Saleum

Selamat Datang di Forum Pembelajaran: Komunitas Pojok Kampus. Terima kasih atas kunjungannya.

Featured post

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU TERKAIT FOKUS MASALAH YANG DIANGKAT DALAM DRAFT PROPOSAL PENELITIAN Dosen Pengampu: Dr. Anton Widyanto...

“INDLISH DAN INDBIC”

Pada umumnya, salah satu fokus pendidikan pesantren modern adalah memperkuat kompetensi bahasa asing (Arab dan Inggris) kepada para santrinya. Demikian pula pesantren tempat saya menimba ilmu dulu.

Saat pertama kali menginjak tanah pesantren, saya merasa kagum dengan bahasa komunikasi yang digunakan santri lama. Mereka cas-cis-cus dengan kedua bahasa asing tersebut. Biasanya aturan yang dipakai di pesantren, seminggu bahasa Arab dan seminggu berbahasa Inggris, demikian berganti-ganti setiap minggunya.

“GREPES”

“Aina na'luka?”
“Dhoat kak”
“Ila qismis shihah mubasyaroh.....”
Grepessss

(Lutfi Ridho)

###

Pada #CuilanKisahPesantren3 yang lalu saya sudah ceritakan tentang “Sunduq dan Sandal”. Ketika cuilan kisah tersebut saya posting ke FB, salah seorang teman mengungkapkan komen yang saya kutip di atas. Terjemahnya dalam bahasa Indonesia kira-kira begini:

“Dimana sandalmu?”

“Hilang Kak”

“Cepat pergi sana ke bagian kesehatan!”

Grepessss

SUNDUQ DAN SANDAL

Di antara beberapa pengalaman berkesan saat pertama memasuki dunia pesantren 27 tahun lalu adalah berhubungan dengan urusan sandal. Mari saya ceritakan...

Di tahun saya masuk ke pondok pesantren, pesantren yang saya pilih merupakan salah satu sasaran yang dituju oleh banyak orang tua untuk menitipkan anaknya. Sayangnya memang ketersediaan fasilitas, khususnya kamar, sangat tidak berimbang dengan jumlah santri yang diterima. Satu kamar yang semestinya cocok untuk menampung 20-an orang, terpaksa harus menampung sampai 50-an orang. Untuk menghemat ruangan di dalam  kamar, masing-masing santri difasilitasi 1 lemari kecil (kira-kira berukuran 100 cm X 100 cm dan biasa disebut SUNDUQ).

MAKAN MALAM “KERAMAT”


Pada cuilan kisahpesantren 1 saya sudah singgung tentang dunia perdapuran ala pesantren tempat saya belajar, ada model Dapur Umum dan Dapur Keluarga. Beda antara keduanya bagaikan langit dan bumi, ya suasananya, ya pelayanannya, ya menunya. Untuk santri kelas 1 sampai 3 Tsanawiyah (santri sighar/junior) pada umumnya memakai dapur keluarga. Adapun untuk tingkat Aliyah (termasuk kelas eksperimen, yaitu santri yang masuk ke pesantren dengan ijazah terakhir SLTP dan digolongkan santri kibar/senior), pada umumnya makan di dapur Umum (Dapur A). Yang menyamakannya, hanya soal piring dan sendok. Masing-masing santri harus punya piring dan sendok sendiri untuk dibawa ke dapur saat jam makan tiba. Menu yang biasa ditawarkan dapur keluarga umumnya lebih beragam. Favorit saya kuah tahu. Meski mungkin termasuk tidak “berkelas”, tapi bagi saya itu tergolong “kelas bantam junior” (emangnya tinju?!). Tapi itulah faktanya.

"MEMILIH PESANTREN"

Hari ini saya kembali mengunjungi putra pertama saya di pesantren. Kunjungan rutin yang selalu mengingatkan saya pada peristiwa lebih dari dua dasawarsa lalu, ketika saya mengecap dunia pesantren. Untaian kisah yang penuh lika-liku, senang, susah dan menggelikan, sering bercampur aduk. Saya menjumpai banyak sisi yang berbeda, antara dunia pesantren sekarang ini dengan yang saya alami dulu. Insya Allah mulai malam ini dan seterusnya setiap minggu malam, saya akan menceritakan cuilan-cuilan kisah saya di pesantren yang semoga bisa menjadi pembelajaran untuk pembaca dan bahan refleksi untuk diri saya sendiri.