Saleum

Selamat Datang di Forum Pembelajaran: Komunitas Pojok Kampus. Terima kasih atas kunjungannya.

Featured post

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU TERKAIT FOKUS MASALAH YANG DIANGKAT DALAM DRAFT PROPOSAL PENELITIAN Dosen Pengampu: Dr. Anton Widyanto...

ARTICLE REVIEW: "Gagasan Formasi Nalar Arab Al-Jabiri dan Signifikansinya Untuk Rekonstruksi Nalar Aceh"



ARTICLE REVIEW

Judul artikel                 : Gagasan Formasi Nalar Arab Al-Jabiri Dan Signifikansinya Untuk Rekonstruksi  Nalar Aceh
Penulis artikel                       : Zulfata
Jurnal                                    : Jurnal Ilmiah Islam Futura vol. 15. No. 2, Februari 2016, 320 -331
Reviewer                              : Cut Afrida Yulianti
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 
A.  ISI ARTIKEL
Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk memahami mengenai perkembangan budaya di suatu daerah yang mampu menentukan berkualitas atau tidaknya perkembangan ilmu pengetahuan di suatu daerah tersebut yang pada akhirnya akan berpengaruh pada pembentukan kepribadian masyarakatnya. Dalam hal ini, penulis memperkecil ruang lingkup objek penelitiannya Tentang pemikiran salah seorang tokoh  intelektual muslim yang bernama Muhammad Abid Al-Jabiri yang melakukan kajian mengenai penelusuran kebudayaan arab yang berfokus pada ajaran keagamaan masyarakat setempat. Selain itu, penelitian ini juga berupaya menemukan kaitan pemikiran tersebut terhadap nalar aceh.
            Metode penelitian yang dilakukan dalam kajian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan filsafat sejarah sebagai indikator penelusuran persoalan-persoalan yang diangkat.

ARTICLE REVIEW: Pengaruh Tradisi Arab Pra Islam Terhadap Hukuman Rajam



ARTICLE REVIEW
Judul               : Pengaruh Tradisi Arab Pra Islam Terhadap Hukuman Rajam
Penulis             : Ali
Reviewer         : Fiesca Maini Asri
Penerbit           : Jurnal Ilmiah Islam Futura Vol. 14 No. 1, Agustus 2014, 31-50.
Jumlah hlm      : 20 hlm
---------------------------------------------------------------------------------------------------
A.Isi Artikel
            Salah satu fenomena dalam hukum Islam yang berkembang saat ini adalah prokontra pelaksanaan hukuman rajam di berbagai negara, baik yang dilakukan melalui peraturan perundang-undangan maupun oleh berbagai elemen masyarakat (tanpa undang-undang). Hukuman rajam yang dikemukakan di dalam hadits Nabi, tidak dikemukakan di dalam Al-qur’an;Al-qur’an hanya mengemukakan hukuman cambuk (Qs.An-Nur:2). Salah satu tokoh di Indonesia yang menolak hukum rajam ialah Hazirin yang menyatakan bahwa rajam adalah hukum taurat, sedangkan hukum al-qur’an adalah cambuk[1].

Article Review: "Pendistribusian Zakat Produktif Dalam Perspektif Islam"


ARTICLE REVIEW
Oleh: Afifah Hasbi
(Prodi Ekonomi Syariah Pascasarjana UIN Ar-Raniry)
Dosen Pembimbing: Dr. Anton Widyanto
Judul artikel  : Pendistribusian Zakat Produktif  Dalam Perspektif Islam
Penulis artikel: Siti Zalikha
Penerbit          : Jurnal Ilmiah Islam Futura Pascasarjana UIN Ar-Raniry
Website           :
DOI                 : http://dx.doi.org/10.22373/jiif.v15i2.547
Jumlah hlm    : 16 halaman

A.    Ringkasan atau Isi Penting dari Artikel
Distribusi zakat merupakan rangkaian dari perintah menunaikan zakat dalam al-Quran. Sebagai sumber hukum Islam, al-Quran telah menetapkan siapa saja yang berhak menerima zakat. Namun begitu, al-Quran tidak menjelaskan secara eksplisit, bahwa pendistribusian itu berbentuk konsumtif, atau produktif sebagaimana dapat disimak dalam al-Quran surah al-Tawbah ayat 60:
“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mualaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. al- Tawbah: 60) 
Berdasarkan teks ayat di atas dapat dipahami, bahwa zakat harus diberikan kepada delapan golongan (senif) secara menyeluruh seperti urutan yang telah disebutkan, dan tidak boleh diberikan kepada beberapa golongan saja jika semuasenif ada. Sedangkan tentang teknis pembagiannya kepada para senif atau mustahik tersebut tidak terdapat keterangan yang tegas dari Nabi saw. yang mengharuskan zakat disalurkan secara merata atau tidak, secara konsumtif atau secara produktif. Akan tetapi Nabi saw, menyalurkan zakat sesuai dengan kebutuhan hidupnya dan disesuaikan dengan persediaan zakat yang ada. Sedangkan dalam kenyataan atau praktek sehari-hari ditemukan adanya pendistribusian zakat dilakukan secara konsumtif dan ada pula dalam bentuk produktif.[1]
Arif Mufraini bahkan telah mengemas bentuk inovasi pendistribusian zakat yang dikategorikan dalam empat bentuk: Pertama, distribusi bersifat “konsumtif tradisional,” yaitu zakat dibagikan kepada mustahik untuk dimanfaatkan secara langsung, seperti zakat fitrah, atau zakat mal yang dibagikan kepada para korban bencana alam. Kedua, distribusi bersifat “konsumtif kreatif.” yaitu zakat yang diwujudkan dalam bentuk lain dari barangnya semula, seperti diberikan dalam bentuk alat-alat sekolah atau beasiswa. Ketiga, distribusi bersifat “produktif tradisional,” yaitu zakat diberikan dalam bentuk barang-barang yang produktif seperti kambing, sapi, dan lain sebagainya. Pemberian dalam bentuk ini dapat menciptakan usaha yang membuka lapangan kerja bagi fakir miskin. Keempat, distribusi dalam bentuk “produktif kreatif,” yaitu zakat diwujudkan dalam bentuk permodalan baik untuk menambah modal pedagang pengusaha kecil ataupun membangun proyek sosial dan proyek ekonomis.[2]
Zakat yang merupakan ibadah di bidang muamalah (sosial kemasyarakatan), di samping adanya prinsip-prinsip dasar yang telah ditegaskan oleh al-Quran dan Hadis, juga diberikan kebebasan kepada hamba untuk mengkaji maksud dan manfaat yang terkandung di dalamnya dalam merealisasi tujuan syariat. Berbeda halnya dengan ibadah murni (ibadah mahdah) yang harus dipatuhi secara mutlak sesuai dengan bunyi nashg yang telah ditetapkan secara pasti oleh pembuat hukum (syari‘) tanpa melihat maksudnya. Maka ajaran zakat sekalipun disebutkan beriringan dengan ibadah salat, bukanlah ibadah murni semata, melainkan juga mengandung masalah yang mengatur hubungan antar sesama manusia di bidang kehidupan sosial, yaitu menghubungkan antara negara dengan pemilik harta serta menghubungkan orang kaya dengan orang miskin.
Zakat produktif adalah zakat yang didistribusikan kepada mustahik dengan dikelola dan dikembangkan melalui perilaku-perilaku bisnis. Indikasinya adalah harta tersebut dimanfaatkan sebagai modal yang diharapkan dapat meningkatkan taraf ekonomi mustahik. Termasuk juga dalam pengertian zakat produktif jika harta zakat dikelola dan dikembangkan oleh amil yang hasilnya disalurkan kepada mustahik secara berkala. Lebih tegasnya zakat produktif adalah zakat yang disalurkan kepada mustahik dengan cara yang tepat guna, efektif manfaatnya dengan sistem yang serba guna dan produktif, sesuai dengan pesan syariat dan peran serta fungsi sosial ekonomis dari zakat.
Pendistribusian zakat secara produktif terbagi kepada dua bentuk yaitu:  Pertama, zakat diserahkan langsung kepada mustahik untuk dikembangkan, artinya ‘ayn al-zakah yang ditamlikkan kepada mustahik sehingga zakat tersebut menjadi hak milik penuh mustahik. Pendistribusian seperti ini disebut juga dengan pendistribusian zakat secara produktif non investasi, Arif Mufraini menyebutkannya dengan istilah produktif tradisional.[3] Pendistribusian dalam bentuk ini terdiri dari dua model yaitu:
a. Zakat yang diberikan berupa uang tunai atau ganti dari benda zakat yang dijadikan sebagai modal usaha. Nominalnya disesuaikan dengan kebutuhan mustahik agar memperoleh laba dari usaha tersebut.
b. Zakat yang diberikan berupa barang-barang yang bisa berkembangbiak atau alat utama kerja, seperti kambing, sapi, alat cukur, mesin jahit dan lain-lain. 
Kedua, pendistribusian zakat secara produktif yang dikembangkan sekarang adalah pendistribusian dalam bentuk investasi, yaitu zakat tidak langsung diserahkan kepada mustahik, dengan kata lain, mustawlad al-zakah yang ditamlikkan kepada mustahik. Arif Mufraini mengistilahkannya dengan produktif kreatif.[4] Pendistribusian semacam ini juga terdiri dari dua model, yaitu:
a. Memberikan modal usaha kepada mustahik dengan cara bergiliran yang digulirkan kepada semua mustahik.
b. Membangun proyek sosial maupun proyek ekonomis, seperti membangun sarana tempat bekerja bagi mustahik dan lain-lain.
Kebolehan distribusi zakat secara produktif ini harus disertai oleh beberapa syarat, yaitu: izin dari mustahik bahwa haknya akan dijadikan sebagai modal, tidak adanya keperluan mustahik yang mendesak yang harus segera menggunakan dana, adanya jaminan terhadap keutuhan harta zakat, serta adanya kemaslahatan dalam melakukan tindakannya itu. Akan tetapi apabila kemaslahatan tersebut dibarengi dengan kemelaratan (mudarat), haram hukumnya mengembangkan harta zakat. Contoh kemudharatan yang paling nyata adalah kondisi masyarakat muslim, masih banyak di antara mereka yang membutuhkan bantuan mendesak yang perlu segera dibantu. Hal ini karena masih banyaknya masyarakat muslim yang hidup di bawah garis kemiskinan, maka pendistribusian zakat secara produktif dalam bentuk investasi sangat kontradiksi dengan kondisi masyarakat muslim hari ini yang sangat membutuhkan.
Pengelolaan zakat yang bersifat produktif, harus dilakukan pembinaan dan pendampingan kepada para mustahik agar kegiatan usahanya dapat berjalan dengan baik. Karena tujuan utama pengelolaan zakat secara produktif adalah untuk mentransformasikan seorang mustahik (orang yang berhak mendapatkan zakat) menjadi seorang muzaki (orang yang berkewajiban mengeluarkan zakat). 
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa, zakat produktif adalah sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu zakat yang diberikan kepada mustahik, baik secara langsung diserahkan (‘ayn al-zakah yang ditamlikkan) kepada mustahik maupun tidak langsung diserahkan (mustawlad al-zakah yang ditamlikkan) kepada mustahik. Namun mereka tidak menghabiskannya melainkan mengembangkannya dan menggunakannya untuk membantu usaha mereka, sehingga dengan dana zakat tersebut dapat membuat mustahik menghasilkan sesuatu secara berkelanjutan. 
Para ulama cenderung berani mengambil suatu inisiatif untuk melakukan ijtihad tentang distribusi zakat secara produktif, karena melihat kondisi yang begitu mendesak. Serta masalah tersebut termasuk bagian dari masalah muamalah yang hukumnya tidak ditunjuk secara langsung oleh nash, khususnya tentang teknik penyaluran zakat. Karena itu, dalam rangka memenuhi hajat hidup manusia sepanjang zaman dan tempat, serta sesuai dengan kondisi dan situasi masyarakat itu sendiri, maka praktek muamalah seperti ini syariat Islam mengemukakan kaedah-kaedah dasar, kriteria-kriteria dan prinsip-prinsip umum yang sesuai dengan kehendak syarak.[5]

B.       Analisis
            Berdasarkan hasil bacaan saya terhadap artikel ini, bahwa ada beberapa hal yang perlu penulis tambahkan dalam artikel tersebut, diantaranya: pertama, dalam pengambilan keputusan terhadap kebolehan pendistribusian zakat secara produktif, penulis tidak menjelaskan mazhab apa saja yang membolehlan hal tersebut, sehingga para muzakki dan para mustahik zakat dapat memahami mazhab mana yang membolehkan, mazhab mana yang tidak membolehkan atau mungkin semua mazhab membolehkan pendistribusian zakat secara produkti dan begitu juga sebaliknya.
            Kedua, didalam jurnal ini saya tidak menemukan adanya pembahasan mengenai apa saja asnaf zakat produktif dan berapakah jumlah nisab yang harus dikeluarkan oleh para mustahik zakat. Ketiga, penulis perlu menekankan bahwa dalam pendistribusian zakat tidak boleh adanya penundaan baik secara produktif maupun non produktif. Pendistribusian zakat diberikan kepada 8 senif, namun jika tidak ada 8 senif, maka diberikan seberapa ada. Zakat tersebut tidak boleh diberikan kepada daerah lain, kecuali oleh hakim (Negara). Selanjutnya melihat dan memperhatikan calon mustahik di daerah pengumpulan zakat tersebut. Jika sudah ada, maka zakat tersebut harus dibagi dengan segera dan tidak boleh ditunda-tunda karena mereka sangat membutuhkannya.[6]
            Keempat, penulis perlu menambahkan bagaimana teknik dalam mengelola dana zakat yang bersifat produktif, sehingga menjadi sesuatu yang bermanfaat dan berguna dalam proses pengelolaannya. Kelima,distribusi zakat produktif yaitu dalam bentuk pemberian modal kerja, dalam hal ini penulis tidak menjelaskan apa-apa saja resiko dan akibat yang akan dihadapi oleh seorang mustahik dalam mengelola dana zakat serta bagaimana solusi apabila mustahik mengalami kerugian dalam memberdayakan dana zakat yang bersifat produktif.

C. Simpulan
            Pendistribusian zakat produktif  adalah pemberian dana zakat kepada mustahik dalam bentuk modal usaha secara terprogram. Hal ini bermakna, dana zakat tersebut diharapkan akan membantu mustahik mengembangkan zakat  yang diterimanya menjadi suatu usaha ekonomi berkembang. Program ini merupakan kebijakan baru dalam wacana fiqh. Pendistribusian ini merupakan pemberian modal usaha kepada mustahik sehingga dapat mengembangkan usahanya. Ia dilakukan secara terprogram dulu dan setelah itu baru disalurkan. Program ini bertujuan mengembangkan atau membuat zakat lebih berdaya dan efektif.
            Zakat tersebut di diberikan dalam bentuk modal kepada mustahik dan mereka mengembangkannya secara mandiri. Dengan adanya program ini diharapkan mustahik dapat mengembangkan modal tersebut sehingga menjadi produktif dan diharapkan juga para mustahik akan menjadi muzakki., serta dapat meningkatkan taraf hidupnya menjadi lebih baik lagi.

Daftar Pustaka:
Armiadi. Zakat Produktif: Solusi Alternatif Pemberdayaan Ekonomi Umat. Banda Aceh: Ar-Raniry Press, 2008.
Mufraini, Arif. Akuntansi dan Manajemen Zakat: Mengomunikasikan Kesadaran dan Membangun Jaringan, cet. I. Jakarta: Prenada Media Group, 2006.
Sulaiman, Muzakir. Persepsi Ulama Dayah Salafi Aceh terhadap Pendistrribusian Zakat Produktif. Banda Aceh: Naskah Aceh dan Ar-Raniry Press, 2013.
Zalikha, Siti. “Pendistribusian Zakat Produktif  dalam Perspektif Islam”, Jurnal Ilmiah Islam Futura, Vol. 15 No. 2, Februari 2016. http://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/islamfutura/article/view/547




[1]Zalikha, Siti. “Pendistribusian Zakat Produktif  dalam Perspektif Islam”,  Jurnal Ilmiah Islam Futura, Vol. 15 No. 2, Februari 2016. http://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/islamfutura/article/view/547
[2]Arif Mufraini, Akuntansi dan Manajemen Zakat: Mengomunikasikan Kesadaran dan Membangun Jaringan, cet. I (Jakarta: Prenada Media Group, 2006), 147. 
[3]8Arif Mufraini, Akuntansi dan …, 147.
[4]Ibid., 148.
[5]Armiadi, Zakat Produktif: Solusi Alternatif Pemberdayaan Ekonomi Umat (Banda Aceh: Ar-Raniry Press, 2008), 109.
[6] Muzakir Sulaiman, Persepsi Ulama Dayah Salafi aceh terhadap Pendistrribusian Zakat produuktif, (Banda Aceh: Naskah Aceh dan Ar-Raniry Press, 2013), hlm, 193

INI ACEH BRO!


Oleh: Anton Widyanto
Beberapa waktu lalu Aceh digoyang beberapa peristiwa “pelecehan sejarah.” Masih hangat dalam ingatan kita, sosok Flavia Celly Jatmiko yang mencatut nama Aceh sebagai asal daerah dan tampil di ajang Miss Indonesia 2016 dengan penampilan yang justru mengangkangi nilai-nilai Syari’at Islam. Kecelakaan sejarah ini bukan kali pertama sebenarnya, akan tetapi perulangan peristiwa serupa pada ajang Miss Indonesia  tahun 2015 saat Ratna  Nurlia Alfiandi yang sama-sama mencatut Aceh mempertontonkan auratnya ke khalayak umum. Tidak cukup sampai di sini, “pelecehan sejarah” kembali terjadi ketika ajang lenggak-lenggok berjudul “Indonesia Model Hunt 2016” digelar di Hotel Grand Nanggroe Banda Aceh, Minggu (29/2/2016). Acara yang tidak mengantongi ijin resmi pihak kepolisian maupun Pemko Banda Aceh ini diikuti ratusan peserta dari seluruh Aceh.  Walikota Banda Aceh yang tentu saja merasa gerah, turun langsung menghentikan acara dimaksud. Tercatat dalam peristiwa tersebut beberapa model dengan berani memamerkan auratnya; mengenakan celana ketat, rok dan baju mini serta tidak berjilbab. Sebuah peristiwa miris yang dipertontonkan di Nanggroe Syari’at (Serambi Indonesia, 28/2/2016).

Sesat Tafsir Kebebasan Berekspresi
Saya berkeyakinan, bagi orang yang anti dengan pelaksanaan Syari’at Islam di Aceh serta mendewakan kebebasan berekspresi, respon keras masyarakat Aceh terhadap beberapa peristiwa “pelecehan sejarah” di atas pasti akan menjadi sasaran tembak yang empuk. Senjatanya apalagi kalau bukan atas nama kebebasan berekspresi.

Isu kebebasan berekspresi memang selalu saja menarik untuk digoreng, digongseng, dan diberikan bumbu penyedap HAM dan demokrasi. Isu ini bahkan sebenarnya telah menjadi senjata ampuh bagi orang-orang tertentu yang ingin melegalkan perbuatan-perbuatan anti Tuhan. Kebebasan berekspresi dipahami oleh orang-orang sedemikian rupa sebagai kebebasan tanpa sekat, sehingga cenderung  mengabaikan nilai-nilai moralitas baik terkait dengan agama maupun nilai-nilai etika yang genuine dan hidup dalam sosial kemasyarakatan. Seolah-olah kebebasan berekspresi adalah tindakan yang bebas nilai, tanpa memerlukan campur tangan moralitas. Sungguh penafsiran yang absurd, menggelikan dan irrasional. Sayangnya justru isu-isu seperti inilah yang semakin menguat di negeri kita ini karena memang dipoles dengan rapi dan sistematis. Akhirnya, seolah-olah, orang-orang yang masih menyuarakan moralitas atas nama nilai-nilai ajaran agama dan kultur ketimuran masyarakat serta nilai-nilai kearifan lokal, dianggap sebagai suara orang-orang iri, tidak kenal perkembangan zaman, primitif, kolot, kaku, terbelakang, tidak modern, berpandangan sempit dan memalukan. Sungguh sesat tafsir kebebasan bereskpresi yang naïf sekaligus menyesatkan.

Ini Aceh Bro!
Pertanyaannya, kenapa peristiwa pelecehan marwah Aceh sedemikian rupa kembali terulang? Apakah ada desain skenario pihak tertentu yang sengaja disusun untuk mencoreng wajah Syari’at Islam Aceh, sehingga yang terlihat ke permukaan adalah Aceh yang kolot, kuper, kaku, ketinggalan zaman dst? Jawabannya bisa jadi memang ada, bisa jadi juga tidak. Bagi saya ada atau tidaknya grand design untuk mencoreng wajah Aceh tidak terlalu penting untuk dijawab. Akan tetapi bahwa terdapat indikasi-indikasi pihak tertentu yang menginginkan kegagalan Aceh dalam melaksanakan syari’at Islam memang sudah terlihat dari sejak awal Aceh memproklamirkan diri sebagai satu-satunya provinsi di Indonesia yang melaksanakan syari’at Islam.
Terlepas dari itu, yang paling penting menurut saya adalah posisi dan sikap masyarakat Aceh sendiri dalam merespon pelecehan-pelecehan sedemikian rupa. Somasi yang dilakukan Pemerintah Aceh baik oleh Walikota Banda Aceh, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, maupun anggota DPD asal Aceh, serta demonstrasi damai yang dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat Aceh ketika merespon adalah langkah-langkah bijak yang layak diacungi jempol. Bahkan jika memungkinkan, penempuhan jalur hukum untuk mempidanakan pihak yang melakukan pelecehan tersebut (jika memang terbukti melanggar ketentuan perundang-undangan) tentu juga akan sangat diapresiasi. Yang perlu dihindari adalah aksi-aksi tak simpatik yang justru bisa bersifat kontraproduktif. Alih-alih mau membersihkan citra Aceh, jika memang tindakan protes yang dilayangkan bersifat destruktif, maka justru efeknya bisa membuat citra Aceh menjadi buruk. Hal seperti inilah yang  memang menjadi target orang-orang yang menginginkan syari’at Islam di Aceh terkesan menakutkan, kaku, tidak humanis, menyeramkan dan seterusnya. Syari’at Islampun dijegal agar menemui kegagalan.
Sebagai masyarakat Aceh, sudah selayaknya kita bangga melaksanakan syari’at Islam di wilayah sendiri. Kalaupun ada kekurangan pada konsep dan pelaksanaannya, tetap bisa dikritisi secara konstruktif. Sebab pada dasarnya pelaksanaan syari’at Islam di Aceh tidak bisa dilaksanakan secara instan, asal-asalan dan terburu-buru, akan tetapi secara bertahap dan tentu saja selalu memerlukan penyempurnaan-penyempurnaan. Hal ini sudah barang tentu membutuhkan waktu yang panjang karena bagian dari sebuah proses.
Peristiwa-peristiwa pelecehan terhadap marwah syari’at Islam di Aceh yang telah terjadi  baik saat pagelaran ajang Miss Indonesia 2015 dan 2016, maupun Indonesia Model Hunt 2016 perlu direspon dengan sikap yang tegas dan bijak. Ketegasan yang disampaikan oleh Walikota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Jamal, yang meminta kepada pihak penyelenggara untuk meminta maaf di media massa sebagaimana dilansir Serambi Indonesia (01/03/2016) sudah tepat. Gerakan-gerakan yang mengecam peristiwa-peristiwa pencorengan marwah syari’at Islam di Aceh yang dilakukan oleh beragam elemen masyarakat Aceh baik dari unsur internal organisasi kampus, maupun organisasi massa, juga layak diacungi jempol. Kesemuanya menyampaikan pesan tegas kepada khalayak luas agar jangan main-main dengan nilai-nilai luhur yang dipedomani rakyat Aceh. Sehingga peristiwa sedemikian rupa diharapkan tidak terulang lagi di masa mendatang.
Meski demikian, di sisi lain, aksi umbar aurat yang terjadi pada ajang Indonesia Model Hunt 2016, juga patut dijadikan bahan instrospeksi bagi masyarakat Aceh sendiri, khususnya para orang tua. Dikarenakan para pelaku yang mengumbar aurat tersebut adalah para generasi muda Aceh sendiri. Kenapa ini bisa terjadi? Tentu di sini peran pihak orang tua masing-masing anak yang perlu dipertanyakan. Semestinya mereka mengawal dengan baik anak mereka sejak masa pelatihan sampai ketika tampil hari H, sehingga “kecelakaan sejarah” seperti ini tidak akan terjadi.
Di akhir tulisan ini saya tegaskan kembali bahwa suara-suara miring yang cenderung mencoreng dan menyudutkan wajah syari’at Islam di Aceh kemungkinan masih akan tetap bermunculan. Kesemuanya harus direspon dengan konstruktif, bijak dan  elegan. Sebab syari’at Islam di Aceh dengan segala keunikannya, harus menyampaikan pesan kepada masyarakat luas dengan wajah tersenyum. Kalaupun ada pihak yang berupaya mencorengnya (baik dari kalangan internal maupun eksternal) masyarakat Aceh, kita bisa dengan bangga mengatakan: “Ini Aceh Bro!”. Wallahu A’lam bis Shawab.   
Tulisan ini sudah dimuat di Kolom Opini Harian Serambi Indonesia. 

NILAI UJIAN KOMPREHENSIF MSI 19 NOV 2016



BERITA ACARA UJIAN KOMPREHENSIF
SEMESTER GANJIL TAHUN AKADEMIK 2016/2017
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UIN AR-RANIRY
BANDA ACEH
--------------------------------------------------------------------------------------
Bidang Studi             : Metodologi Studi Islam
Program Studi           : Pendidikan Biologi
Dosen                        : Dr. Anton Widyanto, M.Ag, Ed.S
Hari/Tanggal             : Sabtu / 19 November 2016

PANTUN WARGA FORUM DOSEN UIN AR-RANIRY (FORDUNA) 7


SUBKI DJUNED (Kabag Kepegawaian UIN Ar-Raniry)

Atjeh meutjuhu watee saboh jan
Pakon hai rakan jikoe ka mala
Ubak geutanyoe Atjeh geupulang
Tapakoe rakan beuget ta jaga