15 January, 2009

SEPATU, BATIK DAN MASS CONSUMPTION

Oleh: Anton Widyanto. Tulisan ini dimuat di Harian Serambi Indonesia, 14 Januari 2009

"Eh...coba sepatunya merek apa?" tanya Wapres Jusuf Kalla kepada Menteri Perindustrian Fahmi Idris dan Menteri Pertanian Anton Apriantono pada saat rapat khusus soal maksimalisasi produksi pupuk di Istana Wakil Presiden (Kompas, 9/1/09). Berita kecil sedemikian rupa mungkin bagi sebagian kita dianggap bukan berita, walaupun sebenarnya berita “remeh” itu penting artinya. Bukan hanya karena yang menanyakannya adalah orang nomor 2 di Indonesia, akan tetapi lebih dari itu, terdapat makna penting yang mau disampaikan di balik pertanyaan “sepele” tersebut.

Di alam global tanpa sekat yang banyak menawarkan berbagai macam isme dewasa ini termasuk di antaranya adalah konsumerisme (consumerism) yang kemudian salah satunya melahirkan budaya konsumsi massa (mass consumption), persoalan sepatu yang sederhana itu bisa menjadi penting. Mass consumption secara sederhana dapat dipahami sebagai tindakan mengkonsumsi suatu obyek secara besar-besaran. Di dalam mass consumption, dimungkinkan adanya jutaan orang di dunia yang mengendarai mobil, memakan jenis makanan, memakai HP, baju, celana, sepatu atau parfum, ataupun menonton film tertentu yang relatif hampir sama. Ada banyak hal yang ikut andil menumbuhkembangkan mass consumption ini mulai dari media massa, komunikasi massa, marketing global dst (Belk: 2007). Kesemuanya tentu juga tidak bisa dilepaskan dari revolusi luar biasa dalam bidang teknologi informasi.
Kembali pada perbincangan tentang signifikansi sepatu yang ditanyakan Jusuf Kalla kepada menterinya, pada dasarnya terkait dengan bagaimana kita menghargai dan membanggakan diri dengan karya anak negeri. Betapa banyak di antara kita yang seringkali terjebak pada asosiasi-asosiasi bahwa barang (apa pun jenisnya) kalau bukan produk luar negeri, adalah tidak berkualitas. Sebaliknya, barang (apa pun jenisnya) kalau sudah ada embel-embel impor atau merek “keinggris-inggrisan”, langsung dinilai bagus. Tanpa sadar akhirnya kitapun menjadi latah dengan beragam iklan yang menyerbu layar kaca, media cetak atau bahkan media maya setiap hari yang memang di antaranya bertujuan untuk menggiring kita membeli sebuah produk.
Ketika seseorang mengkonsumsi benda yang ditawarkan, pada dasarnya dia juga ikut mengkonsumsi “makna” di balik benda tersebut. Sebagai contoh kecil, ketika seseorang mengkonsumsi pizza, maka makna yang ikut dikonsumsi di baliknya adalah simbol modernitas dan status sosial, sehingga mereka bisa saja menilai orang yang mengkonsumsi kuah pliek u dan tidak doyan mengunyah pizza sebagai manusia yang tidak kenal modernitas, ketinggalan zaman dst. Makna di balik benda yang dikonsumsi itulah yang seringkali menyesatkan sebenarnya. Sayangnya produk-produk dalam negeri kebanyakan kalah dalam menjual “makna” di balik benda yang dijual tersebut. Hal ini kemudian menjadikan produk dalam negeri tidak bisa menjadi tuan di rumah sendiri, apalagi di luar negeri. Sebagai contoh, perajin sepatu dan sandal di Desa Mojosantren, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, tidak Pe De memakai embel-embel Indonesia untuk produknya. Mereka mengatakan bahwa nilai jual sepatu dan sandal yang mereka produksi jika diberi merek "Made in Indonesia" akan memiliki nilai jual rendah. Karena itu agar laku di pasaran, para perajin kerap memasang merek "Made in Singapore" atau "Made in Japan" (Kompas, 22/12/08).
Fakta di atas tentu ironis mengingat sebenarnya kemampuan masyarakat bangsa ini, sumber daya alam, maupun kekayaan budaya yang ada tidak kalah dibandingkan dengan masyarakat bangsa yang lain. Sebagai contoh, Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), UNESCO, rencananya akan menetapkan Batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia non kebendaan pada Mei 2009 setelah sebelumnya diusulkan oleh Pemerintah Indonesia (Kompas, 7/1/09). Hal ini tentu sebuah prestasi yang membanggakan sekaligus menjadi bukti bahwa bangsa ini sebenarnya bisa ikut bersaing di kancah perekonomian global. Untuk itu, maka salah satu kuncinya adalah dengan membudayakan gerakan cinta produk lokal dan dalam negeri.
Gerakan cinta produk dalam negeri memang bukan hal yang baru digalakkan di negeri ini. Hanya saja gemanya mungkin selalu kalah bingar dengan membanjirnya produk-produk impor yang mampu menawarkan persaingan harga maupun mutu. Apalagi para tokoh-tokoh panutan negeri yang menduduki posisi penting dalam kepemerintahan maupun sosial kemasyarakatan justru ikut-ikutan latah “anti” produk dalam negeri. Akibatnya masyarakat di kalangan bawah justru merasa tidak percaya diri dengan produk lokal yang ada. Begitulah hal ini seperti membentuk “lingkaran setan”. Di sinilah sebenarnya pertanyaan Wapres yang saya kutip di awal tulisan ini menjadi penting.
Menumbuhkembangkan gerakan cinta produk dalam negeri tentu tidak mudah dan sederhana. Gerakan ini juga tidak akan ada artinya bila tidak diiringi dengan komitmen politik pemerintah (baik pusat maupun daerah) yang benar-benar serius untuk mendukungnya dengan langkah-langkah strategi yang terpadu, terarah dan terukur. Pemberdayaan usaha-usaha kecil dan menengah yang sesungguhnya sangat potensial untuk mendukung gerakan ini perlu tambah digencarkan diiringi dengan peningkatan kualitas produksinya. Tidak cukup sampai di situ, kampanye gerakan cinta produk dalam negeri perlu juga digencarkan sehingga bisa meresapkan “makna” yang ada di balik produk yang diiklankan. Hal ini tentu saja penting, sebab konsumen –seperti saya singgung di atas- tidak hanya mengkonsumsi sebuah produk, akan tetapi juga “makna” yang ada di balik produk tersebut. Tentu kita sama-sama berharap tidak menjadi budak produk asing di negeri sendiri. Semoga. Wallahu A’lam bis Shawab…

Silakan untuk Memberikan Komentar/Please give any comments on this article
Share This

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Featured post

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU TERKAIT FOKUS MASALAH YANG DIANGKAT DALAM DRAFT PROPOSAL PENELITIAN Dosen Pengampu: Dr. Anton Widyanto

Popular Posts

Search This Blog

Saleum

Selamat Datang di Forum Pembelajaran: Komunitas Pojok Kampus. Terima kasih atas kunjungannya.

Contact Me

Contact Form

Name

Email *

Message *