02 March, 2008

I’TIBAR DARI AMAWAS

Oleh: Anton Widyanto

Suatu ketika pada masa ‘Umar bin Khattab, khalifah kedua dari Khulafa’ al-Rasyidin, terjadi sebuah wabah yang mengerikan lagi menggemparkan. Bak senjata biologi, wabah itu menghantam Amawas, salah satu wilayah di Palestina. kemudian merambat ke Syam dan menewaskan setiap orang yang tertular dengan efek mengerikan. Wabah yang berlangsung selama sebulan itu telah menelan korban dari kalangan umat Islam lebih kurang sebanyak 25.000 orang termasuk di antara mereka adalah para pemuka kaum muslimin seperti: Yazid bin Abi Sufyan, Mu’adz bin Jabal, Haris bin Hisyam, ‘Utbah bin Suhail dll.


Haris bin Hisyam yang berangkat dari Madinah menuju Syam bersama tujuh puluh orang anggota keluarganya meninggal akibat wabah tersebut. Wabah itu memang tak kenal jabatan atau status sosial. Semua disapu dan diserang, apakah sipil atau militer; laki atau perempuan; tua atau muda; besar atau kecil; pejabat atau rakyat jelata dsb. Masyarakat Islam akhirnya merasa dibelenggu dalam ketercekaman yang amat sangat. Bukan hanya mereka, orang-orang Romawi juga merasa ketakutan, hingga tak terpikir lagi untuk menyerang orang Islam.
‘Umar bin Khattab yang ketika itu merupakan orang nomor satu kaum muslimin menetapkan diri untuk berangkat ke Syam yang nota bene sudah menjadi kawasan maut di atas. Dia berangkat dari Madinah hingga mencapai Sar’ dekat Tabuk. Di sana ia disambut oleh para pemimpin militer kaum muslimin di antaranya: Abu Ubaidah bin Jarrah, Yazid bin Abi Sufyan dan Syurahbil bin Hasanah. Mereka dengan panjang lebar menceritakan bagaimana ganasnya wabah yang terjadi selama ini. Sorenya ‘Umar bersama kaum muslimin bermusyawarah untuk membahas apakah mereka akan melanjutkan perjalanan mereka ke Syam ataukah kembali saja ke Madinah lagi. Pertemuan tersebut ternyata berjalan alot, penuh perdebatan. Ada yang berpendapat bahwa mereka harus tetap melanjutkan perjalanan mereka menuju Syam dengan segala resiko, termasuk terkena wabah mengerikan itu. Toh bukankah perjalanan mereka tersebut adalah termasuk jihad fi sabilillah? Dan bukankah kematian merupakan sebuah takdir? Meski demikian, ada pula yang berargumen bahwa sebaiknya mereka mengurungkan saja rencana menuju Syam dan kembali saja ke Madinah. Sebab bila mereka nekat melanjutkan perjalanan ke Syam, itu artinya kematian dan kepunahan.
‘Umar bin Khattab kemudian mengumpulkan para muhajirin Quraisy yang pernah membebaskan Mekkah dan meminta pendapat mereka mengenai persoalan tersebut. Setelah musyawarah diadakan, mereka sama-sama sepakat untuk kembali ke Madinah dan mengurungkan niat menuju Syam. Akhirnya dengan kemantapan hati, ‘Umarpun mengambil keputusan penting: “Kembali ke Madinah!”
Abu ‘Ubaidah yang kebetulan tidak hadir dalam musyawarah itu menjadi tersentak manakala ia mengetahui bahwa ‘Umar telah memutuskan untuk tidak meneruskan perjalanannya menuju Syam. Dia merasa tidak setuju dengan keputusan tersebut.
“Wahai ‘Umar. Apakah kita akan melarikan diri dari takdir Allah?”, dengan lantang Abu ‘Ubaidah bertanya kepada ‘Umar.
Pertanyaan ini membuat ‘Umar terhenyak. Ia lama menatap sahabatnya itu seraya menjawab, “Ya, lari dari takdir Allah, menuju takdir Allah juga”. Ia menunduk sebentar kemudian menyambung lagi jawabannya. “Bagaimana pendapat Anda bila ada orang turun ke lembah yang terdiri dari dua lereng, yang satu subur dan yang satu lagi tandus. Bukankah yang menggembalakan di tempat subur itu atas takdir Allah dan yang menggembalakan di tempat tandus itu atas takdir Allah juga?”.
***
Cuplikan kisah yang diungkap dalam karya Muhammad Husain Haekal yang berjudul al-Faruq ‘Umar di atas menarik untuk dicermati, khususnya berkenaan dengan persoalan takdir.
Tidak jarang selama ini takdir senantiasa dijadikan jawaban renyah atas ketidakberuntungan nasib seseorang, baik dalam bidang pekerjaan, kodrat seksual (laki-laki, perempuan, atau waria), bahkan perkawinan atau perjodohan. Ketika seseorang jatuh miskin, atau nasibnya tidak pernah berubah dari kemelaratan, dengan enteng dia tinggal mengatakan bahwa itu semua adalah takdir Tuhan atau dalam bahasa lain “suratan nasib”. Demikian pula dalam kasus seseorang yang rumah tangganya harus berakhir dengan perceraian. Ujung-ujungnya kalimat yang keluar dari bibirnya, “semua adalah suratan Ilahi” demikian seterusnya.
Takdir secara bahasa mengandung arti kemampuan, kepastian, ukuran dan ketentuan. Dalam al-Qur’an, kata takdir ini banyak disebutkan dalam berbagai tempat di antaranya firman Allah: “Dia yang menyingsingkan pagi hari; dan Dia yang membuat malam untuk beristirahat, serta membuat matahari dan bulan untuk perhitungan. Ini adalah takdir dari Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui” (Q.S. al-An’am (6): 96). Kemudian dalam ayat yang lain Allah juga berfirman: “Dan matahari senantiasa berjalan pada porosnya, itu dikarenakan takdir dari Tuhan Yang Maha Perkasa dan Maha Mengetahui” (Q.S. Yasin (36): 38).
Dari ungkapan ayat-ayat al-Qur’an mengenai takdir dan tanda-tanda kekuasaan Allah Swt pada alam semesta ini, setidaknya terdapat tiga macam takdir yang dikenal oleh manusia sebagaimana disinggung Komaruddin Hidayat. Pertama, takdir Allah yang berlaku pada fenomena alam fisika. Sebuah hukum atau ketentuan yang mengikat perilaku alam secara obyektif sehingga watak dan hukum kausalitas alam dapat dipahami manusia. Hal ini sebagaimana disinggung dalam ayat di atas. Kedua, takdir yang berkenaan dengan hukum sosial (sunnatullah) di mana terjadinya dengan melibatkan manusia. Karena adanya hukum sosial yang obyektif ini maka lahirlah berbagai disiplin ilmu seperti psikologi, sosiologi, sejarah dsb. Ketiga, hukum kepastian Allah yang baru diketahui efeknya di alam akhirat kelak. Takdir Tuhan yang ketiga ini biasanya disikapi dengan iman karena efeknya tidak bisa dibuktikan di dunia, sementara informasinya hanya ada dalam nash (al-Qur’an dan Hadis Nabi Saw).
Dari informasi di atas dapat dipahami bahwa sesungguhnya takdir merupakan semacam hukum sebab-akibat yang berlaku secara pasti di bawah kontrol dan pengawasan Allah Swt, satu-satunya Dzat Yang Maha Mengetahui segala sesuatu lagi Maha Adil. Berlakunya hukum sebab-akibat ini ada yang melibatkan manusia dan ada yang tidak.
***
Manusia sebagai mahkluk Allah yang dikaruniai kelebihan pada aspek akal, pada hakikatnya juga memiliki banyak keterbatasan fisik yang mau tidak mau harus mengikuti ketentuan Allah yang berlaku padanya. Misalnya, manusia tidak bisa terbang layaknya burung, tidak bisa masuk ke lubang-lubang sempit dengan lincah bagai semut atau hidup bebas lepas di dalam air seperti ikan yang dikaruniai insang. Akan tetapi karena manusia ditakdirkan Allah memiliki akal sebagai keunikannya, dia bisa mencurahkan segenap daya kreasinya untuk mengolah ketentuan Tuhan yang berlaku di alam raya untuk dibudidayakan. Kebebasan yang diberikan tentu bukan berarti tanpa rambu. Kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan manusia dari jeratan nafsu syaithaniyyah yang bisa menghalangi kedekatannya dengan Tuhannya.
Yang ingin saya tekankan di sini, umat Islam –dalam konteks apa pun- hendaknya jangan terburu-buru untuk menyatakan bahwa segala penderitaan, kesengsaraan, kesempitan atau musibah yang menimpanya sebagai bagian dari takdir Allah. Mereka sepantasnya terlebih dahulu menghitung dengan cermat, teliti dan obyektif tingkah laku dan tindakan mereka sendiri. Keputusan “mendadak” yang dengan serta merta “menyalahkan” takdir Allah pada akhirnya justru bisa membahayakan keimanan dan aqidah mereka. Sebab hal sedemikian rupa sangat bisa jadi akan menjerumuskan mereka dalam prasangka buruk (su’udzan) kepada Allah. Akibatnya keimanan kepada-Nya pun akan semakin terkikis sedikit demi sedikit. Tentu saja ini berbahaya.
Berkaca pada keputusan ‘Umar bin Khattab seperti dikisahkan di atas, maka takdir Allah dalam lika-liku perjalanan kehidupan ini selayaknya harus selalu disikapi dengan akal sehat, ilmu pengetahuan dan pertimbangan yang obyektif. Sehingga dengan demikian kita tidak tergesa-gesa menyebut takdir Allah sebagai jawaban akhir atau malah mengkambing hitamkannya.
Kita memang harus percaya dan yakin bahwa takdir Allah, baik atau buruk, merupakan ketetapan yang pasti adanya. Meski demikian, kita tidak boleh selalu bersikap pasrah tanpa etos kerja atau semangat berjuang yang tinggi dalam menjalani kehidupan ini. Justru dengan meyakini bahwa takdir Allah Swt memang ada, maka kita dituntut untuk senantiasa bertawakal kepada-Nya. Tawakal yang dimaksudkan tentu tidak bisa dipahami dengan kepasrahan total tanpa usaha. Tawakal merupakan upaya memenej kalbu kita agar lebih tegar, sabar dan optimis dalam menghadapi liku kehidupan di dunia dan di akhirat kelak. Berkenaan dengan hal ini, dalam beberapa ayat Allah menegaskan bahwa hanya Allah satu-satunya Dzat yang pantas untuk dijadikan sandaran (Q.S. 12: 67; Q.S. 14: 12; Q.S.39: 38) dan kita dituntut untuk melakukan usaha semaksimal serta seoptimal mungkin sebelum bertawakkal kepada-Nya(Q.S. 3: 159). Wallahu A’lamu bis Shawab.
Share This

1 comment:

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Featured post

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU TERKAIT FOKUS MASALAH YANG DIANGKAT DALAM DRAFT PROPOSAL PENELITIAN Dosen Pengampu: Dr. Anton Widyanto

Popular Posts

Search This Blog

Saleum

Selamat Datang di Forum Pembelajaran: Komunitas Pojok Kampus. Terima kasih atas kunjungannya.

Contact Me

Contact Form

Name

Email *

Message *