Saleum

Selamat Datang di Forum Pembelajaran: Komunitas Pojok Kampus. Terima kasih atas kunjungannya.

Search This Blog

11 February, 2008

RUMUS "BIARKAN SAJA"

Oleh: Anton Widyanto
Di alam yang katanya bergerak maju (progressive) dan dinamis seperti sekarang ini, rumus “biarkan saja” kelihatannya menjadi senjata efektif untuk menyihir sekaligus mengelabui orang secara perlahan tapi pasti. Anda boleh setuju, tapi tentu saja tidak saya larang untuk tidak sepakat. Coba kita cermati beberapa kasus.
Ketika banjir menjadi masalah “tradisional” di kota-kota besar, sehingga efektif untuk dijadikan isu-isu perjuangan dalam kampanye pemilihan kepala daerah, rumus “biarkan saja” menjadi bumbu yang cukup menghibur dan mengasyikkan. Biarkan masyarakat berteriak bahwa jargon-jargon pelarangan penebangan hutan sekadar isapan jempol dan pemanis bibir belaka (lips service). Biarkan tenaga mereka habis-habisan dipergunakan untuk berdemonstrasi, sebab mereka akan lelah dan akhirnya diam sendiri. Biarkan isu-isu penanganan banjir tertutup oleh isu-isu panas lain yang lebih menarik dan layak jual.
Demikian pula di kala manusia-manusia di daerah sumber lumpur panas harus menerima akibat dari eksploitasi gas alam, mulai dari kehilangan rumah, pekerjaan, bahkan nyawa. Biarkan saja mereka menuntut ganti rugi dan semacamnya. Biarkan mereka berteriak sampai serak dan kering air matanya. Sebab lama-lama mereka juga akan diam sendiri. “Gitu aja kok repot”, kata Gus Dur.
Pada saat isu penganiayaan TKI atau TKW, sang pahlawan devisa kita, mencuat pertama kali dan membikin geram banyak orang, tenang saja, itu semua akan berlalu. Tidak usah pusing-pusing memikirkan sorakan masyarakat yang mengkritisi kinerja lembaga pemerintah yang seharusnya memiliki kepedulian terhadap nasib mereka. Biarkan saja. Sebab tokh berita tentang kasus-kasus seperti itu akan menjadi berita biasa dan akan tertutup oleh kasus-kasus lain yang dianggap luar biasa. Sekali lagi, biarkan saja. “Emang gua pikirin”, kata si Entong.
Di waktu AIDS, DBD, malaria, chikunguya, lumpuh layu, atau bahkan flu burung menjadi “momok” yang menggusarkan, santai saja, itu semua juga akan berlalu dengan sendirinya. Tidak perlu khawatir, repot atau bahkan stress. Biarkan saja. Paling-paling cuma perlu direspon sebentar, karena nanti lama-lama masyarakat akan lupa sendiri. Tokh kebanyakan masyarakat kita adalah orang-orang yang sering mudah lupa untuk memetik pelajaran berharga dari sejarah masa lalu.
Tidak usah rumit-rumit berpikir untuk memahami penilaian ini. Berapa banyak pelaku korupsi yang nyata-nyata telah merampok uang rakyat tiba-tiba menjadi orang yang justru disegani, dihormati, bahkan dielu-elukan karena kedermawanannya “menyedekahkan” sebagian kecil uang hasil korupsinya yang sebenarnya cukup membikin kenyang anak-cucu tujuh turunan.
Coba kita cermati lagi. Di saat sebuah badan mega proyek, BRR NAD-Nias hadir di Aceh pasca tsunami, pemerintah dan rakyat pada awalnya memberikan harapan besar demi tertanganinya wajah lusuh Aceh menjadi wajah berseri. Badan inipun melenggang dengan segala programnya untuk mewujudkan harapan tersebut. Bahwa kemudian muncul gugatan-gugatan yang berupaya mengkritisi kinerja lembaga ini, anggap saja itu hal biasa. Bukankah ini zaman demokrasi? Bukankah setiap orang diberikan hak kebebasan untuk mengemukakan pendapat? Biarkan lembaga ini dianggap sebagai lembaga yang tidak profesional, lamban, tidak peka dengan suara rakyat, tidak sepenuhnya transparan dst, karena tokh isu itu akan menguap dengan sendirinya.
Silakan menyodok lembaga ini gara-gara masalah bangunan rumah atau program-program lain yang dianggap mengabaikan kualitas. Silakan menyorot masih adanya indikasi korupsi dalam pelaksanaan beberapa program kerjanya. Silakan Anda kritik habis-habisan masalah program asistensi. Silakan Anda gugat gaji ”wah” orang-orang di dalam badan ini yang sering tidak imbang dengan kualitas kinerja yang ditunjukkan. Pokoknya, silakan lakukan apa yang Anda suka. Silakan luapkan uneg-uneg yang menurut Anda mengganjal agar tidak menjadi bisul atau jerawat di kemudian hari.
Silakan berdemo sepuas-puasnya sampai kenyang, karena lembaga inipun tidak lama lagi akan pergi. Persoalan rakyat geram atau tidak, itu masalah mereka. Masalah rakyat akan menderita sakit pasca diberikan bantuan rumah berbahan asbes dalam kurun waktu berpuluh tahun mendatang, itu juga masalah mereka. Biarkan saja Pemerintah Aceh yang mengurusi borok-borok selama ini. Sekali lagi biarkan saja. Tokh kita memiliki rakyat yang cukup ”santun”, mudah memberi maaf dan gampang melupakan sejarah.
***
Rumus ”biarkan saja”, pada dasarnya adalah milik para pimpinan yang menganggap tanggung jawab hanya sebagai barang tentengan tak berharga. Rumus ini juga milik orang-orang yang tidak memiliki kepekaan nurani, walaupun mungkin otaknya penuh berisikan ilmu pengetahuan, dan mungkin gelarnyapun panjang berderet-deret. Biasanya, yang menjadi korban orang-orang seperti ini adalah masyarakat awam, rakyat kecil dan kaum dhuafa’ yang tidak memiliki posisi tawar (bargaining position) di tengah tajamnya cakar si penguasa.
Bagi kaum ini, rumus ”biarkan saja” tentu merupakan pukulan yang menyakitkan. Sebab dengan adanya merekalah, sebenarnya para pemimpin itu dibayar dan sesungguhnya mereka, orang-orang yang tertindas (the oppressed people) tersebut, memiliki hak dari sebagian harta yang diperoleh oleh pemimpin itu.
Di zaman yang semakin terbuka ini, tentu bukan saatnya lagi mempermainkan mereka dengan rumus ”biarkan saja”. Sebab meskipun mereka dianggap lemah tak berdaya, mudah dipermainkan dengan janji-janji manis, mereka adalah manusia biasa yang memiliki batas kesabaran. Ketika rasa kecewa, marah, ngambek, dan tidak percaya semakin bertumpuk dan berkumpul jadi satu menjadi gumpalan bom kefrustasian yang siap meledak, jangan salahkan mereka jika kemudian berbuat hal yang dianggap ”tidak cerdas”. Sesungguhnya mereka tidak tahu lagi harus bersuara dengan apa, karena mereka sudah kehabisan suara untuk berteriak. Ibarat rakyat Palestina yang tidak tahu lagi melawan aksi zionis yang selalu melakukan penindasan dengan peralatan militer yang serba canggih, merekapun terpaksa melakukan tindakan-tindakan perlawanan yang dianggap ”tidak masuk akal”.
Semoga saja para pemimpin di Aceh, apa pun nama instansinya, tidak pernah menggunakan rumus "biarkan saja". Jangan pernah ingkari janji terhadap rakyat, karena doa orang-orang yang dizalimi adalah doa orang yang paling didengar oleh Allah Swt. Kita tentu sering mendengar hadits Rasulullah Saw yang menegaskan hal ini. Saya juga meyakini bahwa kita sama-sama memahami makna dan substansinya. Semoga. Wallahu a'lam bis Shawab...

Anton Widyanto

Author & Editor

Mengais Tetesan Ilmu Allah Ta'ala yang Tak Terbatas

0 comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.