13 August, 2016

ABU NAUM

Salah satu pelajaran berharga yang saya petik dari dunia pesantren adalah tentang persahabatan. Di pesantren, saya dapat mengenal banyak orang dari ragam daerah di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, mulai dari cara bicara, karakteristik, sampai adat istiadatnya.


Dalam cuilan kisah pesantren kali ini, saya akan mengisahkan salah satu teman saya. Karena alasan privasi, tentu saya tidak perlu menyebutkan asal daerah dan namanya. Sebut saja namanya Bunga (lho kan laki? Biasanya istilah nama ini untuk perempuan? Iya sih, tapi Bunga yang saya maksud di sini adalah Bunga Jantan hehehe).

Alkisah, si Bunga yang saya kenal adalah sosok yang baik, suka bercerita dan bercanda. Tapi sayangnya kalau sudah di kelas, apa pun mata pelajarannya, di mana pun kelasnya, siapa pun ustadznya, dia pasti selalu TIDUR.

Suatu waktu, saat belajar di dalam masjid (kebetulan ruang kelas masih dalam pembangunan ketika itu), Bunga, seperti biasa, dari awal jam pelajaran dimulai, matanya langsung terpejam. Sambil duduk di lantai, kepalanya bergoyang ke depan beberapa kali, sampai akhirnya tertelungkup. Sang Ustadz tentu tidak tinggal diam. Beliau meminta santri di dekat Bunga untuk membangunkannya. Si Do’i memang terbangun sebentar. Pura-pura membuka buku. Tapi kemudian, matanya kembali terpejam dan kepalanya mengangguk ke depan, sampai akhirnya tertelungkup kembali.

Karena sepertinya sudah habis kesabaran, ustadz kemudian memanggil Bunga untuk maju ke depan kelas. Dia diminta berdiri di samping papan tulis dengan mengangkat satu kaki. Mungkin tujuan Ustadz, biar si Bunga tidak mengantuk lagi. Alhamdulillah, mata si Bunga memang langsung melek. Dia berdiri di samping papan tulis sambil mengangkat kaki sebelah. Posisinya di belakang Ustadz dan menghadap para santri. Tapi tak berapa lama, kami lihat posisi Bunga kembali goyah. Kakinya sebelah yang tadi diangkat seperti instruksi Ustadz, perlahan turun, dan akhirnya sejajar kembali dengan kaki sebelahnya.  Matanya perlahan-lahan terpejam lagi. Bahkan beberapa kali badannya mengayun, sambil menahan kantuk. Kami yang melihat Bunga, hanya bisa menahan  tawa, tapi Ustadz karena membelakangi Bunga, tidak melihat persis bagaimana perkembangan kondisinya. Sampai akhirnya ustadz curiga kenapa kami terlihat seperti cengengesan. Dan saat beliau berbalik, “Oh my God!!.” Spontan Ustadz malah tertawa melihat kondisi terkini Bunga. Salah satu telinga Bunga, kemudian menjadi sasaran jari Sang Ustadz.

Sejak saat itu, Bunga diberikan gelar Abu Naum alias Tukang Tidur. Gelar yang tentu saja tidak mengenakkan. Herannya, itu tidak mengubah sama sekali kebiasaannya di kelas. Sampai detik ini saya juga tidak paham apa yang ia alami sehingga selalu tertidur saat jam pelajaran. Apakah ini merupakan penyakit ataukah kebetulan? Wallahu a’lam...

I’tibar:

Menimba ilmu senantiasa membutuhkan semangat dan motivasi dari dalam jiwa diri sendiri. Karena itu Islam menggolongkan kegigihan belajar sebagai bagian dari berjihad di jalan tuhan.

#CuilanKisahPesantren7

“Apapun kekurangan dan kelebihan yang dimiliki pesantren, saya tetap bangga dan bersyukur pernah menjadi seorang santri” (Anton Widyanto)





Share This

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Featured post

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU TERKAIT FOKUS MASALAH YANG DIANGKAT DALAM DRAFT PROPOSAL PENELITIAN Dosen Pengampu: Dr. Anton Widyanto

Popular Posts

Search This Blog

Saleum

Selamat Datang di Forum Pembelajaran: Komunitas Pojok Kampus. Terima kasih atas kunjungannya.

Contact Me

Contact Form

Name

Email *

Message *