25 October, 2008

BOENTOET


Oleh: ANTON WIDYANTO

“Berapa yang keluar Pret ?”, tanya Amat sama Ilman yang julukannya si kampret itu suatu kali. Lelaki yang ditanya berbadan kurus, berambut kusam, sedikit hitam kemerah-merahan plus acak-acakan, dan berkumis lele (karena saking jarangnya sehingga mirip sungut lele), tanpa jenggot itu kontan menjawab dengan nada kecewa, “Aduh meleset lagi, meleset lagi !! Dasar busyet betul si Komar edan itu !!”.
“Emang kenapa ?”, selidik Amat, pengin tahu. “Yah …masak gara-gara dia, akhirnya tembakanku meleset satu angka. Padahal tadinya kalau aku tetap pasang instingku, pasti nembus. Dasar anjing !!!”. Semua umpatan dan kata-kata kasar yang pasti kotor, keluar begitu saja dari mulut comberan si kampret sebagai ungkapan kejengkelannya, tanpa dosa. Tampaknya ungkapan serupa telah menjadi sesuatu yang wajar, lumrah dan bahkan tidak dianggap kotor lagi di stand kecil tempat kedua insan itu bertemu. Sebab seolah-olah sudah menjadi suatu bumbu penyedap yang tidak akan enak bila tidak dicampurkan dengan rentetan jawaban-jawaban atau pernyataan-pernyataan mereka.
Di sepanjang perjalanan pulang, untuk kesekian kalinya Ilman membawa kembali seribu kekusutan. Pancaran sinar matahari yang terasa kurang akrab siang itu telah memaksa wajahnya yang suram, semakin tambah terlihat redup dengan basuhan keringat tak sedap yang melukis raut muka, badan dan kaos kusamnya. Tapi ia tidak peduli. Sebab dalam pikirannya masih bermunculan kutukan-kutukan terhadap nasib apes yang selalu menyapanya.. Terutama sekali pada si Komar yang ia anggap sebagai biang kerok kegagalannya di hari sial itu.
****
Ilman, pada awalnya adalah sosok seorang pekerja keras. Sedari pagi, kala sinar mentari membelai bumi, sampai malam tiba, manakala cahaya rembulan menyunggingkan senyum putihnya, dia terbiasa untuk menarik becak sewaannya. Mencari sesuap nasi. Tapi tentu saja dengan kondisi negara yang didera oleh cabikan-cabikan dan bahkan hampir kolaps sekarang ini, telah mengakibatkan pemasukannya semakin tidak mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari bersama istri dan kedua anaknya yang masih kecil-kecil. Satu berumur 1 tahun dan satu lagi menginjak kelas 2 SD. Sayang memang, ternyata hatinya terlampau rapuh untuk menerima segala bentuk kegagalan. Sehingga manakala usaha kerasnya mentok pada nasib tak mujur, dia mulai tidak percaya akan usaha keras tersebut. Usaha keras, baginya, adalah upaya sia-sia untuk menggapai sukses. Sebab sudah tersedia lahan subur yang bertebaran di mana-mana untuk mendapatkan duit tanpa kerja keras. Tak peduli entah halal atau haram. Bukankah di zaman yang bergerak mengglobal sekarang ini, batasan antara yang halal dan haram semakin kabur ? Sekarang, yang dia butuhkan adalah mukjizat. Ya..mukjizat ! Tidakkah sebagai kepala rumah tangga dia harus mengambil sikap ? Dan bukankah sekarang ini hampir tidak ada lagi para pemimpin bangsa yang ambil peduli dengan jeritan isi perutnya, perut istrinya dan perut kedua anaknya? Karena lihatlah mereka asyik bertengkar, berkelahi dan main ancam-ancaman. Jadi buat apa buang-buang waktu lagi ?!
Menjual mimpi agaknya adalah suatu pekerjaan yang lebih menarik daripada memeras keringat sampai berember-ember. Sebab dengan menjual mimpinya, Ilman merasa hidup ini lebih bisa diresapi, dinikmati dan dihayati. Karena mimpi indah di zaman yang serba susah dan semakin menyakitkan ini, adalah barang berharga yang barangkali telah sulit untuk didapatkan oleh orang-orang semacam dia. Dan itulah yang sedang Ilman lakukan saat ini. Bermimpi !!.
****
“Man …. Aduh, sudah kucari-cari ke mana kau pergi, rupanya di sini kau ngendonnya. Ayo pulang, cepat !”, bang Sitompul, tetangganya, yang orang Medan asli itu telah mengagetkan mimpi seorang Ilman yang sedang asyik kongkow dengan rekan-rekan seperguruan, para penjual mimpi. Nada bicaranya yang kental dengan nuansa kebatakannya, membuat Ilman tersentak kaget.
“Ada apa Bang !”, tanya Ilman pengin tahu walau dengan nada malas dan datar. “Ah…sudahlah. Yang penting kau pulang sekarang. Bini kau itu gelisah nunggu kau di rumah. Si Amin badannya panas. Ayo cepat pulang !”. Ah…Amin, anak keduanya yang baru berumur satu tahun sakit lagi. Dan bukannya Ilman tidak tahu bahwa anaknya yang terkecil itu sakit-sakitan. Dia tahu betul itu. Hanya saja entah kenapa dia menjadi bosan mendengar segala kabar penderitaan dan kesusahan dalam keluarganya. Sebab mimpinya selama ini selalu mengajarkan untuk membuang penderitaan-penderitaan dan menggantinya dengan kesenangan-kesenangan, walaupun hanya berujud mimpi.
Dengan langkah penuh keterpaksaan, Ilman berjalan gontai menuju rumahnya atau lebih tepatnya menuju ke penginapannya. Entah rasa-rasanya kali ini baru pertama kali ia pulang. Sebab selama ini ia lebih banyak menetap di tempat teman-teman sealirannya, seperguruannya, para “penggadai mimpi”. Bang Sitompul berjalan di depannya dengan langkah panjang dan cepat, bagaikan langkah jerapah. Sedangkan Ilman mengekornya di belakang dengan langkah siput. Sementara itu matahari yang tepat di atas kepala membuat kedua insan sejenis itu menelan ludah berkali-kali karena kehausan. Keduanya membisu dibelenggu oleh jalan pikirannya masing-masing.
Setelah berjalan melalui beberapa kelokan, masuk ke gang-gang sempit yang menghadirkan bau busuknya sampah di tengah-tengah perkampungan yang begitu padat, tiba-tiba jantung Ilman serasa berdegup kencang. Persis seperti kala ia dikejar anjing herder milik Pak Kristiadi karena mencoba mencuri mangga miliknya 25 tahun yang lalu. Degup-degup yang menggema tidak teratur dalam jantungnya itu terlihat semakin kencang tanpa ritme, manakala ia menerima pandangan sinis orang-orang kampung yang dijumpainya. Dia sama sekali tidak mengerti kenapa mereka harus memperlakukannya dengan sikap-sikap seperti itu. Dia juga tidak memahami sepenuhnya mengapa dirinya seakan-akan dipandang sebagai anjing buduk yang tidak ada harganya. Bah peduli amat dengan pandangan mereka. Bukankah mereka selama ini juga tidak mempedulikanku ?! Lihatlah bukankah orang-orang itu selama ini hanya sibuk mengurus diri mereka sendiri ? Karena mereka -sadar atau tidak- telah dirasuki arwah-arwah individualisme yang bergentayangan di zaman edan ini. Lalu mengapa pula sekarang mereka harus mencibirku, seakan-akan mereka berpura-pura memperhatikanku ?
Manakala jarak antara Ilman dengan rumahnya tinggal beberapa ratus meter lagi, dia merasakan kulitnya mengeluarkan bulir-bulir keringat dingin dan bahkan entah kenapa bulu kuduknya tiba-tiba berdiri, merinding. Sementara itu Bang Sitompul semakin mempercepat langkah siputnya, sehingga ia lebih dulu sampai di halaman rumah reyotnya. Ilman terheran-heran menyaksikan rumah reyotnya yang selama ini tidak pernah didatangi tamu, ternyata hari ini ramai dikunjungi orang-orang yang ia kenal sebagai tetangga-tetangganya. Keheranannya semakin menjadi-jadi saat ia harus menerima sorotan sinis yang keluar dari mata para pengunjung itu. Bahkan ada yang selepas mencibirkan senyum sinis, meludah beberapa kali ke tanah, seakan-akan ingin menelan Ilman bulat-bulat. Ada apa ini ?! Pertanyaan ini selalu terngiang-ngiang bagaikan gelombang radio di hati Ilman. Tapi tidak lama kemudian, setelah ia masuk ke dalam rumahnya, ia tahu jawabnya. Ia saksikan dengan jelas ada dua onggok benda yang satu kecil dan yang satu besar, sama-sama dibungkus kain jarit berwarna coklat kehitam-hitaman, membujur kaku dengan tenangnya. Dari sobekan kertas kecil hasil tulisan istrinya, ia menangkap pesan : “Aku terpaksa pergi menemani anakmu, si Amin, menuju alam baka. Dan tolong jaga anak pertama kita yang tersisa, agar tidak menjadi penjudi tengik sepertimu.”…


Silakan untuk Memberikan Komentar/Please give any comments on this article
Share This

1 comment:

  1. Saleum rakan.

    Bek tuwe support Aceh Blogger Days 2008 beh...

    ReplyDelete

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Featured post

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU TERKAIT FOKUS MASALAH YANG DIANGKAT DALAM DRAFT PROPOSAL PENELITIAN Dosen Pengampu: Dr. Anton Widyanto

Popular Posts

Search This Blog

Saleum

Selamat Datang di Forum Pembelajaran: Komunitas Pojok Kampus. Terima kasih atas kunjungannya.

Contact Me

Contact Form

Name

Email *

Message *