06 January, 2009

PBB PUN “SANGAK"

Oleh: Anton Widyanto. Tulisan ini juga dimuat di Harian Serambi Indonesia, 03 Januari 2009.

Sejak Sabtu 27/12/08, Palestina kembali menggelegak. Tak terhitung berapa jumlah misil yang dimuntahkan, yang jelas ratusan orang termasuk anak-anak tak berdosa meninggal dunia, sementara ribuan orang terkapar dalam keadaan luka-luka. Adalah Israel yang lagi-lagi membuat ulah. Peristiwa miris ini menjadi salah satu catatan ironis di akhir tahun 2008.
Solidaritas muslim globalpun menggema. Kecaman dari berbagai pihak di negara-negara berpenduduk muslim dilontarkan atas tindakan brutal Israel. Ribuan orang dari berbagai negara bahkan siap untuk diterjunkan ke negara yang tak pernah sepi dari konflik bersenjata itu. Namun seperti biasa, sang polisi dunia, Amerika, berdiri dalam posisi membela tindakan brutal yang dilakukan Israel tersebut dan justru menyalahkan Hamas atas kekacauan yang terjadi



Bagaimana dengan PBB? Yang saya maksud di sini tentu bukan Pelatihan Baris Berbaris, dan juga bukan nama sebuah lorong di kawasan Darussalam, Banda Aceh. PBB yang saya maksudkan di sini adalah Perserikatan Bangsa Bangsa (United Nations). Sebuah badan yang diakui selama ini sebagai organisasi paling berpengaruh dengan anggota negara-negara dari berbagai benua di planet bumi. Sebuah badan yang semestinya dapat menjadi institusi pengontrol dan penengah atas konflik bersenjata di dunia atas nama kemanusiaan terlepas dari agama, bangsa, suku, ras, bahasa, ataupun warna kulit. Tapi sekali lagi PBB hanya mengecam, itupun gara-gara dua gedungnya tak luput dari sasaran serangan udara militer Israel, selebihnya lembaga ini kembali “sangak”.
“Kesangakan” PBB tentu bukan tanpa alasan, karena memang Sang Polisi Dunia sepertinya menghendaki demikian. Hitam-putihnya lembaga internasional ini seolah-olah memang tidak bisa dilepaskan dari titah Sang Polisi Dunia. Ketika Iraq dicurigai sebagai negara yang potensial menyebarkan aroma terror di dunia dengan senjata biologisnya, PBBpun ikut mendukung rencana pembasmian Saddam beserta antek-anteknya. Persoalan kemudian ternyata tidak ditemukan senjata biologis yang dicurigai, sementara perang yang dikobarkan telah membawa korban ribuan nyawa dan harta benda yang tak terhitung banyaknya, Sang Polisi Dunia itu hanya cukup mengumbar maaf, sementara PBB –sekali lagi- hanya bersikap “sangak”.
Ketika Iran berupaya membangun peradabannya dengan cara mengembangkan nuklir untuk kepentingan kemanusiaan, mata Sang Polisi Dunia pun melotot seraya mengumandangkan kecurigaan baru. Gayungpun bersambut. Untuk mengimbangi dan bahkan meyakinkan kecurigaan Sang Polisi Dunia, sang kawan karib, Israel, pun langsung menyambut siap sedia untuk menghanguskan negeri syi’ah itu. Bagaimana dengan PBB? No doubt folks, it always ready to be “sangak”.
Tapi tunggu dulu. PBB sebenarnya juga tidak selalu bersikap “sangak”, khususnya ketika berhadapan dengan kasus-kasus yang timbul di negara-negara yang katanya “berperadaban”. Salah satu contoh kecil yang tentunya banyak pihak mengetahuinya adalah ketika menara kembar, WTC, simbol kebanggaan Sang Polisi Dunia diusik sekitar 7 tahun lalu. Siapa pun yang berhati nurani terlepas dari agama, keyakinan, jenis kelamin, ras, bahasa atau warna kulitnya, tentu akan mengutuk kejadian tersebut. Masalahnya bukan itu, masalahnya adalah ketika peristiwa itu terjadi sedemikian rupa, PBB tidak sesangak ketika Israel membombardir rakyat Palestina. Dengan begitu cepat lembaga ini kemudian ikut merespon proklamasi perang terhadap terorisme global yang dikumandangkan oleh Sang Polisi Dunia. Bahkan selanjutnya, perang terhadap teorisme global, telah menjadi senjata ampuh untuk membungkus segala kepentingan tertentu baik ekonomi maupun politik.
***
Kesangakan PBB khususnya ketika harus selalu tunduk di bawah komando Sang Polisi Dunia, sementara negara-negara lain “yang kurang diperhitungkan” seperti negara-negara berkembang hanya menjadi pelengkap anggotanya saja, tentu merupakan fakta yang menyedihkan. Jika demikian adanya, maka akan dibawa kemanakah PBB itu? Apakah “organisasi Amerika” tersebut masih tetap harus dipertahankan?
Memang untuk menjawab persoalan ini tidaklah semudah “membeli rokok di Indonesia”, sebab harus diakui bahwa Amerika merupakan satu-satunya negara terkuat saat ini yang paling banyak memegang kendali di berbagai sektor mulai ekonomi sampai dengan militer. Sehingga menuntut pembubaran PBB, sama saja dengan menggoyang “marwah” Amerika. Organisasi ini pada dasarnya membutuhkan penyegaran-penyegaran (refreshment) bahkan rekonstruksi. Tentu saja penyegaran dan atau rekonstruksi sedemikian rupa memungkinkan. Hanya saja, sekali lagi, ini bukan sebuah pekerjaan yang ringan dan sederhana.
Menurut penulis, sudah saatnya masyarakat dunia berpikir ke arah sana. Sebab dengan membiarkan PBB “bersangak ria” sedemikian rupa, sama saja kita membiarkan dunia berada pada kezaliman-kezaliman dan keberpihakan-keberpihakan yang berbau Amerikanisme.
Yang jelas, salah satu kunci dasar yang penulis perlu tekankan di sini adalah bahwa kita harus bisa memposisikan Amerika sebagai sebuah negara dan bukan sebagai “Tuhan dunia”. Hanya dengan demikianlah upaya rekonstruksi terhadap PBB tersebut bisa diwujudkan secara nyata.

Silakan untuk Memberikan Komentar/Please give any comments on this article
Share This

1 comment:

  1. PBB impoten bang, kayaknya perlu ada "PBB" yang baru. buat sendiri kalee :D

    ReplyDelete

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Featured post

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU TERKAIT FOKUS MASALAH YANG DIANGKAT DALAM DRAFT PROPOSAL PENELITIAN Dosen Pengampu: Dr. Anton Widyanto

Popular Posts

Search This Blog

Saleum

Selamat Datang di Forum Pembelajaran: Komunitas Pojok Kampus. Terima kasih atas kunjungannya.

Contact Me

Contact Form

Name

Email *

Message *