26 April, 2016

“INDLISH DAN INDBIC”

Pada umumnya, salah satu fokus pendidikan pesantren modern adalah memperkuat kompetensi bahasa asing (Arab dan Inggris) kepada para santrinya. Demikian pula pesantren tempat saya menimba ilmu dulu.

Saat pertama kali menginjak tanah pesantren, saya merasa kagum dengan bahasa komunikasi yang digunakan santri lama. Mereka cas-cis-cus dengan kedua bahasa asing tersebut. Biasanya aturan yang dipakai di pesantren, seminggu bahasa Arab dan seminggu berbahasa Inggris, demikian berganti-ganti setiap minggunya.



Terus terang, pertama kali masuk pesantren, saya sangat buta dengan kedua bahasa tersebut. Bahkan saat tes lisan waktu ujian masuk pesantren, saya diminta menulis “Assalamu’alaikum” dalam tulisan Arab, saya tidak mampu, karena memang di sekolah dasar saya tidak pernah menerima pelajaran bahasa Arab, apalagi bahasa Inggris. Berbeda dengan sekolah dasar zaman sekarang yang sudah mulai memperkenalkan satu bahasa asing, atau kedua-duanya.

Biasanya, untuk santri kelas 1, penggunaan bahasa asing masih ditolerir, boleh dipakai dengan dicampur-campur bahasa Indonesia. Tapi untuk kosa kata, sudah diperkenalkan melalui pemberian tiga kosa kata (mufradat/vocabulary) setiap hari. Tiga kosa kata yang diberikan oleh Bagian Bahasa dihafal santri secara bersamaan di kamar masing-masing setiap habis shalat Isya dan Subuh, kemudian dituliskan di papan-papan bahasa yang ditempel di berbagai macam tempat, sehingga santri bisa melihat kemanapun akan pergi di lingkungan pesantren. Tujuannya tentu agar bisa cepat melekat di ingatan.

Yang tidak kalah penting, setiap santri diwajibkan memiliki satu buku notes kecil yang bisa dimasukkan ke dalam saku. Buku tersebut berguna untuk menuliskan kosa kata yang dihafalkan. Biasanya saya pribadi akan memanfaatkan menghafal kosa kata saat antri makan atau antri mandi. Waktu itu memang saya sangat bersemangat untuk bisa berbahasa Arab maupun Inggris.

Satu catatan saya, kebanyakan pesantren modern  (bahkan di pesantren anak saya sekarang belajar) kurang memperhatikan kebenaran dalam pengucapan, fashahah dalam bahasa Arab dan pronunciation dalam bahasa Inggris. Akibatnya, terciptalah Indlish (Indonesiaan English) atau Indbic (Indonesian Arabic), sebagaimana pula bahasa Inggrisnya orang Singapura yang disebut dengan Singlish. Sebagai contoh: “Eh...ana la madza-madza kok didharaba?” (Eh..saya gak ngapa-ngapain kok dipukul?); “Laa haya’-haya’ qittun lah” (Jangan malu-malu kucing lah...);  “Dont quick-quick” (Jangan cepat-cepat!”) dst.

Model seperti ini tentu perlu diperbaiki, sehingga ketika sudah lulus dari pesantren, kompetensi bahasa asing santri benar-benar bisa lebih diandalkan.

Wallahu a’lam bis shawab...

#CuilanKisahPesantren5

“Apapun kekurangan dan kelebihan yang dimiliki pesantren, saya tetap bangga dan bersyuklur pernah menjadi seorang santri” (Anton Widyanto)
Share This

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Featured post

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU TERKAIT FOKUS MASALAH YANG DIANGKAT DALAM DRAFT PROPOSAL PENELITIAN Dosen Pengampu: Dr. Anton Widyanto

Popular Posts

Search This Blog

Saleum

Selamat Datang di Forum Pembelajaran: Komunitas Pojok Kampus. Terima kasih atas kunjungannya.

Contact Me

Contact Form

Name

Email *

Message *