Saleum

Selamat Datang di Forum Pembelajaran: Komunitas Pojok Kampus. Terima kasih atas kunjungannya.

Featured post

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU TERKAIT FOKUS MASALAH YANG DIANGKAT DALAM DRAFT PROPOSAL PENELITIAN Dosen Pengampu: Dr. Anton Widyanto...

BAHASA ARAB, MASIH PERLUKAH DITAKUTI?

Oleh: Anton Widyanto

Sayyid Quthb dalam bukunya Tashwir al-Fanniy fil Qur’an menyatakan bahwa daya tarik mukjizat terbesar sekaligus abadi Muhammad Saw yang menyita perhatian bangsa Arab sejak awal mula turunnya ini adalah terletak pada keindahan bahasa yang dipakainya, bukan pada aspek lain. Sebagai salah satu bahasa dunia dan bahasa al-Qur’an (Q.S. 12: 2; Q.S. 20: 113), bahasa Arab diakui banyak memberikan corak dan warna tersendiri bagi bahasa-bahasa lain seperti bahasa Persia, Urdu, Turki, Melayu, Hausa, Suwahaili dll. Bahkan dalam bahasa Acehpun banyak istilah yang menyerapnya, seperti sikin yang berarti pisau. Dan sebagai bahasa yang sudah menginternasional, tidak mengherankan bila bahasa Arab kemudian dipelajari di ratusan ribu sekolah yang tersebar di berbagai pelosok penjuru dunia, termasuk pesantren-pesantren serta sekolah-sekolah Islam lainnya di Indonesia.



Meski demikian, bila kita berbicara masalah penguasaan bahasa Arab dalam konteks kedisinian kita, agaknya bahasa yang satu ini masih dianggap sebagai “momok yang menakutkan”. Teristimewa dalam hal ini adalah bagi siswa-siswa sekolah Islam di luar pesantren seperti madrasah Tsanawiyah ataupun ‘Aliyah.

Mengapa bahasa yang notabene dipakai dalam al-Qur’an ini dianggap sebagai bahasa yang “mengerikan”? Setidaknya ada beberapa poin yang bisa dijadikan jawaban.

Pertama, bahasa Arab dianggap sebagai bahasa yang rumit gramatikalnya. Hal ini diantaranya adalah didorong oleh adanya perbedaan yang lumayan tajam antara gramatikal bahasa yang kita pakai dengan bahasa Arab. Misalnya, bila kita mengenal kata ganti dalam bahasa kita tanpa membedakan antara laki-laki dan perempuan seperti: saya, kamu, dia, mereka dsb, maka dalam bahasa Arab kita diwajibkan untuk mengenal 14 jenis kata ganti (disebut dhamir) yang secara garis besar di dalamnya dibedakan antara laki-laki dan perempuan, contoh: huwa untuk laki-laki, hiya untuk perempuan dst. Demikian pula dalam peletakan subyek, obyek dan predikat dalam sebuah kalimat, bahasa Arab mempunyai aturan kebahasaan yang berbeda dengan bahasa kita. Sebab dalam konteks bahasa Arab, subyek tidak harus di depan. Misalnya ketika kita katakan:”Ahmad telah pergi ke pasar kemarin”, maka sesuai dengan gramatikal bahasa Arab bisa dirubah menjadi: “Telah pergi Ahmad ke pasar kemarin”.

Kedua, masih asingnya siswa dengan bahasa Arab itu sendiri. Salah satu faktor yang cukup berperan di sini adalah masih banyaknya siswa yang tidak bisa membaca al-Qur’an, hatta di sekolah-sekolah Islam sekalipun. Sebab bagaimana mungkin mereka akan familiar dengan bahasa Arab yang diajarkan, bila mereka sendiri tidak familiar dengan bahasa serta istilah-istilah yang termuat dalam al-Qur’an? Tentunya ini merupakan hal ironis dan lumayan menyedihkan.

Ketiga, faktor kurikulum bahasa Arab yang diajarkan di sekolah-sekolah Islam yang bisa jadi kurang mengakomodasi faktor psikologis siswa. Akibatnya, tidak jarang tujuan-tujuan ideal yang diformulasikan sulit dicapai, apalagi kemudian didukung oleh lemahnya proses evaluasi yang memang seringkali terjadi dalam dunia pendidikan di negara kita.

Keempat, faktor model pengajaran dan pembelajaran bahasa Arab itu sendiri dari kalangan guru. Selama ini model-model pembelajaran bahasa Arab di sekolah-sekolah Islam masih seringkali bersifat monoton, kurang variatif dan inovatif. Guru biasanya membaca (atau menyuruh siswa untuk membaca) suatu teks Arab, kemudian memberi tugas kepada siswa agar dikerjakan. Model ini bukan berarti tidak baik, tapi bila model seperti ini saja yang selalu diterapkan, maka efeknya akan semakin memperkuat kesan bahwa bahasa Arab adalah pelajaran yang “membosankan” (untuk tidak menyebut “menakutkan”). Padahal dalam teori pembelajaran aktif, banyak strategi yang bisa digunakan seperti Card sort (cari kawan), Team Quiz (quis kelompok), true or false (benar atau salah) dsb.

Masih berkenaan dengan model pembelajaran bahasa Arab, yang menarik untuk dicermati kiranya adalah realitas pengajaran di pesantren-pesantren. Dunia pendidikan satu ini memang unik dan bahkan diakui sebagai pendidikan tertua di nusantara. Dari satu sisi, pesantren dapat dipastikan lebih unggul dalam penguasaan bahasa Arab dibandingkan dengan sekolah-sekolah Islam di luar pesantren, khususnya dikarenakan mereka ditempatkan dalam sebuah miliu dan tempat yang sama. Mereka tinggal dan belajar di sana, sehingga memungkinkan mereka untuk bisa melakukan interaksi yang intens.

Faktor pembiasaan penggunaan bahasa Arab dalam komunikasi sehari-hari di dunia pesantren ‘ashriy atau pembiasaan pengkajian kitab-kitab Arab (biasanya disebut Kitab Kuning) di pesantren salafi, sudah barang tentu memberikan ekses konstruktif bagi penguasaan serta pengembangan kualitas pengetahuan mereka tentang bahasa Arab tersebut.

Namun demikian di sisi lain, secara faktual-empirikal dan tanpa berpretensi untuk menggeneralisir, bila kita perhatikan bagaimana aktifitas intelektual mereka ketika sudah memasuki alam perguruan tinggi, tidak sedikit di antara mereka yang justru “keteteran” dalam persoalan analisis. Mengapa ini bisa terjadi? Tidak lain dan tidak bukan adalah karena ketika mereka meudagang, kurang dibiasakan untuk berpikir analitis-kritis. Memang dalam bidang bahasa Arab, -sekali lagi- mereka berhasil menguasai struktur kebahasaannya mulai dari nahwu, sharf, balaghah dsb. Tapi sayangnya, mereka tidak terlatih memanfaatkan kapabilitas kebahasaan yang mereka punyai tersebut untuk berpikir kritis, sehingga cenderung text book thinking.

Dari uraian di atas, maka dapat dipahami bahwa meski bahasa Arab menduduki posisi yang krusial dalam peta keilmuan, namun di Indonesia agaknya masih perlu pembaharuan-pembaharuan dalam model pembelajarannya. Pembaharuan-pembaharuan ini meliputi beberapa aspek diantaranya yang paling signifikan adalah masalah kurikulum dan strategi pembelajarannya didukung dengan pemberantasan buta huruf al-Qur’an. Dengan demikian, diharapkan nantinya bahasa Arab dapat membumi dan tidak menjadi “momok menakutkan” lagi.

0 comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.