Saleum

Selamat Datang di Forum Pembelajaran: Komunitas Pojok Kampus. Terima kasih atas kunjungannya.

Featured post

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU TERKAIT FOKUS MASALAH YANG DIANGKAT DALAM DRAFT PROPOSAL PENELITIAN Dosen Pengampu: Dr. Anton Widyanto...

MALPRAKTIK DAKWAH


Oleh: Anton Widyanto
(Artikel ini dimuat di Koran Harian Serambi Indonesia tanggal 7/1/2016) 
Merefleksi isu sosial kemasyarakatan dalam skala nasional maupun lokal yang terkait dengan dakwah Islam sepanjang tahun 2015, ada beberapa hal menarik yang layak untuk diulas. Secara umum perkembangan dakwah nasional maupun lokal menunjukkan gairah yang cukup positif. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya variasi model dakwah yang berkembang baik dalam bentuk oral (ceramah, diskusi, seminar, sinetron, film dsb) yang banyak ditemui melalui media audio maupun audio visual, maupun dakwah lewat tulisan yang banyak juga ditemui dalam ragam bentuk media cetak maupun online. Hanya saja dari beberapa kasus penulis melihat telah terjadi pergeseran model dakwah dari khittahnya yang semestinya perlu dicermati oleh umat Islam kontemporer.


Di awal tahun 2015 dunia dakwah Islam pada lingkup nasional sempat menjadi sorotan. Ust. MNM, seorang ustadz yang kondang dengan slogan “Jama’ah oh Jama’ah” dianggap telah bersikap tidak pantas karena saatberceramah di Masjid Agung Khaerah Ummah Kolaka pada 26/02/2105, terlihat nangkring di mimbar. Tak ayal foto nangkringnya yang tersebar di media-media daring (dalam jaringan) menjadi sorotan publik. Banyak pihak yang menyayangkan sikap berlebihan dalam ceramah yang ditunjukkan Sang Ustadz tersebut.

Masih terkait sosok yang sama, Ust. MNM  kembali menjadi sorotan publik ketika menyatakan bahwa urusan memilih pemimpin tidak terkait dengan agama pada acara “Islam itu Indah” yang ditayangkan sebuah stasiun televisi, edisi Senin (9/11/2015). Komentar ini menuai banyak tanggapan baik pro maupun kontra. Beberapa organisasi Islam bahkan turun tangan merespon, termasuk Front Pembela Islam (FPI) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Dalam konteks lokal di Aceh, menjelang penghujung tahun 2015 salah satu sorotan yang hangat diperbincangkan terkait dengan dunia dakwah ditujukan kepada Tgk. SMZ. Sosok inidianggap sebagian orang telah mengeluarkan  kata-kata umpatan (teumenak) yang tidak pantas, kasar, bahkan cenderung kotor dalam salah satu ceramahnya di depan publik. Tak ayal hal ini menjadi bahan perbincangan hangat di media-media sosial dan media berita online. Rekaman ceramahnya yang diupload ke youtube dengan beragam versi (bahkan ada yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia) juga sukses menuai banyak komentar. Ada yang pro dan ada yang kontra. Bagi yang pro menganggap bahwa hal sedemikian rupa tidak perlu dipermasalahkan, karena substansi ceramah SMZ tidak ada yang keliru. Lagian apa yang sudah  dikontribusikan SMZ dengan memasyarakatkan dzikir di tengah-tengah masyarakat Aceh kontemporer, tentu tidak bisa diabaikan begitu saja hanya karena “umpatan” yang dikatakan saat memberikan ceramah tersebut. Ibarat pepatah, jangan “gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga” atau “panas setahun dihapus oleh hujan sehari”. Bukankah SMZ adalah manusia biasa yang bisa juga salah?

Namun si sisi lain, sebagian  masyarakat menganggap bahwa kata-kata umpatan yang diucapkan oleh SMZ tetap tidak bisa diterima. Alasannya, karena sebagai sosok yang menjadi panutan ribuan orang, sosok SMZ semestinya bisa menjadi contoh bagi para pengikutnya baik dalam bersikap maupun bertuturkata. Apa jadinya jika para pengikutnya menganggap berkata-kata tidak pantas baik melalui umpatan maupun sumpah serapah adalah hal yang dibenarkan dalam ajaran Islam? Bagaimana  pula jika yang mengikutinya adalah anak-anak usia sekolah yang juga ikut serta dalam jama’ahnya atau mengidolakannya? Bisakah dibayangkan jika kita memiliki generasi pengumpat yang mengabaikan norma kepantasan dan kepatutan dalam bertutur kata? Hal-hal inilah yang menjadi alasan bagi masyarakat yang tidak sepakat terhadap gaya bahasa teumenak SMZ dalam ceramah tersebut. Bahkan ada yang menyarankan agar MPU memanggil SMZ untuk memberikan peringatan.

Terlepas dari dasar pemikiran masyarakat baik yang pro maupun kontra, dalam tulisan berikut penulis mengajak kita semua berfikir secara obyektif melihat kasus-kasus yang menjadi bahan perdebatan hangat di atas.


Kesantunan adalah Kunci Keberhasilan Dakwah Rasulullah Saw

Kalau kita buka kembali lembaran-lembaran sirah nabawiyyah, sejarah mencatat bahwa Rasulullah Sallalah ‘Alayh wa Sallam adalah sosok agung yang mulia akhlaknya. Dengan kesantunan dan akhlak mulianyalah Islam menjadi tersebar luas. Kehadiran beliau sebagai utusan terakhir Allah SWT adalah mengemban misi untuk menyempurnakan akhlak manusia. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (HR Baihaqi dan Hakim). Misi ini diemban Rasulullah SAW karena beliau adalah sosok Nabi sekaligus Rasul terakhir yang bertugas membawa rahmat ke seluruh alam sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla, “Dan tidaklah Kami utus Engkau (Muhammad) kecuali untuk menjadi rahmat bagi seluruh semesta alam” (Q.S al-Anbiya: 107).

Dalam beberapa ayat, Allah SWT menegaskan pentingnya bersikap santun di dalam berdakwah. Hal ini antara lain disinggung dalam firman-Nya, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui  orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS An-Nahl: 125).

Firman Allah Ta’ala di atas mengamanatkan agar para penggiat dakwah (apapun bentuk dan medianya) untuk selalu menjaga serta mewarnai sikap dan tutur katanya dengan akhlak yang mulia. Apalagi di zaman revolusi teknologi dan informasi yang luar biasa dewasa ini. Dalam hitungan detik, info apa pun bisa tersebar luas dan akan dikunyah oleh  khalayak ramai dari beragam lapisan.


“Malpraktik Dakwah”

Dakwah Islam yang secara sederhana dapat dipahami sebagai seruan atau ajakan untuk mengikuti ajaran dan nilai-nilai Islam (al-amr bil ma’ruf wan nahi ‘anil munkar) tentu akan berjalan efektif bila disampaikan dalam bentuk komunikasi yang baik (baik lisan maupun praktikal) sesuai dengan contoh nyata yang diberikan Rasulullah SAW. Sebaliknya dakwah yang disampaikan dengan cara yang tidak tepat, justru akan bersifat kontraproduktif dengan substansi dakwah itu sendiri.

Sebagai figur publik (public figure) posisi para pendakwah dalam era keterbukaan informasi kontemporer tentu tidak bisa dilepaskan dari sorotan khalayak ramai. Tak mengherankan jika kemudian sampai muncul istilah-istilah “ustadz selebritis”, “ustadz gaul”, “ustadz twitter” dsb.  Hal ini menegaskan bahwa sosok pendakwah akan selalu dilihat, diamati dan diawasi oleh publik, karena sudah dianggap bagian bersama masyarakat luas. Sehingga hal-hal positif maupun negatif tidak akan pernah bisa dilepaskan dari sorotan masyarakat. Jika memang ada hal yang dianggap salah dan atau bertentangan dengan norma-norma dakwah Islami itu sendiri, maka tak perlu heran pula jika akan muncul reaksi dari publik. Hal inilah yang terjadi pada konteks kasus yang penulis ulas di atas.

Inti dari argumen yang penulis sampaikan, setiap pribadi pendakwah harus menyadari posisinya sebagai bagian publik. Bahwa penilaian pendakwah sebagai sosok manusia biasa yang tidak mungkin sempurna, memang benar. Mereka juga bukan sosok Nabi atau Rasulullah yang ma’shum, juga tidak bisa disangkal. Artinya dengan demikian, kesalahan sikap (baik perkataan maupun perbuatan) sangat mungkin terjadi. Hal terbaik yang perlu diambil oleh pendakwah yang telah melakukan kesalahan adalah meminta maaf kepada publik. Hal ini sangat penting untuk menjelaskan kepada publik agar kesalahan yang dilakukan tidak ditiru oleh publik. Sebab yang perlu dipahami, sebagai figur publik sudah barang tentu mereka memiliki pengikut dengan beragam latar belakang. Jika kesalahan yang dilakukan tidak dijelaskan atau justru tidak mau meminta maaf dengan kesatria hanya karena gengsi, maka sangat dikhawatirkan kesalahan yang dilakukan akan dianggap sebagai sebuah kebenaran, bahkan bukan tidak mungkin akan ada yang akan mencontoh atau mengikutinya karena dianggap benar. Pendakwah tipe seperti ini alih-alih akan menyebarkan kemaslahatan bagi ummat sebagaimana substansi dakwah Islami yang diajarkan Rasulullah SAW, akan tetapi justru sebaliknya telah melakukan “Malpraktik Dakwah” yang jelas akan menyebarkan hal destruktif kepada masyarakat.

Wallahu A’lam bis Shawab.

0 comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.