22 October, 2008

KITA BUTUH “LASKAR PELANGI” DI ACEH


Selama hampir dua bulan ini, “Laskar Pelangi” seolah-olah menjadi sebuah magnet. Beragam komentar dan pujian ditahbiskan untuk judul film yang diangkat dari sebuah novel ini. Banyak pihak yang mengaitkan kesuksesan film Laskar Pelangi dengan kesuksesan novel Andrea Hirata yang telah menjadi best seller terlebih dahulu. Ada pula yang mengaitkan kesuksesan Laskar Pelangi dengan iklan-iklan gratis yang dilayangkan orang-orang terkemuka di Indonesia mulai dari ketua umum ormas Muhammadiyah, Dien Syamsudin, bahkan sampai orang nomor 1 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bahwa film ini adalah film berkualitas serta layak ditonton. Terlepas dari sukses tidaknya film ini dalam menyedot jumlah jutaan mata penonton dan lembaran-lembaran fulus, harus diakui bahwa film ini memang berkualitas. Film ini berupaya menyampaikan pesan moral yang layak untuk dicermati secara arif oleh para pemegang kebijakan dalam dunia pendidikan baik pada tingkat nasional pada umumnya, maupun lokal, teristimewa di Nanggroe Aceh Darussalam yang selama ini seringkali disinyalir mengenaskan. Pertama, film Laskar Pelangi menegaskan signifikansi semangat menempatkan pendidikan sebagai investasi utama bagi pembangunan. Dalam konteks lokal, seringkali rendahnya kualitas pendidikan di Aceh selama ini dikaitkan dengan 2 peristiwa penting dalam sejarah Aceh: konflik bersenjata yang berkepanjangan dan tragedi Tsunami 2004. Sejarah mencatat bahwa konflik bersenjata yang berkepanjangan telah menyebabkan ratusan guru eksodus dan ratusan sekolah dibakar; sementara Tsunami telah pula memberi saham atas luluh lantaknya bangunan-bangunan sekolah yang pada umumnya tidak menjadi tumbal konflik. Namun demikian alasan-alasan historis di atas tidak sepatutnya dijadikan “alibi” lagi oleh masyarakat Aceh kontemporer. Sebab konflik bersenjata sudah usai setelah ditandatanganinya MoU Helsinki dan diundangkannya UU No. 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Merujuk pada amanat Wali, Dr. Tgk Hasan Muhammad Ditiro, bahwa pengorbanan pada masa konflik memang besar, namun perdamaian menuntut pengorbanan lebih besar lagi. Amanat ini secara implisit menyampaikan bahwa sudah saatnya masyarakat Aceh melihat kondisi sekarang dan mengisinya untuk masa mendatang. Kondisi damai pasca konflik yang secara perlahan telah melepaskan masyarakat Aceh dari keterjepitan di segala sektor selama berpuluh tahun, semestinya diisi dengan pembangunan dan pengembangan-pengembangan yang salah satunya adalah dengan menjadikan paradigma pendidikan sebagai investasi terpenting masa depan rakyat Aceh. Demikian pula halnya dengan isu Tsunami yang masih tidak jarang dijadikan kambing hitam atas merosotnya kualitas pendidikan di Aceh. Alasan ini juga tidak sepatutnya dijadikan “alibi” lagi. Rakyat Aceh sudah semestinya bangkit dari bayang-bayang Tsunami bahkan sebisa mungkin melepaskannya jauh-jauh agar paradigma mengharap bantuan bisa diganti dengan budaya kemandirian. Di sini bukan berarti kita harus melupakan sama sekali tragedi tsunami dalam sejarah Aceh , akan tetapi sepatutnya kita menempatkan isu Tsunami tersebut secara proporsional, bukan sebagai alasan-alasan pembenaran atas kegagalan dunia pendidikan di Nanggroe Aceh Darussalam. Masih terkait dengan semangat menjadikan pendidikan sebagai investasi terpenting pembangunan peradaban sebuah masyarakat, merujuk pada konsep hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan pendidikan, para ahli menyatakan bahwa antara keduanya memiliki keterkaitan yang sangat erat. Teori pertumbuhan/perkembangan dalam konteks ini menyatakan bahwa pengembangan sumber daya manusia merupakan investasi pada human capital. Maknanya bahwa pendidikan yang secara filosofis adalah ditujukan untuk memanusiakan manusia, di lain hal juga ditendensikan untuk memberikan wawasan secara menyeluruh agar potensi dan kapabilitasnya dapat ditingkatkan. Menyadari pentingnya pendidikan ini maka tidak mengherankan bila Konferensi Internasional tentang Pendidikan untuk Semua (Education for All) di Jomtien, Thailand pada tahun 1990 dan kemudian diperbarui dengan konferensi lanjutan di Dakar, Senegal pada tahun 2000 menyepakati target-target yang akan dicapai pada tahun 2015. Target tersebut meliputi enam hal yaitu: memperluas dan meningkatkan akses pendidikan anak usia dini (early childhood education); memastikan bahwa pada tahun 2015 semua anak, khususnya perempuan, anak-anak yang tidak mampu serta berasal dari etnik minoritas berhasil menyelesainya pendidikan dasar (primary education) yang berkualitas; memastikan bahwa kebutuhan belajar bagi pemuda dan orang dewasa terpenuhi melalui penyediaan program-program kecakapan hidup; pencapaian sebanyak 50% pemberantasan buta huruf, khususnya di kalangan perempuan; tercapainya keseimbangan gender pada tingkat pendidikan dasar dan menengah pada tahun 2015 dengan fokus pada pemberian kesempatan bagi anak-anak perempuan untuk menikmati pendidikan dasar yang berkualitas; serta meningkatkan keseluruhan aspek dari pendidikan yang berkualitas (sumber UNESCO). Meski tidak sedikit pihak yang memandang pesimis pencapaian target-target di atas dikarenakan terkesan terlalu ambisius dan kurang memperhitungkan secara cermat kondisi di lapangan (Cohen et.all, 2006), namun bukan berarti target tersebut mustahil diwujudkan. Yang perlu digarisbawahi di sini adalah bahwa kesadaran menjadikan pendidikan sebagai prioritas hendaknya menjadi kekuatan penyemangat utama yang ada di kepemerintahan Aceh dewasa ini, baik di tingkat provinsi maupun daerah. Oleh sebab itu itikad baik pengalokasian dana yang lumayan besar sebanyak 30% untuk sektor pendidikan di Aceh sudah selayaknya diawasi karena sangat bisa jadi tidak tepat sasaran dan rawan penyimpangan sebagaimana yang diangkat di media ini beberapa waktu lalu. Di sinilah perlunya urun tangan lembaga-lembaga swadaya masyarakat yang memiliki kepedulian untuk ikut serta melakukan pengawasan secara obyektif. Berikutnya, pesan lain yang disampaikan oleh film Laskar Pelangi adalah bahwa keterpaduan antara pelaksanaan proses pembelajaran dan keyakinan pada dimensi nilai-nilai relijiusitas serta kultural adalah suatu hal yang mutlak dilakukan. Hal ini bukan dikarenakan sekolah yang diangkat dalam film tersebut adalah sekolah Muhammadiyah yang nota bene merupakan ormas Islam, tapi ada pesan implisit bahwa menjadi manusia terdidik adalah bagian dari pengamalan nilai-nilai agama (baca: Islam). Keyakinan seperti ini, sekalipun sederhana dan mungkin juga dipandang remeh, menurut saya sangat penting. Sebab di tengah perkembangan masyarakat yang semakin konsumtif dan materialistis dewasa ini, paradigma yang menempatkan pendidikan sebagai ibadah semakin terkikis. Justru yang seringkali mencuat ke permukaan adalah bahwa pendidikan untuk uang. Tidak mengherankan bila ada anak-anak yang nekat drop out dari sekolah bukan karena alasan tidak ada uang, tapi karena alasan bahwa sekolah hanya mencetak kaum pengangguran. Pandangan pesimistis seperti ini sudah semestinya dibuang karena menyesatkan dan cenderung mengabaikan pesan-pesan dari Islam sendiri dalam hal anjuran menuntut ilmu. Menuntut ilmu pengetahuan dalam Islam adalah ibadah dan karena itu dipandang sebagai perbuatan mulia. Islam tidak mengenal dikotomisasi antara ilmu agama dan non agama (sekuler). Islam memandang bahwa ilmu pengetahuan adalah milik Allah Swt yang diperuntukkan bagi manusia agar lebih dapat mengenal, mengagungkan dan mendekatkan diri pada Tuhannya. Karena itu tidak bisa dinyatakan bahwa orang yang belajar di pesantren adalah lebih mulia dibanding dengan orang yang belajar di luar pesantren, atau sebaliknya. Kesemuanya di mata Allah Swt adalah makhluk-makhluk mulia asal senantiasa melandasi niatannya dengan ibadah. Wallahu a’lam bis Shawab.
Please give any comments on this article
Share This

2 comments:

  1. Aceh tetap harus merdeka! Subhanallah yang telah mengangkat Aceh melewati cobaan bencana, dan kini saatnya Aceh melewati masa2 kebebasannya untuk bernegara dan berpolitik.
    Terlepas dari NKRI yang telah menzalimi tanah rencong!!

    ReplyDelete
  2. ho..oh..kalo' di jawa ada laskar pelangi, sudah saat di Aceh ada Laskar Tsunami... ayoo bikin....

    ReplyDelete

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Featured post

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU TERKAIT FOKUS MASALAH YANG DIANGKAT DALAM DRAFT PROPOSAL PENELITIAN Dosen Pengampu: Dr. Anton Widyanto

Popular Posts

Search This Blog

Saleum

Selamat Datang di Forum Pembelajaran: Komunitas Pojok Kampus. Terima kasih atas kunjungannya.

Contact Me

Contact Form

Name

Email *

Message *