Saleum

Selamat Datang di Forum Pembelajaran: Komunitas Pojok Kampus. Terima kasih atas kunjungannya.

Search This Blog

26 December, 2016

ARTICLE REVIEW: Pengaruh Tradisi Arab Pra Islam Terhadap Hukuman Rajam



ARTICLE REVIEW
Judul               : Pengaruh Tradisi Arab Pra Islam Terhadap Hukuman Rajam
Penulis             : Ali
Reviewer         : Fiesca Maini Asri
Penerbit           : Jurnal Ilmiah Islam Futura Vol. 14 No. 1, Agustus 2014, 31-50.
Jumlah hlm      : 20 hlm
---------------------------------------------------------------------------------------------------
A.Isi Artikel
            Salah satu fenomena dalam hukum Islam yang berkembang saat ini adalah prokontra pelaksanaan hukuman rajam di berbagai negara, baik yang dilakukan melalui peraturan perundang-undangan maupun oleh berbagai elemen masyarakat (tanpa undang-undang). Hukuman rajam yang dikemukakan di dalam hadits Nabi, tidak dikemukakan di dalam Al-qur’an;Al-qur’an hanya mengemukakan hukuman cambuk (Qs.An-Nur:2). Salah satu tokoh di Indonesia yang menolak hukum rajam ialah Hazirin yang menyatakan bahwa rajam adalah hukum taurat, sedangkan hukum al-qur’an adalah cambuk[1].

            Dari sisi urutan, belum jelas mana yang lebih duluan turun, peristiwa hukuman rajam atau an-Nur ayat 2, sehingga ada kemungkinan hukuman rajam (hadits) telah di nasakh oleh hukuman cambuk (al-qur’an). Di dalam buku-buku tafsir yang ada tidak memuat asbab an-nuzul surat An-Nur ayat ; 2 tersebut.
            Namun demikian, faktanya riwayat-riwayat yang ada menunjukan bahwa setelah nabi Muhammad wafat, para sahabat tetap menjatuhkan dan melaksankan hukuman rajam . setidaknya pada masa pemerintahan empat khalifah pertama tercatat melaksankan hukuman ini. Ini diperkuat oleh pernyataan Umar sendiri yang tampaknya begitu kuat ingin mempertahankan eksitensi hukuman rajam sehingga menganggapnya seolah-olah pernah ada di dalam  Al-qur’an.
            Karena telah menjadi praktik sahabat, ulama mazhab mengadopsi hukuman ini ke dalam khazanah kitab-kitab mereka tanpa banyak penjelasan tentang kesahihan sanad, matan, substansi dan konteks hadits-hadits yang memuat hukuman tersebut . di dalam  buku-buku tafsir dikemukakan bahwa hadits-hadits rajam menjadi mukhasis terhadap ayat cambuk. Namun demikian, catatan penting tentang keberadaan hadits-hadits rajam adalah bahwa hukuman rajam pertama dikenakan kepada pelaku orang Yahudi dan didasarkan pada Taurat. belum banyak ditemukan kajian khusus tentang hukuman zina,lebih-lebih tentang rajam.materi ini memang telah dimuat dalam buku-buku fikih jinayat secara umum.
Hukuman zina sebelum Islam
            Dalam  hal hubungan laki-laki dan perempuan, sebagian orang Arab terpengaruh oleg faham “serba halal” yang berasal dari persia kuno. Karena itu ada yang memperistrikan anak perempuannya sendiri, seperti luqait bin zararah, pemuka kabilah Bani Tamim yang menikahi anaknya bernama dakhnatus. Demikian juga jika ditilik ke keadaan romawi dan bangsa-bangsa lain pada abad ke-7 Masehi yang memandang perempuan sebagai barang kepunyaan pria, dapat dipahami mengapa di tanah Arab, pengundikan, perbuatan mesum, dan pelacuran juga dilakukan dibanyak tempat dan dilakukan secara terang-terangan. Keadaan ini memungkinkan untuk menyatakan bahwa adalah hal wajar jika dalam catatan sejarawan tidak ditemukan adanya aturan tentang hukuman zina dalam agama jahiliah
 Seperti ajaran Islam, dalam agama Yahudi juga, hubungan seksual antara orang-orang yang tidak terikat perkawinan yang sah sangat dilarang. Dizaman pra islam,dalam kode hukum Mesir Kuno, pidana rajam sudah dipraktikkan dengan kejam, terutama terhadap kaum wanita yaitu ditemukan ketentuan kehilangan hidung bagi setiap wanita yang berzina, tetapi tidak ada ketentuan untuk pelaku laki-laki. Menurut Bettany, dalam hukum Hammurabi, pelaku zina laki-laki dan perempuan diancam pidana mati dengan cara diikat dan ditenggelamkan ke dalam air . tetapi dari teks undang-undang yang dapat ditemukan, hukuman untuk pezina laki-laki tidak disebutkan.
            If the wife of a seignior has been caught while lying with another man,they shall bind them and throw them into water. If the husband of the woman wishes to spare his wife, then the king in turn may spare his subject.(Hammurabi,law 129)

            Dalam perjanjian lama, hukuman delik seputar zina dikemukakan banyak tempat dan cenderung rinci karena mengatur banyak hal. Dalam injil imamat 20 dikemukakan beragam kejahatan zina, yatu berzina dengan istri orang lain (10), berzina dengan seorang istri ayah (11), berzina dengan menantu perempuan (12) dan lain-lan. Demikian juga hukuman untuk delik ini juga bermacam-macam yaitu hukuman mati (sebagian dengan redaksi “dilenyapkan”), dibakar, dan diancam tidak akan beranak.
            Hal yang menarik dari perjanjian lama ialah bahwa rajam dikenakan pada pelaku yang “ghayr muhsan” (ulangan 22:23-24) sedangkan pada pelaku “muhsan” dikenakan hukuman mati (Imamat 20). Memang tidak ada penjelasan bahwa yang dimaksud dengan hukuman mati tersebut juga adalah rajam. Sekiranya yang dimaksud memang sama, maka tidak ada perbedaan muhsan dan ghayr muhsan.ini berbeda dengan hadits-hadits Nabi tampaknya menganggap hukuman zina dalam kiab Yahudi tersebut tidak adil sehingga harus diberlakukan sebaliknya; rajam sampai mati  untuk Muhsan dan untuk ghayr Muhsan lebih ringan yaitu cambuk 100 kali.
            Dari penelusuran dalam  Alkitab bahwa keseluruhan kasus kejahatan yang dihukum rajam dalam perjanjian lama dan perjajian baru berjumlah paling tidak 11 jenis.bahkan rajam tidak hanya berlaku untuk manusia yang berbuat kejahatan tertentu, tetapi juga berlaku untuk sapi yang menanduk manusia hingga tewas (keluaran 21:28, 29 dan 32), dengan demikian, dapat dikatakan bahwa rajam tampaknya sangat khas Yahudi.ini sangat berbeda dengan Alqur’an yang menempatkan hukuman dengan batu ini hanya dalam catatan sejarah kaum nabi Luth dan tentara Abrahah, yaitu QS.11:82, 15:74, 51:33 terkait hukuman terhadap kaum Luth yang melakukan delik homoseks, dan QS.105:4 berisi peristiwa penghancuran tentara abrahah dengan batu yang terbakar.
            Penggunaan kata rajam dalam Al-qur’an lebih menunjukan kebiasaan masyarakat yang menjadikannya sebagai ancaman terhadap seseorang yang ia benci, kecuali pada QS.67:5 yang berisi informasi tentang setan-setan dilangit yang dilempari dengan batu.
            Dengan demikian hukuman rajam bukanlah milik Islam. Hukuman ini sudah dimuat di dalam kitab-kitab ajaran agama sebelum Islam. Islam kemudian mengadopsinya karena hukuman itulah yang eksis waktu itu.  Hal yang lebih penting, pelaksanaan hukuman rajam pada masa Nabi dikenakan pada orang Yahudi dan berdasarkan Taurat. Nabi sendiri mengakui bahwa hukuman yang diterapkan waktu itu adalah dalam rangka menghidupkan hukum yahudi yang tidak mau dilaksanakan oleh umatnya karena tidak diinginkan oleh penguasa.
Pembaruan Hukum Rajam
             Ada beberapa pembaruan yang dibawa Nabi Muhammad dalam hukuman rajam ini.
Pertama, tentang definisi rajam.Umumnya para ulama mendefinisikan bahwa rajam adalah dilempar dengan batu sampai mati. Kedua, kasus-kasus yang direkam hadits menunjukan ke arah bahwa rajam lebih sebagai salah satu bentuk pertobatan dari pada hukum formal. Ketiga, tentang alat bukti, para ulama sepakat bahwa rajam diberlakukan dengan alat bukti pengakuan, kesaksian atau kehamilan.
Namun demikian, sebetulnya praktik Nabi cenderung kepada alat bukti pengakuan saja. Ada beberapa alasan untuk ini .
1.      Rajam dengan kesaksian hanya diperlakukan Nabi pada kasus orang Yahudi dan didasarkan kepada kitab Taurat. Tidak ada hadits kasus rajam atas Muslim yang dilakukan karena alat bukti kesaksian. Semua kasus penjatuhan hukuman atas pelaku zina, baik rajam atau cambuk dilakukan karena pengakuan pelaku, bukan kesaksian.
2.      Untuk alat bukti kehamilan, masih terbuka luas kemungkinan pemahaman berbeda terhadap hadits wanita yang punya anak tanpa suami yang ditangkap oleh para Sahabat. Dalam hadits jelas digambarkan bahwa walaupun para Sahabat menangkap wanita tersebut dan dihadapkan kepada Nabi, pada akhirnya yang dihukum bukanlah wanita tersebut tetapi laki-laki yang mengaku sebagai bapak anak tersebut. Hadits ini tidak menyatakan wanita tersebut ikut di rajam . memang,ada kemungkinan ia tidak dihukum karena bisa jadi zinanya syubhat atau diperkosa.
           
B. Pembahasan/Analisis
            Pada pembahasan pertama yaitu tentang Hukuman Zina sebelum islam, pembahasan ini sangat menarik ketika kita menelusuri hukuman rajam pada masa pra islam,. ternyata hukuman rajam terhadap pezina itu tidak ada pada zaman jahiliah, karena sebagian orang Arab terpengaruh oleh  paham “serba halal” yang berasal dari Persia Kuno. Dan perlu kita tambah informasi dalam artikel tersebut bahwa pada masa pra Islam para wanita dan laki-laki begitu bebas bergaul, wanita bisa bercampur dengan lima orang atau lebih laki-laki sekaligus. Hal itu di namakan hubungan poliandri. Perzinaan mewarnai setiap lapisan masyarakat semasa itu, perzinaan tidak dianggap aib yang mengotori keturunan.[2]     
            Pada paragraf sepuluh dari bab pembahasan dikatakan bahwa mengenai pidana rajam, di zaman pra Islam, sudah dipraktikkan dengan kejam, terutama terhadap kaum wanita. Dalam kode hukum Mesir Kuno ditemukan ketentuan kehilangan hidung bagi setiap wanita yang berzina, tetapi tidak ada ketentuan untuk pelaku laki-laki. Dan dalam hukum Hammurabi, pelaku zina laki-laki dan perempuan diancam pidana mati dengan cara diikat dan ditenggelamkan ke dalam air. Sedangkan pada paragraf ketujuh dikatakan bahwa hal wajar jika dalam catatan sejarawan tidak ditemukan adanya aturan hukuman zina dalam agama jahiliah.
            Dari kedua paragraf tersebut pembaca yang awam akan  kebingungan karena pada paragraf sepuluh dikatakan hukuman pidana rajam sudah dipraktikkan dan di paragraf ketujuh dikatakan tidak ditemukan aturan hukuman zina dengan melihat kondisi sosial saat itu. Bukankah yang disebut agama jahiliah itu hidup pada pra islam juga. Di sini menurut saya perlu dijabarkan kembali keduanya itu terjadi pada abad keberapa sebelum Islam agar tidak menimbulkan kebingungan bagi pembaca.
            Kemudian hal yang menarik pada perjanjian lama  adalah bahwa rajam dikenakan pada pelaku yang “ghayr Muhsan” sedangkan pada pelaku muhsan dikenakan hukuman mati. Memang tidak ada penjelasan bahwa yang dimaksud dengan hukuman mati tersebut juga adalah rajam. Sekiranya yang dimaksud memang sama, berarti tidak ada perbedaan muhsan dengan ghayr muhsan. Berbeda dengan hadits-hadits Nabi tampaknya menganggap hukuman zina dalam kitab Yahudi tersebut tidak adil sehingga harus diberlakukan sebaliknya; rajam sampai mati untuk Muhsan dan untuk Ghayr Muhsan lebih ringan yaitu cambuk 100 kali.
            Pada paragraf kedua terakhir Ali memberi kesimpulan bahwa, hukuman rajam bukanlah asli milik Islam . hukuman ini sudah dimuat di dalam kitab-kitab ajaran agama sebelum Islam. Islam kemudian mengadopsinya karena hukuman itulah yang eksis waktu itu.  Pelaksanaan hukuman rajam pada masa nabi dikenakan pada orang Yahudi dan berdasarkan Taurat. menurut saya disini juga perlu di buktikan sebuah hadits tentang Pelaksanaan hukuman rajam tersebut agar lebih kongkret.
            Pembahasan yang kedua yaitu tentang Pembaruan Hukum rajam, disini Ali mengatakan bahwa kasus- kasus yang direkam hadits bahwa para ulama mendefinisikan rajam itu dengan lemparan batu hingga mati, dan bahwa hukuman rajam di berlakukan dengan alat bukti pengakuan, kesaksian, atau kehamilan dan menunjukkan sebagai salah satu bentuk pertobatan . namun demikian sebetulnya praktik nabi cenderung kepada alat bukti pengakuan saja seperti  kisah sahabat Ma’iz bin Malik. Sedangkan untuk kesaksian hanya diberlakukan Nabi pada kasus orang Yahudi dan didasarkan kepada kitab Taurat.
            Pada bab penutup Ali memberi kesimpulan bahwa tidak ditemukan adanya aturan tentang hukuman zina dalam agama jahiliah,hukuman zina yang demikian kejam ditemukan dalam kode Hukum Mesir kuno, hukum hammurabi dan perjanjian lama. Secara global, di semenanjung Arabia dan pada bangsa-bangsa yang memengaruhinya, seperti Bizantium dan Persia, pada masa jahiliah, hubungan laki-laki dan perempuan cenderung bebas, sehingga jika ada aturan tentang itu tetapi cenderung diabaikan. Karena itu dapat dikatakan bahwa hukuman rajam bukanlah asli milik Islam.hukuman ini sudah dimuat di dalam kitab-kitab agama sebelum islam. Kemudian Islam mengadopsinya dengan perbaikan perbaikan dalam banyak sisi.jadi, praktik rasul adalah sebuah tahapan penyesuaian ke arah hukum yang lebih ideal. hal terpenting yang harus diteliti lebih lanjut dari hadits-hadits rajam ini adalah waktu terjadinya delik-delik zina dan Asbab al-nuzul Qs.An-Nur:2 (cambuk). Sekiranya dapat dilakukan, kemungkinan besar akan ditemukan bentuk hubungan Al-qur’an dengan hadits dalam masalah ini.
            Saya pribadi juga sudah mencoba mencari asbab al-nuzul dari surat An-Nur:2  di pustaka induk Uin ar-Raniry dan Pustaka Pasca tetapi tidak menemukan asbab an-nuzul Qs.An-Nur:2, seperti di dalam  buku Asbabun Nuzul yang ditulis oleh H.A.A.Dahlan dan M.Zaka Alfarisi pada surat An-Nur langsung menulis asbabunnuzul ayat ketiga sementara ayat ke satu dan kedua tidak ada, dan seperti yang kita ketahui bahwa tidak semua ayat memiliki asbab al-Nuzulnya.[3]

C. Simpulan
            Kondisi sosial Masyarakat Arab pada masa Pra Islam yaitu  perempuan dan laki-laki bebas bergaul, perzinaan mewarnai setiap lapisan masyarakat, dan bukan sebagai aib keturunan, sehingga hal wajar jika tidak ditemukan hukuman rajam pada masa itu, adapun mengenai pidana rajam di zaman pra Islam, sudah dipraktikan dengan kejam, terutama terhadap wanita . dalam  hukum Mesir Kuno ditemukan ketentuan kehilangan hidung bagi setiap wanita yang berzina, tetapi tidak ada ketentuan untuk pelaku laki-laki.
            Oleh karena itu tidak ditemukan adanya aturan tentang  hukuman zina dalam agama jahiliyah. Hukuman bagi pelaku zina, yang demikian kejam ditemukan dalam Kode hukum Mesir Kuno, hukum Hammurabi dan perjanjian lama.
            Hal yang menarik pada perjanjian lama bahwa pelaku ghayr Muhsan di hukum rajam, dan pelaku Muhsan dihukum mati. Tetapi tidak ada penjelasan bahwa yang dimaksud dengan hukuman mati tersebut juga adalah rajam.
            Praktik Nabi tentang hukuman rajam cenderung kepada alat bukti pengakuan saja seperti kasus yang terekam dalam hadits  sahabat Ma’iz bin Malik, sedangkan rajam dengan bukti kesaksian hanya diberlakukan Nabi pada kasus orang yahudi dan didasarkan pada kitab taurat.
            Dan dapat dikatakan bahwa hukuman rajam bukanlah asli milik Islam, hukuman ini sudah ada dalam kitab-kitab ajaran agama sebelum Islam. Islam kemudian mengadopsinya dengan perbaikan-perbaikan dalam banyak sisi.
           
Referensi
Ali, “Pengaruh Tradisi Arab Pra Islam Terhadap Hukuman Rajam” dalam http://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/islamfutura/article/view/79/74

Abu Su’ud, Islamologi, Jakarta: PT Rineka Cipta,2003.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, Syarah Hadits Arba’in, Jakarta:Pustaka Ibn Katsir,2014.

H.A.A.Dahlan dan M.Zaka, Asbabun Nuzul, Bandung: CV penerbit Diponegoro, 2000.



[1]Ali, “Pengaruh Tradisi Arab Pra Islam Terhadap Hukuman Rajam” dalam http://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/islamfutura/article/view/79/74
[2]  Abu Su’ud, Islamologi, Jakarta: PT Rineka Cipta,2003.hal.17

[3]  H.A.A.Dahlan dan M.Zaka, Asbabun Nuzul, (Bandung: CV penerbit Diponegoro, 2000),hlm.

Anton Widyanto

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.