Saleum

Selamat Datang di Forum Pembelajaran: Komunitas Pojok Kampus. Terima kasih atas kunjungannya.

Search This Blog

11 February, 2008

MEMANUSIAKAN KAUM HONORER

Oleh: Anton Widyanto

Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, para pimpinan institusi apa pun yang masih punya nurani dan akal sehat di mana saja Anda berada. Pernahkah terlintas di benak Anda bagaimana sulit dan terhimpitnya nasib orang-orang kecil yang masih berstatus honorer dan masih belum jelas status ke Pe eN eS-annya hingga kini? Oke. Kalau memang Anda masih belum tahu, setidaknya tulisan ini penting untuk Anda baca agar Anda bisa tahu. Kalau memang Anda sudah tahu, paling tidak “coretan” ini akan semakin memantapkan pengetahuan tentang nasib kaum honorer yang sudah Anda miliki.
Kawan saya, si A, adalah salah seorang tenaga honorer di sebuah perguruan tinggi negeri, sebuah institusi yang nota bene berada di bawah Departemen (X) pusat. Dia sudah mengabdi lebih dari 5 tahun dan telah beristri serta memiliki seorang anak yang lucu.
Sebagai kepala rumah tangga, dia merasa memikul tanggung jawab besar untuk menghidupi anak-istrinya. Sayangnya, sekalipun dia termasuk yang dinominasikan tahun ini untuk diangkat sebagai Pe eN eS (istilahnya sudah tercatat dalam “Buku Putih”), sehingga ada kebijakan institusi yang intinya menahan honorariumnya selama masih menunggu kedatangan sang “SK” (sudah hampir setahun), namun sang SK rupanya tidak juga kunjung datang. “Ada misunderstanding antara BKN Pusat dengan Departemen (X) Pusat dalam masalah pengangkatan honorer menjadi Pe eN eS”, demikian katanya mengutip sebuah pendapat orang yang berkompeten menjawab di lembaga tersebut. Senyum si A pun mulai memudar. Ia mulai enggan masuk kantor dan lebih asyik mencari fulus di luar. Sebab bagaimanapun urusan perut tidak bisa ditunda atau dirapel layaknya gaji. Anaknya yang masih bayi, tentu tidak akan mengerti bila dijelaskan bahwa susu belum bisa dibeli karena alasan dia masih menunggu SK. Sayangnya sang “bos” di perguruan tinggi tersebut seakan tidak memahami kesulitan hidup si A (atau sengaja tidak peduli?). Ia diharuskan tetap masuk kerja tanpa honor. Padahal, ia pasti paham bahwa -sekali lagi- urusan perut memang tidak bisa dirapel layaknya gaji.
Si A, tidak sendiri. Ada si B, yang sudah 8 tahun menjadi seorang karyawan honorer di lembaga yang sama, juga mengalami nasib serupa. Si B, sudah memiliki seorang suami dan seorang anak. Suaminya memang seorang Pe eN eS. Tapi karena ada tanggung jawab moral terhadap pembiayaan pendidikan adiknya, si B merasa berkewajiban untuk mencari nafkah tambahan. Sebab kalau hanya mengandalkan gaji sang suami yang masih berpangkat “yunior”, apalagi ditambah dengan potongan kredit bulanan yang hampir membuat seluruh gajinya “lenyap”, tentu roda perut rumah tangga bisa saja terganggu. Meski dengan honorarium terbatas di tengah biaya hidup yang tidak pernah ada ceritanya merangkak turun, ia pun masih setia mengabdikan diri sebagai karyawan honorer. Harapannya cuma satu, bahwa ia akan diangkat sebagai Pe eN eS tahun depan. Ia pun sudah bosan ikut tes CPNS ini itu, karena hasilnya selalu gagal. “Pasrah saja”, katanya.
Dulu, ketika pertama kali ia tahu bahwa namanya masuk buku putih, perasaannya girang bukan kepalang. “Masa depanku akan cerah meski harus menunggu giliran diangkat tahun depan”, ungkapnya suatu kali. Namun ia sekarang mulai pesimis, karena ternyata orang-orang yang senasib dengannya bahkan sudah diprioritaskan diangkat menjadi Pe eN eS tahun ini, seperti kasus si X, ternyata masih harus menjual mimpi.
Si A dan B ternyata sekali lagi tidak sendiri. Adapula kisah si X. Dari sisi pendidikan, Si X memang tidak sebanding dengan si B yang sudah tamat S-1, atau si A yang sudah selesai S-2. Si X hanya tamat SMA. Tapi yang jelas ketiga-tiganya berstatus sama, sebagai honorer. Bila si A dan B kerjaannya selalu dalam ruang dan berhadapan dengan komputer, sebaliknya si X kerjaannya sehari-hari adalah semacam petugas lapangan (field officer, istilah kerennya).
Pagi setelah subuh, si X mulai bergerak mengayuh sepeda bututnya ke lembaga tempat ia mengabdi bertahun-tahun. Mulailah ia menjalankan ”misi” pembersihan ruangan yang jumlahnya lebih dari 5. Tidak cukup itu, ia pun diharuskan mengalirkan air ke dalam bak-bak kamar mandi yang jumlahnya juga tidak tanggung-tanggung, sekitar 10 buah. Mungkin ini tidak terlalu berat ketika listrik mengalir normal. Tapi ketika listrik padam, ia terpaksa menimba air di lantai bawah dan menggotongnya ke masing-masing kamar mandi tersebut yang sebagian di antaranya berada di lantai atas. Tentu Bapak-Ibu, para pimpinan, bisa membayangkan bahwa ia memerlukan tenaga ekstra untuk naik-turun tangga, karena lift hanya ada di kantor sekelas kantor Gubernur di daerah kita ini.
Meski begitu, si X tetap kukuh dengan pengabdiannya. Karena ia yakin, nasibnya akan berubah saat ia sudah diangkat menjadi Pe eN eS. Tapi semakin lama, si X semakin menyadari bahwa kekukuhannya dalam pengabdian tentu hanya sebuah omong kosong bila tidak dihargai dengan uang. Ia tidak munafik dalam hal ini, sebab seperti si A, honornya terpaksa ”dihentikan” selama menunggu datangnya sang SK, sementara –sekali lagi- urusan perut yang manusiawi sudah jelas tidak bisa dirapel sebagaimana layaknya gaji.
***
Si A, si B dan si X pada dasarnya tidak sendiri. Ada si C, si D, si E, si fulan, si fulin dst, yang juga mengalami nasib serupa. Nasib mereka memang tidak sebaik rekan-rekan honorer di instansi-instansi lain yang sudah mendapatkan SK. Mereka sesungguhnya adalah orang-orang yang hanya bisa bersikap pasrah dengan kondisi, karena mereka tidak punya posisi tawar yang kuat di depan para pengambil kebijakan di institusi tempat mereka bekerja. Kenyataannya, sekalipun sangat berjasa dalam mempertahankan roda kelembagaan, mereka seringkali hanya dipandang sebelah mata dan kemudian dipermainkan seperti bola. Tokh, bukan hal yang sulit untuk mendepak mereka dari posisi honorer, sebab di belakang mereka masih antri orang-orang lain yang mengharap diberikan SK honorer. Jadi buat apa dipusingkan?
Pada saat mereka tidak masuk kerja dan menjalankan kewajiban, sesungguhnya mereka hanya ingin menyuarakan bahwa mereka bukan malaikat. Mereka adalah manusia biasa seperti juga Bapak-Ibu, para pimpinan. Mereka juga merasakan lapar, sakit, butuh pakaian, butuh rumah, butuh biaya kesehatan, SPP anak dan tetek bengek lain, sama seperti yang Bapak-Ibu, para pimpinan, rasakan. Sayangnya suara mereka adalah suara serak tak bertenaga, sehingga sering lenyap begitu saja (go where the wind blows).
Si A, si B, si X dan orang-orang yang senasib dengan mereka memang dalam posisi lemah dan tak berdaya. Tak ubahnya TKI atau TKW yang seringkali dianggap sebagai “pahlawan devisa” tapi justru sering dipandang sebelah mata, kaum honorerpun sebenarnya tidak jauh berbeda.
Dalam aktivitas kerja harian, biasanya mereka malah lebih rajin dibandingkan orang-orang yang sudah resmi berstatus Pe eN eS. Hal ini dikarenakan mereka pada umumnya adalah golongan orang yang paling rentan untuk ”dikerjai” dan mudah pula dilupakan jasanya.
Ironisnya, nasib dan cerita miris mereka justru seringkali luput dari perhatian mahasiswa, komunitas yang sering disebut kritis dan peduli pada persoalan sekitar. Sebab mahasiswa sekarang tidak jarang hanya mau bersikap kritis ketika ada hal yang menguntungkan mereka (pragmatis). Malahan kebanyakan mahasiswa tidak mau ambil peduli sama sekali dengan ketimpangan-ketimpangan di sekitarnya. Pola pikirnya hanya terkotak pada penyelesaian SKS tanpa diiringi asahan daya kritis, sehingga menjadikan hiruk-pikuk dunia kemahasiswaan laksana menara gading (semoga karakteristik mahasiswa seperti ini bukan cerminan umum mahasiswa kita di Aceh).
Pertanyaannya, jika sudah demikian faktanya, siapa lagi yang peduli pada nasib honorer yang terkatung-katung itu? Wallahu a’lam bis Shawab.
Tulisan ini dimuat di Harian Serambi Indonesia, 24 November 2007.

Anton Widyanto

Author & Editor

Mengais Tetesan Ilmu Allah Ta'ala yang Tak Terbatas

0 comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.