Saleum

Selamat Datang di Forum Pembelajaran: Komunitas Pojok Kampus. Terima kasih atas kunjungannya.

Featured post

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU TERKAIT FOKUS MASALAH YANG DIANGKAT DALAM DRAFT PROPOSAL PENELITIAN Dosen Pengampu: Dr. Anton Widyanto...

BOENTOET


Oleh: ANTON WIDYANTO

“Berapa yang keluar Pret ?”, tanya Amat sama Ilman yang julukannya si kampret itu suatu kali. Lelaki yang ditanya berbadan kurus, berambut kusam, sedikit hitam kemerah-merahan plus acak-acakan, dan berkumis lele (karena saking jarangnya sehingga mirip sungut lele), tanpa jenggot itu kontan menjawab dengan nada kecewa, “Aduh meleset lagi, meleset lagi !! Dasar busyet betul si Komar edan itu !!”.
“Emang kenapa ?”, selidik Amat, pengin tahu. “Yah …masak gara-gara dia, akhirnya tembakanku meleset satu angka. Padahal tadinya kalau aku tetap pasang instingku, pasti nembus. Dasar anjing !!!”. Semua umpatan dan kata-kata kasar yang pasti kotor, keluar begitu saja dari mulut comberan si kampret sebagai ungkapan kejengkelannya, tanpa dosa. Tampaknya ungkapan serupa telah menjadi sesuatu yang wajar, lumrah dan bahkan tidak dianggap kotor lagi di stand kecil tempat kedua insan itu bertemu. Sebab seolah-olah sudah menjadi suatu bumbu penyedap yang tidak akan enak bila tidak dicampurkan dengan rentetan jawaban-jawaban atau pernyataan-pernyataan mereka.
Di sepanjang perjalanan pulang, untuk kesekian kalinya Ilman membawa kembali seribu kekusutan. Pancaran sinar matahari yang terasa kurang akrab siang itu telah memaksa wajahnya yang suram, semakin tambah terlihat redup dengan basuhan keringat tak sedap yang melukis raut muka, badan dan kaos kusamnya. Tapi ia tidak peduli. Sebab dalam pikirannya masih bermunculan kutukan-kutukan terhadap nasib apes yang selalu menyapanya.. Terutama sekali pada si Komar yang ia anggap sebagai biang kerok kegagalannya di hari sial itu.
****
Ilman, pada awalnya adalah sosok seorang pekerja keras. Sedari pagi, kala sinar mentari membelai bumi, sampai malam tiba, manakala cahaya rembulan menyunggingkan senyum putihnya, dia terbiasa untuk menarik becak sewaannya. Mencari sesuap nasi. Tapi tentu saja dengan kondisi negara yang didera oleh cabikan-cabikan dan bahkan hampir kolaps sekarang ini, telah mengakibatkan pemasukannya semakin tidak mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari bersama istri dan kedua anaknya yang masih kecil-kecil. Satu berumur 1 tahun dan satu lagi menginjak kelas 2 SD. Sayang memang, ternyata hatinya terlampau rapuh untuk menerima segala bentuk kegagalan. Sehingga manakala usaha kerasnya mentok pada nasib tak mujur, dia mulai tidak percaya akan usaha keras tersebut. Usaha keras, baginya, adalah upaya sia-sia untuk menggapai sukses. Sebab sudah tersedia lahan subur yang bertebaran di mana-mana untuk mendapatkan duit tanpa kerja keras. Tak peduli entah halal atau haram. Bukankah di zaman yang bergerak mengglobal sekarang ini, batasan antara yang halal dan haram semakin kabur ? Sekarang, yang dia butuhkan adalah mukjizat. Ya..mukjizat ! Tidakkah sebagai kepala rumah tangga dia harus mengambil sikap ? Dan bukankah sekarang ini hampir tidak ada lagi para pemimpin bangsa yang ambil peduli dengan jeritan isi perutnya, perut istrinya dan perut kedua anaknya? Karena lihatlah mereka asyik bertengkar, berkelahi dan main ancam-ancaman. Jadi buat apa buang-buang waktu lagi ?!
Menjual mimpi agaknya adalah suatu pekerjaan yang lebih menarik daripada memeras keringat sampai berember-ember. Sebab dengan menjual mimpinya, Ilman merasa hidup ini lebih bisa diresapi, dinikmati dan dihayati. Karena mimpi indah di zaman yang serba susah dan semakin menyakitkan ini, adalah barang berharga yang barangkali telah sulit untuk didapatkan oleh orang-orang semacam dia. Dan itulah yang sedang Ilman lakukan saat ini. Bermimpi !!.
****
“Man …. Aduh, sudah kucari-cari ke mana kau pergi, rupanya di sini kau ngendonnya. Ayo pulang, cepat !”, bang Sitompul, tetangganya, yang orang Medan asli itu telah mengagetkan mimpi seorang Ilman yang sedang asyik kongkow dengan rekan-rekan seperguruan, para penjual mimpi. Nada bicaranya yang kental dengan nuansa kebatakannya, membuat Ilman tersentak kaget.
“Ada apa Bang !”, tanya Ilman pengin tahu walau dengan nada malas dan datar. “Ah…sudahlah. Yang penting kau pulang sekarang. Bini kau itu gelisah nunggu kau di rumah. Si Amin badannya panas. Ayo cepat pulang !”. Ah…Amin, anak keduanya yang baru berumur satu tahun sakit lagi. Dan bukannya Ilman tidak tahu bahwa anaknya yang terkecil itu sakit-sakitan. Dia tahu betul itu. Hanya saja entah kenapa dia menjadi bosan mendengar segala kabar penderitaan dan kesusahan dalam keluarganya. Sebab mimpinya selama ini selalu mengajarkan untuk membuang penderitaan-penderitaan dan menggantinya dengan kesenangan-kesenangan, walaupun hanya berujud mimpi.
Dengan langkah penuh keterpaksaan, Ilman berjalan gontai menuju rumahnya atau lebih tepatnya menuju ke penginapannya. Entah rasa-rasanya kali ini baru pertama kali ia pulang. Sebab selama ini ia lebih banyak menetap di tempat teman-teman sealirannya, seperguruannya, para “penggadai mimpi”. Bang Sitompul berjalan di depannya dengan langkah panjang dan cepat, bagaikan langkah jerapah. Sedangkan Ilman mengekornya di belakang dengan langkah siput. Sementara itu matahari yang tepat di atas kepala membuat kedua insan sejenis itu menelan ludah berkali-kali karena kehausan. Keduanya membisu dibelenggu oleh jalan pikirannya masing-masing.
Setelah berjalan melalui beberapa kelokan, masuk ke gang-gang sempit yang menghadirkan bau busuknya sampah di tengah-tengah perkampungan yang begitu padat, tiba-tiba jantung Ilman serasa berdegup kencang. Persis seperti kala ia dikejar anjing herder milik Pak Kristiadi karena mencoba mencuri mangga miliknya 25 tahun yang lalu. Degup-degup yang menggema tidak teratur dalam jantungnya itu terlihat semakin kencang tanpa ritme, manakala ia menerima pandangan sinis orang-orang kampung yang dijumpainya. Dia sama sekali tidak mengerti kenapa mereka harus memperlakukannya dengan sikap-sikap seperti itu. Dia juga tidak memahami sepenuhnya mengapa dirinya seakan-akan dipandang sebagai anjing buduk yang tidak ada harganya. Bah peduli amat dengan pandangan mereka. Bukankah mereka selama ini juga tidak mempedulikanku ?! Lihatlah bukankah orang-orang itu selama ini hanya sibuk mengurus diri mereka sendiri ? Karena mereka -sadar atau tidak- telah dirasuki arwah-arwah individualisme yang bergentayangan di zaman edan ini. Lalu mengapa pula sekarang mereka harus mencibirku, seakan-akan mereka berpura-pura memperhatikanku ?
Manakala jarak antara Ilman dengan rumahnya tinggal beberapa ratus meter lagi, dia merasakan kulitnya mengeluarkan bulir-bulir keringat dingin dan bahkan entah kenapa bulu kuduknya tiba-tiba berdiri, merinding. Sementara itu Bang Sitompul semakin mempercepat langkah siputnya, sehingga ia lebih dulu sampai di halaman rumah reyotnya. Ilman terheran-heran menyaksikan rumah reyotnya yang selama ini tidak pernah didatangi tamu, ternyata hari ini ramai dikunjungi orang-orang yang ia kenal sebagai tetangga-tetangganya. Keheranannya semakin menjadi-jadi saat ia harus menerima sorotan sinis yang keluar dari mata para pengunjung itu. Bahkan ada yang selepas mencibirkan senyum sinis, meludah beberapa kali ke tanah, seakan-akan ingin menelan Ilman bulat-bulat. Ada apa ini ?! Pertanyaan ini selalu terngiang-ngiang bagaikan gelombang radio di hati Ilman. Tapi tidak lama kemudian, setelah ia masuk ke dalam rumahnya, ia tahu jawabnya. Ia saksikan dengan jelas ada dua onggok benda yang satu kecil dan yang satu besar, sama-sama dibungkus kain jarit berwarna coklat kehitam-hitaman, membujur kaku dengan tenangnya. Dari sobekan kertas kecil hasil tulisan istrinya, ia menangkap pesan : “Aku terpaksa pergi menemani anakmu, si Amin, menuju alam baka. Dan tolong jaga anak pertama kita yang tersisa, agar tidak menjadi penjudi tengik sepertimu.”…


Silakan untuk Memberikan Komentar/Please give any comments on this article

SYARIAT ISLAM HARUS DIHARGAI

Oleh: Anton Widyanto
Beberapa waktu lalu Herman RN menulis di website Aceh Institute (http://id.acehinstitute.org/index.php?option=com_content&task=view&id=232&Itemid=26) sebuah tulisan berjudul Patutkah Kita Menghargai Syari’at Islam? Sebuah tulisan yang bagus, walaupun menurut saya, (maaf) lebih banyak bernada “provokatif”. Saya sangat menghargai “ijtihad” Herman dalam tulisan tersebut dan justru karena itulah saya ingin kembali mendiskusikan beberapa pemikirannya dalam tulisan berikut.

KITA BUTUH “LASKAR PELANGI” DI ACEH


Selama hampir dua bulan ini, “Laskar Pelangi” seolah-olah menjadi sebuah magnet. Beragam komentar dan pujian ditahbiskan untuk judul film yang diangkat dari sebuah novel ini. Banyak pihak yang mengaitkan kesuksesan film Laskar Pelangi dengan kesuksesan novel Andrea Hirata yang telah menjadi best seller terlebih dahulu. Ada pula yang mengaitkan kesuksesan Laskar Pelangi dengan iklan-iklan gratis yang dilayangkan orang-orang terkemuka di Indonesia mulai dari ketua umum ormas Muhammadiyah, Dien Syamsudin, bahkan sampai orang nomor 1 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bahwa film ini adalah film berkualitas serta layak ditonton. Terlepas dari sukses tidaknya film ini dalam menyedot jumlah jutaan mata penonton dan lembaran-lembaran fulus, harus diakui bahwa film ini memang berkualitas. Film ini berupaya menyampaikan pesan moral yang layak untuk dicermati secara arif oleh para pemegang kebijakan dalam dunia pendidikan baik pada tingkat nasional pada umumnya, maupun lokal, teristimewa di Nanggroe Aceh Darussalam yang selama ini seringkali disinyalir mengenaskan. Pertama, film Laskar Pelangi menegaskan signifikansi semangat menempatkan pendidikan sebagai investasi utama bagi pembangunan. Dalam konteks lokal, seringkali rendahnya kualitas pendidikan di Aceh selama ini dikaitkan dengan 2 peristiwa penting dalam sejarah Aceh: konflik bersenjata yang berkepanjangan dan tragedi Tsunami 2004. Sejarah mencatat bahwa konflik bersenjata yang berkepanjangan telah menyebabkan ratusan guru eksodus dan ratusan sekolah dibakar; sementara Tsunami telah pula memberi saham atas luluh lantaknya bangunan-bangunan sekolah yang pada umumnya tidak menjadi tumbal konflik. Namun demikian alasan-alasan historis di atas tidak sepatutnya dijadikan “alibi” lagi oleh masyarakat Aceh kontemporer. Sebab konflik bersenjata sudah usai setelah ditandatanganinya MoU Helsinki dan diundangkannya UU No. 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Merujuk pada amanat Wali, Dr. Tgk Hasan Muhammad Ditiro, bahwa pengorbanan pada masa konflik memang besar, namun perdamaian menuntut pengorbanan lebih besar lagi. Amanat ini secara implisit menyampaikan bahwa sudah saatnya masyarakat Aceh melihat kondisi sekarang dan mengisinya untuk masa mendatang. Kondisi damai pasca konflik yang secara perlahan telah melepaskan masyarakat Aceh dari keterjepitan di segala sektor selama berpuluh tahun, semestinya diisi dengan pembangunan dan pengembangan-pengembangan yang salah satunya adalah dengan menjadikan paradigma pendidikan sebagai investasi terpenting masa depan rakyat Aceh. Demikian pula halnya dengan isu Tsunami yang masih tidak jarang dijadikan kambing hitam atas merosotnya kualitas pendidikan di Aceh. Alasan ini juga tidak sepatutnya dijadikan “alibi” lagi. Rakyat Aceh sudah semestinya bangkit dari bayang-bayang Tsunami bahkan sebisa mungkin melepaskannya jauh-jauh agar paradigma mengharap bantuan bisa diganti dengan budaya kemandirian. Di sini bukan berarti kita harus melupakan sama sekali tragedi tsunami dalam sejarah Aceh , akan tetapi sepatutnya kita menempatkan isu Tsunami tersebut secara proporsional, bukan sebagai alasan-alasan pembenaran atas kegagalan dunia pendidikan di Nanggroe Aceh Darussalam. Masih terkait dengan semangat menjadikan pendidikan sebagai investasi terpenting pembangunan peradaban sebuah masyarakat, merujuk pada konsep hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan pendidikan, para ahli menyatakan bahwa antara keduanya memiliki keterkaitan yang sangat erat. Teori pertumbuhan/perkembangan dalam konteks ini menyatakan bahwa pengembangan sumber daya manusia merupakan investasi pada human capital. Maknanya bahwa pendidikan yang secara filosofis adalah ditujukan untuk memanusiakan manusia, di lain hal juga ditendensikan untuk memberikan wawasan secara menyeluruh agar potensi dan kapabilitasnya dapat ditingkatkan. Menyadari pentingnya pendidikan ini maka tidak mengherankan bila Konferensi Internasional tentang Pendidikan untuk Semua (Education for All) di Jomtien, Thailand pada tahun 1990 dan kemudian diperbarui dengan konferensi lanjutan di Dakar, Senegal pada tahun 2000 menyepakati target-target yang akan dicapai pada tahun 2015. Target tersebut meliputi enam hal yaitu: memperluas dan meningkatkan akses pendidikan anak usia dini (early childhood education); memastikan bahwa pada tahun 2015 semua anak, khususnya perempuan, anak-anak yang tidak mampu serta berasal dari etnik minoritas berhasil menyelesainya pendidikan dasar (primary education) yang berkualitas; memastikan bahwa kebutuhan belajar bagi pemuda dan orang dewasa terpenuhi melalui penyediaan program-program kecakapan hidup; pencapaian sebanyak 50% pemberantasan buta huruf, khususnya di kalangan perempuan; tercapainya keseimbangan gender pada tingkat pendidikan dasar dan menengah pada tahun 2015 dengan fokus pada pemberian kesempatan bagi anak-anak perempuan untuk menikmati pendidikan dasar yang berkualitas; serta meningkatkan keseluruhan aspek dari pendidikan yang berkualitas (sumber UNESCO). Meski tidak sedikit pihak yang memandang pesimis pencapaian target-target di atas dikarenakan terkesan terlalu ambisius dan kurang memperhitungkan secara cermat kondisi di lapangan (Cohen et.all, 2006), namun bukan berarti target tersebut mustahil diwujudkan. Yang perlu digarisbawahi di sini adalah bahwa kesadaran menjadikan pendidikan sebagai prioritas hendaknya menjadi kekuatan penyemangat utama yang ada di kepemerintahan Aceh dewasa ini, baik di tingkat provinsi maupun daerah. Oleh sebab itu itikad baik pengalokasian dana yang lumayan besar sebanyak 30% untuk sektor pendidikan di Aceh sudah selayaknya diawasi karena sangat bisa jadi tidak tepat sasaran dan rawan penyimpangan sebagaimana yang diangkat di media ini beberapa waktu lalu. Di sinilah perlunya urun tangan lembaga-lembaga swadaya masyarakat yang memiliki kepedulian untuk ikut serta melakukan pengawasan secara obyektif. Berikutnya, pesan lain yang disampaikan oleh film Laskar Pelangi adalah bahwa keterpaduan antara pelaksanaan proses pembelajaran dan keyakinan pada dimensi nilai-nilai relijiusitas serta kultural adalah suatu hal yang mutlak dilakukan. Hal ini bukan dikarenakan sekolah yang diangkat dalam film tersebut adalah sekolah Muhammadiyah yang nota bene merupakan ormas Islam, tapi ada pesan implisit bahwa menjadi manusia terdidik adalah bagian dari pengamalan nilai-nilai agama (baca: Islam). Keyakinan seperti ini, sekalipun sederhana dan mungkin juga dipandang remeh, menurut saya sangat penting. Sebab di tengah perkembangan masyarakat yang semakin konsumtif dan materialistis dewasa ini, paradigma yang menempatkan pendidikan sebagai ibadah semakin terkikis. Justru yang seringkali mencuat ke permukaan adalah bahwa pendidikan untuk uang. Tidak mengherankan bila ada anak-anak yang nekat drop out dari sekolah bukan karena alasan tidak ada uang, tapi karena alasan bahwa sekolah hanya mencetak kaum pengangguran. Pandangan pesimistis seperti ini sudah semestinya dibuang karena menyesatkan dan cenderung mengabaikan pesan-pesan dari Islam sendiri dalam hal anjuran menuntut ilmu. Menuntut ilmu pengetahuan dalam Islam adalah ibadah dan karena itu dipandang sebagai perbuatan mulia. Islam tidak mengenal dikotomisasi antara ilmu agama dan non agama (sekuler). Islam memandang bahwa ilmu pengetahuan adalah milik Allah Swt yang diperuntukkan bagi manusia agar lebih dapat mengenal, mengagungkan dan mendekatkan diri pada Tuhannya. Karena itu tidak bisa dinyatakan bahwa orang yang belajar di pesantren adalah lebih mulia dibanding dengan orang yang belajar di luar pesantren, atau sebaliknya. Kesemuanya di mata Allah Swt adalah makhluk-makhluk mulia asal senantiasa melandasi niatannya dengan ibadah. Wallahu a’lam bis Shawab.
Please give any comments on this article

REFLEK

Pagi itu, Minggu,26 Desember 04, sekitar jam 7 pagi , saya sedang asyik menemani buah hati tercinta yang baru berusia 2 tahun di depan rumah. Biasanya memang kami melakukan jalan-jalan pagi di seputaran Darussalam, Banda Aceh, sementara istri saya berkutat dengan urusan dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.
Sekitar jam setengah 8, HP saya tiba-tiba berdering. Rupa-rupanya teman saya mengingatkan bahwa pada hari itu saya menjadi juri Festival Anak Saleh bidang muhadatsah (percakapan) bahasa Arab dan bahasa Inggris. Setelah saya tutup pembicaraan, saya lanjutkan bermain dengan anak saya beberapa saat, kemudian sayapun bersiap-siap melaksanakan mandi pagi.
Tanpa ada firasat apa pun, seperti biasa, saya memulai mandi pagi dengan gosok gigi kemudian dilanjutkan dengan menyabun seluruh tubuh. Karena kepala saya terasa gatal, pagi itu saya menambahkan dengan berkeramas. Saat itulah saya mulai merasa ada yang tidak beres. Sebab saya merasa lantai tempat saya berpijak bergoyang. Pada awalnya saya tidak terlalu mempedulikan, sebab yang terlintas di benak saya ketika itu hanya gempa biasa yang lamanya paling beberapa detik. Ternyata apa yang saya bayangkan tersebut meleset, sebab goyangan gempa dari yang semula pelan, semakin lama semakin keras bahkan menghentak-hentak Saya lihat air di dalam sumur bergemerecak suaranya, sementara papan dan kayu rumah saya rame-rame berderit. Istri dan adik ipar saya sudah keluar rumah duluan seraya berteriak memanggil-manggil saya.
Secara reflek, tangan saya menyambar handuk dan mengikatkannya di pinggang, tanpa terpikir lagi mengenakan baju, celana atau bahkan (maaf) celana dalam. Semuanya serba cepat. Sayapun bergegas dengan terhuyung-huyung keluar saking kerasnya gempa. Selama beberapa menit, di depan rumah, kami berjongkok seraya berpegangan pada jeruji pagar. Kami benar-benar dibelenggu ketercekaman. Demikian pula dengan tetangga-tetangga kami. Bagaikan koor, masing-masing orang mengucapkan Lailaha illallah tiada henti. Pohon-pohon, kabel listrik, air di selokan dan rumah-rumah papan semuanya bergoyang tiada henti, mengeluarkan suara khas masing-masing.
Ketika gempa dipastikan reda, saya lihat istri yang berada di samping saya tersenyum simpul. Saya baru tersadar bahwa tubuh saya masih dibalut sabun, sementara kepala saya juga masih berlumuran shampoo yang kesemuanya hampir mengering. Saya lihat ke bawah, Masya Allah, ikatan handuk hampir terlepas. Untung saya dalam posisi jongkok, sehingga tidak berakibat “fatal”. Dengan perasaan malu (karena tak luput jadi perhatian tetangga), sayapun langsung “terbang” menuju kamar mandi dan melanjutkan acara mandi yang sempat terputus tadi.

Please give any comments on this article