Saleum

Selamat Datang di Forum Pembelajaran: Komunitas Pojok Kampus. Terima kasih atas kunjungannya.

Featured post

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU TERKAIT FOKUS MASALAH YANG DIANGKAT DALAM DRAFT PROPOSAL PENELITIAN Dosen Pengampu: Dr. Anton Widyanto...

HANTU PAGI


Oleh: Anton Widyanto

Cerpen ini pernah dimuat di koran Harian Aceh. 

       Entah mengapa aku jadi takut bersua pagi. Sebab, pagi bagiku adalah sosok yang menyeramkan, menggelisahkan dan sekaligus memusingkan. Pagi di mataku laksana ujung pedang yang siap menerkam, mengoyak dan mencabik-cabik tubuh kurusku. Aku menjadi alergi dengan pagi dan aku tak pernah lupa untuk mengutuknya setiap hari. Menjelang pagi.


      Terus terang aku lebih suka dengan malam. Malam seolah-olah adalah ibuku. Sebab aku selalu merasa tenteram bila malam yang datang menyapaku. Kata-katanya begitu menyejukkan dan nuansanya demikian mendinginkan. Kegelisahan rutinku menjadi terobati karenanya. Malam adalah idola bagiku, pujaanku, dan semua yang indah cuma pantas disandingkan di sisinya.

      Sesaat setelah matahari menyembulkan tubuhnya di ufuk Barat, dan pendaran sinarnya yang indah –kata pelukis, namun bagiku tidak- mulai membelai jalanan, rumah-rumah penduduk, sawah-sawah, kebun jeruk, lapangan bola, kampus, warung-warung kopi dan juga jendela kamarku, hatiku kontan meledak marah, sebal dan menggerutu. Karena itulah makanya semua kisi-kisi kamarku yang bisa ditembus sinar “si bangsat” itu, kututup dengan apa saja. Mulai dari kain, triplek, handuk, baju, kolor, sampai ke kain lap. Pokoknya semuanya. Dan akupun akhirnya merasa tenang, karena seakan-akan pagi yang memuakkan itu tidak pernah datang lagi. Yang ada hanya gelap, gelap, dan gelap. Senantiasa malam, malam dan malam lagi. Aku merasa telah sukses mengalahkan pagi. Aku berjingkrak gembira sebab mahkluk buruk itu telah pergi.

#

            Kebencian dan kemuakanku pada pagi sebenarnya mulai muncul setelah aku selesai kuliah. Tepatnya entah kapan. Mungkin seusai aku mendapat ijazah, atau dua tahun sesudahnya. Entahlah. Aku sudah tidak ingat lagi. Aku lupa. Dan akupun memang benci untuk mengingatnya.

            Ijazah, daftar nilai dan gelar yang kusandang selesai kuliah, ternyata di mataku tak lain dan tak bukan adalah simbol pembodohan kelas kakap. Bagaimana tidak ?  Aku berhasil mendapatkannya tanpa tahu harus membawanya ke mana.

           “Kuliah itu bukan untuk mencari kerja, tapi untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya ”, begitu kata rektorku dalam pidatonya di hadapan ratusan mahasiswanya. “Kalian tidak dididik untuk mencari kerja, tapi untuk menciptakannya !”, imbuhnya itu dengan aksen yang ditekan, menandakan bahwa apa yang dikatakannya itu penting.

            Kata-kata itu begitu melekat dalam pikiranku, sehingga aku senantiasa rajin kuliah agar bisa meraih nilai yang lumayan. Aku merasa selalu diburu SKS setiap saat. Mereka bagaikan malaikat munkar-nakir yang selalu membayangi dan mengikutiku ke manapun aku pergi. Tak ayal lagi, semua aktifitas di luar kuliah kuanggap sampah. Semuanya nonsense karena hanya akan mengganggu SKS-ku. Hasilnya ? Nilaiku termasuk lumayan bila dibandingkan dengan kawan-kawan lain. Tapi cukupkah itu ?!

#

            “Maaf Pak. Di kantor kami sementara ini tidak ada lowongan. Tapi berkas lamaran Bapak akan tetap kami pertimbangkan”, demikian jawab karyawati cantik sebuah perusahaan dengan wajah yang diramah-ramahkan. Entah sudah keberapa kalinya jawaban seperti itu kuterima, hingga aku hafal dengan sendirinya. Kemudian, seperti biasa, aku akan pulang dengan langkah gontai dan tersuruk-suruk, tanpa tahu kemana aku menujukan umpatan dan caci makiku.

            “Kalian tidak dididik untuk mencari pekerjaan, tapi menciptakannya!”, kata rektorku itu terngiang lagi. Akupun meludah. Bagaimana mungkin aku disuruh menciptakan kerja, sementara pelajaran yang kuterima tidak pernah mengarahkanku ke situ?! Herannya, lembaga tempat aku belajar sama sekali tidak pernah ambil pusing dengan nasib alumnusnya yang seperti aku. Mereka senantiasa asyik dengan proyek-proyek baru, bangunan-bangunan baru, atau pembukaan jurusan-jurusan baru. Cih apa pula ini?!  Kenapa pandangan mereka lebih  dipenuhi  bisnis daripada nasib mahasiswanya yang terlantar ke sana- kemari?  Kenapa mereka hanya puas ketika telah melahirkan ratusan atau bahkan ribuan alumni dari rahimnya?  Sementara mereka tidak pernah bingung manakala menyaksikan dengan mata telanjang mereka, bahwa tidak sedikit nasib bayinya yang terkatung-katung, terseok-seok atau tercampakkan dalam persaingan hidup yang semakin ketat ini?

#

            Aku bukannya tidak pernah mendapat tawaran pekerjaan. Tapi karena syaratnya harus memakai pelicin, maka aku putuskan untuk tidak menerimanya. Aku muak dengan permainan-permainan begitu, karena aku paham bahwa permainan itu hanya akan menciptakan tikus-tikus baru. Aku benci untuk terlibat sebab aku tak mau menjadi tikus. Kasihan negara ini karena sudah puluhan tahun digerogoti penyakit tikus yang tak kunjung sembuh hingga sekarang. Lebih dari itu aku takut menerima uang yang tidak barakah. “Bisa kuwalat”, kata kakekku.

            Barakah?! Bukankah itu sesuatu yang gila untuk dipercayai?  Sebab di zaman yang katanya  edan ini, bukankah batasan antara yang halal dan haram sulit dibedakan?  Akhirnya yang haram dikitpun dianggap halal, sementara yang jelas haram dianggap makruh. Orang yang mencari kerja dituntut untuk punya relasi dan –tentu saja- duit. “No money, No Job”, ungkapan ini rasanya pas untuk mewakili dunia yang penuh dengan kamuflase dan intrik-intrik kotor ini.

#

            Ahmad, Syarief, Dedi dan Lukman, adalah cuilan kecil yang dapat dianalogikan dengan nasibku. Tapi mereka lebih lincah dari aku, sebab mereka tidak takut dengan pagi. Pagi bagi mereka adalah hidup baru, untuk mencangkul sawah bagi Ahmad, untuk menjajakan baju bagi syarief, untuk menunggui kedai kopi bagi Dedi dan untuk menyervis motor bagi Lukman di bengkelnya.  Mereka adalah satu angkatan denganku di perguruan tinggi. Sementara itu Wati, Isna, Rahmah, Ulfah dan Fatimah telah menjadi ibu bagi anak-anaknya. Mereka mengabdi dengan setia sebagai penjaga rumah, perawat anak di sebuah play group dan pelayan setia suami. Mereka seakan-akan tidak termakan isu-isu gender yang telah mewabah di negeri ini dan merasuki banyak tubuh kaum hawa kami. Kenyataannya mereka merasa asyik dengan kehidupan rumah tangga. Dan uniknya mereka rupanya juga mengakui bahwa ijazah yang mereka dapat telah dimusiumkan dalam kopor, almari atau rak buku, sebagai hiasan atau buah kenangan bagi anak mereka nanti.

            “Man”, kata Ahmad suatu kali kepadaku saat berjumpa malam itu di warung kopi wak Doles. “Kau jangan sekali-kali egois dan idealis dengan apa yang telah kau dapati selama kuliah”, nasehat si Ahmad mulai meluncur satu-persatu. “Kau lihat sendiri, apa pekerjaanku sekarang ini?  Aku jadi petani Man!”, sentak Ahmad sambil membelalakkan matanya padaku.

            “Coba kau pikir baik-baik. Apakah ada mata kuliah yang kita terima mengajarkan kita tata cara bertani?”, cibir Ahmad dengan nada sedikit kesal. “Tapi no problem. Aku punya prinsip, asal kaki tanganku masih utuh dan otakku masih belum lumpuh, aku mau kerja apa saja asalkan halal. Agar apa ? agar bisa survive, Man!”, sambung Ahmad sekali lagi dengan istilah-istilah Inggrisnya yang sedikit banyak aku pahami.

            “Tapi bukankah itu tidak profesional namanya?”, selaku dengan nada mendebat.

            “Omong kosong dengan profesionalisme dan kompetensi”, sergah Ahmad dengan cepat dan lugas. “Semua itu lips service belaka. Kalau kita masih berpegang pada prinsip gombal itu, kita akan digilas oleh nasib”. Ahmad terdiam sejenak, menghisap rokok kreteknya, kemudian dia lanjutkan lagi obrolannya. “Yang dibutuhkan sekarang itu ini”, Ahmad menggesekkan ibu jarinya dengan jari tengah. “Duit man, duiiit…”. Aku cuma  membisu.

            “Cobalah tengok realitas yang ada Man. Sekarang gelar yang kita dapat kayaknya sudah tidak berharga lagi. Tidak ada apa-apanya “, Ahmad menghisap lagi rokoknya dalam-dalam. “Orang-orang malah sudah banyak yang melanjutkan kuliahnya di S-2. Itupun banyak yang hanya sekadar membeli gelar saja agar bisa naik pangkat. Itukah yang dinamakan dengan profesionalisme dan kompetensi? Cih !”, Ahmad meludah ke tanah yang kemudian dia sapu dengan sandal jepitnya hingga hilang ujud aslinya.

“Coba kau lihat juga betapa membludaknya orang menyerbu satu lowongan saja yang dibuka oleh sebuah kantor negara. Hasilnya, ada yang telah puluhan kali ikut tes, tenyata tidak jebol juga. Malah naifnya yang lulus justru orang yang kemampuan intelektualnya diragukan. Tapi karena kemampuan bermain lobi dan  fulusnya meyakinkan, akhirnya…jebol juga”, kata-kata Ahmad menerawang lepas dan  malampun melenggang dengan pasti.

#

          Manakala malam yang kurindukan tiba, kulihat bintang bertaburan di atas sana. Rembulanpun yang kemarin hanya berbentuk sabit, kini telah membundar. Aku sibakkan tirai jendelaku seperti biasa di malam-malam sebelumnya. Aku merenung sendirian di kamarku yang sempit dan pengap karena udaranya jarang tergantikan. Sudah setahun aku terpasung di kamar ini karena keluargaku sudah menganggapku tidak waras lagi. Akupun tak mengerti entah kenapa mereka menganggapku gila, padahal aku merasa bahwa otakku masih jalan, pikiranku masih normal dan hatiku masih berfungsi.

            Sarung menggelantung di atas cantelan baju diiringi oleh pakaian-pakaian dan celana kumalku, jas almamater serta celana dalamku. Ijazah yang kupampang di dinding kamarku seakan-akan memelototi tubuh kurusku, menghinaku, mencibirku dan mencaci-maki diriku. Meja, kursi, skripsi dan buku-buku diktatku seakan-akan tertawa terbahak-bahak melihatku yang kusut masai diterjang nasib. Akupun meronta, menjerit dan mengobrak-abrik semuanya hingga amburadul berantakan. Sampai akhirnya pintu kamarku digedor sekeras-kerasnya oleh Bapakku, sebagaimana hari-hari sebelumnya.


0 comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.