Saleum

Selamat Datang di Forum Pembelajaran: Komunitas Pojok Kampus. Terima kasih atas kunjungannya.

Search This Blog

12 February, 2008

“ROBOT” PENDIDIKAN

Oleh: Anton Widyanto

Di akhir tahun 2007 lalu, eksistensi guru –selaku salah sebuah unsur tenaga pendidik- kembali menarik perhatian. Setelah disinyalir banyak guru yang tidak layak untuk mengajar, kemudian “himbauan” Presiden RI agar guru tidak melakukan demo sehingga dapat menelantarkan proses belajar-mengajar, sampai pada gugatan terhadap kebijakan diliburkannya sekolah pada saat peringatan HUT PGRI di Banda Aceh beberapa waktu lalu.
Terlepas dari isu-isu faktual yang terkait dengan eksistensi guru tersebut, sejauh ini menurut saya memang ada sesuatu hal yang mengganjal bila kita cermati kondisi para tenaga didik secara makro di lembaga-lembaga pendidikan baik formal maupun informal (sekolah, perguruan tinggi, lembaga kursus dsb).
Sejauh pengamatan “awam” saya, masih banyak guru, dosen maupun tutor yang merasa cukup dengan keilmuan yang telah mereka dapatkan, sehingga ketika menjalankan proses pendidikan (dalam arti sempit, pengajaran), yang diajarkan seringkali tidak mengalami pengembangan-pengembangan atau inovasi. Akhirnya proses pembelajaran yang terjadi, tanpa disadari seringkali bersifat monoton, statis, kaku dan kurang menyegarkan. Perubahan standar kurikulum dalam beberapa tahun terakhir juga kelihatannya masih “kurang bersambut” untuk mencapai hasil yang diharapkan.
Ketika seorang pengajar merasa cukup dengan ilmu pengetahuan dan wawasan yang ia miliki, maka sesungguhnya ia telah memposisikan dirinya sebagai orang yang paling tahu dan paling bisa dibandingkan orang lain. Tipe pengajar seperti ini pada umumnya sulit menerima pembaharuan-pembaharuan, takut disaingi, takut berkompetisi, bahkan apriori terhadap orang lain. Jurus yang diandalkan biasanya adalah “jurus penindasan”. Padahal ilmu pengetahuan adalah dimensi dinamis yang senantiasa berkembang dan tidak pernah statis. Tidak ada kata final dalam sebuah ilmu karena akan senantiasa mengalami pembaharuan-pembaharuan. Selalu ada proses dialektika antara thesis, antithesis dan sintetis. Karena itu, selama manusia masih dikaruniai otak untuk berpikir, selama itu pula ilmu pengetahuan akan menerima konsep-konsep baru.
Mencuplik argumen Paulo Freire dalam Pedagogy of Freedom: Ethics, Democracy, and Civic Courage (1998) seseorang yang berposisi sebagai pengajar pada prinsipnya adalah seseorang yang senantiasa dituntut untuk belajar. Pada bab II dia menegaskan There is no teaching without Learning (tak ada mengajar tanpa belajar). Maknanya sekali lagi bahwa siapa pun tidak boleh berhenti untuk belajar, sekalipun status yang disandangnya adalah sebagai seorang pengajar/pendidik (dosen, guru, tutor dsb). Dari pemikiran ini pula dapat dipahami bahwa beda antara seorang pengajar atau pendidik pada dasarnya hanya “beda-beda tipis”. Perbedaannya sangat bisa jadi hanya terletak pada persolan waktu dan pengalaman. Selebihnya kedua-duanya adalah mahkluk yang senantiasa dituntut untuk belajar. Selalu haus dan lapar akan ilmu pengetahuan. Sebab ilmu Allah Swt adalah samudera luas yang tidak akan pernah habis digali, dikaji, dipelajari maupun diteliti. “Katakanlah: "Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)” (Q.S Al-Kahfi: 109).
***
Seorang pengajar atau pendidik yang hanya puas dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya maka tidak ada bedanya dengan sebuah “robot”. Wawasannya hanya terbatas pada apa yang telah diserap atau diprogram dalam otaknya. Seolah-olah ilmu Allah Swt yang Maha Luas telah habis diserap, sehingga ia tidak merasa perlu untuk menggali lebih banyak lagi. Persoalan mahasiswa atau murid secara tidak langsung dibodohi, itu bukan urusannya. Bila ada pertanyaan-pertanyaan kritis yang muncul cukup diberikan saja tekanan bahwa itu tidak masuk materi yang dibahas atau pertanyaan seperti itu tidak penting. Kalau masih juga membandel, tinggal keluarkan jurus akhir, “jurus penindasan”. Caranya mudah. Posisikan si subyek didik yang kritis itu sebagai mahkluk bandel yang susah dididik; suka membuat masalah; orang aneh; sok pintar dsb. Ujung-ujungnya, singkirkan dia dari teman-teman sekelasnya dan berikan nilai paling buruk. Sederhana dan gampang bukan?
Seorang pengajar yang lebih memilih menjadi ”robot”, maka ia akan melahirkan generasi-generasi robot yang hanya menguasai konsep dan teori tapi kering dalam persoalan praktis. Konsep dan teori yang dipegangpun biasanya hanya itu-itu saja yang sangat bisa jadi sudah usang (out of date). Sementara konsep dan teori yang baru tidak ia kuasai.
Meski ironis, tapi kelihatannya memang sejauh ini para pendidik dan pengajar di sekolah-sekolah formal (dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi di Aceh pada khususnya dan Indonesia pada umumnya) banyak yang lebih memilih menjadi robot. Indikasinya antara lain dapat dilihat dari masih terbatasnya karya-karya akademik dan karya ilmiah yang mereka hasilkan (baik dari proses refleksi maupun penelitian). Karena itu tidak mengherankan bila Human Development Index (HDI) kita masih berada di bawah Singapura dan Malaysia. Keduanya adalah tetangga kita yang sebenarnya masih jauh tertinggal dari sisi kekayaan alam dibanding kita.
Upaya mempopulerkan budaya membaca, menulis dan meneliti di kalangan para pengajar pada dasarnya adalah hal krusial yang perlu diperhatikan para pengambil kebijakan pendidikan, khususnya di Nanggroe Aceh Darussalam. Model-model penelitian seperti Penelitian Tindakan Kelas (Class Action Research) atau Penelitian Tindakan Partisipatoris (Participatory Action Research) adalah model-model yang seharusnya familiar di kalangan tenaga didik di sekolah. Model seperti ini tidak hanya berdayaguna dalam meningkatkan kualitas wawasan tenaga didik, bahkan lebih dari itu akan menjadi sebuah langkah strategis untuk mendapatkan ”obat” bagi problematika pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah. Wallahu a’lam bis Shawab...

Anton Widyanto

Author & Editor

Mengais Tetesan Ilmu Allah Ta'ala yang Tak Terbatas

5 comments:

  1. Salam
    Iya ni bang, cocok banget bahasan dan kenyataan.

    ReplyDelete
  2. untuk sementara, komentar masih sederhana. memang tidak bisa dipungkiri, sepertinya konsep yang dibuat di Indonesia adalah "konsep robot", tinggal pencet langsung manut deh...

    ReplyDelete
  3. Inilah problem kita sekarang. Herannya memang banyak guru bahkan dosen yang profesor nggak nyadar. Tak heran bila kualitas pendidikan kita memang bertujuan "merobotkan" orang he..he...

    ReplyDelete
  4. Good...salute...

    ReplyDelete
  5. ass.dahsyat kali pak komentarnya...saya selalu tgu kapan yg terbaru di muat di serambi lagi.

    ReplyDelete

Note: Only a member of this blog may post a comment.