Saleum

Selamat Datang di Forum Pembelajaran: Komunitas Pojok Kampus. Terima kasih atas kunjungannya.

Featured post

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU TERKAIT FOKUS MASALAH YANG DIANGKAT DALAM DRAFT PROPOSAL PENELITIAN Dosen Pengampu: Dr. Anton Widyanto...

MUSUH IBLIS

Terjemahan bebas Anton Widyanto dari Naskah Drama  Tawfiq al-Hakim. Cerpen ini sudah dipublikasikan di Harian Suara Merdeka.

"Iblis terus-menerus mengejek, menghina dan menginjak-injak Izrail lewat premis ketakabburannya. Nampak sekali gurat-gurat kegembiraan tak terperi yang memancar dari wajah angkernya. Kupingnya yang panjang bergerak-gerak mengikuti irama ritmis gerakan tubuhnya yang lain. Demikian pula kakinya yang besar dan berbulu lebat juga ikut menghentak-hentak seiring dengan gerakan naik-turun ekor panjangnya".

Manakala Izrail baru saja beranjak dari rumah sang utusan Tuhan terakhir, seusai kewafatannya, Iblis kemudian menemuinya dengan hati penuh luapan kegembiraan serta kemenangan tiada tara. Dengan nada congkak, mahkluk hitam besar dan berperawakan semrawut itu bertanya padanya, “Apakah kau sudah cabut nyawa Muhammad ?!”.
“Apa urusanmu wahai mahkluk terkutuk ?!”, jawab Izrail enteng.
Sambil mencibir, iblis melanjutkan premis kepongahannya, “ Ya…ya….ya…. si Muhammad rupanya memang betul-betul telah mampus ha..ha…haa…. Oh ya, bukankah yang sedang kudengar saat ini adalah suara tangis serta ratap kesedihan Fatimah ? Coba simak baik-baik, alangkah merdu dan indahnya ritme-ritme kesedihan yang ia lantunkan !”.
Sayup-sayup dalam kesenyapan alam yang seakan-akan ikut berduka, terdengarlah suara isak tangis seorang wanita. Yha…. Suara itu memang benar milik Fatimah, putri Rasul SAW.
“Apa urusanmu dengan hal ini semua haaa !!!”, kali ini Izrail bertanya dengan sedikit geram. Namun Iblis tidak terpancing untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan malaikat pencabut nyawa tersebut, bahkan justru dia malah semakin berjingkrak-jingkrak senang tak karuan, sehingga perut buncitnya yang persis gentong ikut menari ke sana-ke mari mengikuti suara hati. Sambil terkekeh ia mengejek Izrail habis-habisan.
“Nah… Izrail ! Coba simak sekali lagi. Bukankah yang terdengar sekarang ini adalah nada-nada kesedihan istri Muhammad, Aisyah ?! Mari sama-sama kita simak
dengan khidmat sesenggukan merdunya hi..hi….”.
“Enyah kau dari sini !!”, bentak Izrail dengan geram sekali lagi.
“He..he… Coba mari kita simak dengan khidmat lagi. Bukankah yang kita dengar sekarang ini adalah nada-nada kesedihan istri-istri Muhammad semua ?! Aduhai…. Alangkah betul-betul mengesankannya”, Iblis menimpali ujaran Izrail dengan semakin bersemangat.
“Pergi kau dari sini !!”, usir Izrail kedua kalinya semakin geram sambil mengibaskan sebuah pukulan yang dengan tangkas dan gampangnya dapat dielakkan oleh Iblis.
“Alangkah indahnya siang ini ya Izrail ? Oh ya, coba dengarkan sebentar saja sebuah lagu yang baru kuciptakan”. Tanpa mempedulikan rona kegeraman yang menggurat jelas di wajah Izrail, Iblis kemudian melantunkan lagunya :
“ Musuhku telah pergi
Menuju kefanaan.
Hari ini,
Hari kemenanganku.
Mari sama-sama kita berdendang.”

Iblis terus-menerus mengejek, menghina dan menginjak-injak Izrail lewat premis ketakabburannya. Nampak sekali gurat-gurat kegembiraan tak terperi yang memancar dari wajah angkernya. Kupingnya yang panjang bergerak-gerak mengikuti irama ritmis gerakan tubuhnya yang lain. Demikian pula kakinya yang besar dan berbulu lebat juga ikut menghentak-hentak seiring dengan gerakan naik-turun ekor panjangnya.
Sementara itu, pepohonan, kawanan ternak dan gundukan-gundukan pasir di padang sahara yang luas saling bergumam lirih serasa ikut terusik dengan tingkah polah kesombongan Iblis yang tak kunjung padam dan memang tak akan pernah pupus, selamanya.
“Semoga Allah melaknatmu wahai mahkluk terkutuk !!”, Izrail merasa tak tahan menyaksikan Iblis yang tak henti-hentinya berjingkrak-jingkrak kegirangan, tanpa rasa lelah sedikit pun.
“Mulai hari ini, suaraku akan bergema bebas lepas ke seluruh pelosok dunia”, ujar Iblis sembari memelototkan kedua mata julingnya pada diri Izrail. “Mulai saat ini, suaraku akan mampu menembus kalbu-kalbu yang mendambakan kabar dari langit. Dan mulai sekarang ini pula, terputuslah sudah berita dari langit. Akulah raja dunia sekarang ha..ha…ha…..!!!”, Iblis kembali tertawa menyeringai sekeras-kerasnya hingga ludahnya bermuncratan deras ke arah muka Izrail.
“Kau salah Iblis ! Sesungguhnya suara langit telah meresap dalam hati manusia dan mustahil mereka akan mengikuti suara bejatmu”, Izrail menimpali tertawaan Iblis dengan terlebih dahulu menenangkan dirinya sendiri, sehingga tidak terkesan emosional lagi.
“Sebenarnya, kau harus menyadari wahai Izrail bahwa kau kurang begitu tahu seluk-beluk dunia manusia, tidak seperti aku yang memang lebih cerdas dari dirimu”, sombong si Iblis untuk kesekian kali. “Aku telah benar-benar hafal bagaimana cara menjentikkan ujung jari telunjukku dengan perlahan pada hati mereka, sehingga mereka dapat tunduk padaku. Dan ketika aku mendendangkan lagu-laguku, mereka akan mengikuti ritme-ritmenya dengan baik. Tahukah kau tembang apa yang kunyanyikan untuk mereka ?! “. Setelah menyaksikan si Izrail diam tak menjawab, ia lanjutkan kembali argumentasinya. “Aku senandungkan untuk mereka lagu-lagu bumi, bukan tembang-tembang langit. Karena aku tahu pasti bahwa lagu-lagu langit akan menggiring mereka kepada kebenaran hakiki, tapi sebenarnya hal itupun biasanya hanya sekejap saja”. Sejenak setelah Iblis menghela nafasnya, ia melanjutkan kembali obrolannya, “Jangan pernah lupa, bahwa mereka itu diciptakan dari tanah. Maka tidak ada sesuatu pun yang bisa menggerakkan eksistensi mereka kecuali hanya lagu-lagu dunia.” Kali ini ekspresi wajah Iblis tampak semakin serius untuk mengajak Izrail berdebat panjang.
Sambil menatap sorot mata Iblis yang memancarkan aura kedurhakaan abadi, Izrail menimpali komentar Iblis. “Memang benar kuakui mereka diciptakan dari tanah, tapi yang terpenting bukankah hati mereka tertuju ke langit ?!”.
“Iya, betul itu. Yaitu ketika masih ada nabi yang memberikan petunjuk. Tapi sekarang, kepala mereka akan tertunduk pasti ke bumi. Mereka bagaikan sepotong lilin yang tidak akan bisa diangkat kecuali kalau ada jari yang mengangkatnya, maka jika dilepaskan, jatuhlah dia”, debat Iblis sekali lagi.
Sejenak, Izrail terpekur oleh komentar Iblis yang dirasakannya cukup menggigit. Raut mukanya mulai menunjukkan keseriusan mendalam, bahkan keningnyapun ikut berkerut mengisyaratkan ia sedang berpikir sekeras mungkin. Di lain pihak, sebaliknya Iblis semakin bersemangat untuk membantai habis Izrail lewat argumentasi-argumentasinya. Ia sudah mulai mencium aroma kemenangan kedua, setelah kali pertama ia merasa mendapat kemenangan dengan wafatnya Sang Nabi terakhir.
“Iya..ya.. Kok aneh rasanya. Mengapa Allah sampai tega mencabut roh Nabi-Nya yang mulia ?”, kalbu Izrail mulai diliputi sedikit keraguan dan pertentangan batin sendiri. “Astaghfirullah….”, tiba-tiba Izrail bergumam sedikit keras, merasa bersalah dengan pikiran yang terlintas di benaknya. “Bukankah Muhammad hanya datang untuk menyampaikan risalah dan selanjutnya beliau akan pergi selamanya ?”. Sejenak ia menengadah ke langit, kemudian ia lanjutkan kembali komentar sanggahannya. “Sesungguhnya Muhammad datang membawakan suatu ajaran kebenaran yang kekal adanya. Ajaran itu adalah jari-jari tangan yang akan meluruskan hal-hal yang bengkok. Jadi ndak usah terlalu bergembiralah dengan wafatnya Muhammad. Karena yang mati adalah jasadnya saja, sedangkan prinsip-prinsip agama dan ajaran-ajaran beliau akan tetap kekal menepis aroma busukmu yang selalu kau tawarkan !”, Izrail menjawab dengan percaya diri. Sebaliknya Iblis, kali ini ia terhenyak. Ia hanya bisa menjawab keiayaannya dengan anggukan kepala perlahan dan deheman lirih beberapa kali.
Izrail kembali melanjutkan argumentasinya setelah ia merasa Iblis agak terpojok. “Makanya kau sebaiknya diam saja, tidak usah berulah macam-macam ! Sesungguhnya di wajahmu sekarang nampak jelas banyaknya debu-debu kotor, sehingga semakin menambah buruk rona wajahmu yang memang sudah jelek dari dulu”, Izrail berkata-kata agak sedikit keras, sehingga kali ini gerimis ludahnya ganti mengenai muka sangar Iblis.
Tak lama kemudian, ternyata Iblis telah menemukan kembali jawaban penangkal bagi argumentasi Izrail. Dengan tenangnya ia menjawab, “Adanya misi kerasulan, agama dan ajaran-ajaran memang hal yang tidak salah. Tapi perlu kau camkan bahwa hal-hal itu tidak akan membuatku gentar sama sekali”. Sambil mencibir sinis, Iblis melanjutkan komentar pedasnya. “ Dahulu, perlu kau tahu, aku telah berhasil melenyapkan kekuatan sebagian hal-hal tersebut. Waktu itu, Isa juga diutus sebagai utusan Allah. Kemudian ia dipanggil Tuhannya dan meninggalkan orang-orang suci serta para pendeta yang konsisten menjalankan ajaran-ajarannya untuk meninggalkan keenangan-kesenangan duniawi. Selanjutnya mereka mengasingkan diri dalam sinagog, gereja, padang pasir dan punck-puncak gunung. Mereka hanya mengharapkan ridha Allah semata dan mereka coba melupakan atau mungkin melupa-lupakan hiruk-pikuk duniawi yang padahal sebenarnya fisik mereka terbuat darinya”. Tiba-tiba Iblis bersin, yang bersinnya itu menggelegar dahsyat sehingga mampu membuat kawanan unta bercerai-berai ketakutan. Sementara itu, Izrail dengan tenangnya tetap menyimak perkataan Iblis. Mahkluk terkutuk itu kembali melanjutkan pendapatnya, “Kemudian setelah itu, aku memperdaya mereka dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan berbagai macam bentuk kebohongan yang bisa mengingatkan mereka dari hal yang coba mereka lupakan. Ternyata, banyak di antara mereka yang berpaling padaku, kemudian tidak mau lagi mengingat-ingat ajaran-ajaran Isa itu. Lihatlah bagaimana cerdasnya aku ha..ha…..”.
“Allah Maha Mengetahui tujuan busukmu itu wahai mahkluk terkutuk. Karena itu Dia mengutus Muhammad dengan membawa agama yang tidak mengingkari bahasa tubuh. Suatu agama yang tidak mengenal kerahiban serta tidak mengingkari kanun-kanun dunia. Suatu agama yang tidak menghalang-halangi pemeluknya untuk mengikuti irama langit dan bumi secara bersamaan. Lantas apa yang kau andalkan untuk merintangi Muhammad dan Islam ?!”, Izrail langsung menimpali ujaran Iblis dengan lancarnya.
“Memang benar apa yang kau utarakan barusan, justru di situlah letak pokok masalahnya dan karena itu pula makanya Muhammad menjadi musuh besarku”.
“Beliau adalah penutup para nabi, karena beliau telah mempersempit aliran nafasmu serta memampatkan semua lobang yang memberi peluang hawa panasmu menembusnya.”
Sampai di sini si Iblis terhenyak, dia memutar otak cerdasnya untuk menimpali argumen Izrail yang kali ini hampir memojokkannya. Sebentar kemudian ..
“Ha..ha.. Sebenarnya perkaranya terlampau gampang dan sepele. Aku hanya harus menghilangkan semua keistimewaan agama ini. Aku akan hembuskan pengaruh persahabatanku dengan manusia-manusia dungu itu. Sebagaimana kau tahu, mereka sangat suka dengan keserupaan dan penyerupaan. Kaum monyet yang bisa berbicara itu sulit memilah, membedakan dan memahami falsafah sesuatu. Coba buktikan saja nanti ketika jasad Muhammad telah ditimbun dengan tanah dan kemudian dia hanya menjadi legenda sebagaimana Musa dan Isa, manusia tidak akan membedakan lagi siapa itu Muhammad, Isa atau Musa. Hal ini bisa terjadi bahkan di saat Muhammad belum dimasukkan dalam liang lahatnya. Coba lihatlah baik-baik, bukankah itu si Umar yang mau berpidato ?!”
Umar, mantan gembong kriminil kelas kakap di masa Jahiliyah, berdiri dengan sangarnya. Matanya berkilat-kilat bagaikan singa lapar. Orang-orang terdiam, entah takut, entah segan. Yang jelas mereka cuma terdiam dan menanti apa yang mau dikatakan si Umar.
“Aku tidak mau mendengar ada orang yang mengatakan bahwa Muhammad telah mati, karena sebenarnya dia diutus sebagaimana Musa diutus yang pernah meninggalkan kaumnya selama 40 malam. Demi Allah, sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki orang yang menyangka bahwa Muhammad telah mati !”.
Izrail terkesiap mendengar kata-kata Umar yang sedemikian lantangnya menegaskan kebenaran argumen Iblis. Sementara Iblis begitu bangga karena telah terbantu dengan ungkapan Umar. Dia melonjak-lonjak tiada henti, seolah-olah dia berada di diskotik terkemuka yang memang dipenuhi oleh mahkluk seperti dia.Tiba-tiba, seorang laki-laki berdiri ingin mengutarakan sesuatu. Iblis berhenti sebentar, dan Izrail nampaknya juga tertarik ingin mendengar apa yang diutarakan lelaki tersebut.
“Wahai Saudara-Saudaraku, sesungguhnya Rasulullah Saw telah diangkat Allah ke langit, sebagaimana Allah telah mengangkat Isa dan beliau pasti akan kembali .”
Ternyata ungkapan laki-laki itu sungguh begitu dahsyat pengaruhnya bagi Iblis, karena menjadi stimulus semakin tak terkendali luapan kegembiraannya. Hidungnya kembang-kempis saking gembiranya, agaknya begitulah mungkin adat kaumnya. Dia menari berputar-putar mengelilingi Izrail yang masih terpekur seakan-akan tidak percaya apa yang dilihat dan didengarnya. Kemudian dia berdiri dan mencengkeram leher Iblis, berusaha mencekiknya. “Kalau saja aku dapat membunuhmu, niscaya kau sudah kubunuh sekarang Iblis !!”, Izrail begitu jengkel melihat kenyataan yang tampil di depan matanya. Sebaliknya Iblis nampak tenang-tenang saja menanggapi ungkapan emosional Izrail, karena memang itu yang diharapkannya, yang disukainya, termasuk pada manusia.
“Aku adalah mahkluk yang ditakdirkan untuk tidak mati dan tidak akan musnah. Karena aku memang adalah penguasa dunia, ruhnya dunia. Dan aku tidak akan rela meninggalkan dunia ini selama masih ada binatang melata di muka bumi !”, Iblis meninggikan suara seraknya, meletup-letup mengenai muka halus Izrail. Dua mahkluk halus yang ditakdirkan sebagai simbol baik-buruk itu sama-sama saling mencengkeram, ingin menelan habis lawannya.
“Hiduplah terus selamanya, tapi kau tetap saja tidak akan bisa mengusir musuh-musuhmu dengan seenak perutmu !”, jawab Izrail seraya memperkuat cekikannya yang masih tidak terasa apa-apa bagi Iblis.
Seraya mendorong Izrail sekuat-kuatnya, Iblis kembali menimpali, “Izrail ! Tidak tahukah kau bahwa aku dalam sekejap saja dapat merubah makna agama yang diabdikan Muhammad sepanjang hidupnya ? Bukankah Muhammad seringkali mengingatkan kaumnya bahwa ia adalah manusia biasa yang hanya saja dia diberikan wahyu oleh Allah dan dia akan mati sebagaimana manusia lainnya ?! Bukankah agamanya adalah agama kehidupan yang memperbolehkan manusia untuk menempuh jalan hidup yang baik di dunia ini ?! Maka selama agamanya adalah agama kehidupan serta kesucian dan menggunakan bahasa manusia, tidak sepantasnya orang-orang mempertuhankannya sebagaimana mereka telah mempertuhankan al-Masih dan mereka juga tidak seharusnya mengingkari kematiannya seperti apa yang mereka lakukan terhadap al-Masih. Bukankah ini makna agama Muhammad ? Jadi bagaimana pula sekarang para sahabatnya telah merubah makna agama tersebut ?!.”
“Ketahuilah Iblis, bahwa mereka tidak merubah apa-apa. Apabila kau terpengaruh dengan ucapan Umar tadi, maka sebenarnya dia mengatakan itu adalah karena ia takut murtad,” jawab Izrail dengan tenangnya, penuh ekspresi kesejukan.
Sambil mencibir kecut dan meludah sesekali ke onggokan bulir-bulir pasir di sahara yang luas bagai lautan gula itu, Iblis menimpali ujaran Izrail. “Kenapa mereka mesti takut murtad dengan matinya Muhammad ? Kalau begitu mereka sama saja menyembah dan menganggapnya sebagai Tuhan ?.”
Sejenak Izrail terpekur mendengar komentar-komentar desakan Iblis yang belum tamat juga hingga detik itu. Namun kemudian mereka berdua dikejutkan oleh berdirinya seseorang yang berwajah teduh seteduh pohon tua yang berdaun rimbun. Nampak jelas bias-bias kebijaksanaan yang memancar dari wajahnya. Percakapan kedua mahkluk halus itupun terhenti, walau tanpa perintah.
“Wahai para sahabat sekalian !”, begitu orang yang bijak tadi memulai kata-katanya. “Barangsiapa di antara kalian menyembah Muhammad, maka dia telah wafat kini. Dan barangsiapa yang menyembah Allah, sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha Hidup dan tidak akan pernah mati selama-lamanya.” Sampai di sini, telinga panjang dan muka sangar Iblis memerah atau bahkan kelabu. Seandainya saat itu suaranya bisa didengar oleh orang-orang yang hadir ketika itu, ia akan berteriak “bohooooonggg !!”. Andaikata ia dapat mencekik laki-laki yang bersuara teduh itu, ia akan mencekik lehernya sampai tak bernafas lagi. Umpamanya Izrail yang macho itu tak berada di dekatnya, ia pasti sudah menelan bulat-bulat laki-laki brengsek itu. Sebaliknya, si Izrail merasa gembira mendengar perkataan laki-laki shalih tersebut. Matanya yang berbinar keceriaan menyorotkan cahaya kemenangan. Ia menatap tajam pada Iblis, sebuah tatapan yang membuat Iblis semakin terpojokkan. Iblis berpaling muka, mengalihkan pandangannya pada pohon-pohon kurma yang mulai menggerak-gerakkan pelepahnya seolah-olah ikut merasakan kegembiraan hati Izrail, pada kawanan unta dan biri-biri yang mulai ribut mengejeknya, pada angin yang menderu-deru yang meniupkan ribuan bulir pasir ke wajahnya. Ia merasa terkalahkan dan tak tahu berbuat apa lagi selain melarikan dirinya sendiri, ngacir.

Taufiq al-Hakim adalah salah seorang sastrawan produktif Mesir yang telah banyak menelorkan karya-karya drama, novel dan esai-esai berbahasa Arab. Karya-karya sastranya banyak diterjemahkan dalam bahasa Perancis maupun bahasa-bahasa Eropa lainnya, di antaranya adalah karya monumentalnya yang berjudul “Yaumiyat Naib fi al-Aryaf “ yang diterjemahkan dalam Bahasa Inggris dengan judul “The Maze of Justice “.

0 comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.