04 April, 2016

MAKAN MALAM “KERAMAT”


Pada cuilan kisahpesantren 1 saya sudah singgung tentang dunia perdapuran ala pesantren tempat saya belajar, ada model Dapur Umum dan Dapur Keluarga. Beda antara keduanya bagaikan langit dan bumi, ya suasananya, ya pelayanannya, ya menunya. Untuk santri kelas 1 sampai 3 Tsanawiyah (santri sighar/junior) pada umumnya memakai dapur keluarga. Adapun untuk tingkat Aliyah (termasuk kelas eksperimen, yaitu santri yang masuk ke pesantren dengan ijazah terakhir SLTP dan digolongkan santri kibar/senior), pada umumnya makan di dapur Umum (Dapur A). Yang menyamakannya, hanya soal piring dan sendok. Masing-masing santri harus punya piring dan sendok sendiri untuk dibawa ke dapur saat jam makan tiba. Menu yang biasa ditawarkan dapur keluarga umumnya lebih beragam. Favorit saya kuah tahu. Meski mungkin termasuk tidak “berkelas”, tapi bagi saya itu tergolong “kelas bantam junior” (emangnya tinju?!). Tapi itulah faktanya.
Ada dua malam “keramat” dimana menu makan menjadi idola semua santri, Malam Selasa dan Malam Jumat. Bila menu makan malam yang lain hanya seputar kuah nangka (tewel dalam bahasa Jawa) ditambah krupuk (khususnya dapur umum), Malam Selasa dan Malam Jumat adalah jatah menu istimewa. Menu makan malam Selasa adalah telur ayam (dipotong setengah), sementara  malam Jum’at adalah jatah daging. Di dua malam itu, setelah shalat isya’ berjamaah, ribuan santri berlompatan dari dalam masjid, bergegas ke kamar dan mengambil piring plus sendok masing-masing. Yang tak punya sendok, langsung ngacir beserta piring, tak peduli apa anggota dapur umum atau dapur keluarga. Semua berlomba adu cepat agar tidak mengantri di shaf belakang antrian makan malam. Mengingat persaingan lomba cepat antrian demikian ketat, bahkan ada yang saat shalat Isya’ sudah menyelipkan piring di dalam bajunya. Ada pula yang menyembunyikan piringnya di sebuah tempat di luar masjid, sehingga bisa dengan sigap dicomot sambil berlari ketika usai shalat isya berjamaah.

I’tibar:
Satu hal yang saya petik dari pengalaman tema makan di malam “keramat” ini, meski semua sigap berlari menuju dapur, mereka tetap harus tertib dalam barisan antrian. Santri dilatih untuk sabar mengantri, jangan menyerobot, apalagi menelikung kawan sendiri. Semua orang punya perut dan karena itu semua bisa lapar. Tapi jangan hanya karena urusan perut, kawan sendiri ikut disikut, apalagi disikat.

 “Apapun kekurangan dan kelebihan yang dimiliki pesantren, saya tetap bangga dan bersyukur pernah menjadi seorang santri” (Anton Widyanto)
Share This

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Featured post

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU TERKAIT FOKUS MASALAH YANG DIANGKAT DALAM DRAFT PROPOSAL PENELITIAN Dosen Pengampu: Dr. Anton Widyanto

Popular Posts

Search This Blog

Saleum

Selamat Datang di Forum Pembelajaran: Komunitas Pojok Kampus. Terima kasih atas kunjungannya.

Contact Me

Contact Form

Name

Email *

Message *