09 November, 2016

KAWAH CANDRADIMUKA ITU BERNAMA PESANTREN


Era 80-an di awal saya masuk pesantren dulu, masih ada pemahaman yang keliru di kalangan masyarakat tentang dunia pesantren. Pesantren disebut sebagai lembaga pendidikan yang menampung anak-anak “bandel bin nakal” yang susah diatur, sulit diurus dst, agar menjadi anak yang baik, shalih, dan terdidik. Jadi kalau Anda memiliki anak yang susah dididik, lemparkanlah dia ke pesantren, biar diobati kebandelannya. Akibatnya, penilaian miring ini menimbulkan dampak negatif tentang citra pesantren.
Apa yang saya rasakan saat mengenyam dunia pendidikan pesantren, tidaklah sedemikian rupa. Bahwa kemudian ada di antara santri yang mengalami kebandelan akut kemudian “sengaja dilempar” orang tuanya ke pesantren memang ada, tapi jumlahnya tidak sebanyak anak-anak yang sengaja disekolahkan di pesantren karena kelebihan-kelebihan pendidikan yang akan diperoleh mereka.



Salah satu kelebihan di antara puluhan kelebihan pesantren yang saya rasakan dan alami sendiri adalah kreatifitas di luar pendidikan formal. Saya mengenal olah vokal teater dan pantomim ketika saya berada di pesantren. Waktu itu banyak sekali komunitas teater dari beragam propinsi (diistilahkan dengan konsulat) yang saling bersaing menjadi yang terbaik. Saya masih ingat bagaimana kami digembleng berbagai hal terkait dunia keteateran saat saya menjadi anggota Teater Yamato yang berada di bawah naungan Konsulat Jawa Timur. Panggung pentas pertama saya waktu itu, memainkan naskah drama berbahasa Arab tentang Bilal bin Rabah.
Hasil asahan dunia keteateran ini, kemudian mengilhami saat saya mengenyam pendidikan kuliah S1, untuk menciptakan sebuah konsep pantomim yang saya kombinasikan dengan operet dan wayang beraroma Komedi Situasi di tahun 1996. Saya berperan sebagai penulis naskah, pengisi suara, sutradara, dan kadang-kadang sekaligus bertindak sebagai pemain. Tema-tema yang saya angkat adalah kritik sosial. Hasilnya, saya dan teman-teman yang tergabung dalam grup Makelar, laris manggung di beragam acara. Di antaranya yang fenomenal adalah saat tampil bersama Adi Darmawan (Cek Di) dan Hafizar(Mr. Pijay) di acara deklarasi Referendum era 1998/99 di lapangan Tugu Darussalam, Banda Aceh yang berhasil mengocok perut lautan manusia yang hadir ketika itu.

So, please deh, JANGAN anggap remeh pesantren!

#CuilanKisahPesantren10
 
I’tibar:
Penilaian bahwa memasukkan anak ke pesantren karena bandel dan susah diatur adalah pemahaman yang keliru. Dunia pesantren adalah kawah candradimuka penggemblengan ilmu, akhlak, kemandirian, serta kreatifitas, yang akan tetap eksis dengan dinamikanya meski zaman senantiasa berubah progresif.
Share This

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Featured post

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU TERKAIT FOKUS MASALAH YANG DIANGKAT DALAM DRAFT PROPOSAL PENELITIAN Dosen Pengampu: Dr. Anton Widyanto

Popular Posts

Search This Blog

Saleum

Selamat Datang di Forum Pembelajaran: Komunitas Pojok Kampus. Terima kasih atas kunjungannya.

Contact Me

Contact Form

Name

Email *

Message *