20 August, 2016

NABI PALSU

Di antara catatan riwayat lika-liku kehidupan di pesantren dulu, yang masih lekat di memori saya adalah sosok teman saya yang berinisial ILM. Dia berasal dari Jakarta, tapi saya lupa persisnya di daerah mana.

ILM adalah sosok periang dan doyan ngobrol. Meski berbeda kamar, kami pernah satu kelas. Kemampuannya memang biasa-biasa saja, tidak terlalu menonjol. Tapi terlepas dari itu, saya mengenalnya sebagai santri yang punya motivasi belajar yang kuat.


Postur fisik ILM tidak terlalu tinggi, tapi juga tidak pendek. Standar. Rambutnya keriting dan agak merah. Hidungnya mancung. Sepertinya dia mewarisi darah Arab. Satu tanda yang saya ingat juga dari sosoknya, dia memiliki satu gigi yang agak berwarna ungu di bagian depan atas. Akan terlihat jelas, setiap kali dia tersenyum lebar atau tertawa.

Yang benar-benar membuat saya terkejut, adalah tragedi yang menimpanya saat masa ujian.

Alkisah, biasanya pada masa ujian, banyak santri yang belajar tengah malam. Biasanya masjid akan ramai dengan santri yang mempelajari materi-materi untuk menghadapi ujian esok hari; disamping banyak juga yang melaksanakan shalat malam. Saya dan ILM adalah diantaranya.

Satu hal yang tidak saya mengerti ketika itu, ILM seperti bukan ILM. Ketika saya sapa, matanya tidak berkedip. Bahkan dia seolah-oleh tidak mengenal saya lagi. Bawaannya yang ceria, lenyap sudah dari wajahnya. Sosoknya yang suka ngobrol, sirna sama sekali diganti dengan kebisuan, tanpa kata. Sorot matanya berubah menjadi tajam kepada siapa saja. Melotot. Aneh memang.

Saya lihat malam itu dia menyendiri. Anehnya lagi, dia tidak berhenti memandangi sebuah lampu. Sampai akhirnya, tiba-tiba, sekitar jam 3 dini hari, dia berteriak-teriak keras berulang kali, “Gue Nabi! Gue Nabi!”.  Sontak, santri yang ada di dalam masjid, terbengong-bengong melihat ILM, termasuk saya. Saya tidak ingat persis kata-kata lain yang dia teriakkan. Dia meracau. Tapi yang jelas menyentak adalah pengakuannya sebagai nabi. Suasana ketika itu memang mendadak ramai. Para pengurus (mudabbir) banyak yang terbangun, bahkan para ustadz juga turun tangan. ILM akhirnya digelandang ke dalam kantor Ustadz. Saya tidak tahu persis apa yang terjadi di dalam kantor tersebut. Yang saya dengar memang dia masih teriak dan meracau, mengaku Nabi.

Sebagai teman ngobrol, ketika itu saya tersentak sekaligus merasa sedih melihat ILM. Saya tidak tahu faktor penyebab kenapa ILM bisa tergoncang kejiwaannya. Sepertinya ketika itu memang ILM sangat tertekan dengan pelajaran-pelajaran di pesantren khususnya yang menuntut hafalan, apalagi waktu itu jadwal kegiatan di pesantren lumayan padat, dan mungkin ditambah lagi tuntutan berat orang tuanya yang menghendaki ILM untuk berprestasi. Entahlah...Wallahu a’lam.

I’tibar:

Sudah sepantasnya pesantren, guru dan orang tua, tidak menambahkan beban-beban tuntutan yang berat tanpa memahami kondisi psikis siswa. Karena alih-alih bisa melahirkan siswa unggul, tuntutan-tuntutan yang berat justru akan semakin membuat siswa menjadi tertekan, lahir dan batin.

#CuilanKisahPesantren8

“Apapun kekurangan dan kelebihan yang dimiliki pesantren, saya tetap bangga dan bersyukur pernah menjadi seorang santri” (Anton Widyanto)
Share This

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Featured post

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU TERKAIT FOKUS MASALAH YANG DIANGKAT DALAM DRAFT PROPOSAL PENELITIAN Dosen Pengampu: Dr. Anton Widyanto

Popular Posts

Search This Blog

Saleum

Selamat Datang di Forum Pembelajaran: Komunitas Pojok Kampus. Terima kasih atas kunjungannya.

Contact Me

Contact Form

Name

Email *

Message *