11 February, 2008

DIALOG IMAJINER BUSH DENGAN SUMANTO


Oleh: Anton Widyanto
Dalam perjalanan imajiner saya, terlihat dari kejauhan pemandangan yang begitu aneh, tapi menarik. George Bush, orang nomor 1 di Amerika itu memakai baju kaos warna biru dipadu dengan celana puntung warna biru pula. Sementara itu, tidak jauh dari posisinya, berdiri seorang pemuda dewasa dengan wajah yang kelihatan lebih tua dari umurnya. Pemuda itu berpakaian persis seperti apa yang dipakai Om Bush. Penampilannya lumayan tenang, bahkan terkesan lugu, dengan senyum diobral di bibirnya dan rambut yang sedikit amburadul. Orang mungkin tidak percaya bila dikatakan bahwa lelaki itu dijebloskan ke penjara gara-gara kesukaannya memakan daging manusia yang sudah jadi mayat. Biasanya dia mengorek-ngorek kuburan memakai kedua tangannya, kemudian setelah berhasil mendapatkan apa yang dicarinya, dengan wajah lapar dia mencincang mayat itu dan memasaknya seperti kita memasak eungkot suree. Ada yang dimodel tumis, atau dibakar dan ada pula yang digoreng kering dsb. Luar biasa.
Perlahan saya dekati kedua “tokoh” tersebut untuk ikut nimbrung apa yang mereka perbincangkan. Saya lihat Bush memandangi Sumanto dengan wajah sinis dan sorot mata menghakimi, penuh kegeraman. Nampak guratan emosional yang terpancar dari wajah lonjongnya.
“Saya, terus terang jijik melihat Anda, setelah tahu persis bahwa Anda dijebloskan ke sel ini karena kasus pencurian mayat dan kanibalisme”, Bush berkata tanpa mata berkedip ke arah Sumanto dan dengan logat bahasa Indonesianya yang terpatah-patah. Sumanto hanya menanggapi statemen Bush itu dengan dingin tanpa ekspresi. Dia seakan-akan sudah kebal mendengar ungkapan penghinaan sedemikian rupa. Sumanto acuh tak acuh menanggapinya.
“Seandainya Anda hidup di negara saya, kehidupan Anda pasti sudah habis. Sebab hukum di negara saya sangat menentang perbuatan keji sedemikian rupa. Tidak pernahkah Anda bayangkan bahwa tindakan Anda itu telah melukai jiwa orang banyak, khususnya bagi keluarga korban dan korban itu sendiri? Tidak pernahkah Anda berpikir bahwa tingkah laku Anda itu juga melukai masyarakat banyak? Sebab ketika masyarakat tahu perbuatan keji sedemikian rupa terjadi di tanah air Anda, mereka menjadi was-was dan ketakutan. Tanpa Anda sadari, sebenarnya Anda telah menjadi seorang teroris. Ya, bahkan teroris kelas kakap”, saya dengar Bush masih setia mengomeli Sumanto. Sementara itu Sumanto, lawan bicaranya, masih tetap seperti sikapnya semula, acuh tak acuh.
“Saya ingin tahu kejujuran Anda. Apakah Anda tidak merasa berdosa dengan perbuatan yang Anda lakukan tersebut?”, kali ini Bush melontarkan pertanyaannya kepada Sumanto. Sumanto mengangguk perlahan dengan pandangan kosong.
“Apakah Anda tidak membayangkan bagaimana bila mayat Anda nanti dicincang oleh orang, kemudian dimasak jadi gulai, disate, atau digoreng pakai sambal lado?”, Bush bertanya lagi. Sumanto sekali lagi menganggukkan kepalanya dengan ekspresi bersalah.
Bush menghela nafas panjang. “Jika tahu bahwa semua perbuatan yang Anda lakukan itu adalah salah, mengapa Anda tega mengerjakannya?”, pertanyaan Bush yang kesekian kali ini terlihat agak keras. Bahkan ribuan bulir ludahnya menghujani muka Sumanto dengan deras. Saya yang melihatnya menjadi kasihan melihat Sumanto dalam kondisi terpojok, tanpa bisa berkomentar apa-apa. Sayapun menjadi terpancing untuk ganti mengorek keterangan dari Mr Bush.
“Maaf Mr. Bush. Selama ini saya lihat Anda selalu memojokkan orang dengan kesalahan-kesalahan dan kejahatan-kejahatan. Bolehkah saya bertanya sama Anda, apakah Anda merasa bersalah dengan kebijakan yang Anda keluarkan untuk menyerang dan mengintimidasi masyarakat muslim selama ini, seperti di Afghanistan, Irak, Libya dan Suriah?”.
Dengan gaya diplomasinya yang ulung Mr. Bush menjawab. “Apa yang saya lakukan di Afghanistan, Libya, Suriah dan khususnya Irak adalah hal yang benar serta proporsional. Saya hanya berupaya sekuat tenaga untuk membebaskan mereka dari kengerian dan ketercekaman mereka selama ini, sekaligus menyelamatkan dunia dari ulah teroris-teroris yang bersembunyi di negara-negara tersebut. Lihatlah bagaimana orang-orang perempuan di Afghanistan selama ini terkungkung dalam ketidakberdayaan selama berada di bawah kepemerintahan rezim Taliban. Mereka tidak boleh sekolah atau bekerja. Padahal paradigma peminggiran perempuan sedemikian rupa adalah paradigma yang usang (out of date) dan tidak layak jual lagi di era maju sekarang ini. Lihatlah pula bagaimana rakyat Irak selama ini menderita akibat Saddam, sang diktator tulen itu. Tidak sedikit diantara orang-orang Syiah di sana yang diusir dan dibantai tanpa proses hukum. Lebih dari itu, satu hal lagi, Irak sangat potensial menjadi negara sarang teroris, sebab di sana dari dulu sudah dikenal sebagai pabrik pembuat senjata biologi yang efeknya sangat menakutkan dan membahayakan bagi masyarakat internasional. Karena itu, kami sebagai polisi dunia sangat bertanggungjawab untuk menyelamatkan seluruh umat manusia di bumi ini dari ancaman Irak sedemikian rupa”.
Sumanto diam-diam ikut mengangguk, sementara saya menjadi terpancing untuk bertanya lebih banyak lagi. “Alasan-alasan Anda saya lihat terlalu idealis dan mengawang di langit, namun tahukah Anda bahwa kebijakan Anda sedemikian rupa kenyataannya justru membuat masyarakat muslim di negara-negara tersebut menjadi lebih sengsara? Banyak masyarakat sipil tak berdosa yang menjadi korban kebuasan serdadu Anda. Rumah-rumah mereka, sekolah-sekolah, tempat-tempat yang disucikan dan rumah sakit yang nota bene dilindungi oleh hukum humaniter internasional, dijadikan sasaran penyerangan. Tidakkah Anda lihat bagaimana ekspresi wajah mereka yang mengerang kesakitan akibat terkena serpihan bom dan rudal yang dimuntahkan oleh pesawat-pesawat penyerbu canggih Anda? Tidakkah Anda saksikan bagaimana anak-anak yang menjerit pilu karena kehilangan ayah-ibunya? Tidakkah Anda memahami bagaimana perasaan orang-orang muslim sejagat melihat tindakan Anda yang justru membuat orang-orang Islam di sana sengsara? Apakah Anda pikir bahwa dengan tindakan-tindakan menakutkan tersebut, terorisme di dunia ini jadi terhenti? Bukankah hal sedemikian rupa justru memancing aksi terorisme yang lebih luas lagi?”.
Dengan sedikit tersenyum kecut, Bush menjawab. “Anda benar bahwa apa yang saya katakan mungkin terlalu idealis dan mungkin juga terlalu diplomatis. Tapi tahukah Anda bahwa semua itu adalah akibat yang wajar dari sebuah peperangan?”, Bush menjawab dengan sedikit emosional. Kemudian dia melanjutkan jawabannya. “Peristiwa pelecehan seksual yang baru-baru ini muncul dan terungkap di rumah tahanan Abu Ghraib Irak adalah hanya dilakukan oleh segelintir oknum tentara Amerika dan bukan semuanya. Yang jelas, mereka, saya yakin tidak bermaksud untuk melakukan tindakan-tindakan memalukan sedemikian rupa karena militer di negara kami sudah dibekali dengan segudang pengetahuan mengenai cara-cara manusiawi (HAM) dalam menangani konflik. Ringkasnya mereka hanya khilaf saja.”
“Bagaimana Anda bisa mengatakan bahwa tindakan-tindakan serdadu Anda merupakan hal yang wajar-wajar saja? Apakah nurani dan kata hati Anda sudah tergadaikan?”, kali ini saya bertanya dengan sedikit emosional, sementara Sumanto hanya manggut-manggut. Entah dia mengerti yang kami bicarakan ataukah tidak. “Semua tindakan keji dan memalukan yang dilakukan oleh serdadu Anda pada hakikatnya tetap tidak bisa dibiarkan atau ditolerir oleh siapa saja yang masih memiliki nurani. Kasus-kasus Afghanistan dan Irak adalah bukti-bukti nyata bagaimana Anda menerapkan standar ganda dalam kebijakan internasional Anda. Sebab selama ini Anda selalu mengagung-agungkan demokrasi, HAM dan pemberantasan terorisme di seluruh penjuru dunia, bahkan dengan mudahnya Anda mengintervensi ke mana saja. Tapi dalam kasus Palestina, Anda selalu saja membela Israel yang dengan nyata dan telanjang mempertontonkan kebiadabannya. PBB pun Anda “perkosa”, sehingga terkesan tidak berdaya. Di dalam rapat organisasi dunia itu Anda selalu tak luput menggunakan hak veto untuk membela Israel mati-matian. Hal ini semakin memperkuat anggapan bahwa kebijakan negara Anda adalah kebijakan pisau bermata dua”.
Bush terlihat tersinggung mendengar ocehan saya. Dia berkata, “Saya tegaskan sekali lagi, bahwa upaya untuk mewujudkan dunia yang damai-sejahtera bukanlah persoalan yang mudah. Ketika Anda menyatakan bahwa selama ini negara kami senantiasa menerapkan standar ganda dalam kebijakan internasional pada hakikatnya adalah sebuah kesalahan besar. Dalam kasus Palestina, tidakkah Anda pahami bagaimana brutalnya para penyerang Hamas ketika melancarkan serangan-serangan yang mengenai orang-orang sipil Israel? Bukankah hal sedemikian rupa merupakan upaya-upaya terorisme?”. Mata Bush melotot memandangi wajah saya, sementara Sumanto tetap setia untuk menganggukkan kepalanya. Sesekali ia selingi dengan garukan di kepala.
“Orang-orang Palestina dengan Hamasnya melakukan tindakan-tindakan perlawanan sedemikian rupa adalah dikarenakan kezaliman-kezaliman yang senantiasa dipelihara oleh bangsa Israel. Adapun aksi Kamikaze alias bom bunuh diri yang mereka sering lakukan pada hakikatnya adalah wujud dari ketidakberdayaan mereka untuk melawan penindasan-penindasan dan kezaliman-kezaliman Israel sedemikian rupa yang dilakukan dengan senjata-senjata canggih. Tidakkah Anda pahami bahwa persenjataan dan peralatan tempur mereka tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan yang dimiliki kaum zionis tersebut? Sehingga dengan kenyataan itulah mereka mengambil jalan bom bunuh diri, karena menurut mereka itu adalah salah satu jalan efektif dan ampuh untuk memperjuangkan harga diri bangsanya yang sudah tercabik-cabik. Sementara itu Israel tidak pernah berhenti untuk mencaplok hak-hak rakyat Palestina. Dengan dalih memerangi terorisme seperti yang Anda gaungkan selama ini, mereka seakan menemukan momen yang tepat atau obat mujarab untuk menghalalkan penindasan mereka terhadap rakyat Palestina. Mereka seakan-akan tidak puas, selama Palestina khususnya dan bangsa-bangsa Arab pada umumnya, belum berada di bawah kekuasaannya. Lalu apakah Anda berani mengatakan bahwa tindakan-tindakan keji mereka selama ini bukan sebagai terorisme? Apakah Anda tidak merasa berdosa karena senantiasa membela kepentingan kaum zionis yang sebenarnya adalah teroris tulen tersebut?”, saya menyerocos tanpa henti, sementara Bush terdiam dan Sumanto hanya tetap mengangguk-angguk.
“Bahwa negara Anda adalah negara superpower yang saat ini merajai dunia adalah kebenaran yang tak terbantahkan. Semua pasti mengakuinya. Tapi kenyataan yang berbicara bahwa negara Anda telah berbuat zalim terhadap masyarakat muslim agaknya juga sulit untuk dimentahkan. Dengan alasan memerangi terorisme global Anda telah mengoyak perasaan muslim sejagat. Dan dengan lagak polisi dunia, Anda bersikap bak Rambo yang mau menyelamatkan peradaban manusia di seluruh penjuru dunia, padahal tanpa disadari sebenarnya Anda telah menjelma menjadi teroris baru! Sehingga Andapun pada prinsipnya tidak jauh berbeda dengan Sumanto!”.Suasana menjadi senyap. Bush terdiam, Sumanto masih menggut-manggut, sementara saya menjadi tersadar bahwa itu semua hanya hadir dalam imajinasi kusut saya.
Share This

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Featured post

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU TERKAIT FOKUS MASALAH YANG DIANGKAT DALAM DRAFT PROPOSAL PENELITIAN Dosen Pengampu: Dr. Anton Widyanto

Popular Posts

Search This Blog

Saleum

Selamat Datang di Forum Pembelajaran: Komunitas Pojok Kampus. Terima kasih atas kunjungannya.

Contact Me

Contact Form

Name

Email *

Message *