05 December, 2016

INI ACEH BRO!


Oleh: Anton Widyanto
Beberapa waktu lalu Aceh digoyang beberapa peristiwa “pelecehan sejarah.” Masih hangat dalam ingatan kita, sosok Flavia Celly Jatmiko yang mencatut nama Aceh sebagai asal daerah dan tampil di ajang Miss Indonesia 2016 dengan penampilan yang justru mengangkangi nilai-nilai Syari’at Islam. Kecelakaan sejarah ini bukan kali pertama sebenarnya, akan tetapi perulangan peristiwa serupa pada ajang Miss Indonesia  tahun 2015 saat Ratna  Nurlia Alfiandi yang sama-sama mencatut Aceh mempertontonkan auratnya ke khalayak umum. Tidak cukup sampai di sini, “pelecehan sejarah” kembali terjadi ketika ajang lenggak-lenggok berjudul “Indonesia Model Hunt 2016” digelar di Hotel Grand Nanggroe Banda Aceh, Minggu (29/2/2016). Acara yang tidak mengantongi ijin resmi pihak kepolisian maupun Pemko Banda Aceh ini diikuti ratusan peserta dari seluruh Aceh.  Walikota Banda Aceh yang tentu saja merasa gerah, turun langsung menghentikan acara dimaksud. Tercatat dalam peristiwa tersebut beberapa model dengan berani memamerkan auratnya; mengenakan celana ketat, rok dan baju mini serta tidak berjilbab. Sebuah peristiwa miris yang dipertontonkan di Nanggroe Syari’at (Serambi Indonesia, 28/2/2016).

Sesat Tafsir Kebebasan Berekspresi
Saya berkeyakinan, bagi orang yang anti dengan pelaksanaan Syari’at Islam di Aceh serta mendewakan kebebasan berekspresi, respon keras masyarakat Aceh terhadap beberapa peristiwa “pelecehan sejarah” di atas pasti akan menjadi sasaran tembak yang empuk. Senjatanya apalagi kalau bukan atas nama kebebasan berekspresi.

Isu kebebasan berekspresi memang selalu saja menarik untuk digoreng, digongseng, dan diberikan bumbu penyedap HAM dan demokrasi. Isu ini bahkan sebenarnya telah menjadi senjata ampuh bagi orang-orang tertentu yang ingin melegalkan perbuatan-perbuatan anti Tuhan. Kebebasan berekspresi dipahami oleh orang-orang sedemikian rupa sebagai kebebasan tanpa sekat, sehingga cenderung  mengabaikan nilai-nilai moralitas baik terkait dengan agama maupun nilai-nilai etika yang genuine dan hidup dalam sosial kemasyarakatan. Seolah-olah kebebasan berekspresi adalah tindakan yang bebas nilai, tanpa memerlukan campur tangan moralitas. Sungguh penafsiran yang absurd, menggelikan dan irrasional. Sayangnya justru isu-isu seperti inilah yang semakin menguat di negeri kita ini karena memang dipoles dengan rapi dan sistematis. Akhirnya, seolah-olah, orang-orang yang masih menyuarakan moralitas atas nama nilai-nilai ajaran agama dan kultur ketimuran masyarakat serta nilai-nilai kearifan lokal, dianggap sebagai suara orang-orang iri, tidak kenal perkembangan zaman, primitif, kolot, kaku, terbelakang, tidak modern, berpandangan sempit dan memalukan. Sungguh sesat tafsir kebebasan bereskpresi yang naïf sekaligus menyesatkan.

Ini Aceh Bro!
Pertanyaannya, kenapa peristiwa pelecehan marwah Aceh sedemikian rupa kembali terulang? Apakah ada desain skenario pihak tertentu yang sengaja disusun untuk mencoreng wajah Syari’at Islam Aceh, sehingga yang terlihat ke permukaan adalah Aceh yang kolot, kuper, kaku, ketinggalan zaman dst? Jawabannya bisa jadi memang ada, bisa jadi juga tidak. Bagi saya ada atau tidaknya grand design untuk mencoreng wajah Aceh tidak terlalu penting untuk dijawab. Akan tetapi bahwa terdapat indikasi-indikasi pihak tertentu yang menginginkan kegagalan Aceh dalam melaksanakan syari’at Islam memang sudah terlihat dari sejak awal Aceh memproklamirkan diri sebagai satu-satunya provinsi di Indonesia yang melaksanakan syari’at Islam.
Terlepas dari itu, yang paling penting menurut saya adalah posisi dan sikap masyarakat Aceh sendiri dalam merespon pelecehan-pelecehan sedemikian rupa. Somasi yang dilakukan Pemerintah Aceh baik oleh Walikota Banda Aceh, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, maupun anggota DPD asal Aceh, serta demonstrasi damai yang dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat Aceh ketika merespon adalah langkah-langkah bijak yang layak diacungi jempol. Bahkan jika memungkinkan, penempuhan jalur hukum untuk mempidanakan pihak yang melakukan pelecehan tersebut (jika memang terbukti melanggar ketentuan perundang-undangan) tentu juga akan sangat diapresiasi. Yang perlu dihindari adalah aksi-aksi tak simpatik yang justru bisa bersifat kontraproduktif. Alih-alih mau membersihkan citra Aceh, jika memang tindakan protes yang dilayangkan bersifat destruktif, maka justru efeknya bisa membuat citra Aceh menjadi buruk. Hal seperti inilah yang  memang menjadi target orang-orang yang menginginkan syari’at Islam di Aceh terkesan menakutkan, kaku, tidak humanis, menyeramkan dan seterusnya. Syari’at Islampun dijegal agar menemui kegagalan.
Sebagai masyarakat Aceh, sudah selayaknya kita bangga melaksanakan syari’at Islam di wilayah sendiri. Kalaupun ada kekurangan pada konsep dan pelaksanaannya, tetap bisa dikritisi secara konstruktif. Sebab pada dasarnya pelaksanaan syari’at Islam di Aceh tidak bisa dilaksanakan secara instan, asal-asalan dan terburu-buru, akan tetapi secara bertahap dan tentu saja selalu memerlukan penyempurnaan-penyempurnaan. Hal ini sudah barang tentu membutuhkan waktu yang panjang karena bagian dari sebuah proses.
Peristiwa-peristiwa pelecehan terhadap marwah syari’at Islam di Aceh yang telah terjadi  baik saat pagelaran ajang Miss Indonesia 2015 dan 2016, maupun Indonesia Model Hunt 2016 perlu direspon dengan sikap yang tegas dan bijak. Ketegasan yang disampaikan oleh Walikota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Jamal, yang meminta kepada pihak penyelenggara untuk meminta maaf di media massa sebagaimana dilansir Serambi Indonesia (01/03/2016) sudah tepat. Gerakan-gerakan yang mengecam peristiwa-peristiwa pencorengan marwah syari’at Islam di Aceh yang dilakukan oleh beragam elemen masyarakat Aceh baik dari unsur internal organisasi kampus, maupun organisasi massa, juga layak diacungi jempol. Kesemuanya menyampaikan pesan tegas kepada khalayak luas agar jangan main-main dengan nilai-nilai luhur yang dipedomani rakyat Aceh. Sehingga peristiwa sedemikian rupa diharapkan tidak terulang lagi di masa mendatang.
Meski demikian, di sisi lain, aksi umbar aurat yang terjadi pada ajang Indonesia Model Hunt 2016, juga patut dijadikan bahan instrospeksi bagi masyarakat Aceh sendiri, khususnya para orang tua. Dikarenakan para pelaku yang mengumbar aurat tersebut adalah para generasi muda Aceh sendiri. Kenapa ini bisa terjadi? Tentu di sini peran pihak orang tua masing-masing anak yang perlu dipertanyakan. Semestinya mereka mengawal dengan baik anak mereka sejak masa pelatihan sampai ketika tampil hari H, sehingga “kecelakaan sejarah” seperti ini tidak akan terjadi.
Di akhir tulisan ini saya tegaskan kembali bahwa suara-suara miring yang cenderung mencoreng dan menyudutkan wajah syari’at Islam di Aceh kemungkinan masih akan tetap bermunculan. Kesemuanya harus direspon dengan konstruktif, bijak dan  elegan. Sebab syari’at Islam di Aceh dengan segala keunikannya, harus menyampaikan pesan kepada masyarakat luas dengan wajah tersenyum. Kalaupun ada pihak yang berupaya mencorengnya (baik dari kalangan internal maupun eksternal) masyarakat Aceh, kita bisa dengan bangga mengatakan: “Ini Aceh Bro!”. Wallahu A’lam bis Shawab.   
Tulisan ini sudah dimuat di Kolom Opini Harian Serambi Indonesia. 
Share This

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Featured post

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU

KERANGKA PENELITIAN TERDAHULU TERKAIT FOKUS MASALAH YANG DIANGKAT DALAM DRAFT PROPOSAL PENELITIAN Dosen Pengampu: Dr. Anton Widyanto

Popular Posts

Search This Blog

Saleum

Selamat Datang di Forum Pembelajaran: Komunitas Pojok Kampus. Terima kasih atas kunjungannya.

Contact Me

Contact Form

Name

Email *

Message *