Saleum

Selamat Datang di Forum Pembelajaran: Komunitas Pojok Kampus. Terima kasih atas kunjungannya.

Search This Blog

11 February, 2008

ATAS NAMA SYARI’AT

Oleh: Anton Widyanto

Salah satu berita “heboh” yang diangkat oleh Harian Serambi Indonesia sejak minggu akhir bulan Mei 2007 dan menjadi topik pembahasan selama beberapa hari adalah masalah pemaksaan adegan mesum yang disinyalir dilakukan oleh sekelompok orang di Aceh terhadap sepasang remaja usia belasan tahun dan masih duduk di bangku SMP.
Ragam bahasa geram yang mengutuk perbuatan tak senonoh itupun mencuat dari berbagai kalangan. Tuntutan untuk mengusut tuntas kasus inipun merebak. Di antaranya adalah yang disuarakan oleh Komite Perempuan Aceh Bangkit (KPAB) bersama seluruh elemen masyarakat, LSM, Ormas, serta praktisi pendidikan dan hukum (Serambi Indonesia, 8/6/2007).


Aneka analisis mengemuka dari berbagai pihak. Ada yang mengatakan bahwa perbuatan sedemikian rupa terjadi karena selama ini kasus-kasus serupa tidak pernah dituntaskan; ada yang mengatakan bahwa perbuatan itu dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kelainan jiwa dan atau kelainan seksual; ada yang menduga bahwa tindakan tersebut sengaja dilakukan oleh orang-orang yang ingin mencoreng kewibawaan syari’at Islam di Aceh; ada yang mensinyalir bahwa perbuatan semena-mena sedemikian rupa merupakan buah dari pemahaman syari’at Islam yang keliru dst. Beberapa orang pemaksa yang tertangkap, saat ini diancam dengan pasal berlapis: pasal 289, 282 KUHP; pasal 80, 81, dan 82 (melakukan kekerasan terhadap anak di bawah umur). Maksimal hukumannya adalah 15 tahun penjara.
Yang menarik, di samping ungkapan geram sedemikian rupa, muncul sebuah respon yang agak sedikit berbeda yang disampaikan oleh Tgk Muallim Ibrahim. Beliau mengkritik bahwa tidak pada tempatnya bila anak-anak tersebut diposisikan sebagai pahlawan, sementara pelaku pemaksaan itu dianggap sebagai pesakitan. Bagaimanapun mereka semua layak dikenakan hukuman. Pemaksaan sedemikian rupa terjadi pada prinsipnya adalah buah dari “kemarahan spontan masyarakat yang melihat pelanggaran syari’at di wilayah mereka”. (Serambi Indonesia, 29 Mei 2007).
Dari berbagai macam asumsi dan respon di atas, muncul pertanyaan menarik benarkah “pemaksaan adegan mesum” tersebut bagian dari kesalahan seseorang dalam memahami syari’at Islam? Tepatkah argumen “pembenaran” yang mengatakan bahwa perbuatan itu merupakan tindakan spontan masyarakat yang marah?
***
Agama, dalam lintasan historis diakui sebagai salah satu bagian yang memainkan peranan penting dan sangat berjasa dalam melahirkan perubahan sosial yang paling spektakuler dalam peradaban manusia. Demikian argumen yang dikemukakan oleh Max Weber (1864-1920 ). Hal ini tentu terkait dengan visi dan misi agama itu sendiri yang ingin membawa manusia pada keselamatan dan kesejahteraan hidup, baik di dunia atau di akhirat.
Namun demikian, agama seringkali pula dimaknai sebagai “pisau bermata dua”. Di satu sisi agama merupakan salah satu jalan yang diakui akan membawa seseorang pada perbuatan-perbuatan terpuji. Hal ini dikarenakan pada dasarnya tidak ada satu agama pun di dunia ini yang menganjurkan pemeluknya untuk menentang Tuhan atau mengamanatkan umatnya untuk melakukan berbagai macam kerusakan di muka bumi.Tapi pada sisi yang lain wajah suci agama bisa menjadi hal menakutkan manakala upaya dalam memahaminya salah jalan. Agama bisa menjadi faktor pendorong yang potensial untuk terjadinya sebuah konflik berdarah.
Terjadinya pemberangusan paham-paham yang dianggap “menyimpang” dari mainstream keagamaan khususnya dalam agama-agama missionaris (Islam, Kristen dan Yahudi) merupakan contoh-contoh konkrit bagaimana agama menjadi sebuah kekuatan “menakutkan” bila disalahpahami.
Di dalam sejarah Islam sendiri pemahaman tentang dogma-dogma agama tidak jarang dipolitisir utntuk kepentingan penguasa. Hal ini misalnya tercermin dari perilaku beberapa khalifah pada masa Abbasiyah maupun Umawiyah. Bahkan di masa modern ini, ada juga kalangan tertentu yang menjadikan doktrin agama sebagai alasan untuk melakukan tindakan-tindakan menyakitkan terhadap golongan tertentu.
Lihatlah bagaimana doktrin agama yang dibungkus dengan kebebasan berekspresi dijadikan alasan untuk melakukan penghinaan atas Nabi Muhammad, sosok yang sangat diagungkan dalam Islam, seperti kasus Salman Rushdie atau Jylland Posten. Doktrin agama tak luput juga dijadikan landasan berpijak untuk mengobok-obok akidah orang lain yang berbeda, dengan tujuan agar ia meninggalkan keyakinan yang dianutnya selama ini (upaya-upaya Kristenisasi dsb). Lihat pula bagaimana saudara-saudara kita sendiri yang dengan pemahamannya menjadikan Jihad sebagai alasan untuk melakukan aksi-aksi teror yang beringas tanpa mempedulikan siapa yang menjadi korban. Mereka semua pada dasarnya adalah orang-orang yang beragama dan sama-sama memiliki keyakinan untuk masuk sorga.
Bagi orang-orang yang merasa frustasi dengan berbagai pola keberagamaan sedemikian rupa di atas, kemudian mengikrarkan diri untuk bersikap atheis. Tidak lagi percaya kepada kebenaran dan kesucian agama, bahkan mereka berkeyakinan bahwa Tuhan tidak ada. “God is dead”. Demikian slogan yang di antaranya digembar-gemborkan oleh Nietszhe Cs.
***
Kembali pada kasus terjadinya pemaksaan hal tak senonoh yang menghebohkan Aceh beberapa waktu lalu, bila memang peristiwa ini terkait dengan upaya penegakan syari’at Islam, tentu kejadian ini sangat tidak rasional, mengada-ada, sekaligus lucu. Dikatakan tidak rasional dan mengada-ada, karena pemahaman sedemikian rupa justru kontraproduktif dengan upaya penegakan syari’at yang diusung di Aceh.. Dikatakan lucu (ataukah mengenaskan?), karena pemahaman yang salah tentang penegakan syari’at Islam itu adapula yang “membelanya” dengan menyatakan bahwa hal itu merupakan tindakan spontan masyarakat.
Upaya supremasi ajaran-ajaran Allah Swt dan Rasul-Nya dalam catatan sejarah masa Nabi Muhammad Saw tidak pernah dilakukan dengan upaya-upaya zalim yang justru memperkosa ajaran-ajaran Allah Swt yang lain. Islam diajarkan dengan penuh senyum dan bukan dengan cara-cara angkuh, sombong, atau biadab. Karena keangkuhan, kesombongan dan kebiadaban adalah karakteristik yang melekat pada sosok Iblis Cs yang nota bene merupakan musuh Allah Swt dan musuh bebuyutan manusia.
Dari ulasan tentang posisi agama di atas dapat dipahami bahwa ajaran agama sudah seharusnya diresapi dan dipahami secara komprehensif (tidak sepotong-potong). Hal ini mutlak dilakukan, sebab pemahaman yang salah atas substansi ajaran agama, justru bisa membawa seseorang pada penodaan agama. Syari’atpun tanpa sadar justru diperkosa dengan semena-mena untuk menghalalkan kezaliman dan kejahatan. Tentu ini bukan tujuan kita melaksanakan syari’at Islam secara kaffah di Aceh.Akhirul kalam, meski ada di antara kita yang “frustrasi” dengan pola imlementasi syari’at Islam di Aceh, semoga kita tidak sampai meniru pola pikir Nietszhe yang menyatakan bahwa God is dead atau pemahaman kalangan atheis yang anti agama. Karena pemahaman sedemikian rupa meski dibungkus dengan alasan-alasan rasional, ternyata sesungguhnya tidak sepenuhnya rasional. Banyak argumen rasional yang justru telah banyak disampaikan untuk mematahkan argumen-argumen mereka. Wallahu a’lam bis Shawab…

Anton Widyanto

Author & Editor

Mengais Tetesan Ilmu Allah Ta'ala yang Tak Terbatas

0 comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.