29 January, 2009

DEMAM OBAMA; SEBUAH CATATAN PINGGIR

Oleh: Anton Widyanto

“Luar biasa”, itulah kesan yang mengemuka ketika Presiden Amerika ke-44, Barrack Husein Obama resmi dilantik. Jutaan mata yang menyaksikan secara langsung inaugurasi di Washington, ditambah jutaan mata yang menyaksikannya lewat channel stasiun televisi maupun internet (misalnya lewat jejaring social semacam Facebook) di seluruh dunia mengindikasikan betapa sosok Obama menjadi magnet di awal tahun 2009 ini. Bahkan ada yang mensinyalir berjubelnya lautan manusia di tengah-tengah musim dingin yang menggigit tulang saat pelantikan Obama, tak ubahnya seperti konser musik. Obamapun dielu-elukan bak selebritis.


Magnet yang ditebar Obama memang bukan hanya karena ia adalah orang kulit hitam pertama di Amerika yang dipilih menjadi presiden, atau keahlian orasinya yang mampu membangkitkan semangat, akan tetapi juga karena ia berada pada momentum yang tepat. Ia terpilih di saat warga Amerika haus akan perubahan,
khususnya pengentasan dari krisis ekonomi yang beberapa waktu lalu diprediksi akan berjalan lama. “Change we can believe in” yang dikobarkan saat masa-masa kampanye pilpres lalu oleh Obama telah memberikan semangat baru bagi warga Amerika untuk menatap masa depan yang lebih baik. Banyak harapan yang digantungkan di pundak Obama, baik dari warga Amerika maupun dunia. Harapan-harapan yang sedemikian besar tentunya akan menjadi boomerang bila ternyata sang presiden terpilih tidak mampu memenuhinya. Namun terlepas dari itu, ada beberapa catatan kecil yang bisa kita jadikan pelajaran berharga dari proses terpilih dan pelantikan Obama.
Pertama, masa kampanye. Dari sejak masa kampanye, Obama mengedepankan komunikasi politik yang mencerdaskan. Meski ia seringkali disudutkan dengan isu-isu tertentu oleh pihak Mc Cain-Palin ketika itu, ia dan timnya berupaya menyikapi sodokan-sodokan itu dengan arif. Menariknya, di dalam ajang debat terbuka, yang berperan adalah “perang otak”. Kedua pihak yang bersaing beserta pengikutnya tersebut sama sekali tidak mengedepankan “perang otot “. Ketika pihak Mc Cain-Palin telah betul-betul kalah, mereka dengan kesatria menerima hasil yang ada. Bahkan dalam “pidato kekalahannya”, Mc Cain menentramkan para pendukungnya agar mengakui kemenangan Obama dan memberikan dukungan padanya. Hal ini tentu merupakan pelajaran berharga sebagai pendewasaan berpolitik di negeri kita khususnya dalam Pemilu legislative dan Presiden 2009 mendatang. Apalagi dalam konteks Aceh memiliki kekuatan tambahan partai-partai lokal yang mengindikaskan semakin ketatnya kompetisi yang akan terjadi. Selama ini tidak jarang ada partai politik yang menjadikan etika dan pendidikan politik sebagai pemanis bibir (lips service). Adanya Caleg yang berijazah palsu, terjadinya kerusuhan antar partai saat kampanye, intimidasi politik terhadap pihak yang berbeda haluan, permainan politik uang dsb adalah cerminan kecil betapa etika dan pendidikan politik di negeri kita perlu senantiasa dicerdaskan. Harus diakui bahwa semua ini bukan hal yang mudah. Semua membutuhkan waktu untuk berproses. Tapi kalau proses ini tidak dimulai dan dibudayakan, tentu pemanis bibir itu akan tetap menjadi lipstick belaka.
Kedua, semangat optimisme. Dari sejak masa kampanye sampai dengan pelantikannya, Obama selalu menitikberatkan rasa optimis di dalam orasinya. Hal ini tentu saja penting, apalagi di tengah-tengah kenyataan goyangnya sendi ekonomi negara adidaya ini. Optimisme memang harus selalu ditanamkan. Sebab seperti kata orang bijak, optimisme adalah kemenangan untuk membuka kemenangan selanjutnya.
Bangsa ini, khususnya rakyat Nanggroe Aceh Darussalm memang membutuhkan optimisme dalam menghadapi masa depan. Di tengah segala macam persoalan yang ada mulai dari bencana alam, pengangguran, kemiskinan dsb, optimisme untuk bisa bangkit perlu senantiasa dipupuk. Pemimpin yang optimis adalah pemimpin yang visioner, arif dan bijak dalam menjalankan kepemimpinannya. Pemimpin seperti inilah yang diharapkan dapat kita pilih pada Pemilu legislative maupun Presiden di tahun 2009 ini.
Ketiga, di belakang sosok Obama yang mampu menimbulkan Obama mania di berbagai belahan dunia, jangan lupa, ada sosok Michelle, sang istri yang cukup berpengaruh. Ibu negara termuda Amerika setelah Jackie Kennedy itu sebenarnya bukan “wanita rumahan”. Ia pernah menjadi Wakil Pemimpin Universitas Chicago selama tujuh tahun lebih dan akhirnya jabatan tersebut dilepaskan saat sang suami terpilih menjadi presiden.
Dalam kehidupan politik Obama, Michelle adalah orang yang sangat berjasa. Tidak mengherankan bila dalam beberapa kali pidatonya, Obama dengan tulus mengucapkan rasa terima kasih kepadanya. Yang menarik, meskipun ia memiliki karir yang cukup memuaskan, perhatiannya terhadap kedua anaknya, Malia dan Sasha, adalah tetap merupakan prioritas. Ketika suaminya memenangkan Pilpres, dia pernah menyatakan, “Anak-anak saya adalah yang pertama kali saya lihat saat bangun tidur, dan yang terakhir kali saya lihat saat mau tidur”. Sebuah pernyataan indah dari seorang ibu yang memperhatikan perkembangan kehidupan anaknya.
Ada anggapan sebagian orang bahwa wanita karier adalah wanita yang tidak bertanggung jawab karena akan melalaikan kewajibannya dalam mendidik anak. Anggapan seperti ini tentu saja tidak benar dan perlu diluruskan, sebab kenyataannya banyak wanita karir yang justru bisa menyeimbangkan antara mendidik dan mengasuh anak dengan karirnya, contoh sederhananya adalah Michelle Obama.
Menutup catatan kecil ini, harus diakui bahwa Obama adalah sosok fenomenal di awal tahun 2009 ini. Di balik segala kelebihan yang ia miliki, sebagai manusia biasa, tentu ia juga memiliki kekurangan. Ia bukan Superman, dan istrinya tentu juga bukan Superwoman. Besarnya harapan yang digantungkan oleh masyarakat lokal Amerika maupun dunia di satu sisi merupakan hal positif yang bisa dijadikan kekuatan oleh Obama. Namun di sisi lain, hal sedemikian rupa bisa menjadi boomerang bila memang tidak bisa terpenuhi. Pada akhirnya semua pemberi harapan menunggu aksi Sang Presiden ke 44 Amerika tersebut, apakah ia akan mampu memenuhi janji yang diobralnya saat kampanye ataukah tidak. Bagi umat Islam, harapan terbesarnya tentu agar Obama dapat membawa kesejukan dan kemajuan di negara-negara muslim, dan bukan penindasan, kecurigaan maupun pengebirian sebagaimana yang ditunjukkan oleh pendahulunya. Pertanyaannya, mampukah Obama mewujudkan itu semua? Wallahu A’lam bis Shawab.
Silakan untuk Memberikan Komentar/Please give any comments on this article
Share This

2 comments:

  1. Bila Obama merupakan "Icon" perubahan untuk bangsa Amerika kita pantas memberi selamat kepada mereka , rasanya mereka menuju kepada perubahan yang benar, "sebuah perjuangan yang luar biasa"

    Yang membuat saya sedih adalah perubahan yang dibuat oleh bangsa kita Indonesia, contohnya kalau dulu kita punya 3 Partai Politik sekarang 43 Partai? apa bukab perubahan yang kebablasan? mengapa tidak ada pemimpin yang sadar bahwa perubahan itu salah? dan rakyat menjadi bingung?

    Para pejabat hanya berebut kursi dan uang saja tidak melakukan kewajibannya, tidak pernah mau berubah?

    Sebagian rakyat kita juga sepertinya ikut tidak sadar, terbawa arus , demi uang segala cara dihalalkan ?

    Kapan ya mental bangsa kita bisa berubah?

    ReplyDelete
  2. Memang betul kata bung anton, obama terpilih saat americans haus akan perubahan. Satu 'kehausan' mereka adalah haus akan profil pemimpin baru yang diharapkan lebih elegan. Dalam hal ini konteks rasism telah agak terkikis. Mungkin para americans sudah jenuh dengan kepemimpinan 'kulit putih'. namun ada satu yang tidak berubah, loby zionis tetap mempengaruhi kemenangan Obama. Terbukti, saat Obama memberi statemen dukungannya kepada israel dan 'menyudutkan Iran, popularitas Obama langsung meroket. Ini perlu menjadi catatan tersendiri.

    Hikmahnya untuk Aceh kita, ada kemiripan dgn kemenangan luar biasa partai Aceh di DPRA. Masyarakat jenuh dengan caleg 'non PA', sebuah moment yang tepat untuk suatu perubahan

    ReplyDelete

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Featured post

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU TERKAIT FOKUS MASALAH YANG DIANGKAT DALAM DRAFT PROPOSAL PENELITIAN Dosen Pengampu: Dr. Anton Widyanto

Popular Posts

Search This Blog

Saleum

Selamat Datang di Forum Pembelajaran: Komunitas Pojok Kampus. Terima kasih atas kunjungannya.

Contact Me

Contact Form

Name

Email *

Message *