22 October, 2008

REFLEK

Pagi itu, Minggu,26 Desember 04, sekitar jam 7 pagi , saya sedang asyik menemani buah hati tercinta yang baru berusia 2 tahun di depan rumah. Biasanya memang kami melakukan jalan-jalan pagi di seputaran Darussalam, Banda Aceh, sementara istri saya berkutat dengan urusan dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.
Sekitar jam setengah 8, HP saya tiba-tiba berdering. Rupa-rupanya teman saya mengingatkan bahwa pada hari itu saya menjadi juri Festival Anak Saleh bidang muhadatsah (percakapan) bahasa Arab dan bahasa Inggris. Setelah saya tutup pembicaraan, saya lanjutkan bermain dengan anak saya beberapa saat, kemudian sayapun bersiap-siap melaksanakan mandi pagi.
Tanpa ada firasat apa pun, seperti biasa, saya memulai mandi pagi dengan gosok gigi kemudian dilanjutkan dengan menyabun seluruh tubuh. Karena kepala saya terasa gatal, pagi itu saya menambahkan dengan berkeramas. Saat itulah saya mulai merasa ada yang tidak beres. Sebab saya merasa lantai tempat saya berpijak bergoyang. Pada awalnya saya tidak terlalu mempedulikan, sebab yang terlintas di benak saya ketika itu hanya gempa biasa yang lamanya paling beberapa detik. Ternyata apa yang saya bayangkan tersebut meleset, sebab goyangan gempa dari yang semula pelan, semakin lama semakin keras bahkan menghentak-hentak Saya lihat air di dalam sumur bergemerecak suaranya, sementara papan dan kayu rumah saya rame-rame berderit. Istri dan adik ipar saya sudah keluar rumah duluan seraya berteriak memanggil-manggil saya.
Secara reflek, tangan saya menyambar handuk dan mengikatkannya di pinggang, tanpa terpikir lagi mengenakan baju, celana atau bahkan (maaf) celana dalam. Semuanya serba cepat. Sayapun bergegas dengan terhuyung-huyung keluar saking kerasnya gempa. Selama beberapa menit, di depan rumah, kami berjongkok seraya berpegangan pada jeruji pagar. Kami benar-benar dibelenggu ketercekaman. Demikian pula dengan tetangga-tetangga kami. Bagaikan koor, masing-masing orang mengucapkan Lailaha illallah tiada henti. Pohon-pohon, kabel listrik, air di selokan dan rumah-rumah papan semuanya bergoyang tiada henti, mengeluarkan suara khas masing-masing.
Ketika gempa dipastikan reda, saya lihat istri yang berada di samping saya tersenyum simpul. Saya baru tersadar bahwa tubuh saya masih dibalut sabun, sementara kepala saya juga masih berlumuran shampoo yang kesemuanya hampir mengering. Saya lihat ke bawah, Masya Allah, ikatan handuk hampir terlepas. Untung saya dalam posisi jongkok, sehingga tidak berakibat “fatal”. Dengan perasaan malu (karena tak luput jadi perhatian tetangga), sayapun langsung “terbang” menuju kamar mandi dan melanjutkan acara mandi yang sempat terputus tadi.

Please give any comments on this article
Share This

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Featured post

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU TERKAIT FOKUS MASALAH YANG DIANGKAT DALAM DRAFT PROPOSAL PENELITIAN Dosen Pengampu: Dr. Anton Widyanto

Popular Posts

Search This Blog

Saleum

Selamat Datang di Forum Pembelajaran: Komunitas Pojok Kampus. Terima kasih atas kunjungannya.

Contact Me

Contact Form

Name

Email *

Message *