09 November, 2016

AMNESIA SEJARAH

Oleh: Anton Widyanto

Kasus I
Bulan lalu, saat saya mengadakan penelitian di sebuah wilayah di Aceh, ada sebuah catatan menarik yang ingin saya bagi. Saat saya akan melakukan wawancara dengan informan di sebuah lembaga, awalnya saya tidak disambut dengan ramah, bahkan cenderung “dicuekin”, meski sebenarnya sebelumnya sudah saya layangkan surat resmi. Saya sempat menduga, apa mungkin dikarenakan isu yang saya teliti dianggap sensitif? Tapi ternyata, dugaan saya salah besar. Tanpa disengaja, saat ngobrol lepas di awal wawancara, sikap “cuek” sedemikian rupa dikarenakan saya dipikir adalah mahasiswa yang akan meneliti untuk pembuatan Skripsi. Mungkin penampilan saya tidak meyakinkan sebagai seorang dosen. Atau barangkali ada seribu kemungkinan lain sebagai jawaban. Saya tidak tahu pasti.


Kasus II
Selama ini, terus terang, ketika melihat berita-berita sidang kasus-kasus kriminal (pembunuhan, pencurian, penjambretan, pencopetan, pemerkosaan dsb) yang disiarkan televisi, saya “gagal paham” kenapa para terdakwa seringkali tampil (atau mungkin sengaja “ditampilkan”(?)) dalam sosok layaknya Ustadz (misalnya dengan memakai peci haji bagi yang laki-laki, atau jilbab bagi perempuan). Mungkin tujuannya ingin menyampaikan pesan, bahwa mereka sudah insyaf, sehingga bisa diberikan keringanan hukuman. Atau mungkin ada seribu kemungkinan lain sebagai jawaban. Sekali lagi, saya juga tidak tahu pasti.
Dari dua kasus di atas, kalau dikaitkan dengan hiruk-pikuk dunia politik (Pilkada, misalnya) bisa kita lihat bagaimana kandidat akan berupaya maksimal menciptakan BRAND dengan menonjolkan PENAMPILAN. Ada yang memakai baju adat biar dianggap “membudaya”; ada yang memakai jas dan dasi biar terlihat intelek; bahkan ada yang memakai jubah dan sorban, biar terlihat sebagai sosok alim-ulama. Kenapa? Mengutip pendapat Buya Syafi’i Ma’arif, karena masyarakat kita seringkali mengidap “amnesia sejarah”. Gampang lupa dengan latar belakang seseorang, sehingga mudah diperdaya oleh TAMPILAN LUAR. Padahal sebuah kata bijak mengajarkan, “La tandzuranna li atswabin ‘ala ahadin; in rumta ta’rifah, fandzur ilal adab (Jangan kamu lihat tampilan luar/ekstrinsik seseorang, tapi lihatlah sisi instrinsiknya (akhlaknya)”.
Wallahu a’lam bis Shawab....
Catatan Kehidupan 
Share This

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Featured post

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU TERKAIT FOKUS MASALAH YANG DIANGKAT DALAM DRAFT PROPOSAL PENELITIAN Dosen Pengampu: Dr. Anton Widyanto

Popular Posts

Search This Blog

Saleum

Selamat Datang di Forum Pembelajaran: Komunitas Pojok Kampus. Terima kasih atas kunjungannya.

Contact Me

Contact Form

Name

Email *

Message *