16 September, 2016

PREMAN VS JAGOAN

Oleh: Anton Widyanto
Gaya teman-teman yang saya kenal di pesantren dulu memang sangat beragam. Ada yang kalem; ada yang sombong; ada yang sopan dalam bersikap dan bertutur kata; tapi ada juga yang berlagak preman atau jagoan. Namanya juga manusia. Sudah pasti memiliki karakter yang berbeda satu sama lainnya.

Diantara beberapa teman yang berlagak preman, ada seseorang yang saya ingat sosoknya. Saya memang tidak ingat benar siapa nama lengkapnya, tapi sebut saja “S”.



“S”  ini bertubuh agak tinggi, berwajah oval, rambut sedikit pirang, berbadan tidak terlalu gemuk, tapi juga tidak terlalu kurus, alias sedang-sedang saja. Wajahnya sangat jarang tersenyum. Sorot matanya tajam, bahkan lebih sering terkesan melotot malahan. Satu ciri yang gampang dilihat, dia memiliki gambar tato di lengan kanannya. Tato itu akan terlihat jelas saat dia sengaja menyingsingkan lengan bajunya sampai ke bahu. Satu hal yang sering ia lakukan. Mungkin sengaja biar orang lain takut. Dan memang kesan saya pribadi, jujur, takut kalau sudah bertemu dengan “S”.

Saat jam mandi pagi ataupun sore, kami para santri biasanya mandi ramai-ramai. Ada banyak bak-bak besar semacam kolam (kira-kira berukuran 3 X 4 m) yang biasa santri gunakan mandi bareng. Di antara kebiasaan si “S” yang saya ingat, ketika mandi ramai-ramai, dia tidak mau ada seorang pun yang ikut serta mandi di bak mandi yang dia pilih. Kalau ada santri yang tidak mau menyingkir, dia akan sikat habis semua peralatan mandi yang ada di dekat bak mandi tersebut mulai dari gayung, odol, sikat gigi, handuk dsb. Sambil berteriak marah, dia akan melempar semua barang-barang tersebut ke got. Akhirnya semua santri maklum dengan keberingasan si “S” kalau mandi. Saat dia sudah memilih sebuah bak mandi, maka santri yang sudah nongol di situ duluan, tanpa perlu dikomando lagi akan segera menyingkir.

Sampai suatu kali, sebuah peristiwa heboh terjadi. Saat si “S” akan mandi, seperti biasa, di bak mandi yang sudah dipilihnya, para santri banyak yang memilih ngacir. Tapi ternyata waktu itu ada satu orang yang tetap melanjutkan mandi. Posturnya lumayan tinggi, dan badannya agak lebih berisi dibandingkan si “S”. Melihat dia tidak menyingkir, si “S” naik pitam. Dia berteriak mengusir sosok santri cuek itu. Tak dinyana, santri tersebut justru berbalik membentak si “S”. Suaranya juga lantang. Si “S” semakin murka dan menantangnya untuk berduel. Semua santri yang sedang mandi akhirnya ramai-ramai menonton acara “Kungfu Hustle” yang sebentar lagi akan dimulai.

Si “S” dan lawannya keluar dari ruang bak mandi ke arah pinggiran, dekat selokan. Keduanya sudah sama-sama berdiri berhadapan dengan jarak sekitar 4 meter. Si “S” terlihat langsung memasang kuda-kuda, sementara lawannya biasa saja. Si “S” terlihat menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada. Matanya dipejamkan. Mulutnya komat-kamit, seperti merapal mantra. Suasana menjadi tegang. Tiba-tiba, “Praaaakkkkkk”, lawan Si “S” justru memanfaatkan situasi tersebut dengan langsung menghadiahi bogem mentah ke muka si “S”. Tubuh si “S” terjengkang ke belakang. Lawannya rupanya tidak hanya cukup dengan melayangkan bogem mentah. “Prakkkk...baaammm...braakkk”, dia ayunkan kakinya ke arah kepala “S”. Bertubi-tubi serangan kaki dan tangannya bergantian menyerbu bagian tubuh si “S”, sementara si “S” cuma bisa mengaduh dan meringis, tanpa bisa membalas. Terlihat darah segar keluar dari hidung dan bibirnya. Si “S” KO di ronde pertama. Dia tidak mampu lagi berdiri. Reflek, semua santri berteriak girang. Ada yang bertepuk tangan. Ada yang tertawa keras, sekaligus mengejek, karena si “S” yang selama ini menunjukkan diri sebagai jagoan, ternyata tidak setangguh yang dipertontonkan. Sang preman karbitan itu akhirnya tersungkur, takluk di dekat bak mandi.

I’tibar:

Kesombongan alias takabbur adalah sifat syaitan yang harus dihindari. Kesombongan hanya pantas dimiliki oleh Sang Maha Pencipta, dan bukan mahkluk ciptaanNya, termasuk manusia. Sebuah kata bijak mengajarkan: “Fawqa kulli sama’in sama’un (di atas langit, masih ada langit)”. Jadi masih ada alasan kah yang pantas membuat mahkluk Allah Swt sombong?

#CuilanKisahPesantren9

“Apapun kekurangan dan kelebihan yang dimiliki pesantren, saya tetap bangga dan bersyukur pernah menjadi seorang santri” (Anton Widyanto)
Share This

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Featured post

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU TERKAIT FOKUS MASALAH YANG DIANGKAT DALAM DRAFT PROPOSAL PENELITIAN Dosen Pengampu: Dr. Anton Widyanto

Popular Posts

Search This Blog

Saleum

Selamat Datang di Forum Pembelajaran: Komunitas Pojok Kampus. Terima kasih atas kunjungannya.

Contact Me

Contact Form

Name

Email *

Message *