambat ke Syam dan menewaskan setiap orang yang tertular dengan efek mengerikan. Wabah yang berlangsung selama sebulan itu telah menelan korban dari kalangan umat Islam lebih kurang sebanyak 25.000 orang termasuk di antara mereka adalah para pemuka kaum muslimin seperti: Yazid bin Abi Sufyan, Mu’adz bin Jabal, Haris bin Hisyam, ‘Utbah bin Suhail dll.

“ROBOT” PENDIDIKAN

Oleh: Anton Widyanto

Di akhir tahun 2007 lalu, eksistensi guru –selaku salah sebuah unsur tenaga pendidik- kembali menarik perhatian. Setelah disinyalir banyak guru yang tidak layak untuk mengajar, kemudian “himbauan” Presiden RI agar guru tidak melakukan demo sehingga dapat menelantarkan proses belajar-mengajar, sampai pada gugatan terhadap kebijakan diliburkannya sekolah pada saat peringatan HUT PGRI di Banda Aceh beberapa waktu lalu.
Terlepas dari isu-isu faktual yang terkait dengan eksistensi guru tersebut, sejauh ini menurut saya memang ada sesuatu hal yang mengganjal bila kita cermati kondisi para tenaga didik secara makro di lembaga-lembaga pendidikan baik formal maupun informal (sekolah, perguruan tinggi, lembaga kursus dsb).
Sejauh pengamatan “awam” saya, masih banyak guru, dosen maupun tutor yang merasa cukup dengan keilmuan yang telah mereka dapatkan, sehingga ketika menjalankan proses pendidikan (dalam arti sempit, pengajaran), yang diajarkan seringkali tidak mengalami pengembangan-pengembangan atau inovasi. Akhirnya proses pembelajaran yang terjadi, tanpa disadari seringkali bersifat monoton, statis, kaku dan kurang menyegarkan. Perubahan standar kurikulum dalam beberapa tahun terakhir juga kelihatannya masih “kurang bersambut” untuk mencapai hasil yang diharapkan.
Ketika seorang pengajar merasa cukup dengan ilmu pengetahuan dan wawasan yang ia miliki, maka sesungguhnya ia telah memposisikan dirinya sebagai orang yang paling tahu dan paling bisa dibandingkan orang lain. Tipe pengajar seperti ini pada umumnya sulit menerima pembaharuan-pembaharuan, takut disaingi, takut berkompetisi, bahkan apriori terhadap orang lain. Jurus yang diandalkan biasanya adalah “jurus penindasan”. Padahal ilmu pengetahuan adalah dimensi dinamis yang senantiasa berkembang dan tidak pernah statis. Tidak ada kata final dalam sebuah ilmu karena akan senantiasa mengalami pembaharuan-pembaharuan. Selalu ada proses dialektika antara thesis, antithesis dan sintetis. Karena itu, selama manusia masih dikaruniai otak untuk berpikir, selama itu pula ilmu pengetahuan akan menerima konsep-konsep baru.
Mencuplik argumen Paulo Freire dalam Pedagogy of Freedom: Ethics, Democracy, and Civic Courage (1998) seseorang yang berposisi sebagai pengajar pada prinsipnya adalah seseorang yang senantiasa dituntut untuk belajar. Pada bab II dia menegaskan There is no teaching without Learning (tak ada mengajar tanpa belajar). Maknanya sekali lagi bahwa siapa pun tidak boleh berhenti untuk belajar, sekalipun status yang disandangnya adalah sebagai seorang pengajar/pendidik (dosen, guru, tutor dsb). Dari pemikiran ini pula dapat dipahami bahwa beda antara seorang pengajar atau pendidik pada dasarnya hanya “beda-beda tipis”. Perbedaannya sangat bisa jadi hanya terletak pada persolan waktu dan pengalaman. Selebihnya kedua-duanya adalah mahkluk yang senantiasa dituntut untuk belajar. Selalu haus dan lapar akan ilmu pengetahuan. Sebab ilmu Allah Swt adalah samudera luas yang tidak akan pernah habis digali, dikaji, dipelajari maupun diteliti. “Katakanlah: "Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)” (Q.S Al-Kahfi: 109).
***
Seorang pengajar atau pendidik yang hanya puas dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya maka tidak ada bedanya dengan sebuah “robot”. Wawasannya hanya terbatas pada apa yang telah diserap atau diprogram dalam otaknya. Seolah-olah ilmu Allah Swt yang Maha Luas telah habis diserap, sehingga ia tidak merasa perlu untuk menggali lebih banyak lagi. Persoalan mahasiswa atau murid secara tidak langsung dibodohi, itu bukan urusannya. Bila ada pertanyaan-pertanyaan kritis yang muncul cukup diberikan saja tekanan bahwa itu tidak masuk materi yang dibahas atau pertanyaan seperti itu tidak penting. Kalau masih juga membandel, tinggal keluarkan jurus akhir, “jurus penindasan”. Caranya mudah. Posisikan si subyek didik yang kritis itu sebagai mahkluk bandel yang susah dididik; suka membuat masalah; orang aneh; sok pintar dsb. Ujung-ujungnya, singkirkan dia dari teman-teman sekelasnya dan berikan nilai paling buruk. Sederhana dan gampang bukan?
Seorang pengajar yang lebih memilih menjadi ”robot”, maka ia akan melahirkan generasi-generasi robot yang hanya menguasai konsep dan teori tapi kering dalam persoalan praktis. Konsep dan teori yang dipegangpun biasanya hanya itu-itu saja yang sangat bisa jadi sudah usang (out of date). Sementara konsep dan teori yang baru tidak ia kuasai.
Meski ironis, tapi kelihatannya memang sejauh ini para pendidik dan pengajar di sekolah-sekolah formal (dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi di Aceh pada khususnya dan Indonesia pada umumnya) banyak yang lebih memilih menjadi robot. Indikasinya antara lain dapat dilihat dari masih terbatasnya karya-karya akademik dan karya ilmiah yang mereka hasilkan (baik dari proses refleksi maupun penelitian). Karena itu tidak mengherankan bila Human Development Index (HDI) kita masih berada di bawah Singapura dan Malaysia. Keduanya adalah tetangga kita yang sebenarnya masih jauh tertinggal dari sisi kekayaan alam dibanding kita.
Upaya mempopulerkan budaya membaca, menulis dan meneliti di kalangan para pengajar pada dasarnya adalah hal krusial yang perlu diperhatikan para pengambil kebijakan pendidikan, khususnya di Nanggroe Aceh Darussalam. Model-model penelitian seperti Penelitian Tindakan Kelas (Class Action Research) atau Penelitian Tindakan Partisipatoris (Participatory Action Research) adalah model-model yang seharusnya familiar di kalangan tenaga didik di sekolah. Model seperti ini tidak hanya berdayaguna dalam meningkatkan kualitas wawasan tenaga didik, bahkan lebih dari itu akan menjadi sebuah langkah strategis untuk mendapatkan ”obat” bagi problematika pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah. Wallahu a’lam bis Shawab...

ATAS NAMA SYARI’AT

Oleh: Anton Widyanto

Salah satu berita “heboh” yang diangkat oleh Harian Serambi Indonesia sejak minggu akhir bulan Mei 2007 dan menjadi topik pembahasan selama beberapa hari adalah masalah pemaksaan adegan mesum yang disinyalir dilakukan oleh sekelompok orang di Aceh terhadap sepasang remaja usia belasan tahun dan masih duduk di bangku SMP.
Ragam bahasa geram yang mengutuk perbuatan tak senonoh itupun mencuat dari berbagai kalangan. Tuntutan untuk mengusut tuntas kasus inipun merebak. Di antaranya adalah yang disuarakan oleh Komite Perempuan Aceh Bangkit (KPAB) bersama seluruh elemen masyarakat, LSM, Ormas, serta praktisi pendidikan dan hukum (Serambi Indonesia, 8/6/2007).

PLURALITAS BUKAN MUSUH

Oleh: Anton Widyanto

“Keesaan Allah Swt, meniscayakan pluralitas selain Dia”, demikian kesimpulan Gamal Al-Banna dalam karyanya At-Ta’addudiyyah fil Mujtama’ al-Islami. Makna terdalam dari ungkapan yang disampaikan Gamal ini adalah bahwa segala macam perbedaan yang ada di muka bumi ini baik terkait dengan perbedaan jenis kelamin, agama, suku, bangsa, ras, warna kulit dsb adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditolak oleh manusia. Penolakan terhadap adanya pluralitas dalam segala aspek sedemikian rupa sama saja dengan mengingkari sunnatullah yang menjadi kewenangan (authority) Allah Swt selaku Pencipta, Pemilik, dan Pengatur Tunggal alam semesta beserta isinya ini. Penolakan sedemikian rupa pula pada prinsipnya sangat tidak berdasar karena sesungguhnya Dzat yang paling berhak mengklaim ke-Maha Tunggalan hanyalah Allah Swt. Tidak ada satu pun mahkluk-Nya, baik dari kalangan manusia, binatang, malaikat atau bahkan iblis sekalipun.

DIALOG IMAJINER BUSH DENGAN SUMANTO


Oleh: Anton Widyanto
Dalam perjalanan imajiner saya, terlihat dari kejauhan pemandangan yang begitu aneh, tapi menarik. George Bush, orang nomor 1 di Amerika itu memakai baju kaos warna biru dipadu dengan celana puntung warna biru pula. Sementara itu, tidak jauh dari posisinya, berdiri seorang pemuda dewasa dengan wajah yang kelihatan lebih tua dari umurnya. Pemuda itu berpakaian persis seperti apa yang dipakai Om Bush. Penampilannya lumayan tenang, bahkan terkesan lugu, dengan senyum diobral di bibirnya dan rambut yang sedikit amburadul. Orang mungkin tidak percaya bila dikatakan bahwa lelaki itu dijebloskan ke penjara gara-gara kesukaannya memakan daging manusia yang sudah jadi mayat. Biasanya dia mengorek-ngorek kuburan memakai kedua tangannya, kemudian setelah berhasil mendapatkan apa yang dicarinya, dengan wajah lapar dia mencincang mayat itu dan memasaknya seperti kita memasak eungkot suree. Ada yang dimodel tumis, atau dibakar dan ada pula yang digoreng kering dsb. Luar biasa.
Perlahan saya dekati kedua “tokoh” tersebut untuk ikut nimbrung apa yang mereka perbincangkan. Saya lihat Bush memandangi Sumanto dengan wajah sinis dan sorot mata menghakimi, penuh kegeraman. Nampak guratan emosional yang terpancar dari wajah lonjongnya.
“Saya, terus terang jijik melihat Anda, setelah tahu persis bahwa Anda dijebloskan ke sel ini karena kasus pencurian mayat dan kanibalisme”, Bush berkata tanpa mata berkedip ke arah Sumanto dan dengan logat bahasa Indonesianya yang terpatah-patah. Sumanto hanya menanggapi statemen Bush itu dengan dingin tanpa ekspresi. Dia seakan-akan sudah kebal mendengar ungkapan penghinaan sedemikian rupa. Sumanto acuh tak acuh menanggapinya.
“Seandainya Anda hidup di negara saya, kehidupan Anda pasti sudah habis. Sebab hukum di negara saya sangat menentang perbuatan keji sedemikian rupa. Tidak pernahkah Anda bayangkan bahwa tindakan Anda itu telah melukai jiwa orang banyak, khususnya bagi keluarga korban dan korban itu sendiri? Tidak pernahkah Anda berpikir bahwa tingkah laku Anda itu juga melukai masyarakat banyak? Sebab ketika masyarakat tahu perbuatan keji sedemikian rupa terjadi di tanah air Anda, mereka menjadi was-was dan ketakutan. Tanpa Anda sadari, sebenarnya Anda telah menjadi seorang teroris. Ya, bahkan teroris kelas kakap”, saya dengar Bush masih setia mengomeli Sumanto. Sementara itu Sumanto, lawan bicaranya, masih tetap seperti sikapnya semula, acuh tak acuh.
“Saya ingin tahu kejujuran Anda. Apakah Anda tidak merasa berdosa dengan perbuatan yang Anda lakukan tersebut?”, kali ini Bush melontarkan pertanyaannya kepada Sumanto. Sumanto mengangguk perlahan dengan pandangan kosong.
“Apakah Anda tidak membayangkan bagaimana bila mayat Anda nanti dicincang oleh orang, kemudian dimasak jadi gulai, disate, atau digoreng pakai sambal lado?”, Bush bertanya lagi. Sumanto sekali lagi menganggukkan kepalanya dengan ekspresi bersalah.
Bush menghela nafas panjang. “Jika tahu bahwa semua perbuatan yang Anda lakukan itu adalah salah, mengapa Anda tega mengerjakannya?”, pertanyaan Bush yang kesekian kali ini terlihat agak keras. Bahkan ribuan bulir ludahnya menghujani muka Sumanto dengan deras. Saya yang melihatnya menjadi kasihan melihat Sumanto dalam kondisi terpojok, tanpa bisa berkomentar apa-apa. Sayapun menjadi terpancing untuk ganti mengorek keterangan dari Mr Bush.
“Maaf Mr. Bush. Selama ini saya lihat Anda selalu memojokkan orang dengan kesalahan-kesalahan dan kejahatan-kejahatan. Bolehkah saya bertanya sama Anda, apakah Anda merasa bersalah dengan kebijakan yang Anda keluarkan untuk menyerang dan mengintimidasi masyarakat muslim selama ini, seperti di Afghanistan, Irak, Libya dan Suriah?”.
Dengan gaya diplomasinya yang ulung Mr. Bush menjawab. “Apa yang saya lakukan di Afghanistan, Libya, Suriah dan khususnya Irak adalah hal yang benar serta proporsional. Saya hanya berupaya sekuat tenaga untuk membebaskan mereka dari kengerian dan ketercekaman mereka selama ini, sekaligus menyelamatkan dunia dari ulah teroris-teroris yang bersembunyi di negara-negara tersebut. Lihatlah bagaimana orang-orang perempuan di Afghanistan selama ini terkungkung dalam ketidakberdayaan selama berada di bawah kepemerintahan rezim Taliban. Mereka tidak boleh sekolah atau bekerja. Padahal paradigma peminggiran perempuan sedemikian rupa adalah paradigma yang usang (out of date) dan tidak layak jual lagi di era maju sekarang ini. Lihatlah pula bagaimana rakyat Irak selama ini menderita akibat Saddam, sang diktator tulen itu. Tidak sedikit diantara orang-orang Syiah di sana yang diusir dan dibantai tanpa proses hukum. Lebih dari itu, satu hal lagi, Irak sangat potensial menjadi negara sarang teroris, sebab di sana dari dulu sudah dikenal sebagai pabrik pembuat senjata biologi yang efeknya sangat menakutkan dan membahayakan bagi masyarakat internasional. Karena itu, kami sebagai polisi dunia sangat bertanggungjawab untuk menyelamatkan seluruh umat manusia di bumi ini dari ancaman Irak sedemikian rupa”.
Sumanto diam-diam ikut mengangguk, sementara saya menjadi terpancing untuk bertanya lebih banyak lagi. “Alasan-alasan Anda saya lihat terlalu idealis dan mengawang di langit, namun tahukah Anda bahwa kebijakan Anda sedemikian rupa kenyataannya justru membuat masyarakat muslim di negara-negara tersebut menjadi lebih sengsara? Banyak masyarakat sipil tak berdosa yang menjadi korban kebuasan serdadu Anda. Rumah-rumah mereka, sekolah-sekolah, tempat-tempat yang disucikan dan rumah sakit yang nota bene dilindungi oleh hukum humaniter internasional, dijadikan sasaran penyerangan. Tidakkah Anda lihat bagaimana ekspresi wajah mereka yang mengerang kesakitan akibat terkena serpihan bom dan rudal yang dimuntahkan oleh pesawat-pesawat penyerbu canggih Anda? Tidakkah Anda saksikan bagaimana anak-anak yang menjerit pilu karena kehilangan ayah-ibunya? Tidakkah Anda memahami bagaimana perasaan orang-orang muslim sejagat melihat tindakan Anda yang justru membuat orang-orang Islam di sana sengsara? Apakah Anda pikir bahwa dengan tindakan-tindakan menakutkan tersebut, terorisme di dunia ini jadi terhenti? Bukankah hal sedemikian rupa justru memancing aksi terorisme yang lebih luas lagi?”.
Dengan sedikit tersenyum kecut, Bush menjawab. “Anda benar bahwa apa yang saya katakan mungkin terlalu idealis dan mungkin juga terlalu diplomatis. Tapi tahukah Anda bahwa semua itu adalah akibat yang wajar dari sebuah peperangan?”, Bush menjawab dengan sedikit emosional. Kemudian dia melanjutkan jawabannya. “Peristiwa pelecehan seksual yang baru-baru ini muncul dan terungkap di rumah tahanan Abu Ghraib Irak adalah hanya dilakukan oleh segelintir oknum tentara Amerika dan bukan semuanya. Yang jelas, mereka, saya yakin tidak bermaksud untuk melakukan tindakan-tindakan memalukan sedemikian rupa karena militer di negara kami sudah dibekali dengan segudang pengetahuan mengenai cara-cara manusiawi (HAM) dalam menangani konflik. Ringkasnya mereka hanya khilaf saja.”
“Bagaimana Anda bisa mengatakan bahwa tindakan-tindakan serdadu Anda merupakan hal yang wajar-wajar saja? Apakah nurani dan kata hati Anda sudah tergadaikan?”, kali ini saya bertanya dengan sedikit emosional, sementara Sumanto hanya manggut-manggut. Entah dia mengerti yang kami bicarakan ataukah tidak. “Semua tindakan keji dan memalukan yang dilakukan oleh serdadu Anda pada hakikatnya tetap tidak bisa dibiarkan atau ditolerir oleh siapa saja yang masih memiliki nurani. Kasus-kasus Afghanistan dan Irak adalah bukti-bukti nyata bagaimana Anda menerapkan standar ganda dalam kebijakan internasional Anda. Sebab selama ini Anda selalu mengagung-agungkan demokrasi, HAM dan pemberantasan terorisme di seluruh penjuru dunia, bahkan dengan mudahnya Anda mengintervensi ke mana saja. Tapi dalam kasus Palestina, Anda selalu saja membela Israel yang dengan nyata dan telanjang mempertontonkan kebiadabannya. PBB pun Anda “perkosa”, sehingga terkesan tidak berdaya. Di dalam rapat organisasi dunia itu Anda selalu tak luput menggunakan hak veto untuk membela Israel mati-matian. Hal ini semakin memperkuat anggapan bahwa kebijakan negara Anda adalah kebijakan pisau bermata dua”.
Bush terlihat tersinggung mendengar ocehan saya. Dia berkata, “Saya tegaskan sekali lagi, bahwa upaya untuk mewujudkan dunia yang damai-sejahtera bukanlah persoalan yang mudah. Ketika Anda menyatakan bahwa selama ini negara kami senantiasa menerapkan standar ganda dalam kebijakan internasional pada hakikatnya adalah sebuah kesalahan besar. Dalam kasus Palestina, tidakkah Anda pahami bagaimana brutalnya para penyerang Hamas ketika melancarkan serangan-serangan yang mengenai orang-orang sipil Israel? Bukankah hal sedemikian rupa merupakan upaya-upaya terorisme?”. Mata Bush melotot memandangi wajah saya, sementara Sumanto tetap setia untuk menganggukkan kepalanya. Sesekali ia selingi dengan garukan di kepala.
“Orang-orang Palestina dengan Hamasnya melakukan tindakan-tindakan perlawanan sedemikian rupa adalah dikarenakan kezaliman-kezaliman yang senantiasa dipelihara oleh bangsa Israel. Adapun aksi Kamikaze alias bom bunuh diri yang mereka sering lakukan pada hakikatnya adalah wujud dari ketidakberdayaan mereka untuk melawan penindasan-penindasan dan kezaliman-kezaliman Israel sedemikian rupa yang dilakukan dengan senjata-senjata canggih. Tidakkah Anda pahami bahwa persenjataan dan peralatan tempur mereka tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan yang dimiliki kaum zionis tersebut? Sehingga dengan kenyataan itulah mereka mengambil jalan bom bunuh diri, karena menurut mereka itu adalah salah satu jalan efektif dan ampuh untuk memperjuangkan harga diri bangsanya yang sudah tercabik-cabik. Sementara itu Israel tidak pernah berhenti untuk mencaplok hak-hak rakyat Palestina. Dengan dalih memerangi terorisme seperti yang Anda gaungkan selama ini, mereka seakan menemukan momen yang tepat atau obat mujarab untuk menghalalkan penindasan mereka terhadap rakyat Palestina. Mereka seakan-akan tidak puas, selama Palestina khususnya dan bangsa-bangsa Arab pada umumnya, belum berada di bawah kekuasaannya. Lalu apakah Anda berani mengatakan bahwa tindakan-tindakan keji mereka selama ini bukan sebagai terorisme? Apakah Anda tidak merasa berdosa karena senantiasa membela kepentingan kaum zionis yang sebenarnya adalah teroris tulen tersebut?”, saya menyerocos tanpa henti, sementara Bush terdiam dan Sumanto hanya tetap mengangguk-angguk.
“Bahwa negara Anda adalah negara superpower yang saat ini merajai dunia adalah kebenaran yang tak terbantahkan. Semua pasti mengakuinya. Tapi kenyataan yang berbicara bahwa negara Anda telah berbuat zalim terhadap masyarakat muslim agaknya juga sulit untuk dimentahkan. Dengan alasan memerangi terorisme global Anda telah mengoyak perasaan muslim sejagat. Dan dengan lagak polisi dunia, Anda bersikap bak Rambo yang mau menyelamatkan peradaban manusia di seluruh penjuru dunia, padahal tanpa disadari sebenarnya Anda telah menjelma menjadi teroris baru! Sehingga Andapun pada prinsipnya tidak jauh berbeda dengan Sumanto!”.Suasana menjadi senyap. Bush terdiam, Sumanto masih menggut-manggut, sementara saya menjadi tersadar bahwa itu semua hanya hadir dalam imajinasi kusut saya.

APA KABAR PENDIDIKAN ANTI KORUPSI?

Oleh: Anton Widyanto

Di awal tahun 2007, tepatnya tanggal 4 Januari lalu, Komisi Pemberantasan Korupsi RI (diwakili oleh Dr. Sjahruddin Rasul, SH) telah menandatangani Nota Kesepahaman dengan Unsyiah (diwakili oleh Dr. Darni Daud, MA) dan IAIN Ar-Raniry (diwakili oleh Prof. Drs. Yusny Saby, M.A, Ph.D) di Balai Senat Unsyiah. Nota Kesepahaman ini menyangkut 3 bidang: 1) Pendidikan antikorupsi. 2) Kampanye antikorupsi. 3) Riset atau Kajian mengenai Pemerintahan yang baik dan benar. Semangat mulia yang telah "diformalkan" ini sesungguhnya wajib didukung oleh siapa saja yang masih peduli dengan kebajikan dan sangat membenci kezaliman. Di samping itu, penandatanganan nota kesepahaman tersebut juga dirasa tepat mengingat: pertama, korupsi di Aceh baik pra tsunami maupun sesudahnya tergolong mengkhawatirkan. Kedua, penempatan semangat anti korupsi yang dikobarkan di perguruan tinggi dirasa penting mengingat lembaga pendidikan ini adalah tempat penggodokan para intelektual Aceh ke depan. Artinya, apabila pendidikan anti korupsi yang digagas tersebut berhasil, bukan tidak mungkin akan muncul generasi anti korupsi sebagai pembangun Aceh ke depan. Persoalannya, sudah seberapa jauhkah poin-poin dalam nota kesepahaman (memorandum of understanding) tersebut diimplementasikan di lapangan?
Ketika hal ini dipertanyakan, bisa jadi jawaban yang muncul belum begitu meyakinkan, karena tokh sejauh ini belum ada gebrakan-gebrakan signifikan yang gaungnya terdengar. Kelihatannya, semangat pendidikan anti korupsi masih di atas kertas. Pola pendidikan anti korupsi yang akan dijalankan juga masih kabur. Apakah akan dialokasikan pada mata kuliah tersendiri ataukah hanya perlu diintegrasikan pada mata kuliah-mata kuliah yang ada.
Berikutnya mengenai kampanye anti korupsi dan riset tentang pemerintahan yang bersih kelihatannya juga kurang terdengar gaungnya. Yang pasti kedua poin ini tentu membutuhkan dana yang tidak sedikit. Masalahnya, apakah kedua perguruan tinggi tersebut sudah mengalokasikan dana tersendiri untuk melaksanakannya?
***
Anggapan bahwa korupsi adalah hal yang buruk, hina, tidak mulia, kotor, busuk, menjijikkan, memuakkan, dosa dan lain sebagainya (terlepas ia menjadi ordinary crime ataupun extraordinary crime), bisa jadi setiap orang menyetujuinya. Meski demikian, mendidik orang untuk memahami bahwa korupsi adalah hal yang harus dijauhi memang bukan hal yang mudah dilakukan dalam proses perkuliahan. Hal ini terkait dengan masih belum tersosialisasikannya dengan baik, apa hakikat korupsi (definisi, jenis, ruang lingkup dsb) tersebut di kalangan dosen dan mahasiswa. Selanjutnya yang menjadi lebih sulit adalah ketika praktek korupsi tersebut harus dijauhi secara nyata dalam kehidupan keseharian di kampus.
Korupsi biasanya hanya diidentikkan dengan masalah pengemplangan uang demi keuntungan pribadi atau kelompok. Sementara mental-mental yang potensial mendorong pada budaya korup seperti: keterlambatan mengajar tanpa alasan yang logis, menyontek saat ujian berlangsung, menjiplak karya orang lain saat membuat skripsi, thesis, atau karya ilmiah (plagiarism), menyediakan setoran tertentu saat mengamprah uang kegiatan atau mengambil beasiswa dengan istilah "uang keringat", menempatkan orang-orang "besar" dalam susunan kepanitiaan kegiatan dengan alasan bagi-bagi rejeki, padahal seringkali orang-orang "besar" tersebut tidak ada kaitan/andilnya sama sekali dalam kegiatan yang dilaksanakan (herannya, honor tetap mereka terima) dsb, tetap dibiarkan. Lebih dari itu, selama ini upaya-upaya kritis yang sebenarnya positif untuk memberangus mental-mental korup sedemikian rupa di kampus, biasanya harus berhadapan dengan tembok besar yang susah ditembus. Kalaupun dipaksakan diri untuk menembusnya, yang terjadi adalah kerugian pada diri si "penembus". Resikonya, "kepalanya" akan benjol, atau "tangannya" justru akan diamputasi. Akhirnya manusia-manusia kritis dan idealis dipaksa harus menjadi orang-orang "murji'ah". Sebuah kenyataan yang miris dan menyedihkan.
***
Sudah semestinya perjanjian pemberantasan korupsi yang telah ditandatangani oleh kedua perguruan tinggi terkemuka di Aceh tersebut (IAIN Ar-Raniry dan Unsyiah) dipikirkan secara serius di lapangan. Bila ini dapat dilaksanakan dengan baik, bukan tidak mungkin efek dominonya akan menyebar pada perguruan-perguruan tinggi lain di Nanggroe Aceh Darussalam. Meski demikian, yang perlu dicatat adalah bahwa implementasi ini tentu tidak akan berjalan dengan mulus selama tidak diiringi dengan political will para pimpinannya mulai dari rektorat sampai dekanat.
Saya sepakat bahwa pendidikan anti korupsi tidak perlu dijadikan sebuah mata kuliah tersendiri, karena hal tersebut akan menambah beban mata kuliah yang dipikul mahasiswa yang sudah terlihat sarat muatan selama ini akan menjadi semakin berat. Namun demikian, perlu pula dipikirkan bagaimana pendidikan anti korupsi tersebut dapat diintegrasikan dalam mata kuliah-mata kuliah lainnya.
Mental-mental korup yang selama ini terpola sebagai "penyakit turunan" seperti saya contohkan di atas mulai dari: "setoran" tak resmi, "pengemplangan" jam kuliah, menyontek, plagiat dst sudah selayaknya diberantas. Strategi awalnya adalah dengan cara mensosialisasikan bahwa tindakan-tindakan tersebut adalah haram, karena itu perlu dijauhi dan ditinggalkan. Selanjutnya harus ada kejelasan dan ketegasan mengenai regulasi sanksi yang akan diberlakukan bila aktivitas-aktivitas haram tersebut masih dilakukan (tanpa pandang bulu).
Yang tidak kalah pentingnya, sudah semestinya pula kedua perguruan tinggi di atas memiliki sebuah badan pengawas anti korupsi yang otonom baik di tingkat universitas/institut maupun fakultas. Sebab salah satu kelemahan yang muncul selama ini adalah bahwa kinerja perguruan tinggi kurang mendapat pengawasan yang memadai. Kalaupun ada lembaga senat institut, tidak jarang lembaga ini menjadi "kepanjangan tangan" dari rektor yang sedang menjabat. Tentu saja lembaga seperti ini akan sulit diandalkan. Sebab bagaimana mungkin "jeruk makan jeruk?". Demikian kata sebuah iklan di TV.

MEMANUSIAKAN KAUM HONORER

Oleh: Anton Widyanto

Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, para pimpinan institusi apa pun yang masih punya nurani dan akal sehat di mana saja Anda berada. Pernahkah terlintas di benak Anda bagaimana sulit dan terhimpitnya nasib orang-orang kecil yang masih berstatus honorer dan masih belum jelas status ke Pe eN eS-annya hingga kini? Oke. Kalau memang Anda masih belum tahu, setidaknya tulisan ini penting untuk Anda baca agar Anda bisa tahu. Kalau memang Anda sudah tahu, paling tidak “coretan” ini akan semakin memantapkan pengetahuan tentang nasib kaum honorer yang sudah Anda miliki.
Kawan saya, si A, adalah salah seorang tenaga honorer di sebuah perguruan tinggi negeri, sebuah institusi yang nota bene berada di bawah Departemen (X) pusat. Dia sudah mengabdi lebih dari 5 tahun dan telah beristri serta memiliki seorang anak yang lucu.
Sebagai kepala rumah tangga, dia merasa memikul tanggung jawab besar untuk menghidupi anak-istrinya. Sayangnya, sekalipun dia termasuk yang dinominasikan tahun ini untuk diangkat sebagai Pe eN eS (istilahnya sudah tercatat dalam “Buku Putih”), sehingga ada kebijakan institusi yang intinya menahan honorariumnya selama masih menunggu kedatangan sang “SK” (sudah hampir setahun), namun sang SK rupanya tidak juga kunjung datang. “Ada misunderstanding antara BKN Pusat dengan Departemen (X) Pusat dalam masalah pengangkatan honorer menjadi Pe eN eS”, demikian katanya mengutip sebuah pendapat orang yang berkompeten menjawab di lembaga tersebut. Senyum si A pun mulai memudar. Ia mulai enggan masuk kantor dan lebih asyik mencari fulus di luar. Sebab bagaimanapun urusan perut tidak bisa ditunda atau dirapel layaknya gaji. Anaknya yang masih bayi, tentu tidak akan mengerti bila dijelaskan bahwa susu belum bisa dibeli karena alasan dia masih menunggu SK. Sayangnya sang “bos” di perguruan tinggi tersebut seakan tidak memahami kesulitan hidup si A (atau sengaja tidak peduli?). Ia diharuskan tetap masuk kerja tanpa honor. Padahal, ia pasti paham bahwa -sekali lagi- urusan perut memang tidak bisa dirapel layaknya gaji.
Si A, tidak sendiri. Ada si B, yang sudah 8 tahun menjadi seorang karyawan honorer di lembaga yang sama, juga mengalami nasib serupa. Si B, sudah memiliki seorang suami dan seorang anak. Suaminya memang seorang Pe eN eS. Tapi karena ada tanggung jawab moral terhadap pembiayaan pendidikan adiknya, si B merasa berkewajiban untuk mencari nafkah tambahan. Sebab kalau hanya mengandalkan gaji sang suami yang masih berpangkat “yunior”, apalagi ditambah dengan potongan kredit bulanan yang hampir membuat seluruh gajinya “lenyap”, tentu roda perut rumah tangga bisa saja terganggu. Meski dengan honorarium terbatas di tengah biaya hidup yang tidak pernah ada ceritanya merangkak turun, ia pun masih setia mengabdikan diri sebagai karyawan honorer. Harapannya cuma satu, bahwa ia akan diangkat sebagai Pe eN eS tahun depan. Ia pun sudah bosan ikut tes CPNS ini itu, karena hasilnya selalu gagal. “Pasrah saja”, katanya.
Dulu, ketika pertama kali ia tahu bahwa namanya masuk buku putih, perasaannya girang bukan kepalang. “Masa depanku akan cerah meski harus menunggu giliran diangkat tahun depan”, ungkapnya suatu kali. Namun ia sekarang mulai pesimis, karena ternyata orang-orang yang senasib dengannya bahkan sudah diprioritaskan diangkat menjadi Pe eN eS tahun ini, seperti kasus si X, ternyata masih harus menjual mimpi.
Si A dan B ternyata sekali lagi tidak sendiri. Adapula kisah si X. Dari sisi pendidikan, Si X memang tidak sebanding dengan si B yang sudah tamat S-1, atau si A yang sudah selesai S-2. Si X hanya tamat SMA. Tapi yang jelas ketiga-tiganya berstatus sama, sebagai honorer. Bila si A dan B kerjaannya selalu dalam ruang dan berhadapan dengan komputer, sebaliknya si X kerjaannya sehari-hari adalah semacam petugas lapangan (field officer, istilah kerennya).
Pagi setelah subuh, si X mulai bergerak mengayuh sepeda bututnya ke lembaga tempat ia mengabdi bertahun-tahun. Mulailah ia menjalankan ”misi” pembersihan ruangan yang jumlahnya lebih dari 5. Tidak cukup itu, ia pun diharuskan mengalirkan air ke dalam bak-bak kamar mandi yang jumlahnya juga tidak tanggung-tanggung, sekitar 10 buah. Mungkin ini tidak terlalu berat ketika listrik mengalir normal. Tapi ketika listrik padam, ia terpaksa menimba air di lantai bawah dan menggotongnya ke masing-masing kamar mandi tersebut yang sebagian di antaranya berada di lantai atas. Tentu Bapak-Ibu, para pimpinan, bisa membayangkan bahwa ia memerlukan tenaga ekstra untuk naik-turun tangga, karena lift hanya ada di kantor sekelas kantor Gubernur di daerah kita ini.
Meski begitu, si X tetap kukuh dengan pengabdiannya. Karena ia yakin, nasibnya akan berubah saat ia sudah diangkat menjadi Pe eN eS. Tapi semakin lama, si X semakin menyadari bahwa kekukuhannya dalam pengabdian tentu hanya sebuah omong kosong bila tidak dihargai dengan uang. Ia tidak munafik dalam hal ini, sebab seperti si A, honornya terpaksa ”dihentikan” selama menunggu datangnya sang SK, sementara –sekali lagi- urusan perut yang manusiawi sudah jelas tidak bisa dirapel sebagaimana layaknya gaji.
***
Si A, si B dan si X pada dasarnya tidak sendiri. Ada si C, si D, si E, si fulan, si fulin dst, yang juga mengalami nasib serupa. Nasib mereka memang tidak sebaik rekan-rekan honorer di instansi-instansi lain yang sudah mendapatkan SK. Mereka sesungguhnya adalah orang-orang yang hanya bisa bersikap pasrah dengan kondisi, karena mereka tidak punya posisi tawar yang kuat di depan para pengambil kebijakan di institusi tempat mereka bekerja. Kenyataannya, sekalipun sangat berjasa dalam mempertahankan roda kelembagaan, mereka seringkali hanya dipandang sebelah mata dan kemudian dipermainkan seperti bola. Tokh, bukan hal yang sulit untuk mendepak mereka dari posisi honorer, sebab di belakang mereka masih antri orang-orang lain yang mengharap diberikan SK honorer. Jadi buat apa dipusingkan?
Pada saat mereka tidak masuk kerja dan menjalankan kewajiban, sesungguhnya mereka hanya ingin menyuarakan bahwa mereka bukan malaikat. Mereka adalah manusia biasa seperti juga Bapak-Ibu, para pimpinan. Mereka juga merasakan lapar, sakit, butuh pakaian, butuh rumah, butuh biaya kesehatan, SPP anak dan tetek bengek lain, sama seperti yang Bapak-Ibu, para pimpinan, rasakan. Sayangnya suara mereka adalah suara serak tak bertenaga, sehingga sering lenyap begitu saja (go where the wind blows).
Si A, si B, si X dan orang-orang yang senasib dengan mereka memang dalam posisi lemah dan tak berdaya. Tak ubahnya TKI atau TKW yang seringkali dianggap sebagai “pahlawan devisa” tapi justru sering dipandang sebelah mata, kaum honorerpun sebenarnya tidak jauh berbeda.
Dalam aktivitas kerja harian, biasanya mereka malah lebih rajin dibandingkan orang-orang yang sudah resmi berstatus Pe eN eS. Hal ini dikarenakan mereka pada umumnya adalah golongan orang yang paling rentan untuk ”dikerjai” dan mudah pula dilupakan jasanya.
Ironisnya, nasib dan cerita miris mereka justru seringkali luput dari perhatian mahasiswa, komunitas yang sering disebut kritis dan peduli pada persoalan sekitar. Sebab mahasiswa sekarang tidak jarang hanya mau bersikap kritis ketika ada hal yang menguntungkan mereka (pragmatis). Malahan kebanyakan mahasiswa tidak mau ambil peduli sama sekali dengan ketimpangan-ketimpangan di sekitarnya. Pola pikirnya hanya terkotak pada penyelesaian SKS tanpa diiringi asahan daya kritis, sehingga menjadikan hiruk-pikuk dunia kemahasiswaan laksana menara gading (semoga karakteristik mahasiswa seperti ini bukan cerminan umum mahasiswa kita di Aceh).
Pertanyaannya, jika sudah demikian faktanya, siapa lagi yang peduli pada nasib honorer yang terkatung-katung itu? Wallahu a’lam bis Shawab.
Tulisan ini dimuat di Harian Serambi Indonesia, 24 November 2007.

RUMUS "BIARKAN SAJA"

Oleh: Anton Widyanto
Di alam yang katanya bergerak maju (progressive) dan dinamis seperti sekarang ini, rumus “biarkan saja” kelihatannya menjadi senjata efektif untuk menyihir sekaligus mengelabui orang secara perlahan tapi pasti. Anda boleh setuju, tapi tentu saja tidak saya larang untuk tidak sepakat. Coba kita cermati beberapa kasus.
Ketika banjir menjadi masalah “tradisional” di kota-kota besar, sehingga efektif untuk dijadikan isu-isu perjuangan dalam kampanye pemilihan kepala daerah, rumus “biarkan saja” menjadi bumbu yang cukup menghibur dan mengasyikkan. Biarkan masyarakat berteriak bahwa jargon-jargon pelarangan penebangan hutan sekadar isapan jempol dan pemanis bibir belaka (lips service). Biarkan tenaga mereka habis-habisan dipergunakan untuk berdemonstrasi, sebab mereka akan lelah dan akhirnya diam sendiri. Biarkan isu-isu penanganan banjir tertutup oleh isu-isu panas lain yang lebih menarik dan layak jual.
Demikian pula di kala manusia-manusia di daerah sumber lumpur panas harus menerima akibat dari eksploitasi gas alam, mulai dari kehilangan rumah, pekerjaan, bahkan nyawa. Biarkan saja mereka menuntut ganti rugi dan semacamnya. Biarkan mereka berteriak sampai serak dan kering air matanya. Sebab lama-lama mereka juga akan diam sendiri. “Gitu aja kok repot”, kata Gus Dur.
Pada saat isu penganiayaan TKI atau TKW, sang pahlawan devisa kita, mencuat pertama kali dan membikin geram banyak orang, tenang saja, itu semua akan berlalu. Tidak usah pusing-pusing memikirkan sorakan masyarakat yang mengkritisi kinerja lembaga pemerintah yang seharusnya memiliki kepedulian terhadap nasib mereka. Biarkan saja. Sebab tokh berita tentang kasus-kasus seperti itu akan menjadi berita biasa dan akan tertutup oleh kasus-kasus lain yang dianggap luar biasa. Sekali lagi, biarkan saja. “Emang gua pikirin”, kata si Entong.
Di waktu AIDS, DBD, malaria, chikunguya, lumpuh layu, atau bahkan flu burung menjadi “momok” yang menggusarkan, santai saja, itu semua juga akan berlalu dengan sendirinya. Tidak perlu khawatir, repot atau bahkan stress. Biarkan saja. Paling-paling cuma perlu direspon sebentar, karena nanti lama-lama masyarakat akan lupa sendiri. Tokh kebanyakan masyarakat kita adalah orang-orang yang sering mudah lupa untuk memetik pelajaran berharga dari sejarah masa lalu.
Tidak usah rumit-rumit berpikir untuk memahami penilaian ini. Berapa banyak pelaku korupsi yang nyata-nyata telah merampok uang rakyat tiba-tiba menjadi orang yang justru disegani, dihormati, bahkan dielu-elukan karena kedermawanannya “menyedekahkan” sebagian kecil uang hasil korupsinya yang sebenarnya cukup membikin kenyang anak-cucu tujuh turunan.
Coba kita cermati lagi. Di saat sebuah badan mega proyek, BRR NAD-Nias hadir di Aceh pasca tsunami, pemerintah dan rakyat pada awalnya memberikan harapan besar demi tertanganinya wajah lusuh Aceh menjadi wajah berseri. Badan inipun melenggang dengan segala programnya untuk mewujudkan harapan tersebut. Bahwa kemudian muncul gugatan-gugatan yang berupaya mengkritisi kinerja lembaga ini, anggap saja itu hal biasa. Bukankah ini zaman demokrasi? Bukankah setiap orang diberikan hak kebebasan untuk mengemukakan pendapat? Biarkan lembaga ini dianggap sebagai lembaga yang tidak profesional, lamban, tidak peka dengan suara rakyat, tidak sepenuhnya transparan dst, karena tokh isu itu akan menguap dengan sendirinya.
Silakan menyodok lembaga ini gara-gara masalah bangunan rumah atau program-program lain yang dianggap mengabaikan kualitas. Silakan menyorot masih adanya indikasi korupsi dalam pelaksanaan beberapa program kerjanya. Silakan Anda kritik habis-habisan masalah program asistensi. Silakan Anda gugat gaji ”wah” orang-orang di dalam badan ini yang sering tidak imbang dengan kualitas kinerja yang ditunjukkan. Pokoknya, silakan lakukan apa yang Anda suka. Silakan luapkan uneg-uneg yang menurut Anda mengganjal agar tidak menjadi bisul atau jerawat di kemudian hari.
Silakan berdemo sepuas-puasnya sampai kenyang, karena lembaga inipun tidak lama lagi akan pergi. Persoalan rakyat geram atau tidak, itu masalah mereka. Masalah rakyat akan menderita sakit pasca diberikan bantuan rumah berbahan asbes dalam kurun waktu berpuluh tahun mendatang, itu juga masalah mereka. Biarkan saja Pemerintah Aceh yang mengurusi borok-borok selama ini. Sekali lagi biarkan saja. Tokh kita memiliki rakyat yang cukup ”santun”, mudah memberi maaf dan gampang melupakan sejarah.
***
Rumus ”biarkan saja”, pada dasarnya adalah milik para pimpinan yang menganggap tanggung jawab hanya sebagai barang tentengan tak berharga. Rumus ini juga milik orang-orang yang tidak memiliki kepekaan nurani, walaupun mungkin otaknya penuh berisikan ilmu pengetahuan, dan mungkin gelarnyapun panjang berderet-deret. Biasanya, yang menjadi korban orang-orang seperti ini adalah masyarakat awam, rakyat kecil dan kaum dhuafa’ yang tidak memiliki posisi tawar (bargaining position) di tengah tajamnya cakar si penguasa.
Bagi kaum ini, rumus ”biarkan saja” tentu merupakan pukulan yang menyakitkan. Sebab dengan adanya merekalah, sebenarnya para pemimpin itu dibayar dan sesungguhnya mereka, orang-orang yang tertindas (the oppressed people) tersebut, memiliki hak dari sebagian harta yang diperoleh oleh pemimpin itu.
Di zaman yang semakin terbuka ini, tentu bukan saatnya lagi mempermainkan mereka dengan rumus ”biarkan saja”. Sebab meskipun mereka dianggap lemah tak berdaya, mudah dipermainkan dengan janji-janji manis, mereka adalah manusia biasa yang memiliki batas kesabaran. Ketika rasa kecewa, marah, ngambek, dan tidak percaya semakin bertumpuk dan berkumpul jadi satu menjadi gumpalan bom kefrustasian yang siap meledak, jangan salahkan mereka jika kemudian berbuat hal yang dianggap ”tidak cerdas”. Sesungguhnya mereka tidak tahu lagi harus bersuara dengan apa, karena mereka sudah kehabisan suara untuk berteriak. Ibarat rakyat Palestina yang tidak tahu lagi melawan aksi zionis yang selalu melakukan penindasan dengan peralatan militer yang serba canggih, merekapun terpaksa melakukan tindakan-tindakan perlawanan yang dianggap ”tidak masuk akal”.
Semoga saja para pemimpin di Aceh, apa pun nama instansinya, tidak pernah menggunakan rumus "biarkan saja". Jangan pernah ingkari janji terhadap rakyat, karena doa orang-orang yang dizalimi adalah doa orang yang paling didengar oleh Allah Swt. Kita tentu sering mendengar hadits Rasulullah Saw yang menegaskan hal ini. Saya juga meyakini bahwa kita sama-sama memahami makna dan substansinya. Semoga. Wallahu a'lam bis Shawab...