Saleum

Selamat Datang di Forum Pembelajaran: Komunitas Pojok Kampus. Terima kasih atas kunjungannya.

Featured post

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU TERKAIT FOKUS MASALAH YANG DIANGKAT DALAM DRAFT PROPOSAL PENELITIAN Dosen Pengampu: Dr. Anton Widyanto...

“MENYONGSONG BIDADARI"


Oleh: Anton Widyanto
Tulisan ini dimuat juga di Harian Serambi Indonesia Rabu 19/11/08)

Usai sudah cerita trio bomber Bali kelabu, Amrozi, Mukhlas dan Imam Samudra. Setelah melalui proses hukum yang panjang, hukuman mati yang dijatuhkan kepada mereka beberapa tahun silam dilaksanakan juga di hari Sabtu tanggal 8/11/2008. Ribuan polisi diturunkan. Tak ketinggalan media-media nasional maupun internasional juga ikut memberitakan. Ketika jenazah mereka diantarkan pulang ke rumah masing-masing almarhum, ribuan orang kemudian datang melayat. Terlepas dari motivasi mereka apakah sekedar ingin tahu, ingin mendoakan, ingin menunjukkan solidaritas atau mungkin ada alasan-alasan lain, yang jelas kasus Amrozi cs ini cukup menyedot perhatian banyak pihak. Pertanyaannya kemudian, apakah dengan dilaksanakannya eksekusi mati atas Amrozi cs, terorisme di Indonesia khususnya dan di dunia pada umumnya akan berakhir?

MENELAAH SOSOK DAN HADITS RIWAYAT ABU HURAYRAH

Harus diakui bahwa Abu Hurayrah sebagai salah seorang perawi hadis bukan merupakan sosok asing dalam blantika perhadisan. Hal ini tentu tidak bisa dilepaskan dari kapabilitasnya dalam meriwayatkan ribuan hadis yang banyak dimuat dalam berbagai kitab rujukan hadis terkemuka seperti sahih Bukhari, sahih Muslim, Musnad Ahmad bin Hanbal, dsb. Kuantitas hadis yang “luar biasa” ini telah memposisikannya pada rating tertinggi perawi hadis terbanyak di atas para Khulafa’ur Rasyidin (Abu Bakar meriwayatkan lebih kurang 142 hadis, Umar bin Khattab 437 hadis, Utsman bin ‘Affan 146 hadis serta Ali bin Abi Thalib 586 hadis) dan bahkan jauh di atas Siti ‘Aisyah r.a. sendiri selaku istri Nabi Saw yang hanya meriwayatkan kurang lebih 2210 hadis. Oleh sebab itu, tidak menutup kemungkinan bahwa hadis-hadis yang diriwayatkan olehnya senantiasa laku keras dalam materi-materi kultum, kulsub maupun ceramah-ceramah keagamaan, terlebih lagi di bulan Ramadhan yang hadir setiap tahun.
Tulisan berikut hanya dimaksudkan untuk mengajak para pembaca berpikir kritis, metodologis, obyektif serta proporsional dalam menyelami sosok seorang perawi hadis terkenal di atas dan sama sekali tidak dimaksudkan untuk “mengacaukan” mainstream atau bahkan weltanschauung kita dalam bidang hadis. Sehingga pada akhirnya diharapkan dapat memperkuat daya kritis kita dalam menilai keberadaan sebuah hadis alias tidak sekedar taken for granted. Sebab harus disadari sepenuhnya bahwa eksistensi hadis atau sunnah sangatlah berbeda dengan Al-Qur’an. Jika Al-Qur’an sebagai mukjizat abadi dan terbesar Muhammad Saw dijamin orisinilitas dan kredibilitasnya oleh Allah Swt, maka hadis tidaklah demikian.Tentu saja hal ini terutama sekali terkait dengan periode penulisan hadis itu sendiri yang baru marak dilaksanakan setelah beratus tahun kewafatan Nabi Saw.
Profil Abu Hurayrah
Menurut Kasrawiy Hasan dalam Asma’ al-Sahabah al-Ruwah; wa Ma li Kunn Wahid min al-‘Adad, (1992, hal. 37) dan juga Ahmad bin ‘Aliy bin Hajr al-‘Asqalaniy dalam Al-Isabah fi Tamyiz al-Sahabah, (hal. 348-351), terdapat kesimpangsiuran pendapat mengenai nama lengkap Abu Hurayrah di kalangan muhaddithin. Namun menurut mayoritas ulama’ nama lengkapnya adalah: Abu Hurayrah bin ‘Amir bin ‘Abd dhi al-Syara bin Tarif bin ‘Itab bin Abi Sa’b bin Munabbih bin Sa’d bin Tha’labah bin Salim bin Fahm bin Ghanam bin Daws bin ‘Adnan bin ‘Abd Allah bin Zuhayr bin Ka’b.
Meski terjadi persilangan pendapat mengenai nama lengkap Abu Hurayrah sedemikian rupa, para ahli hadith agaknya sepakat untuk menempatkan Abu Hurayrah sebagai perawi hadith terbanyak yaitu kurang lebih 5374 hadith Nabi Saw. Karena itu tidak mengherankan bila Kasrawiy Hasan menempatkannya pada urutan pertama dalam ashab al-uluf.
Menurut al-Bukhari seperti yang dikutip oleh al-Qurtubiy dalam kitab al-Isti’ab fi Ma’rifah al-Ashab, Juz IV (1995, hal. 334), lebih dari 800 orang di antara kalangan sahabat dan tabi’in yang meriwayatkan hadis Rasul saw dari Abu Hurayrah. Misalnya, Ibn ‘Abbas, Ibn ‘Umar, Jabir bin ‘Abd Allah, Anas bin Malik, dari kalangan sahabat. Sementara dari kalangan tabi’in antara lain adalah: Marwan bin al-Hakam, Qabisah bin Dhu’ayb, ‘Abd Allah bin Tha’labah, Sa’id bin al-Musayyab, Basr bin Sa’id, Thabit bin ‘Iyyad, Abu Salih al-Samman dll.
Ibn Qutaybah al-Daynuri dalam kitabnya al-Ma’arif dan Ibn Sa’d dalam Thabaqatnya menjelaskan bahwa julukan Abu Hurayrah diberikan padanya karena ia sangat menyukai kucing kecil (dalam bahasa Arab, kucing disebut dengan hirrah, sementara kucing kecil dinamakan hurayrah).
Dalam sebuah penelitiannya mengenai sosok Abu Hurayrah, Sharafuddin al-Musawi menerangkan bahwa selama hampir 30 tahun ia menjalani usianya di Yaman. Secara garis besar, Abu Hurayrah adalah seorang lelaki melarat, kurang berwawasan dan sering meminta-minta belas kasihan orang lain untuk mengisi perutnya. Kemudian setelah masuk Islam, dia menjadi salah satu anggota ahl al-suffah yaitu orang-orang Islam yang tidak mempunyai rumah ataupun kerabat dan senantiasa tidur di masjid dekat rumah Rasulullah Saw. Ketika Nabi memiliki sesuatu untuk makan malam, beliau mengundang beberapa orang dari ahl al-suffah tersebut, sementara beberapa orang lainnya diajak makan malam bersama para sahabat. Abu Hurayrah menjalin persahabatan dengan Rasul Saw yang mulia ini selama kurang lebih 3 tahun. Sebuah jangka waktu yang tidak terlalu lama.
Pada tahun ke-21 H, ia diutus khalifah Umar bin Khattab untuk menjadi Gubernur Bahrain. Namun hanya berselang 2 tahun kemudian, dia dipecat dari jabatan tersebut karena kasus korupsi dan digantikan oleh Abul Ass ats-Tsaqafiy. Memasuki masa Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, nama Abu Hurayrah tidak terlalu mencuat kepermukaan. Baru pada saat Mu’awiyah berkuasa setelah menumbangkan kekhilafahan Ali bin Abi Thalib, namanya kembali melejit. Hal ini terutama sekali disebabkan oleh kejelian Mu’awiyah dalam melihat “kecerdasan” Abu Hurayrah untuk memunculkan hadis-hadis palsu guna memperkuat kekuasaan politiknya. Sebagai salah satu contohnya –sebagaimana yang dipaparkan oleh Sharafudden al-Musawi- adalah yang disebutkan oleh Ibn Assakir dalam dua jalur, Ibn ‘Adiy dalam dua jalur, Muhammad bin Aits dalam satu jalur kelima, Muhammad bin Abd as-Samarqandi di satu jalur keenam, Muhammad bin Mubarak as-Suri di stu jalur ketujuh dan al-Khatib al-Baghdadi di satu jalur kedelapan, bahwa Abu Hurayrah berkata: “Aku mendengar Nabi Saw bersabda, “Allah telah mempercayakan wahyu-Nya pada tiga orang: aku, Jibril dan Mu’awiyah”.
Pada rezim Mu’awiyah, Abu Hurayrah menjadi sosok yang sangat berbeda dibandingkan sebelumnya pada masa Rasulullah Saw. Bila dulunya dia terlihat sangat miskin dan menggantungkan isi perutnya dari belas kasihan orang lain, maka pada masa ini dia menjadi sosok yang berpenampilan “serba wah”. Bila dulunya dia tidak memiliki rumah sebagai tempat tinggal yang melindunginya dari panas terik matahari serta menggigitnya hawa dingin di malam hari, maka pada zaman ini dia memiliki gedung mewah di al-Aqiq. Dan bila dulunya dia tidak memiliki kekuasaan apa-apa dalam membuat kebijakan politik maupun ekonomi, maka di era ini dia telah mempunyainya karena ia diangkat sebagai gubernur di Madinah, kemudian berikutnya berhasil pula menikahi Bisrah binti Ghazwan bin Jabir bin Wahab al-Maziniyah, adik Gubernur Utbah bin Ghazwan.
Pernikahannya dengan Bisrah binti Ghazwan ini membuat Abu Hurayrah menjadi begitu bangga. Hal ini tidak lain dan tidak bukan adalah karena ia berhasil menundukkan orang yang dulunya adalah “tuannya”. Mengenai kebanggaannya ini, Ibn Sa’ad dalam Tabaqatnya menceritakan bahwa ketika menjabat sebagai Gubernur Madinah, Abu Hurayrah seringkali mengatakan: “Aku tumbuh sebagai anak yatim. Ketika pindah, aku adalah orang melarat. Aku dipekerjakan oleh Bisrah binti Ghazwan hanya untuk mendapatkan makanan. Aku tuntun hewan yang mengangkat muatan mereka ketika berjalan, serta kulayani mereka manakala turun, dan kini Allah menikahkan aku dengannya. Syukur kepada Allah yang telah menjadikan agama sebagai landasan dan mengangkat Abu Hurayrah sebagai imam.”
Abu Na’im dalam Hilyatul Awliya’nya juga menceritakan bahwa suatu hari Abu Hurayrah naik ke mimbar Nabi Saw dan berkata: “Segala puji bagi Allah yang membuatku makan dengan makanan yang enak, mengenakan baju-baju sutera, serta menikahkan aku dengan Bisrah binti Ghazwan setelah aku sebelumnya adalah pekerjanya untuk memperoleh makananku. Ia suruh aku membawa barangnya dan selanjutnya kini aku suruh ia membawa barangku”.
Hubungan antara Bani Umayyah dan Abu Hurayrah memang bersifat simbiosis mutualisme, di mana Bani Umayyah membutuhkan orang sekaliber Abu Hurayrah yang pandai membuat hadis untuk memperkuat status quo mereka, sementara Abu Hurayrah memerlukan status yang mapan dan kebutuhan yang serba memadai dari Bani Umayyah tersebut. Oleh sebab itu, untuk menjaga kredibilitas Abu Hurayrah, Bani Umayyah senantiasa berusaha menyanjungnya dan bahkan cenderung melebih-lebihkannya.
Beberapa Contoh Kejanggalan Hadis Riwayat Abu Hurayrah
Dalam sebuah penelitiannya yang cukup komprehensif tentang seluk-beluk profil Abu Hurayrah, Sharafudden al-Musawi memaparkan beberapa contoh janggalnya hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurayrah.
Abu Hurayrah mengatakan bahwa Rasul Saw bersabda: “ Malaikat maut datang kepada Nabi Musa dan berkata padanya, “Balaslah titah dari Tuhanmu.” Musa kemudian menampar mata malaikat maut tersebut serta mencungkil dengan tangannya. Malaikat maut kembali kepada Allah dan berkata pada-Nya, “Engkau mengutusku kepada salah seorang hamba-Mu yang tidak ingin mati. Ia mencungkil mataku”. Allah kemudian memulihkan matanya dan berfirman kepadanya,”Kembalilah pada hamba-Ku dan sampaikan padanya, apabila engkau ingin hidup, letakkan tanganmu di atas punggung sapi jantan dan lihatlah berapa banyak rambut yang menempel di tanganmu. Engkau akan hidup untuk setiap helai rambutnya selama satu tahun”.
Bila kita perhatikan dan renungkan teks (matan) hadis di atas dengan seksama setidaknya kita akan menemui beberapa kejanggalan. Pertama, dari sisi profil Musa itu sendiri yang telah dipilih Allah tidak hanya sebagai nabi, akan tetapi sekaligus juga sebagai rasul-Nya yang mulia. Bagaimana mungkin seorang yang telah dipilih Allah –dengan demikian berarti bukan “orang sembarangan”- membenci sebuah kematian, sementara ia berkeinginan untuk senantiasa dekat dan berhasrat besar untuk menemui-Nya? Apakah mungkin seorang manusia pilihan sekaliber Musa a.s. berbuat kasar dan tidak senonoh terhadap malaikat yang nota bene merupakan utusan Allah? Kedua, dari sisi malaikat maut (Izrail). Bagaimana mungkin seorang malaikat dapat dengan mudahnya dipukul dan dicungkil matanya oleh manusia? Lebih spesifik lagi, sejak kapankah malaikat mempunyai mata seperti manusia layaknya?
Muhammad al-Ghazali dalam karyanya Sunnah Nabawiyah bain Ahl al-Fiqh wa al-Hadis mengatakan bahwa hadis di atas sebenarnya bisa diterima dari segi transmisi perawinya (sanad), namun demikian dari segi kandungan teks (matan) hadis di atas adalah irrasional dan tidak dapat diterima oleh akal sehat.
Contoh hadis janggal lainnya yang diriwayatkan oleh Abu Hurayrah dan dimuat dalam kitab-kitab hadis terkemuka (sahih Bukhari, sahih Muslim dan Musnad Ahmad bin Hanbal) adalah mengenai tidurnya Nabi Sulaiman bersama seratus perempuan dalam satu malam. Dia mengatakan bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda, “Sulaiman ibn Daud berkata. “Aku akan tidur dengan seratus orang perempuan malam ini. Setiap perempuan akan melahirkan seorang anak laki-laki, yang akan berjihad untuk Allah”. Malaikat berkata kepadanya, “ucapkanlah Insya Allah”. Namun Sulaiman tidak mengatakannya dan langsung pergi ke tempat tidur bersama perempuan-perempuan tersebut. Tak seorang pun yang melahirkan, kecuali satu orang saja, yaitu melahirkan seorang anak berwujud setengah manusia. Bila saja Sulaiman mengucapkan insya Allah, dia tidak akan membatalkan sumpahnya dan hasratnya akan terpenuhi.”
Hadis di atas setidaknya mengandung beberapa kejanggalan, namun agaknya yang sangat krusial untuk dipaparkan di sini adalah bahwa mustahil seorang Nabi dan sekaligus Rasul sebagai manusia pilihan Allah enggan untuk mengikuti ajarannya. Kita perhatikan bahwa dalam hadis di atas Sulaiman a.s. menolak mengucapkan kata Insya Allah, padahal telah diingatkan oleh malaikat. Hal ini tentu saja berbahaya sekali karena secara tidak langsung akan menyebabkan kredibilitas seorang Rasul Allah ternodai. Na’udzu billah min dzalik.

Kesimpulan
Berdasarkan uraian-uraian di atas, setidaknya ada beberapa catatan penting yang bisa kita ambil.
Pertama, dalam menyampaikan sebuah hadis, sudah seharusnya kita tidak bertindak asal-asalan. Selain itu, dalam menerima dan mengamalkannya juga tidak sepantasnya bersikap taken for granted, menerima bulat-bulat tanpa sikap kritis dan hati-hati.
Kedua, untuk memahami secara mendalam sebuah hadis khususnya pada level sahih atau tidaknya, maka kita tidak hanya bisa terpaku pada aspek sanad semata, sementara aspek matannya kita abaikan. Untuk itu, model-model pengajaran hadis baik di pesantren maupun perguruan tinggi yang selama ini kebanyakan lebih mengarah pada penelitian sanad, harus juga dikembangkan lebih komprehensif lagi pada bidang matannya. Di sinilah barangkali model pendekatan hermeneutik itu diperlukan. Dengan demikian upaya mengkritisi dan menilai sebuah hadis akan berjalan secara proporsional. Wa Allah A’lam bi al-Shawab.

Silakan untuk Memberikan Komentar/Please give any comments on this article