Saleum

Selamat Datang di Forum Pembelajaran: Komunitas Pojok Kampus. Terima kasih atas kunjungannya.

Search This Blog

11 February, 2008

PLURALITAS BUKAN MUSUH

Oleh: Anton Widyanto

“Keesaan Allah Swt, meniscayakan pluralitas selain Dia”, demikian kesimpulan Gamal Al-Banna dalam karyanya At-Ta’addudiyyah fil Mujtama’ al-Islami. Makna terdalam dari ungkapan yang disampaikan Gamal ini adalah bahwa segala macam perbedaan yang ada di muka bumi ini baik terkait dengan perbedaan jenis kelamin, agama, suku, bangsa, ras, warna kulit dsb adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditolak oleh manusia. Penolakan terhadap adanya pluralitas dalam segala aspek sedemikian rupa sama saja dengan mengingkari sunnatullah yang menjadi kewenangan (authority) Allah Swt selaku Pencipta, Pemilik, dan Pengatur Tunggal alam semesta beserta isinya ini. Penolakan sedemikian rupa pula pada prinsipnya sangat tidak berdasar karena sesungguhnya Dzat yang paling berhak mengklaim ke-Maha Tunggalan hanyalah Allah Swt. Tidak ada satu pun mahkluk-Nya, baik dari kalangan manusia, binatang, malaikat atau bahkan iblis sekalipun.


Seringkali dalam hidup ini, baik dari zaman Jahiliyah dulu bahkan sampai di dunia yang katanya sudah semakin maju ini, isu memahami pluralitas sebagai sunnatullah masih dikalahkan oleh isu-isu kecenderungan untuk mengangkat pimordialisme sebagai panglima. Adanya rasa ta’assub buta di kalangan masyarakat Jahiliyah yang kemudian dikikis sedikit demi sedikit setelah Islam datang; persitiwa berdarah karena pertikaian internal umat Islam yang akhirnya mendorong munculnya ilmu kalam; peristiwa “pembantaian besar-besaran” (sengaja diberi tanda petik karena hal ini debatable) yang dilakukan oleh NAZI terhadap kaum Yahudi yang kemudian memunculkan ide Zionisme Israel; peristiwa perang suku di Afrika; perang saudara atas nama agama di India, Poso dsb adalah contoh-contoh nyata bagaimana masyarakat dunia masih ada yang menjadikan isu-isu primordialisme sebagai panglima.
Dalam kasus yang lebih dekat di sekitar kita, hal ini tanpa kita sadari juga masih menggejala. Terkadang (atau bahkan seringkali) kita masih menyimpan penilaian negatif terhadap sesama kita hanya karena dasar suku misalnya. Orang Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Tengah, Aceh Selatan, Aceh Barat dst masih menyimpan stereotip-stereotip yang sebenarnya tidak positif. Ukuran keberislaman sebagai satu ummat, tanpa disadari justru terkotori atau bahkan tergeser oleh stereotip sedemikian rupa. Bahkan tidak jarang hal ini berimbas pada diskriminasi tertentu ketika berhadapan dengan kebijakan institusional. Misalnya terkait dengan penempatan orang-orang dalam “kepengurusan” sebuah institusi. Ketika tampuk pimpinan dipegang oleh si X yang berasal dari daerah X, maka semua posisi penting dalam institusi tersebut diupayakan diisi oleh orang-orang yang berasal dari daerah X. Akhirnya orientasi yang seharusnya ditumpukan pada aspek profesionalitas dan kompetensi, justru beralih pada orientasi kedaerahan. Ini tentu tidak positif, karena potensial menyebabkan penindasan dan penzaliman-penzaliman.
Padahal mengaca pada pesan akhir Rasulullah Saw di saat melaksanakan Haji Wada’, orientasi-orientasi primordialisme seperti yang dicontohkan di atas adalah hal-hal yang patut diberangus. Ini pula yang sebenarnya menjadi salah satu misi kedatangan Islam.
Dalam Khutbah perpisahan tersebut, Rasulullah Saw juga menegaskan bahwa pada dasarnya umat Islam diikat oleh tali persatuan yang bernama Islam. Islam dalam harapan beliau adalah Islam yang mampu menciptakan kemaslahatan bukan hanya bagi pemeluknya, akan tetapi juga bagi orang lain, terlepas dari apa pun jenis kelaminnya, agamanya, sukunya, bangsanya, rasnya, atau warna kulitnya Karena itu orientasi-orientasi primordialisme sesungguhnya merupakan “penyakit” yang seharusnya dibasmi dan diganti dengan orientasi pluralisme.
***
Sejauh ini, jika kita coba mencermati perkembangan kekuatan umat Islam secara jernih, maka kita seharusnya patut merasa prihatin. Prinsip untuk menjadikan kekuatan Islam sebagai kekuatan pemersatu sepertinya terlihat kurang berharga dibandingkan dengan pandangan-pandangan primordial lain. Perbedaan etnis, bahasa, atau perbedaan pemahaman dalam memaknai ajaran Islam dst justru lebih mengemuka dijadikan prinsip. Tidak heran bila kemudian kerapuhan dalam memahami segala macam perbedaan tersebut menjadikan kekuatan-kekuatan di luar Islam yang membenci progresivitas agama ini dengan mudahnya mengoyak tali silaturrahmi umat Islam. Kita bahkan, dalam beberapa kondisi tertentu, justru sangat toleran dengan agama non muslim (kerukunan eksternal) dibandingkan dengan saudara sekaidah sekeyakinan sendiri (kerukunan internal). Dalam konteks ini bukan berarti saya mengharamkan kerukunan eksternal tersebut, tapi saya memandang bahwa semestinya kita mampu mengokohkan budaya kerukunan internal di kalangan umat Islam sendiri, sebagaimana kita mampu mengokohkan kerukunan eksternal terhadap agama lain.Pola pemahaman yang senantiasa memelihara kebenaran di atas pondasi primordialisme sesungguhnya merupakan pola yang keliru dan secara tidak langsung justru telah memperkosa ajaran agung Islam itu sendiri. Umat Islam semestinya tidak terjebak pada pandangan dan pemahaman sempit primordialisme sedemikian rupa, sebab masih banyak persoalan-persoalan penting lain yang sejauh ini masih akrab membelenggu umat Islam dan mendesak untuk diselesaikan seperti kemiskinan dan kebodohan. Semoga kita mampu memetik hikmah dari perjalanan kelam sejarah Umat Islam masa lalu yang asyik bertikai sesama sendiri dan melupakan persoalan-persoalan penting yang riil lainya. Amin..

Anton Widyanto

Author & Editor

Mengais Tetesan Ilmu Allah Ta'ala yang Tak Terbatas

0 comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.