Saleum

Selamat Datang di Forum Pembelajaran: Komunitas Pojok Kampus. Terima kasih atas kunjungannya.

Featured post

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU TERKAIT FOKUS MASALAH YANG DIANGKAT DALAM DRAFT PROPOSAL PENELITIAN Dosen Pengampu: Dr. Anton Widyanto...

PENDIDIKAN SEKSUAL = PORNOGRAFI ?


Oleh: Anton Widyanto

Masalah seks yang berkaitan dengan perilaku seksual dan kesehatan reproduksi selama ini memang timbul tenggelam di antara persoalan-persoalan lain yang dihadapi bangsa. Pada akhirnya problematika seksual seperti meningkatnya penderita penyakit HIV-AIDS, sifilis, gonorrhea di kalangan remaja seolah-olah tidak dipandang sebagai penyakit yang “mencemaskan” (untuk tidak mengatakan “menakutkan”). Padahal menurut data pada tahun 1999 saja, kasus aborsi yang terjadi di Indonesia dilakukan oleh sekitar 2,3 juta orang, di mana 70 % di antaranya adalah dalam status “belum menikah”.

Dalam kasus Aceh, meski mengenai hal ini mungkin belum ada dalam riset terbaru, namun bila kita lihat dalam kenyataan empiris di mana para kaum muda-mudi (sekalipun berjilbab dan berada dalam wilayah yang memberlakukan syari’at Islam) ternyata pergaulannya masih cenderung terlihat permisif. Kasus-kasus khalwat yang banyak terungkap, demikian pula munculnya kelompok homoseksualisme dan lesbianisme, merupakan contoh yang menegaskan hal ini.

Meski permasalahan seksual dikatakan timbul tenggelam, ternyata ia tetap menjadi tema yang “menarik” untuk dibicarakan. Tak heran bila banyak seminar tentang seks yang digelar mendapatkan sambutan hangat di kalangan masyarakat, bahkan tidak hanya itu saja, tabloid-tabloid yang dipasarkan pun banyak yang berkompetisi mengangkat tema-tema seksual yang dianggap menarik dan ternyata tetap “laris manis” terjual di kalangan masyarakat. Ironisnya, karena nuansa persaingan yang sedemikian ketat dan tidak sehat, tak jarang kita jumpai tabloid yang memang betul-betul tampil berani dan vulgar dalam hal seksual tersebut baik dalam kata-kata maupun tampilan gambarnya.
Permasalahan seks –dalam kultur Indonesia, apalagi Aceh- agaknya masih seringkali dianggap sebagai suatu hal yang aneh atau bahkan tabu untuk dibicarakan secara luas dan mendalam. Tidak sedikit dari mereka yang beranggapan bahwa pendidikan seks itu tidak perlu diberikan (khususnya dalam miliu rumah tangga / keluarga) dengan alasan bahwa kelak anak-anak mereka akan memahaminya sendiri ketika sudah dewasa.
Pemahaman ini mungkin tidak seluruhnya keliru, sebab seks merupakan naluri manusia sebagai manifestasi karunia Allah. Walaupun demikian pemahaman tersebut juga tidak bisa dikatakan benar, sebab kenyataannya karunia Allah tersebut seringkali disalahgunakan oleh manusia. Dengan kata lain, telah terjadi banyak sekali penyimpangan-penyimpangan seksual, mulai dari kasus-kasus homoseksualitas, lesbianisme, pelacuran, sex party, seks pra nikah, kumpul kebo dsb.
Arus informasi-informasi seksual yang tidak proporsional baik oleh media cetak, elektronik, maupun multimedia.yang berkembang seringkali tidak edukatif, bahkan cenderung provokatif merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya penyimpangan-penyimpangan seksual tersebut apalagi didukung oleh dominasi budaya Barat yang cenderung permisif. Bisa ditebak bahwa yang terjadi kemudian adalah proses weternisasi yang sedemikian hebatnya dan merambah segala macam sisi kehidupan manusia sejagat (khususnya negara-negara dunia ketiga).
Dadang Hawari, seorang pakar psikologi, berpendapat bahwa pendidikan seks yang baik adalah yang mampu memberikan pengetahuan mengenai seluk-beluk organ seksual, anatomi dan psikologi seksual, untuk kemudian bisa meresap dan menghayati fungsi, maksud dan tujuan seks tersebut. Sehingga pada akhirnya akan bisa menjalankan atau mempraktekan kebutuhan seksual secara baik dan benar. Dadang berpendapat bahwa pendidikan seksual tersebut perlu diberikan dan yang perlu digarisbawahi adalah harus disesuaikan dengan kondisi psikologis si anak beserta tingkatan usianya. Adapun subyek atau pelaksana pendidikan seksual tersebut adalah orang yang benar-benar memahami masalah yang bersangkutan. Dia tidak setuju dengan kampanye keluarga berencana (KB) yang dilakukan secara berlebih-lebihan, sebab akan menimbulkan ekses yang tidak baik bagi masyarakat luas dan khususnya anak-anak.
Sementara itu, K.H. Hasan Basri berpendapat bahwa yang dimaksud dengan pendidikan seks adalah upaya pengajaran, penyadaran dan penerangan mengenai masalah-masalah yang berkenaan dengan seks, naluri dan perkawinan. Sehingga jika anak telah tumbuh menjadi seorang remaja, ia akan mengetahui masalah-masalah yang dihalalkan dan diharamkan. Lebih lanjut lagi, Hasan Basri menegaskan bahwa ruang lingkup pendidikan seks harus didasarkan pada usia anak, atau dengan kata lain harus disesuaikan dengan aspek psikologis si anak. Sehingga hasil pendidikan seksual tersebut bisa menyentuh sasaran. keberadaan ulama yang sering kurang dilibatkan dalam penyampaian pendidikan seks, padahal –menurutnya- kehadiran ulama sangat penting sebagai pemberi tuntunan relijius tentang makna seks itu sendiri.
Nilai–nilai Islam (Islamic Values) wajib diberikan semenjak anak masih kecil yaitu ketika usianya menginjak 5 tahun. Sebab dengan demikian, anak tersebut akan mempunyai landasan agama yang kokoh ketika menginjak usia dewasa. Aspek pendidikan ini pada hakikatnya tidak hanya menjadi tanggung jawab yang harus dipikul oleh keluarga (orang tua) sebagai institusi pendidikan pertama (first school), akan tetapi juga merupakan tanggung jawab yang harus diemban oleh sekolah sebagai institusi pendidikan kedua (second school), kawan main serta media massa sebagai media pendidikan ketiga dan keempat (third and fourth school).
Selama ini memang peranan orang tua terhadap masalah pendidikan seks serta penyakit hubungan seksual terlihat sangat minim, padahal sebenarnya pendidikan seks yang paling tepat adalah dipegang oleh orang tua (keluarga). Oleh karena itu, maka perlu dijalin hubungan antara orang tua dan anak yang dilandaskan pada berbagai macam aspek seperti : adanya rasa saling mencintai, menyukai dan memahami. Di samping itu pula, orang tua harus bersikap hangat dan peka terhadap kebutuhan-kebutuhan anaknya.
Naek L. Tobing menegaskan bahwa pendidikan seksual itu mutlak perlu diberikan oleh orang tua kepada anak-anaknya yang menginjak usia remaja. Sebab masa ini adalah masa yang cukup kritis serta krusial dalam perkembangan manusia dan salah satu aspek yang ingin diketahui oleh remaja adalah hal-hal yang berkorelasi erat dengan masalah “seksualitas”. Mulai dari masalah yang berkaitan dengan timbulnya rasa tertarik dengan lawan jenis dan masalah yang berkenaan dengan penampilan fisiknya yang semakin matang, masalah libido (dorongan nafsu seksual) yang timbul di luar kesadaran serta kemauan mereka sendiri. dalam masa rentannya, remaja akan terus mencari jawaban dari rasa ingin tahunya tentang seluk beluk seks dengan berbagai macam cara seperti masturbasi / onani, melakukan eksperimen homoseksual atau heteroseksual dengan teman-temannya, mengunjungi WTS, membaca buku-buku porno, menonton film biru (blue film) dan lain sebagainya. Sehingga bila masing-masing orang tua tidak peka terhadap perkembangan seksual anak remajanya, bisa jadi di kemudian hari anak tersebut akan berperilaku menyimpang dalam kehidupan seksualnya. Sikap emosional dan penuh kecurigaan terhadap perkembangan psikoseksual anak justru akan menyebabkan si anak tertekan mentalnya sehingga juga akan berakibat tidak baik. Oleh karena itu, ketabuan masalah seksual yang selama ini terkait dengan kultur ketimuran bangsa dan norma agama perlu direduksi sedemikian rupa, kemudian didudukkan secara proporsional.
Di sinilah sebenarnya lingkungan keluarga (orang tua) memegang tanggung jawab (responsibility) yang cukup urgen. Sebagai solusinya maka kerukunan antara orang tua dengan anak-anaknya perlu dibina semaksimal dan sebaik mungkin, agar dapat terjalin komunikasi dengan baik. Sikap orang tua yang cenderung memaksakan kehendaknya pada anak sehingga bisa menjadikan disharmonisasi hubungan antara orang tua dan anak. Oleh sebab itu, orang tua dan pendidik perlu memperhatikan tugas-tugas perkembangan remaja serta memberikan kesempatan kepada setiap tugas perkembangan tersebut untuk dialami dan dilaksanakan oleh remaja. Cara mendidik dengan pola tunggal harus diganti dengan cara mendidik pola alternatif.
Berangkat dari paradigma di atas, maka sebenarnya pendidikan seksual itu perlu diberikan kepada anak-anak. Pendidikan seksual ini sering disalahartikan sebagai pornografi sebab dianggap menyentuh daerah-daerah yang dianggap “rawan”. Tentu saja bila yang dimaksudkan adalah memberikan informasi-informasi mengenai tata cara berhubungan badan (sexual intercourse) disertai dengan trik-trik untuk mendapatkan kenikmatan-kenikmatannya (orgasme), maka pendidikan seksual tersebut tidak perlu diberikan. Sebab sekali lagi perlu ditegaskan bahwa minat seks tersebut adalah naluri tiap manusia yang diberikan Sang Maha Pencipta. Namun yang penulis maksudkan di sini, sebenarnya pendidikan seksual itu tidak hanya terbatas dipahami dengan “kualitas” hubungan kelamin, akan tetapi lebih luas lagi pada segi-segi bagaimana sebenarnya nikmat Allah tersebut disalurkan sesuai dengan aturan-aturan-Nya.

Seks dalam Perspektif Islam
Dalam konteks Islam, masalah seks sebenarnya adalah hal yang biasa dan wajar, naluriah serta tidak dilebih-lebihkan. Islam secara jelas menolak sistem kerahiban serta anarsisme dan sebagai solusinya (way out) adalah dengan melangsungkan pernikahan. Seks, dalam kaca mata Islam dipandang sebagai salah satu potensi manusia yang suci dan memainkan posisi krusial dalam kehidupan manusia itu sendiri. Selain itu pula, al-Qur’an juga mendeskripsikan seks sebagai suatu kenyataan dalam diri manusia yang tidak perlu dianggap “hina”, “keji” atau bahkan “tabu” untuk dibicarakan. Walaupun demikian, bukan berarti Islam tidak menggariskan batasan-batasan tertentu dalam hal seks ini. Beberapa kisah yang termaktub dalam al-Qur’an menceritakan bagaimana tindakan-tindakan yang melampaui batas (menyimpang) dalam perilaku seksual akan mendapatkan balasan yang setimpal (adzab) dari Allah Swt. Untuk itulah Islam mengajarkan umatnya agar menyalurkan nafsu seksnya secara proporsional, sebagaimana firman Allah Swt dalam Surat al-Mu’minun ayat 5-7. Mengenai hal ini, Ali al-Sabuni menafsirkan kata-kata “menjaga kemaluan” dalam ayat tersebut dengan menjaga dari hal-hal yang haram, serta menjaga kemaluan dari sesuatu yang tidak halal, baik dari zina, liwath dan membuka aurat.
Berbicara mengenai pandangan Islam dalam hal pendidikan seksual, K.H. Hasan Basri berpendapat bahwa pendidikan seksual itu harus didasarkan kepada usia anak. Selanjutnya dia membagi pendidikan seksual tersebut ke dalam beberapa fase :
Pertama, usia 7-10 tahun yang disebut sebagai masa pra pubertas (tamyiz). Pada masa ini, anak-anak dididik mengenai pemeliharaan pandangan mata. Yaitu membiasakan anak untuk menerapkan adab memandang. Hal ini dimaksudkan agar anak dapat mengetahui hal-hal yang diharamkan dan yang dihalalkan. Sehingga ketika anak sudah baligh, ia telah dibekali dengan akhlak yang lurus dan mantap. Arti “memandang” di sini lebih ditekankan pada masalah aurat, baik yang muhrim maupun bukan muhrim. Untuk itu anak harus dikenalkan mana yang muhrim dan mana yang bukan. Mana batas-batas aurat muhrim dan bukan muhrim yang boleh dilihat. Berkenaan dengan hal ini, al-Qur’an telah memberikan tuntutan, sebagaimana firman Allah yang termaktub dalam surat al-Nisa’ ayat 23 dan seterusnya, surat al-Nur ayat 31 dan juga surat al-Ahzab ayat 33, serta al-Nur ayat 58 dan 59. Dalam sebuah hadis qudsi dari Abdullah bin Mas’ud, rasulullah Saw bersabda : “Pandangan itu adalah salah satu di antara panah-panah iblis. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepadaKu, niscaya Aku akan memberikan ganti kepadanya dengan suatu keimanan yang akan dirasakan kemanisannya di dalam hati ” (H.R. al-Thabrani dan al-hakim).
Kedua, Usia 10-14 tahun atau usia puber. Pada masa ini anak harus dijauhkan dari rangsangan-rangsangan seks. Sebab sebagai masa peralihan, masa ini adalah masa yang rawan. Orang tua harus pandai-pandai membimbing anak untuk tumbuh dengan akhlak mulia dan memiliki pemahaman Islam yang tinggi. Selain itu orang tua juga harus pandai memelihara anak dari lingkungan yang penuh dengan kerusakan dan penyimpangan, memisahkan anak dari tempat tidur saudaranya yang berlainan jenis dan jangan sampai membiarkan anak-anak bebas untuk memandang aurat lawan jenisnya, menonton film-film porno (blue film), membaca tulisan-tulisan cabul dan lain sebagainya.
Ketiga, usia 14 sampai 16 tahun (masa akil baligh). Pada masa ini, hendaknya anak diajarkan mengenai hukum-hukum agama yang berkenaan dengan seks, termasuk di dalamnya mengenai fungsi-fungsi organ seksual. Selain itu yang perlu digarisbawahi lagi adalah perlunya diajarkan bahayanya penyimpangan-penyimpangan seks.
Keempat, usia 16 tahun sampai menikah (masa pasca akil baligh). Pada masa ini, anak diberikan pemahaman mendalam mengenai bahaya penyimpangan seks secara lebih luas, baik secara fisik, mental maupun sosial. Selain itu juga perlu diterangkan mengenai makna filosofis seks dan perkawinan.

Penutup
Asumsi yang sudah menjadi persepsi umum publik bahwa pendidikan seksual adalah identik dengan pornografi, sehingga dijadikan barang tabu untuk dibicarakan agaknya up to date lagi di zaman trans nasionalisasi sekarang ini. Oleh karena itu, maka pendidikan seksual dalam sebuah keluarga muslim menduduki posisi yang cukup signifikan. Kiranya hal yang perlu disadari sepenuhnya oleh para orang tua muslim adalah bahwa mereka memikul tanggungjawab yang demikian besar untuk mendidik dan membawa anak-anak mereka berjalan di jalan Allah dalam segala hal dan lini.
Beranjak dari pemikiran di atas, maka keutuhan sebuah keluarga muslim yang sakinah, mawaddah dan rahmah mutlak sekali diperlukan. Sebab tanpa terejawantahkannya profil keluarga yang sedemikian rupa, mustahil diharapkan pendidikan seksual dan moral dapat diaktualisasikan dengan baik. Oleh karena itu, antara orang tua dengan anak harus terjalin hubungan yang benar-benar harmonis, sehingga dengan demikian proses transfer of knowledge maupun transfer of values dapat berjalan pada koridor yang proporsional.
Di samping itu, barangkali yang perlu dijadikan catatan penting bagi orang tua –yang agaknya selama ini terlihat agak dikesampingkan- adalah bahwa orang tua sudah seharusnya juga memiliki pengetahuan yang mendalam tentang seluk beluk seksual. Karena dengan adanya kapabilitas teoritis yang memadai tentang seksualitas tersebut, maka dengan sendirinya orang tua tidak akan “canggung” atau keliru dalam mengarahkan naluri seks anak-anaknya.
Pendidikan seks yang dilakukan dengan dasar nilai-nilai Qur’ani akan membimbing ke arah terpenuhinya tuntutan biologis melalui jalur yang yang dibenarkan serta dapat meminimalisir segala kemungkinan (possibility) terjerembabnya seseorang ke dalam lembah safah (pelacuran). Wallahu A’lam bis Shawab.

0 comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.