Saleum

Selamat Datang di Forum Pembelajaran: Komunitas Pojok Kampus. Terima kasih atas kunjungannya.

Featured post

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU TERKAIT FOKUS MASALAH YANG DIANGKAT DALAM DRAFT PROPOSAL PENELITIAN Dosen Pengampu: Dr. Anton Widyanto...

MENYEMAI QANA'AH

Oleh: Anton Widyanto
Dalam beberapa bulan terakhir ini masyarakat kita disuguhi adegan-adegan pembongkaran kasus-kasus mafioso yang cukup menggelitik rasa keadilan masyarakat mulai dari terbongkarnya mafia pengadilan, mafia perbankan, mafia perpajakan, sampai mafia proyek. Ironisnya, mafia-mafia yang bermain tidak jarang melibatkan kalangan abdi negara yang telah mengucapkan sumpah jabatan untuk berbuat demi kemaslahatan masyarakat, bangsa dan negara.

HANTU PAGI


Oleh: Anton Widyanto

Cerpen ini pernah dimuat di koran Harian Aceh. 

       Entah mengapa aku jadi takut bersua pagi. Sebab, pagi bagiku adalah sosok yang menyeramkan, menggelisahkan dan sekaligus memusingkan. Pagi di mataku laksana ujung pedang yang siap menerkam, mengoyak dan mencabik-cabik tubuh kurusku. Aku menjadi alergi dengan pagi dan aku tak pernah lupa untuk mengutuknya setiap hari. Menjelang pagi.

MUSUH IBLIS

Terjemahan bebas Anton Widyanto dari Naskah Drama  Tawfiq al-Hakim. Cerpen ini sudah dipublikasikan di Harian Suara Merdeka.

"Iblis terus-menerus mengejek, menghina dan menginjak-injak Izrail lewat premis ketakabburannya. Nampak sekali gurat-gurat kegembiraan tak terperi yang memancar dari wajah angkernya. Kupingnya yang panjang bergerak-gerak mengikuti irama ritmis gerakan tubuhnya yang lain. Demikian pula kakinya yang besar dan berbulu lebat juga ikut menghentak-hentak seiring dengan gerakan naik-turun ekor panjangnya".

SANG PROFESOR

Ilustrasi

Oleh: Anton Widyanto


Cerpen ini sudah dimuat di Koran Harian Serambi Indonesia
Perempuan kurus & berdahi lebar itu masih setia dalam kesuramannya. Raut mukanya jarang terlihat cerah. Entah kenapa senyum rasanya menjadi barang yang mahal untuknya. Memang sekali-kali ia tertawa. Dan ketika ketawa,  suaranya bisa lepas berdentum bak meriam. Tentu saja hal seperti itu jarang terjadi. Karena ia hanya tertawa dalam kondisi khusus tertentu.Yang seringkali terlihat justru rona masam di mukanya yang berkulit putih kepucat-pucatan bak bawang.
Akhir-akhir ini, dia kelihatan cepat marah. Urusan sesepele apa pun bisa menjadi bencana besar. Seperti hari itu, ketika seseorang masuk ke ruang kerjanya saat ada tamu di dalam. Si laki-laki setengah baya, Marjan namanya, nyelonong masuk, cuma karena ingin salaman. Alis perempuan itu naik tajam.Tanpa basa-basi, hantaman serapahpun keluar dari mulutnya bagai serbuan AK 47.

KHOTBAH

Oleh: Anton Widyanto


Cerpen ini sudah dimuat di Koran Harian Serambi Indonesia

“Bapak-bapak, Ibu-Ibu, Saudara-Saudaraku semua!”, tiba-tiba seorang laki-laki berusia kepala empat itu berteriak di tengah-tengah pasar. Suaranya yang dilantang-lantangkan tenggelam dalam hiruk pikuk jubelan manusia yang berbelanja dan sibuk tawar-menawar harga.
Setelah menyapukan pandangannya ke semua arah, laki-laki berkumis tipis, berpeci, berdasi, berjas hitam dan bersepatu mengkilat itu memulai  khotbahnya. “Sudah sekian lama kita sama-sama  tertindas di bawah kendali politik manusia-manusia serakah di bumi pertiwi ini. Semua kacau. Semua mau menangnya sendiri. Kita para rakyat kecil ini selalu dipiara dalam segala keterhimpitan. Biaya sekolah mahal, hutang negara bertambah, harga bahan makanan pokok melonjak, listrik byar petbentar-bentar atpi tarifnya naik terus, harga bawang mencekik, minyak tanah kadang-kadang lenyap, bensin kadang-kadang menghilang, solar seringkali ditimbun, macem-macem pokoknya yang tentu membuat perut kita menjerit dan otak kita rasanya mau meledak! Betul?!”, tanyanya.   Tak ada seorangpun yang menjawab. Hanya si nenek tua yang biasa dipanggil Nek Tu yang berjualan sayur di dekat podium kecil si pengkhotbah yang terlihat manggut-manggut, entah karena mengerti atau justru bingung. Entahlah. Sementara sekitar sepuluh orang yang kelihatannya tertarik dengan aksi si pengkhotbah kebanyakan mengerutkan dahi. Mungkin mereka masih berpikir, atau justru mereka bingung, sama seperti Nek Tu.
Di depan Sang Pengkhotbah ada 4 orang anak usia belasan yang masih berbaju seragam. Kelihatannya mereka berhasil cabut dari sekolah. Ada juga tiga orang bapak-bapak yang masih duduk di atas sepeda motornya dan berhenti tepat di depan podium kecil sang pengkhotbah. Sementara di belakang podium ada si Udin dan Farhan yang kerjanya memperbaiki sol sepatu.  Sambil menunggu orderan, mereka berdua menyimak apa yang disampaikan laki-laki asing itu.
Nampaknya si pengkhotbah memang tidak butuh jawaban. Dia melanjutkan kembali orasinya, “Kita sebenarnya belum merdeka. Itu hanya slogan kosong politik kibul para pembohong negeri. Kita sebenarnya masih dijajah. Dijajah oleh bangsa sendiri. Oleh orang-orang culas, orang berhati hantu belau, yang mampu mempesona semua orang dengan sihir palsunya”. Laki-laki itu  mengayun-ayunkan jarinya, memberi penekanan. “Kitapun tanpa kita sadari telah ditipu mentah-mentah. Sekali lagi ditipu mentah-mentah!! Bapak-Ibu, saudara-saudara tahu kan artinya ditipu mentah-mentah?!!”. Mata Sang Pengkhotbah terlihat membelalak tajam, penuh kegeraman. Ludahnyapun bermuncratan dari bibirnya yang berkumis, membuat 4 anak sekolah yang setia mendengar khotbahnya sedikit mengelak dari hujan lokal. Adapula yang mencoba menangkis serbuan mendadak itu dengan jari tangannya masing-masing.
Matahari siang masih bertengger di atas kepala. Cukup membuat otak mendidih sebenarnya. Tapi karena orasi Sang Pengkhotbah  dibawakan dengan cantik, orang-orangpun terlihat mulai tertarik mengikuti.
Sejenak Sang Pengkhotbah mengelap peluh di dahinya dengan sapu tangan coklatnya. Kemudian ia melanjutkan kembali khotbahnya. “Tahu nggak, sebenarnya yang disebut orang kaya itu ya kita-kita ini. Bapak-bapak yang kerjanya memperbaiki sepatu orang yang rusak. Nenek-nenek yang jualan sayuran. Atau saudara-saudara kita yang mbuka warung kopi, warung nasi, jualan rokok asongan, tukang becak, sopir labi-labi dan lain sebagainya. Kenapa? Karena orang-orang kecil seperti kita yang kerjaannya nyontreng saat Pemilu inilah yang ikut serta menggaji orang-orang berdasi yang duduk di singgasana masing-masing di atas sana. Orang-orang yang selama ini kita anggap mulia karena rumahnya gedongan, mobilnya lebih dari satu, kebunnya berhektar-hektar, hasil dari pengabdiannya sebagai aparatur negara sebenarnya kita juga yang ikut andil menggaji mereka. Kalo kemudian ada di antara mereka yang justru menzalimi Bapak-Ibu semua, itulah pejabat yang  keterlaluan namanya!!”.
Matahari yang sedari tadi tidak ramah mulai dilawan oleh kumpulan awan yang beriringan menutupi sinarnya. Suasana menjadi sedikit teduh. Sang pengkhotbahpun semakin bersemangat.
“Bapak, Ibu, Saudara-saudaraku sekalian”, nadanya kali ini dimulai dengan datar. “Kita sebenarnya saat ini butuh tokoh panutan. Tokoh yang bisa kita teladani dan bukan tokoh yang jago ngibul. Dulu kita punya banyak ulama yang sama-sama kita segani. Tapi sekarang, sayangnya telah banyak di antara mereka yang dipanggil Allah Swt. Sementara yang masih hidup, tidak sedikit yang justru asyik masyuk dalam syahwat politik kemudian melupakan ummat. Ulama-ulama seperti ini adalah ulama-ulama tak bernurani. Ulama lupa daratan. Ulama yang hanya mikirin kantong dan perutnya sendiri. Apa ada ulama seperti itu di gampong Bapak-Ibu?!!”, untuk kesekian kalinya laki-laki itu melontarkan pertanyaan pedas. Kali ini dengan nada meninggi. Untuk kesekian kali pula, para penonton tidak menjawab. Tapi mulai terlihat satu, dua orang yang berbisik-bisik. Entah apa yang dibisikkan. Mungkin mereka setuju, mungkin juga tidak. Tapi tak sedikit yang manggut-manggut.
Semakin siang, penonton semakin bertambah. Untaian kata yang diobral manis dan menggigit dari mulut Sang Pengkhotbah berobah menjadi magnet. Sentilan berbisanya menjadi kekuatan hipnotis. Bagaikan penyair di pasar ‘Ukaz masa Jahiliyah, ia menjadi sorotan mata manusia-manusia lapar yang butuh pemberontakan. Tapi Sang Pengkhotbah justru terdiam sekarang.
Diamnya Sang Pengkhotbah beberapa saat membuat para penonton penasaran. “Lanjuuuut!”, teriak salah seorang pedagang asongan yang sedari tadi menyimak orasi Sang Pengkhotbah dengan setia. Sang Pengkhotbah hanya membalas dengan senyuman. Tapi ia tetap saja terpenjara dalam diam. “Ayo!!”, sahut penonton lain dengan nada tinggi memberi semangat. Entah siapa yang memulai, satu per satu, orang mulai bertepuk tangan memberi semangat kepada Sang Pengkhotbah agar melanjutkan pidatonya. Senyum Sang Pengkhotbah semakin lebar. Tangannya melambai-lambai kepada penonton menimpali tepukan tangan yang diberikan. Adaraut bangga yang memancar dari mukanya.
“Bapak-Ibu sekalian. Kita semua tentu butuh keadilan bukan?”, kalimat tanyapun keluar sekali lagi dari bibir sang pengkhotbah. “Yaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa”, timpal penonton yang mulai bersemangat lagi dengan terbunuhnya diam sang pengkhotbah. “Nah, kalau memang pengen keadilan, maka Bapak-Ibu tentu butuh seseorang yang akan membimbing Bapak-Ibu semua menuju keadilan  kan?”, tanyanya lagi. “Yaaaaaaaaaaaaa”, bagaikan koor penonton menjawab bersamaan. Sambil tersenyum Sang Pengkhotbah melanjutkan lagi ujarannya. “Bagus! Itu berarti Bapak-Ibu sekalian memang ingin menjadi masyarakat yang maju. Bukan masyarakat kacangan. Bukan masyarakat yang mau saja ditindas. Dan karena itu, saya, atas nama seluruh mahkluk yang ada di bangsa ini, mendeklarasikan diri sebagai calon anggota DPR. Setuju???!!!”, suara Sang Pengkhotbah serak tapi tetap lantang terdengar. Parapenonton terdiam. Tapi jumlah yang berbisik-bisik semakin banyak. Ada pula yang meludah. “Gimana Bapak-Ibu? Setujuuuuuuu??!!!”, tanya  Sang Pengkhotbah seakan memelas meminta jawaban. Tak seorang pun menjawab. Satu per satu penonton mulai meninggalkan tempat.
“Jualan kecap rupanya”, gumam si Doles yang jualan es campur. “Ah..basi”, timpal Ukhriyah yang jualan baju. “Kurang kerjaan”, sahut Imran sambil menghidupkan sepeda motornya, siap-siap ikutan ngacir. Tapi Sang Pengkhotbah tidak bergeming. Dia tetap melanjutkan orasinya. “Bapak-bapak, Ibu-ibu, saudara sekalian!”, ia membuka kembali pidatonya dengan serak, tapi tetap bernada tinggi.
“Rokok-rokok! Aqua dingin!!”, pedagang asongan mulai lagi menjajakan dagangannya. “Sayang anak, sayang anak!”, tukas penjual mainan tak mau kalah. Dan suara Sang Pengkhotbah pun kembali tenggelam di keriuhan orang-orang di pasar itu.

Silakan untuk Memberikan Komentar/Please give any comments on this article