Saleum

Selamat Datang di Forum Pembelajaran: Komunitas Pojok Kampus. Terima kasih atas kunjungannya.

Featured post

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU TERKAIT FOKUS MASALAH YANG DIANGKAT DALAM DRAFT PROPOSAL PENELITIAN Dosen Pengampu: Dr. Anton Widyanto...

TERORISME MILIK SIAPA?

Oleh: Anton Widyanto

Salah satu rekomendasi dari Konferensi Tingkat Tinggi OKI baru-baru ini di Dakar, Senegal, yang dibacakan oleh Sekjen OKI, Eklemiddin Ihsanaglu menegaskan bahwa terorisme adalah hal yang bertentangan dengan ajaran Islam. Karena itu hal yang perlu dikembangkan adalah sikap toleransi di kalangan masyarakat dunia (Kompas, 15/3/08).
Tak dapat dipungkiri hingga detik ini isu terorisme merupakan isu global yang menghentak seluruh dunia, khususnya pasca runtuhnya simbul bisnis kebanggaan Amerika Serikat, World Trade Center beberapa tahun silam. Peristiwa itu, di satu sisi menambah penegasan bahwa Islam merupakan agama yang “patut” ditakuti, menyeramkan dan mengerikan di mata masyarakat Barat, namun di sisi lain, -mencuplik pemaparan Prof. Annabelle dalam pemaparannya saat memberikan studium general di PPs IAIN Ar-Raniry (22/3/0)- justru mendorong banyak orang-orang non muslim Barat untuk mempelajari Islam. Mereka penasaran, ingin tahu apa dan bagaimana sih sebenarnya Islam itu. Bahkan tidak sedikit orang yang menemukan informasi bahwa ternyata Islam tidak seperti yang dituduhkan itu (keras, keji, kejam, seram dan mengerikan), mereka akhirnya memeluk Islam.
Layaknya isu cuak atau OTK pada masa konflik bersenjata di Aceh dulu, isu terorisme seringkali dipergunakan oleh negara-negara yang memegang kendali ekonomi dan keamanan dunia sebagai senjata ampuh untuk menghalalkan penindasan baru. Isu itu bahkan bebas dipergunakan untuk menempelkan stigma-stigma tertentu pada negara atau bahkan kelompok yang dianggap “berseberangan”. Lihat saja bagaimana Irak ditaklukkan atas dasar bungkusan isu “terorisme” yang sebenarnya hanya berupa kecurigaan terhadap produksi senjata biologis di negara tersebut. Padahal di luar itu sebenarnya ada agenda tersembunyi (hidden agenda) terkait dengan kepentingan ekonomi dan politik yang dimainkan para penguasa senjata dunia. Bahwa kemudian wajah peradaban masyarakatnya menjadi semakin hancur-hancuran akibat “aneksasi” tersebut, itu persoalan lain. Lihat juga bagaimana nasib orang-orang Palestina, Afghanistan dst yang juga mengalami nasib serupa sebagai bangsa-bangsa yang dicap potensial mendukung terorisme. Masyarakatnya semakin terbelakang dan terpinggirkan. Kecurigaanpun sepertinya “sengaja” disiram agar subur sehingga ujung-ujungnya memunculkan islamophobia.
Dialog yang digembar-gemborkan untuk mempertemukan pandangan ekstrem Barat dengan ekstrem Timur (dalam hal ini umat Islam) seringkali malah tidak tepat bila disebut dialog, karena hanya mengakomodir kepentingan satu pihak. Sementara kepentingan dan suara pihak lain yang lebih lemah dianggap tidak ada. Isu dialog dikembangkan hanya untuk memuluskan agenda penindasan. Dimunculkanlah kemudian isu-isu yang dianggap aktual dan fardhu ’ain untuk diikuti, isu penegakan hak-hak asasi manusia, demokrasi dan kesetaraan gender menurut standar pihak yang lebih kuat. Sasarannya siapa lagi kalau bukan negara-negara yang dipandang lemah dan dianggap potensial mendukung terorisme hanya karena alasan adanya komunitas muslim di dalamnya. Ironis memang.
Ironisme di atas menjadi lebih ironis lagi, karena ternyata ada di kalangan umat Islam sendiri yang memaknai sikap orang-orang anti Islam itu dengan ”perseteruan abadi”, sehingga sebenarnya justru kontra produktif untuk menjadikan Islam sebagai agama yang tersenyum dan pembawa rahmat. Api kemarahanpun dikobarkan atas nama jihad dalam pengertian sempit. Jihad yang justru menjadi alasan pembenaran dalam pandangan orang-orang yang anti Islam bahwa agama ini memang menyeramkan, sadis dan menakutkan. Lihat bagaimana logika pengeboman yang dilakukan beberapa orang Islam atas nama jihad. Bagi mereka tafsir jihad diasosiasikan dengan kebencian mendalam terhadap tingkah polah para ”pentolan Barat” dan masyarakatnya yang selalu menempatkan Islam sebagai musuh. Kenyataannya, di banyak tempat yang menjadi korban ”perang atas nama Tuhan” itu adalah justru dari kalangan umat Islam sendiri, bahkan tidak jarang malah dari kalangan bayi tak berdosa yang diakui Islam sebagai mahkluk suci.
Ambiguitas orang-orang yang membenci Islam sedemikian rupa yang kemudian direspon dengan kesalah kaprahan dalam memaknai jihad di sebagian kalangan umat Islam seperti di atas pada akhirnya menjadikan isu terorisme bagaikan lingkaran setan. Pengobatan terhadap penyakit terorisme justru melahirkan terorisme baru yang tidak kalah dahsyat. Korbannya siapa lagi kalau bukan masyarakat biasa, bahkan anak-anak tak berdosa yang terenggut masa depannya.
Penanganan terorisme dengan aksi terorisme lain yang dibungkus dengan isu-isu manis mulai dari penegakan hak-hak asasi manusia, demokrasi, dan stabilitas ketenteraman dunia internasional dsb telah terbukti melahirkan kaum penindas sistematis baru yang tidak kalah keji dan mengerikan. Efeknya bukan justru menenggelamkan kaum teroris yang dianggap musuh bersama (common enemy), tapi bahkan memunculkan teroris-teroris baru dengan modus yang semakin canggih. Lingkaran setanpun akhirnya berputar terus diiringi dendam kesumat tujuh turunan.
Rekomendasi KTT OKI yang disuarakan semestinya tidak hanya dimaknai oleh umat Islam sendiri sebagai upaya penyadaran internal bahwa Islam pada dasarnya menolak teorisme, akan tetapi juga seharusnya dipahami oleh orang-orang yang mencurigai Islam selama ini bahwa generalisasi stereotip yang mereka lakukan adalah salah. Kesemuanya harus diiringi oleh political will yang mulia atas nama ketenteraman global. Bukan masanya lagi mengkotak-kotakkan pluralitas agama sebagai ”kaum sini” dan ”kaum sana”. Karena agama apa pun, terlepas dari labelnya apa, pada dasarnya tidak ada satu pun yang menghalalkan penindasan dan terorisme apalagi yang dibungkus-bungkus dengan isu-isu manis yang menyesatkan. Wallahu a’lam bis shawab...

I’TIBAR DARI AMAWAS

Oleh: Anton Widyanto

Suatu ketika pada masa ‘Umar bin Khattab, khalifah kedua dari Khulafa’ al-Rasyidin, terjadi sebuah wabah yang mengerikan lagi menggemparkan. Bak senjata biologi, wabah itu menghantam Amawas, salah satu wilayah di Palestina. kemudian merambat ke Syam dan menewaskan setiap orang yang tertular dengan efek mengerikan. Wabah yang berlangsung selama sebulan itu telah menelan korban dari kalangan umat Islam lebih kurang sebanyak 25.000 orang termasuk di antara mereka adalah para pemuka kaum muslimin seperti: Yazid bin Abi Sufyan, Mu’adz bin Jabal, Haris bin Hisyam, ‘Utbah bin Suhail dll.