10 April, 2016

SUNDUQ DAN SANDAL

Di antara beberapa pengalaman berkesan saat pertama memasuki dunia pesantren 27 tahun lalu adalah berhubungan dengan urusan sandal. Mari saya ceritakan...

Di tahun saya masuk ke pondok pesantren, pesantren yang saya pilih merupakan salah satu sasaran yang dituju oleh banyak orang tua untuk menitipkan anaknya. Sayangnya memang ketersediaan fasilitas, khususnya kamar, sangat tidak berimbang dengan jumlah santri yang diterima. Satu kamar yang semestinya cocok untuk menampung 20-an orang, terpaksa harus menampung sampai 50-an orang. Untuk menghemat ruangan di dalam  kamar, masing-masing santri difasilitasi 1 lemari kecil (kira-kira berukuran 100 cm X 100 cm dan biasa disebut SUNDUQ).
Lemari tersebut ditumpuk atas bawah, sehingga ada space untuk lorong masuk, maupun ruang tengah kamar untuk beristirahat ataupun berkumpul. Meski begitu, bagi santri yang tidak mau memiliki lemari kecil yang disediakan pesantren, mereka bisa membeli lemari yang lebih besar (biasanya  dari santri lain yang ingin pindah sekolah, atau sudah lulus). Di kamar saya dulu ada beberapa, tapi tidak banyak.

Saat pertama saya masuk pesantren, keheranan pertama yang saya alami adalah ketika melihat keunikan kondisi “dunia persandalan.” Masalahnya bukan pada jenis sandal yang dipakai para santri; bukan juga pada  merek sandal yang dikenakan; atau corak warna sandal mereka, tapi pada masalah GEMBOK. What? Apa hubungannya sandal dengan gembok? Ya, saya perhatikan saat akan melaksanakan shalat berjamaah di masjid utama pesantren, deretan sandal yang terparkir di depan masjid rata-rata digembok. Yang populer ketika itu kalau tidak salah adalah sandal swallow. Jadi kebanyakan santri saat memasuki masjid, mereka akan menggembok terlebih dahulu sandal, kemudian meletakkan di halaman depan masjid.

Apakah cukup berbahaya jika tidak digembok? Saya lihat tidak juga. Banyak sandal para tamu pesantren (misalnya orang tua santri), atau para masyarakat sekitar pesantren  yang tidak digembok dan masih utuh ketika keluar masjid. Lalu mengapa harus digembok? Saya berasumsi, mungkin sebelumnya pernah ada peristiwa sandal yang hilang, dan karena itu ada yang memulai dengan menggemboknya. Budaya menggembok sandal ini kemudian mungkin menular dan mewabah ke para santri yang lain. Entah siapa yang memulai, Wallahu a’lam..

#CuilanKisahPesantren3
Share This

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Featured post

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU TERKAIT FOKUS MASALAH YANG DIANGKAT DALAM DRAFT PROPOSAL PENELITIAN Dosen Pengampu: Dr. Anton Widyanto

Popular Posts

Search This Blog

Saleum

Selamat Datang di Forum Pembelajaran: Komunitas Pojok Kampus. Terima kasih atas kunjungannya.

Contact Me

Contact Form

Name

Email *

Message *