19 December, 2015

SANG PROFESOR

Ilustrasi

Oleh: Anton Widyanto


Cerpen ini sudah dimuat di Koran Harian Serambi Indonesia
Perempuan kurus & berdahi lebar itu masih setia dalam kesuramannya. Raut mukanya jarang terlihat cerah. Entah kenapa senyum rasanya menjadi barang yang mahal untuknya. Memang sekali-kali ia tertawa. Dan ketika ketawa,  suaranya bisa lepas berdentum bak meriam. Tentu saja hal seperti itu jarang terjadi. Karena ia hanya tertawa dalam kondisi khusus tertentu.Yang seringkali terlihat justru rona masam di mukanya yang berkulit putih kepucat-pucatan bak bawang.
Akhir-akhir ini, dia kelihatan cepat marah. Urusan sesepele apa pun bisa menjadi bencana besar. Seperti hari itu, ketika seseorang masuk ke ruang kerjanya saat ada tamu di dalam. Si laki-laki setengah baya, Marjan namanya, nyelonong masuk, cuma karena ingin salaman. Alis perempuan itu naik tajam.Tanpa basa-basi, hantaman serapahpun keluar dari mulutnya bagai serbuan AK 47.


"Kamu ini dosen nggak tahu sopan-santun", cerocosan itu keluar dari bibirnya yg seksi, walaupun bagiku lebih terkesan dower. "Kamu kan tahu, saya lagi punya tamu penting?!". Sang tamu menjadi tidak enak melihat Marjan mematung kaget. "Saya ini kan profesor. Guru besar! Tahu kamu artinya guru besar?". "Tahu Bu", jawab Marjan. "Kalo tahu kenapa kamu nyelonong seenak perutmu sendiri gitu, pantengong!!", nada umpatan di akhir kalimat itu begitu menusuk. Tapi dasar si Marjan orang yang dikenal cuek bebek, serapah itupun cuma mampir sebentar di kuping kanannya lalu keluar di kuping kiri. Wushh... Dia cuma tersenyum kecut, lalu pamit keluar ruangan.
Perempuan itu dari dulu memang dikenal cerdas. Jenjang S-1 hanya ditamatkan selama kurang lebih 3,5 tahun dengan predikat cumlaude. Dia adalah lulusan termuda dan terbaik di antara seribuan mahasiswa yang diwisuda. Setelah itu ia mendapatkan beasiswa untuk mengambil S-2 di negeri jiran, Malaysia, yang juga diselesaikan dengan predikat istimewa. Tak lama berselang, ia memperoleh beasiswa dari pemerintah Amerika untuk mengambil S-3, yang juga ia selesaikan tepat waktu dengan predikat yang sama. Luar biasa. Banyak orang yang berdecak kagum melihat prestasi akademiknya. Orangpun semakin kagum saat ia mampu meraih gelar profesor hanya berselang 2 tahun setelah ia menyelesaikan gelar doktor dan kemudian diangkat sebagai rektor. Sebuah pencapaian posisi tertinggi di dunia perguruan tinggi. Dia pula yang jadi pemecah rekor, karena sebelumnya tidak pernah ada rektor perempuan di perguruan tinggi itu.
Tapi ternyata, gelar dan prestasi akademik tidak selalu berbanding lurus dengan perubahan karakter. Sosoknya tetap dikenal jarang tersenyum, angkuh, bahkan semakin bertambah sombong saat gelar Profesor melekat di depan namanya ditambah posisinya sebagai rektor. Saat nama gelarnya salah ditulis hanya gara-gara titel Ph.D ditulis Dr. dia pernah langsung memberhentikan stafnya yang cuma lulusan SMA dan masih berstatus honorer. Bukan cuma itu, hanya gara-gara si sopir telat menjemput ke rumahnya dikarenakan sibuk ngurus anaknya yang sakit demam, si sopir juga langsung dibangkupanjangkan. Tanpa ampun.
Soal urusan ngumpul rame-rame yang tidak berbau akademik, memang perempuan satu ini tidak pernah tertarik. “Tidak ilmiah”, katanya. Salah satu contoh adalah arisan. Baginya arisan rutin yang biasa diadakan secara bergilir, hanya jadi ajang gosip sana-sini. Orang-orang yang datang biasanya cuma mau melihat ada apa saja di rumah si tuan rumah. Terus kemudian dijadikan bahan gunjingan ketika perut sudah kenyang, lalu pulang. Yang ada hanya mengumpulkan data-data kekurangan orang lain dibanding melihat kekurangan diri sendiri. Karena itu, dengan tegas Sang Profesor melarang kegiatan arisan diadakan oleh siapa pun. Barangsiapa yang mengadakan arisan, tak peduli dekan, pembantu dekan, ketua jurusan atau staf biasa, maka pangkatnya akan ditahan. Tidak boleh naik. Titik. “Arisan, saya fatwakan, HARAM!”, begitu tegasnya dalam sebuah sambutan wisuda suatu kali.
Memang tidak semua orang setuju dengan kebijakan-kebijakannya. Tapi tidak semua juga tidak setuju. Banyak kaum penjilat yang berada di samping Sang Profesor. Bisa jadi mereka pada dasarnya tidak setuju juga. Tapi untuk mencari aman, memang terkadang harus bersikap layaknya penjilat yang selalu saja mengangguk, meski hati ingin menggeleng.
“Ide-ide Ibu memang cemerlang,” kata Aduen, Sang Penjilat pertama memberi persetujuan.
“Belum pernah ada rektor yang seberani Ibu selama ini,” timpal Asni, Sang Penjilat kedua menambahkan.
“Ibu layak mendapat penghargaan sebagai tokoh reformasi kampus,” sahut Arman, Sang Penjilat berikutnya meyakinkan.
Kalau sudah begitu, hati Sang Profesor akan berbunga-bunga. Bibirnya merekah tersenyum senang. Di saat seperti inilah dentuman tertawanya meledak. Ia girang mendengar ungkapan-ungkapan setuju dari kaum penjilat itu. Baginya itu adalah ungkapan tulus bawahan, yang tidak perlu digali lebih jauh apa benar-benar tulus ataukah hanya sekadar pemanis bibir. Baginya ketulusan harus selalu bernada mengiyakan diiringi acungan jempol atau anggukan. Ketulusan bukan dengan kritikan, atau nada-nada yang beraroma gugatan. Hal semacam itu harus diartikan sebagai penolakan, dan karena itu harus ditumpas.
#
Pagi itu, suasana kampus terlihat heboh. Hampir di setiap sudut kampus ditempeli selebaran- selebaran yang bernada gugatan terhadap Rektor. Papan pengumuman, tembok, toilet, pintu masuk tiap ruangan, sampai kaca-kaca di tiap fakultas tak ada yang lepas dari tempelan selebaran itu. Dosen, karyawan sampai mahasiswa semuanya bisa membaca. Entah kerjaan siapa, tak ada satu pun yang tahu. Yang pasti isi selebaran itu sukses membuat tercengang semua orang. Responnya juga berbeda. Ada yang buru-buru menyobeknya. Ada yang tersenyum. Ada yang sekilas membaca, terus berlalu. Ada yang mencabut kemudian membacanya di tempat tersembunyi, seakan-akan takut ada hantu yang mengintip.
Hebohnya suasana kampus bertambah akut  ketika tak lama kemudian ada beberapa mobil stasiun televisi dan wartawan datang melakukan liputan. Entah siapa yang mengundang. Dosen bergerombol di kantin kampus membentuk komunitas meja bundar. Tidak mau kalah, mahasiswa juga bergerombol membuat kelompok-kelompok. Mereka sama-sama membaca selebaran yang ditempel di setiap sudut kampus itu dan mendiskusikannya. Yang justru terlihat kuwalahan adalah para satpam dan resimen mahasiswa yang sibuk mencabuti semua selebaran, bahkan merampas selebaran yang dibaca oleh dosen, karyawan maupun mahasiswa.
Sang Profesor yang sedang ada acara di luar kota, memutuskan untuk pulang. Sesampainya di bandara, dia langsung menuju kampus dengan sopir pribadinya. Dia penasaran dengan kehebohan yang menyelimuti kampus. Selama dalam perjalanan, dia hanya terpaku dalam diam. Sepertinya dia sudah mendapat laporan apa yang terjadi. Wajahnya terlihat masam. Keningnya berkerut sehingga terlihat jelas garis-garis ketuaannya. Ada apa? Kenapa bisa terjadi? Kerjaan siapa semua ini? Pertanyaan-pertanyaan itu berulang-ulang hadir bagaikan alunan musik keroncong dalam benaknya, membuatnya muak, geram, dan marah.
Sesampainya di kampus, matahari sudah tepat di atas kepala. Diapun turun dari mobil sedan dinasnya, tentu saja setelah si sopir membukakan pintu untuknya sambil membungkuk. Dengan gerak cepat, dia berjalan bergegas ke kantin kampus, tempat favorit para dosen, mahasiswa maupun karyawan untuk melepas lelah, berdiskusi, atau sekadar cuci mata. Pandangannya nanar, menyapu ke segala penjuru, terutama kepada orang-orang yang ada  di dalam kantin. Hatinya masih diliputi kegeraman. Orang-orang di kantin menjadi kasak-kusuk. Ada yang dengan tiba-tiba permisi mengundurkan diri dari perbincangan karena alasan mendadak sakit perut. Ada yang tiba-tiba bilang agak pusing, sehingga harus minta permisi. Ada yang ngacir mau jemput anak. Ada yang pura-pura ke toilet. Ada yang tiba-tiba terbatuk. Tapi tak sedikit yang mematung dalam diam. Kantin yang tadinya ramai, sekarang tiba-tiba berubah sepi. Senyap sekali. Suara-suara yang tadinya sibuk berdiskusi, tiba-tiba lenyap bagai ditelan bumi.
Sang Profesor duduk di sebuah kursi. Tak ada seorang pun yang menyapa, apalagi berebut mencium tangannya seperti biasanya. Bahkan para penjilat yang biasanya suka membebek dan memuja, sekarang ikut-ikutan diam. Diapun bertambah geram dengan suasana yang semakin lama semakin hampa. Sekali lagi tak seperti biasanya. Dia merasa terkurung dalam keramaian. Dia merasa sendirian. Si sopir kemudian membawakan sebuah selebaran yang membuat heboh seisi kampus itu. Semua terhenyak. Tanpa suara. Tanpa kata. Semua mata tertuju pada Sang Profesor. Ia menjadi magnet. Semua menunggu. Menunggu apa yang akan terjadi kalau Sang Profesor membaca selebaran gelap itu. Perlahan, diapun membacanya. Tanpa suara. Tanpa kata. Hening. Tapi dari gerakan bibir dan kerutan dahinya jelas terlihat kalau ia tidak terlalu suka. Orang-orang di kantin semakin khawatir menunggu apa yang akan terjadi. Hampir setengah jam semua terkurung dalam diam. Hampir setengah jam pula Sang Profesor mulutnya komat-kamit membaca selebaran itu. Semua menunggu, menunggu dan menunggu.
Tiba-tiba, Sang Profesor mengeluarkan pulpennya. Dia menulis beberapa kata di selebaran itu. Sepertinya dia mau memberikan jawaban. Kemudian dia berdiri dan melangkah pergi sambil diiringi si sopir di belakangnya. Sekali lagi, tanpa suara. Tanpa kata-kata. Di selebaran yang ia tinggalkan di meja itu tertulis: Bu Rektor yang Profesor. Anda, ternyata Anda, dan bukan kami. Kami juga bukan Anda. Ternyata Tuhan  mencipta Anda bukan sebagai manusia. Karena Anda tidak pernah (merasa) bersalah atau berdosa.Kemudian di bawahnya tertulis dua kata dengan huruf kapital: ANDA BENAR!!! 

Share This

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Featured post

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU TERKAIT FOKUS MASALAH YANG DIANGKAT DALAM DRAFT PROPOSAL PENELITIAN Dosen Pengampu: Dr. Anton Widyanto

Popular Posts

Search This Blog

Saleum

Selamat Datang di Forum Pembelajaran: Komunitas Pojok Kampus. Terima kasih atas kunjungannya.

Contact Me

Contact Form

Name

Email *

Message *