Saleum

Selamat Datang di Forum Pembelajaran: Komunitas Pojok Kampus. Terima kasih atas kunjungannya.

Featured post

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU TERKAIT FOKUS MASALAH YANG DIANGKAT DALAM DRAFT PROPOSAL PENELITIAN Dosen Pengampu: Dr. Anton Widyanto...

SYARI'AT ISLAM (MEMANG) BUKAN MIE INSTAN


Oleh: Anton Widyanto
(Diedit kembali dari artikel yang sudah dimuat di Harian Serambi Indonesia) 


Beberapa kali dalam kesempatan mengikuti khutbah Jum’at, saya seringkali mendengar para khatib dengan tegas mengingatkan para hadirin tentang wajah implementasi syari’at Islam di Aceh yang masih terkesan “jalan di tempat” (untuk tidak menyebut “compang-camping”) walau sudah diumumkan penerapannya beberapa tahun silam.

Secara parsial,  statemen khatib jum’at di atas agaknya bisa dimaklumi manakala menyaksikan bagaimana pergaulan muda-mudi non muhrim yang “agak permisif” baik di seputar kampus Darussalam yang nota bene merupakan jantong hatee rakyat Aceh dan pabrik intelektual muda Aceh ke depan, atau di tepian Krueng Lamnyong, maupun di pantai-pantai sekitar Banda Aceh dan Aceh Besar.


Sikap miris saya melihat pemandangan “masyuk” sedemikian rupa  barangkali tidak akan terjadi bila memang foto sedemikian rupa adalah milik orang Jakarta, misalnya. Bahkan mungkin ketika saya heran, orang justru akan lebih keheranan lagi melihat saya. Mereka mungkin akan bilang bahwa saya orang “kolot”, kuno, ekstrim, tak paham jiwa muda, tidak mengerti modernisasi, tidak mengetahui perkembangan zaman dsb. Tapi foto tersebut bukan punya orang Jakarta, Medan, Palembang, Bandung atau Surabaya. Foto itu adalah milik ureueng  tanyo! Masyarakat yang secara tegas telah memproklamirkan implementasi syari’at Islam secara kaffah, bukan cilet-cilet. Di sinilah sekali lagi argumen para khatib di awal tulisan ini mungkin bisa diterima.


Implementasi Syari’at Islam Memang Tidak Bisa Instan


Salah satu tugas mulia sekaligus maha berat yang dipikul oleh Pemda NAD, khususnya Dinas Syari’at Islam adalah bagaimana memuluskan program pengimplementasian syari’at Islam secara kaffah di propinsi paling Barat Indonesia ini. Ada beberapa alasan logis yang bisa dipaparkan berkenaan dengan super beratnya tanggung jawab mulia ini.

Pertama, perlu dipahami bahwa sejak pasca era Rasul dan Khulafaur Rasyidin, sampai detik ini di belahan dunia mana pun, belum ada satu pola pengimplementasian syari’at Islam yang benar-benar kaffah dan dapat dijadikan cetak biru (blue print) bagi pemberlakuan syariat Islam di Aceh. Meski Arab Saudi, Iran, Sudan atau Pakistan mengaku sebagai negara yang mengimplementasikan syari’at Islam, tapi kenyataannya ukuran kekomprehensifannya atau kekaffahannya juga masih diragukan. Kalaupun tokh Aceh mau mengkopi “mentah-mentah” pola penjalanan syari’at Islam di negara-negara tersebut, maka tentu akan timbul persoalan spesifik mengingat bahwa secara sosio-kultural negara-negara itu berbeda dengan daerah kita. Karena itu Aceh mau tidak mau harus berangkat dari “nol” (kalau boleh saya istilahkan demikian) dan sudah barang tentu ini merupakan  tugas terberat yang diemban seluruh masyarakat Aceh khususnya Pemerintah Daerah.

Kedua, perkembangan zaman yang senantiasa bergerak progresif dan dinamis telah melahirkan beragam tantangan yang jumlahnya tidak sedikit. Era industrialisasi  yang kemudian disusul dengan revolusi di bidang informasi dan teknologi pada kahirnya terbukti  sukses menyebarkan paham-paham konstruktif maupun destruktif.  Tanpa terasa duniapun menjadi kian sempit dibuatnya. Virus-virus konsumerisme, hedonisme maupun  materialisme yang nota bene bertolak belakang dengan aturan Islam serasa tidak terbendung mewabah dan merasuki pikiran manusia di berbagai pelosok dunia, termasuk di Aceh, tanah kita tercinta. Karena itu jangan heran manakala anak-anak kita lebih kenal dengan Doraemon, Sinchan, atau Spiderman dibanding dengan Umar bin Khatab atau Ali bin Abi Thalib. Kita juga tidak perlu takjub bila anak-anak gadis kita cenderung lebih mengidolakan Britney Spiers, Mariah Carey atau Janet Jackson daripada Sayyidah Siti Khadijah, ‘Aisyah atau Fatimah. Demikian pula dengan anak-anak lelaki kita yang agaknya lebih suka meniru gaya hidup Jamrud, Slank, Sheila on 7, Guns and Roses atau West Life, dibanding dengan meneladani sirah Rasulullah Saw dan para sahabat. Demikian seterusnya, hingga nampaklah ajaran-ajaran Allah Swt dan Rasul-Nya serta adat yang diturunkan oleh nenek moyang orang Aceh dahulu sedikit demi sedikit tercerabut, terkikis dan tanpa sadar tercampakkan.

Sekelumit contoh-contoh di atas pada hakikatnya merupakan cuilan-cuilan kecil -dan sebenarnya masih ada banyak lagi contoh-contoh lain yang bisa diangkat- untuk menggambarkan betapa beratnya tugas menjalankan syari’at Islam secara sempurna (kaffah) karena hal ini berkenaan dengan proses bagaimana mengubah cara pandang dunia (world view)seseorang.

Beranjak dari pemikiran tersebut maka dapat dipahami bahwa sesungguhnya implementasi syari’at Islam secara kaffah memang tidak bisa dilaksanakan dengan instan dan siap saji layaknya indomie. Tanggung jawab mulia ini pada hakikatnya adalah sebuah proses panjang yang berliku sehingga tentu saja memerlukan waktu untuk bisa melihat hasilnya. Ukuran yang dipakai juga tidak bisa sebulan-dua bulan atau setahun-dua tahun, akan tetapi kira-kira 10 atau 15 tahun yang akan datang.

Munculnya penilaian bahwa implementasi syari’at Islam di Aceh masih belum menunjukkan hasil yang signifikan –meski bisa dimaklumi dari cara pandang parsial (sepotong-sepotong) seperti telah disinggung di awal tulisan ini- tetap tidak bisa diterima bila kita mau berpikir secara komprehensif. Namun demikian bukan berarti bahwa munculnya persepsi sedemikian rupa adalah negatif dan patut dicurigai, sebab yang perlu dipahami adalah bahwa justru pemikiran tersebut merefleksikan betapa rakyat Aceh senantiasa peduli dan kritis dengan masa depan daerah yang mereka sayangi. Di samping itu pula, persepsi sedemikian rupa (sepedas apapun penyampaiannya) merupakan masukan-masukan terbaik bagi Pemerintah Daerah NAD, khususnya Dinas Syari’at Islam dalam menjalankan tugas-tugasnya.

Yang penting untuk dijadikan catatan, meskipun blue print penjalanan syari’at Islam secara kaffah sulit ditemukan seperti yang telah saya uraikan di atas, bukan berarti kemudian kita harus pesimis untuk menerapkannya. Sebab hanya dengan semangat optimistis, keterpaduan langkah dan kerjasama yang baik antar seluruh elemen dalam masyarakat Aceh, maka implementasi Syari’at Islam secara komprehensif dapat direalisasikan.

Lebih dari itu yang perlu diperhatikan dan dipahami dengan baik oleh pihak-pihak yang memegang otoritas dalam mengeluarkan kebijakan-kebijakan dalam upaya mensukseskan syari’at Islam di Aceh ini  adalah bahwa aturan-aturan yang dibuat hendaknya tetap mengakomodasi isu-isu kontemporer yang dijunjung tinggi oleh masyarakat sedunia mulai dari Hak Asasi Manusia (HAM), penghormatan terhadap status wanita (gender), pluralisme dsb. Hal ini dirasa sangat krusial mengingat kita semua tentunya mendambakan wajah Islam yang tersenyum (the smiling Islam) dan rahmatan lil ‘alamin. Bukan Islam yang nampak eksklusif, kaku (rigid), ketinggalan zaman (out of date) atau  “menyeramkan”. Tentu ini akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi umat Islam di seantero jagat raya, bila Aceh menjadi pelopornya.

Proses qanunisasi hendaknya menjadikan kemaslahatan sebagai salah satu inspirasi pokok yang didukung dengan pemahaman komprehensif mengenai aspek sosio-kultural masyarakat Aceh dan bukan hanya sekadar mengkopi pemikiran-pemikiran  dari para ulama muslim klasik. Mengapa? Sebab pemikiran-pemikiran ijtihadi mereka –tanpa mengurangi apresiasi yang mendalam terhadap sumbangsih yang mereka berikan- sudah barang tentu tidak lahir dari ruang hampa. Artinya, produk-produk ijtihadi mereka yang biasanya kita kenal dengan istilah fiqh  sangat besar kemungkinannya dipengaruhi oleh kondisi sosio-kultural di mana mereka berdomisili. Dengan demikian belum tentu kesemuanya cocok untuk diakomodir atau bahkan dibakukan sebagai qanun yang kemudian harus dinikmati oleh masyarakat Aceh. Di sinilah perlunya kehati-hatian dan kejernihan dalam melangkah.


Ikhtitam

Perjalanan Aceh menggapai idealismenya untuk menjalankan syari’at Islam secara kaffah memang tidak serta merta dapat terwujud dan diketahui hasilnya lewat simsalabim atau abrakadabra. Kesemuanya memerlukan proses yang panjang, bertahap (gradual) dan serba berliku. Inilah yang seharusnya dimaklumi dan dipahami  oleh seluruh masyarakat Aceh.

Rasulullah Saw sendiri selaku manusia pilihan Allah yang diutus ke dunia ini untuk meluruskan jalan hidup masyarakat yang telah  berpaling dari aturan-aturan-Nya, memerlukan proses yang tidak instan dan sekali jadi. Namun dengan optimisme dan kesabaran yang tinggi di bawah bimbingan langsung Allah Swt, beliau akhirnya mampu menjalankan misi kerasulannya dan tercatat dalam tinta emas sebagai orang yang paling berpengaruh  dalam lintasan sejarah manusia.  

Wallahu A’lamu bis Shawab.

0 comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.