19 November, 2008

“MENYONGSONG BIDADARI"


Oleh: Anton Widyanto
Tulisan ini dimuat juga di Harian Serambi Indonesia Rabu 19/11/08)

Usai sudah cerita trio bomber Bali kelabu, Amrozi, Mukhlas dan Imam Samudra. Setelah melalui proses hukum yang panjang, hukuman mati yang dijatuhkan kepada mereka beberapa tahun silam dilaksanakan juga di hari Sabtu tanggal 8/11/2008. Ribuan polisi diturunkan. Tak ketinggalan media-media nasional maupun internasional juga ikut memberitakan. Ketika jenazah mereka diantarkan pulang ke rumah masing-masing almarhum, ribuan orang kemudian datang melayat. Terlepas dari motivasi mereka apakah sekedar ingin tahu, ingin mendoakan, ingin menunjukkan solidaritas atau mungkin ada alasan-alasan lain, yang jelas kasus Amrozi cs ini cukup menyedot perhatian banyak pihak. Pertanyaannya kemudian, apakah dengan dilaksanakannya eksekusi mati atas Amrozi cs, terorisme di Indonesia khususnya dan di dunia pada umumnya akan berakhir?

Berbicara tentang Amrozi cs, khususnya terkait dengan pemahaman keberagamaan dan keberislamannya memang menarik. Mereka adalah tipologi orang-orang yang memahami ajaran Islam secara literal. Bagi mereka, peristiwa pengeboman bom Bali di tahun 2002 yang mereka lakukan adalah bagian dari Jihad fi sabilillah. Jihad terhadap kezaliman dan kemaksiatan. Di mata mereka, daerah Bali adalah daerah sumber maksiat. Tempat berkumpulnya orang-orang bule “kafir” yang telah menindas orang-orang Islam di dunia. Karena itu, membasmi orang-orang yang bermaksiat sedemikian rupa adalah sejalan dengan ajaran jihad dalam Islam. Kalaupun kemudian ternyata yang menjadi korban justru tidak sedikit dari kalangan sesama muslim dan anak-anak tak berdosa, bagi mereka adalah sebuah konsekuensi dari sebuah “perjuangan”. Berdasarkan ideologi jihad seperti inilah mereka memiliki keyakinan bahwa kalaupun mereka dihukum mati, mereka adalah para syuhada’ yang akan menghuni surga-Nya.
Lebih dari itu, pemerintah yang menjatuhkan hukuman berdasarkan undang-undang negara dianggap pemerintah yang zalim karena bukan pemerintah Islam. Mereka tidak percaya dengan KUHP, karena KUHP adalah produk orang-orang “kafir”. Mereka menolak keras proses hukuman mati dengan menggunakan cara tembak, karena menurut pemahaman mereka, cara seperti itu tidak sesuai dengan syari’at Islam. Proses eksekusi hukuman mati yang “Islami” di mata mereka adalah dengan cara dipancung. Mungkin logika sederhananya karena tidak ada satupun kasus dalam sejarah Islam yang mempergunakan tembak untuk mengeksekusi mati terpidana. Apalagi tidak ada satu ayat atau haditspun yang menyatakan penggunaan tembak sedemikian rupa.
Pemahaman keberagamaan dan keberislaman Amrozi Cs bercirikan eksklusifisme ala kaum literalis. Mengacu pada aliran-aliran dalam sejarah ilmu kalam (teologi Islam) pemahaman mereka mirip dengan pemahaman kaum khawarij. Kaum khawarij dikenal sebagai kaum yang sangat taat dalam menjalankan ibadah mahdhah seperti shalat, puasa, zakat dsb. Muhammad Abu Zahrah dalam Tarikh Madzahib al-Islamiyyah (Sejarah madzhab-madzhab dalam Islam) menceritakan bahwa mereka terkenal sebagai orang-orang yang sangat radikal dalam memahami Islam. Mereka pada umumnya sangat gigih dan kental dalam mempertahankan argumen kemadzhabannya, serta sangat mudah menyerang pihak lain yang berbeda pemahaman. Shalat yang mereka kerjakan dengan begitu intensnya telah memberikan “tanda hitam” di dahi mereka karena kebanyakan sujud; demikian pula tangan mereka mengeras bagaikan “lutut unta” karena banyak bekerja. Syair-syair merekapun banyak yang menyuarakan upaya pensucian dan pendekatan diri kepada Allah Swt (Ali Jaffal, al-Khawarij Tarikhuhum wa Adabuhum, 1990). Hanya saja, dengan model pemahaman keberislaman dan keberagamaan yang sempit, kaum ini dikenal sebagai kaum yang gampang sekali menumpahkan darah. Semboyan agung mereka: “Tidak ada hukum kecuali hukum Allah (La hukma illa lillah)” dijadikan senjata untuk mengkafirkan saudara sesama muslim yang berbeda pemahaman, bahkan mereka tidak segan-segan untuk membunuh. Hal ini dikarenakan konsep kebenaran beragama menurut mereka adalah yang mereka lakukan sendiri. Sementara yang dilakukan oleh orang di luar mereka adalah bagian dari kesesatan, sekalipun orang itu sama-sama mengucapkan dua kalimat syahadat. Klaim-klaim kebenaran serupa ini menjadikan khawarij sebagai kaum eksklusif dan hanya memiliki sedikit pengikut, bahkan ada yang mensinyalir sudah punah.
Kembali pada persoalan Amrozi Cs, ideologi yang mereka bangun sebagaimana yang diungkapkan beberapa kali di media massa (cetak maupun elektronik) terlihat mereka memiliki kemiripan dengan ideologi khawarij di atas. Kebencian mereka pada Amerika dibungkus dengan justifikasi ajaran-ajaran Islam untuk melakukan pengeboman. Seolah-olah Islam adalah agama yang menghalalkan penumpahan darah orang-orang tak berdosa; momok mengerikan yang siap menerkam atau mencabik-cabik orang yang punya keyakinan berbeda. Sebuah keyakinan yang absurd dan justru kontraproduktif dengan misi Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Keberadaan Amrozi Cs juga mengindikasikan bahwa ideologi khawarij masih berkembang di era kontemporer. Meskipun mereka bertiga sudah wafat, bukan berarti ideologi yang mereka miliki sudah tamat. Karena dalam sejarah agama-agama, senantiasa ada saja kelompok yang bersifat eksklusif. Ringkasnya, fundamentalisme dalam beragama tidak hanya mutlak terjadi dalam Islam, akan tetapi sebenarnya juga terjadi pada agama-agama yang lain.
Seorang teman saya bertanya, apakah alm. Amrozi Cs dapat dikatakan sebagai syuhada’ sebagaimana diyakini oleh para pengikutnya? Karena saya bukan seorang pakar, saya hanya bisa menjawab bahwa kadangkala dalam konsteks tertentu terma syuhada’ bersifat subyektif, tergantung dari sisi mana dipandang dan siapa yang memandang. Bagi orang-orang yang menganggap bahwa aksi pengeboman yang dilakukan Amrozi cs adalah jihad fi sabilillah, maka mereka pasti berkeyakinan bahwa Amrozi Cs adalah para syuhada’ yang dengan demikian akan disambut “bidadari” di surga. Tapi bagi orang-orang yang menganggap mereka sebagai pembunuh ratusan nyawa, tentu mereka akan memposisikan Amrozi cs sebagai pendosa kelas berat dan sudah barang tentu tidak akan disambut “bidadari” di sorga. So, terserah saja kita mau pilih yang mana, karena mendebatkan pertanyaan ini juga tidak begitu penting. Ada yang lebih penting dari itu yaitu doa. Semoga saja peristiwa bom Bali tidak akan terulang lagi di Nusantara. Amin.


Silakan untuk Memberikan Komentar/Please give any comments on this article
Share This

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Featured post

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU TERKAIT FOKUS MASALAH YANG DIANGKAT DALAM DRAFT PROPOSAL PENELITIAN Dosen Pengampu: Dr. Anton Widyanto

Popular Posts

Search This Blog

Saleum

Selamat Datang di Forum Pembelajaran: Komunitas Pojok Kampus. Terima kasih atas kunjungannya.

Contact Me

Contact Form

Name

Email *

Message *