17 April, 2016

“GREPES”

“Aina na'luka?”
“Dhoat kak”
“Ila qismis shihah mubasyaroh.....”
Grepessss

(Lutfi Ridho)

###

Pada #CuilanKisahPesantren3 yang lalu saya sudah ceritakan tentang “Sunduq dan Sandal”. Ketika cuilan kisah tersebut saya posting ke FB, salah seorang teman mengungkapkan komen yang saya kutip di atas. Terjemahnya dalam bahasa Indonesia kira-kira begini:

“Dimana sandalmu?”

“Hilang Kak”

“Cepat pergi sana ke bagian kesehatan!”

Grepessss


###

Apa yang dimaksud dengan grepes? Darimana istilah itu muncul?

Jujur saya tidak tahu menahu asal dari istilah tersebut. Saya sudah tanyakan ke Prof. Google, ternyata tidak saya temukan jawabannya. Tapi bagi santri di pesantren saya dulu, ketika mendengar akan terkena “grepes” hatinya pasti dag-dig-dug. Kok bisa?

Grepes” adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menunjukkan sebuah hukuman bagi pelanggar aturan di pesantren tempat saya belajar dulu. Derajatnya memang tidak setinggi atau sengeri hukuman “botak”, tapi sasaran utama obyeknya sama, yaitu rambut di kepala santri. Sekadar catatan, lokasi penggrepesan di rambut kepala dan arah guntingannya tidak selalu sama alias acak. Kadangkala dieksekusi di bagian samping (di atas telinga) dengan memberikan sekali guntingan lurus. Kadangkala di rambut bagian belakang. Pokoknya kalau terkena hukuman grepes, semua santri akan melihat tanda grepes di rambut kita, sehingga akan langsung menyimpulkan bahwa si santri tersebut melanggar peraturan tertentu. Bentuk hukuman ini kalau saya pahami adalah sebuah bentuk agar si pelanggar malu, karena dengan digrepes, maka secara tidak langsung dia akan membawa tanda grepes itu ke mana pun ia pergi. Sehingga dengan demikian menimbulkan rasa takut bagi yang lain untuk tidak melanggar peraturan pesantren. Biasanya, bagi yang berambut lebat, dia akan langsung merapikan rambutnya di tempat pangkas, sehingga tidak terlihat lagi tanda grepes. Tapi bagi yang rambutnya tipis, meskipun dirapikan, tetap akan terlihat juga oleh santri lainnya.

Apakah hukuman grepes ini efektif? Saya tidak bisa menyimpulkan secara pasti. Tapi memang kalau dilihat dari efek menimbulkan ketakutan untuk melanggar peraturan, pada umumnya memang takut. Tapi bagi beberapa santri yang sudah terbiasa melanggar berkali-kali, sepertinya lama-lama menjadi kebal. Terkadang ada yang saya lihat memiliki 3 tanda grepes bertingkat di rambutnya, tapi tetap WOLES (santai), bahkan tidak mau lagi merapikannya. Jangan-jangan bisa jadi dia malah bangga karena terlihat keren dengan gaya rambutnya, apalagi di tahun 80-an tersebut gaya rambut grepes ala New Kids on the Block (NKOTB) sempat menjadi trend.

Wallahu a’lam bis shawab...

#CuilanKisahPesantren4

“Apapun kekurangan dan kelebihan yang dimiliki pesantren, saya tetap bangga dan bersyukur pernah menjadi seorang santri” (Anton Widyanto)





Share This

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Featured post

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU TERKAIT FOKUS MASALAH YANG DIANGKAT DALAM DRAFT PROPOSAL PENELITIAN Dosen Pengampu: Dr. Anton Widyanto

Popular Posts

Search This Blog

Saleum

Selamat Datang di Forum Pembelajaran: Komunitas Pojok Kampus. Terima kasih atas kunjungannya.

Contact Me

Contact Form

Name

Email *

Message *